
“Sheeetttt!” Rezukinawa secepat kilat membawa Fumiko dan Fumida meninggalkan Kenzi. Lorong waktu terbuka di tempat yang berbeda, mereka kini berada di pondok kayu di bukit bersalju, tempat Kenzi berlatih sebelumnya.
Fumiko dan Fumida masih syok. Baru pertama kali merasakan perjalanan waktu. Ternyata begini rasanya, membuat mereka merasa pusing dan mual.
Ketika Fumiko bangkit sambil memegang kepalanya yang pusing, dia melihat Hiroyuki berada di kamar, berbaring di ranjang. “Yuki...!” Fumiko berlari menghampiri suaminya, dengan deraian air mata Fumiko memeluk tubuh Hiroyuki yang masih pingsan.
Ihsan yang ternyata juga sudah di bawa Rezukinawa ke pondok ini, terkejut melihat Fumiko. “Mamanya Kenzi! Mana sakura? Dimana dia?” Ihsan langsung bangkit dari sofa yang berada dalam satu kamar dengan Hiroyuki.
Fumiko tak menyangka ada Ayahnya Sakura juga di sini.
Ihsan berlari keluar kamar mencari Sakura. Fumida kaget kenapa Ihsan bisa ada di sini juga, pikirnya. “Ihsan?” ucap Fumida heran. Ihsan menoleh melihat Fumida. “Mida!” Ihsan tanpa ragu langsung memeluk erat tubuh Fumida. Ihsan melepas sejenak pelukannya. “Kamu baik-baik saja kan Fumida?” Ihsan bertanya sambil menatap Fumida, lalu memeluk Fumida lagi.
Wajah Fumida memerah tersipu malu. Lalu Ihsan melepaskan pelukan nya sambil bertanya lagi : “Kamu nggak di apa-apakan sama si brengsek Raida itu kan?”
“Hehehe, aku baik-baik saja, Ihsan.” Jawab Fumida malu, sambil mundur selangkah dan melepaskan tangan Ihsan dari tubuhnya.
Fumiko dan Rezukinawa memandang mereka sambil senyum-senyum, merunduk menahan tawa.
“Ehem..apa sekarang kalian semua, sudah tidak pusing dan mual lagi ?” Tanya Rezukinawa.
Ihsan baru sadar kalau sikapnya terlalu berlebihan. Rasa senangnya melihat Fumida sampai membuat Ihsan lupa diri. “Maafkan aku Fumida.” Ucap Ihsan merasa malu karena sudah memeluk Fumida. “Sudahlah! Jangan di ingat lagi!” Jawab Fumida berjalan menghindari Ihsan.
----
Di menara istana Hanzai Teki. Raida mengikat Sakura di besi pemancar, di puncak menara.
Raida berdiri di tepian bangunan menara tanpa merasakan takut dengan ketinggian, menantikan kehadiran Kenzi.
Sakura terkulai lemas, rambutnya terurai tertiup angin kencang sampai menutupi wajahnya.
Kenzi dengan tubuhnya yang menyala, membara, mengeluarkan kobaran api berjalan menyusuri tangga menuju menara. Dalam waktu singkat Kenzi sampai di puncak menara.
Getaran kekuatan Kenzi sampai terasa oleh Rezukinawa. “Kekuatannya luar biasa !” Ucap Rezukinawa yang berdiri di atas bukit bersalju.
Raida sedikit gemetar menyaksikan Kenzi terbang melayang menghampirinya yang sedang berdiri di tepian bangunan menara.
Kenzi dengan mata merahnya, menatap Raida. Tubuh Raida langsung luluh, tangan dan kaki tak mampu lagi ia gerakkan. Raida terkena pengaruh super hipnotis Kenzi.
__ADS_1
Raida berusaha melawan kekuatan Kenzi. Dengan mata hijaunya, Raida masih sanggup melarikan diri, menghilang dari hadapan Kenzi.
Raida yang ketakutan, tiba-tiba muncul di samping Sakura. Tangan dan kaki Raida kembali bisa di gerakan. Ikatan Sakura di buka.
Sakura tak bisa melawan karena masih di bawah pengaruh hipnotis Raida.
Sekarang Sakura di ikat kan pada badan Raida sendiri. Rupanya Sakura di jadikan tameng oleh Raida.
Kenzi terbang melayang mengejar Raida yang berada di atas puncak menara.
"Hahaha...ayo serang aku! kalau kau memang mau kekasih mu ikut mati bersamaku!" Ucap Raida menantang Kenzi.
Kenzi dengan kekuatannya mengangkat tubuh mereka berdua terbang ke angkasa. Lama-kelamaan Raida mulai kepanasan seperti terbakar. Begitu pula Sakura mulai ikut merasakan panas.
"Gila kau! ternyata aku salah! wanita ini pasti bukan kekasih mu! Aaaaa...panasss!" teriak Raida. Sakura pun tak sadarkan diri karena kepanasan.
