
Di dalam Cafe Obasan ada beberapa orang asing yang mencurigakan sedang mencari sesuatu. Mereka membawa alat pendeteksi radiasi.
" Di tempat ini terdeteksi radiasinya". Ucap salah satu dari mereka.
" Ayo terus cari, mereka pasti ada di sini!"
Mereka terus mengikuti jejak tingkat radiasi yang terdeteksi.
Semakin kuat radiasinya ketika mereka melihat ada tangga yang menuju ke ruangan lain.
" Hey lihat, ada jembatan yang terhubung dengan gedung lain!" Ucap salah seorang dari mereka.
Mereka pun menyelidiki, dan benar saja tingkat radiasinya tinggi. Itu menunjukkan semakin dekat dengan orang bermata hijau.
Sedangkan di dalam persembunyian, Fumida semakin cemas, dia sudah siap dengan senapan laras panjangnya.
Fumida lalu ke dalam kamar.
"Kalian cepat pergi meninggalkan tempat ini, bawa buku ini bersama kalian!" Ucap Fumida pada Fumiko, Kenzi dan Sakura.
Fumiko dengan tatapan mata berkaca-kaca sembari mendekat perlahan, memandang kakaknya, tak ingin berpisah dengan kakaknya begitu saja.
" lalu bagaimana dengan mu kak? ikutlah dengan kami!" Jawab Fumiko sambil menatap Fumida.
Fumida lalu memberikan buku catatan Kakek pada Fumiko, sambil berkata dengan berat hati.
"Pergilah, nanti aku menyusul, kalian cari pegunungan hutan Totoro, bersembunyilah di sana!"
Lalu Fumida menatap Kenzi
" Kenzi jaga baik-baik Mama mu, dan Sakura, kembalikan dia ke Ayahnya!" Ucap Fumida sembari melangkah pergi.
Fumida bermaksud ingin memancing orang-orang itu agar mengikutinya, sehingga Fumiko bisa keluar dari tempat ini bersama Kenzi dan Sakura.
Fumiko melihat kakaknya pergi, segera menyusulnya ingin mencegah, tak rela membiarkan Fumida mengorbankan dirinya sendiri seperti itu.
" Tidak Kak,Tolong jangan...ikutlah dengan kami, kita pergi sama-sama!" Ucap Fumiko sambil menarik tangan Fumida, memohon agar Fumida tidak melawan mereka sendirian.
"iya Obasan, kita pergi bersama, dan jika Obasan tetap ingin melawan mereka, kita akan lawan bersama!" Ucap Kenzi dengan suara yang meyakinkan.
Sakura yang melihat Kenzi dengan semangat yang menggebu itu merasa sangat bangga menjadi sahabatnya. Namun Sakura kembali berfikir,
"sebenar nya kita ini mau melawan siapa?" Tanya Sakura dalam hati.
Fumida terlihat kesal, apalagi setelah melihat di layar hpnya, orang-orang itu sudah mulai menyusuri jembatan di atas.
" Jangan buang-buang waktu, Cepat pergi dari sini, SEKARANG!" Ucap Fumida tetap pada pendiriannya untuk melanjutkan rencananya.
Fumida langsung berlari menuju pintu hitam sambil mengokang senapan laras panjangnya.
Fumiko menangis dan terpaksa membiarkannya pergi.
Dipandangi Buku catatan yang kini ada di tangannya, sembari mengingat pesan kakaknya.
__ADS_1
Kenzi menggandeng tangan Sakura dan mendekati Mamanya.
" Mama .. Obasan pasti akan baik-baik saja, dia pasti bisa menyusul kita nanti!" Ucap Kenzi menghibur Fumiko yang bersedih karena tindakan nekad Fumida.
" Dorr..Dorr..Dorr!" suara tembakan dari luar gedung.
" Kakak...!" Ucap Fumiko pelan sembari meneteskan airmata. Kenzi memegang tubuh Mamanya yang gemetar ketika mendengar suara tembakan. Sakura pun ikut kaget dan berpegangan pada lengan Kenzi.
Fumida yang tadi di luar sengaja menembakan senjatanya ke atas. Orang-orang itu pun mendengar dan melihat dari atas jembatan dan mulai mengejar Fumida.
" Itu dia, Ayo tangkap dia, Cepat!" Teriak salah seorang dari atas jembatan. Akhirnya mereka terpancing pergi mengejar Fumida.
Kenzi lalu mencoba naik ke arah pintu hitam, dan mengintip dari balik pintu. Memastikan bahwa orang-orang itu sudah terpancing pergi menjauh.
Ternyata benar di luar suasana sudah sepi, sepertinya Obasan berhasil memancing orang-orang.
" Ssstt...ayo cepat, kita keluar, diluar sudah sepi!" Ucap Kenzi sambil berbisik pada Fumiko dan Sakura. Lalu Kenzi keluar.
Perlahan mereka menaiki tangga menyusul Kenzi yang sedang menunggu di luar.
Kenzi lalu menggandeng Sakura.
" Ayo aku antar kamu ke Ayah mu!"
" Ayo Mama..!" Ucap Kenzi yang juga menggenggam tangan Fumiko sambil berhati-hati berjalan menuju penginapan tempat Ayah Sakura berada.
Ihsan yang dengan sabar menantikan di penginapan itu mulai merasa kesal pada Sakura yang sudah mematikan Hand phone nya di saat dirinya menelpon.
"Katanya hanya sebentar, tapi menginap sampai dua hari, sekarang ponselnya malah di matikan lag!" Ucap Ihsan sambil mondar mandir di loby penginapan.
Sambil berjalan dan melihat genggaman tangan Kenzi yang begitu erat menggenggam tangannya, semakin membuat Sakura merasa bersalah bila tidak membantu mereka.
" Apa yang harus aku lakukan? aku gak mungkin membiarkan mereka berdua saja, tapi bagaimana caranya aku menjelaskannya pada Ayah!"
Sakura berhenti melangkah, padahal tempat penginapan tinggal beberapa blok lagi dari tempatnya berdiri.
Kenzi lalu melihat ke arah Sakura yang berada disamping nya, dengan raut wajah yang bingung.
Fumiko pun ikut heran Kenapa menghentikan langkah di sini.
"Kenapa kita berhenti di sini? penginapannya kan ada di sana!" Tanya Fumiko pada Kenzi yang berhenti berjalan.
Kenzi lalu menatap Sakura.
Sakura pun menatap Kenzi.
" Ayo kita pergi, kita cari pegunungan hutan Totoro itu sama-sama!" Ucap Sakura sambil menggenggam tangan Kenzi erat, tanda bahwa Sakura tidak ingin berpisah dari Kenzi.
Kenzi terharu dengan sikap Sakura. Tapi itu tidak mungkin, Kenzi tidak akan membiarkan Sakura ikut bersamanya.
Fumiko tak menyangka Sakura akan mengambil keputusan untuk meninggalkan Ayahnya dan ikut bersamanya.
" Tapi Sakura, bagaimana dengan Ayah mu?" Tanya Fumiko.
__ADS_1
" Aku tidak apa-apa Sakura, kamu pulang lah bersama Ayah mu!" Ucap Kenzi sembari melepaskan genggaman Sakura.
Namun Sakura sepertinya memang benar- benar keras kepala. Dia kembali menggenggam tangan Kenzi semakin kuat dengan kedua tangannya. "Tidak!"
" Aku ikut, dan kamu tidak bisa memaksa ku!" Ucap Sakura tegas.
Fumiko dan Kenzi saling berpandangan, mereka tahu bagaimana keras kepalanya gadis ini.
" Baiklah, tapi setidaknya kamu harus beritahu Ayah mu, kalau kamu baik-baik saja". Ucap Fumiko memberi saran pada Sakura.
Kenzi pun sependapat dengan mamanya.
"Tenang Tante, yang penting sekarang kita harus segera pergi, karena bisa saja orang-orang itu kembali ke sini!" Ucap Sakura sembari mengajak Kenzi untuk segera pergi.
Kenzi dan Fumiko lalu menganggukkan kepala.
Mereka bertiga akhirnya meneruskan perjalanannya.
Kenzi memberhentikan taksi dan mereka pergi begitu saja melewati penginapan yang di dalamnya Ihsan sedang menantikan kedatangan Sakura.
Fumida yang berlarian sambil membawa senapan laras panjang sengaja membuat keributan di sudut kota. Ia menembak ke atas agar orang-orang yang mengejarnya terus mengikutinya.
"Ayo sini...maju..tangkap Aku!" teriak Fumida menantang mereka.
Orang-orang itu pun mulai mengepung Fumida.
Ketika itu lewatlah taksi yang dinaiki Fumiko.
Kenzi, Fumiko dan Sakura melihat ke arah Fumida yang berlarian menarik perhatian semua orang di jalan itu.
"itu Obasan!" Ucap Kenzi melihat tantenya yang berusaha keras mengalihkan perhatian demi keselamatannya. Merasa sedih bercampur bangga.
Fumiko meneteskan air mata, melihat keberanian kakaknya itu. Dan berjanji dalam hati nya pasti kembali menyelamatkan Fumida suatu saat nanti.
Sakura pun merasa salut dengan keteguhan dan keberanian Tantenya Kenzi itu.
Taksi yang mereka naiki akhirnya pergi semakin menjauhi Fumida. Mereka hanya bisa melihat Fumida dari kejauhan.
Terlihat Fumida yang terus melawan orang-orang pemburu green eyes itu sendirian, lalu tak lama kemudian mobil polisi berdatangan mengepung Fumida yang memegang senapan.
Dengan pengeras suara, polisi meminta Fumida menurunkan senjatanya dan menyerah.
Sedangkan Para pemburu green eyes berlarian bersembunyi menghindari polisi. Fumida menyadari itu dan berfikir untuk menyerah pada polisi.
Fumida mulai menurunkan senjatanya dan tiarap, tanda menyerahkan diri. Polisi langsung mendekati dan memborgol tangan Fumida dengan cepat.
Fumida di bawa masuk ke dalam mobil polisi sambil tersenyum puas, karena rencananya telah berhasil. Dia memandangi taksi itu yang sudah pergi menjauh. Dia tahu di dalam taksi itu ada Fumiko dan Kenzi.
Sedangkan Ihsan semakin resah karena anaknya tak kunjung datang.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Senyum lebar nampak di wajah Ihsan ketika melihat di layar hpnya,ternyata Sakura yang menelpon.
" Sakura, kamu ada dimana, Ayo cepat kembali, pesawat kita akan berangkat sore ini!" Ucap Ihsan di telp pada Sakura.
__ADS_1
" Ayah, maafkan Sakura, aku tidak bisa kembali sekarang, aku tidak bisa cerita, tapi yang pasti aku baik-baik saja, ayah jangan khawatir ya, aku sayang Ayah!" Jawab Sakura lalu segera mematikan ponselnya.
Ihsan Kaget bukan main mendengar penjelasan singkat dari putrinya itu.