Rezukinawa hadir tepat pada waktunya, secepat nya dia menendang Kenzi sekuat tenaga. Kenzi terpental cukup jauh. "Hentikan Kenzi! sadarlah ! kamu bisa membunuh Sakura!" teriak Rezukinawa mencoba menyadarkan Kenzi.
"Ada apa dengan mu Kenzi? Dia kekasih mu! yang selalu kamu rindukan! sadarlah!" Ucap Rezukinawa berteriak pada Kenzi sambil marah.
Raida menarik nafas dan berusaha kabur, sedangkan Sakura lemas tak berdaya jatuh dari ketinggian.
Kenzi bukannya menolong Sakura, dia malah mengejar sembari terbang melayang di atas Raida lalu menangkap nya.
Rezukinawa, benar-benar merasa heran dengan Kenzi, mengapa dia seperti orang yang lupa akan siapa dirinya.
Kenzi mengangkat tubuh Raida.
"Ampun..Ampun! aku menyerah! sungguh, aku menyerah! tolong jangan bunuh aku!" teriak Raida. Kenzi mengabaikan permohonan musuhnya, dengan sadis Kenzi menarik dan memisahkan kepala Raida dari tubuhnya. "Jroooott!" Darah memancar keluar dari leher Raida yang terpisah dengan kepalanya.
Rezukinawa memalingkan wajah, merasa ngeri melihatnya.
Tubuh dan Kepala Raida di lempar sangat jauh sampai tak nampak lagi oleh mata.
Kemudian Kenzi terdiam sesaat.
Rezukinawa mengobati Sakura, sampai suhu tubuh Sakura kembali normal. Sakura mulai sadar dan membuka mata.
__ADS_1
"Kamu...kamu kan yang membawa pergi Kenzi!" Ucap Sakura terkejut mengapa diri nya bisa ada di pangkuan Rezukinawa.
Rezukinawa tersenyum, "Syukurlah, kamu sudah sadar."
Namun Sepertinya kemarahan Kenzi belum mereda, matanya masih memerah, begitu pula tubuhnya masih membara, mengeluarkan kobaran api.
Sakura terduduk kaku menyaksikan Kenzi yang sudah berubah drastis.
Rezukinawa berusaha bangkit. Meski kakinya terluka bakar karena terpaksa menendang Kenzi tadi.
Sakura perlahan berdiri menatap Kenzi yang terbang di angkasa.
Rezukinawa berjalan pincang lalu berkata :
"Pergi dari sini Sakura, masuklah dalam lorong waktu itu, cepat!" teriak Rezukinawa yang sudah membuka portal agar Sakura bisa melarikan diri.
"Tidak! aku tidak akan meninggalkan Kenzi lagi!" Jawab Sakura menolak permintaan Rezukinawa.
"Dia bukan Kenzi!" Jelas Rezukinawa. "Apa! apa maksudmu?" Tanya Sakura tak mengerti.
"Dia bukan lagi Kenzi yang kamu kenal, Cepat pergi dari sini!" Teriak Rezukinawa sembari mendorong Sakura untuk masuk ke dalam portal.
Namun Kenzi dengan tatapannya menutup portal itu, sebelum Sakura masuk ke dalam nya.
Rezukinawa terkejut melihat portal nya menghilang. Lalu berbalik badan dan Kenzi sudah berdiri di hadapannya. Sakura mulai bicara. "Kenzi...! Kenzi, tenang lah, semua sudah berakhir, Kenzi! ini aku Sakura, kamu ingat aku kan, Kenzi?" Sakura berusaha berkomunikasi dengan Kenzi yang menatap mereka berdua seperti orang asing.
Kenzi mencekik leher Rezukinawa. Kenzi menganggap Rezukinawa adalah musuhnya.
Leher Rez rasanya seperti terbakar, dia berusaha menahan dengan mendinginkan tubuhnya.
"Kenzi! Hentikan! jangan Kenzi! kenapa kamu jadi seperti ini? Kenzi sadarlah!" teriak Sakura sambil menangis tak tega melihat Rezukinawa yang lehernya mulai menghitam.
Lalu Sakura mencoba mencegah Kenzi dengan memegang tangannya tetap mencekik Rezukinawa.
"Aaawwww...panas sekali!" Ucap Sakura. "Jangan Sakura! tangan mu bisa terbakar, cepat kamu lari, cepat pergi!" Rezukinawa berkata dengan terbata-bata.
Sakura tetap bertahan di sisi Kenzi. Sakura menatap Kenzi sambil menangis, dia teringat masa-masa indah bersama Kenzi, Kenzi yang lembut dan baik hati.
__ADS_1
Sakura memegang lagi tangan Kenzi, kali ini Sakura menahan rasa terbakar di telapak tangannya. Sakura menangis tersedu-sedu. "Kenzi...aku mencintai mu, tolong sadarlah! Kenziii Aaakuuu MENCINTAI MUU!" teriak Sakura telapak tangannya mulai terbakar.