Rindu Dalam Diam

Rindu Dalam Diam
Pertarungan Sakura


__ADS_3

Sakura menyandarkan tubuh Ayahnya di semak-semak samping pintu masuk gudang anggur.


"Ayah tunggu di sini ya, aku akan segera kembali!" Ucap Sakura yang mengenakan kaos hitam ketat dan celana karate.


"Hati-hati nak!" pesan Ihsan. Sakura tersenyum optimis. "Ayah tenang aja, Sakura bisa jaga diri!" Jawab Sakura meyakinkan Ihsan.


Fumiko dan Hiroyuki melirik melihat Raida yang sudah tidak nampak lagi. "Ayo !" Hiroyuki menggandeng tangan Fumiko menaiki tangga menuju ruang yang paling atas. Kamar tidur yang mereka curigai sebagai tempat disembunyikan nya Fumida, ternyata terkunci.


"Fumida..Fumida..apa kamu ada di dalam?" Tanya Fumiko mengetuk perlahan pintu kamar.


Fumida yang berusaha membangkitkan kekuatannya agar bisa terbebas dari ikatan, sedikit mendengar suara di balik pintu. Di amati lagi suara yang samar-samar itu, "Seperti ada suara Fumiko di balik pintu." kata Fumida masih ragu. Fumida tak tahu dan tak menyangka, kalau Fumiko mencarinya ke sini.


"Fumida..Mida..ini aku Fumiko! apa kamu ada di dalam?" Tanya Fumiko lagi.


"Ssstt..jangan terlalu keras suara mu Miko! nanti Raida bisa dengar!" Hiroyuki memperingati Fumiko sambil mengotak atik lubang kunci pintu kamar, mencoba membuka dengan pisau lipat nya.


Fumida sekarang mendengar jelas suara itu, "Fumiko, adikku..ya..iya aku di dalam sini!" teriak Fumida senang sekali mendengar suara Fumiko.


"Syukurlah, tunggu sebentar, kami sedang berusaha membuka pintu ini!" Jawab Fumiko bersemangat.


"Ayo cepetan Yuki!" Ucap Fumiko pada Hiroyuki.


Keringat dingin keluar di wajah Hiroyuki, karena berusaha membuka pintu kamar sambil gemetaran, was-was, khawatir kepergok Raida.


"Sabar dong, ini juga lagi di usahakan, sebentar lagi juga kebuka pintunya!" Jawab Hiroyuki sambil mengusap keringat diwajahnya.


Akhirnya pintu kamar itu terbuka. Fumiko segera masuk dan melihat Fumida terikat di tiang-tiang besi tempat tidur.


"Fumida..!" Kata Fumiko memeluk Fumida bahagia. "Cepat buka ikatan ini!" Ucap Fumida tak sabar ingin segera bebas.


"Oh, iya!" Jawab Fumiko. Hiroyuki ikut membantu melepaskan ikatan Fumida.


Fumida belum sadar akan kehadiran Hiroyuki di dekatnya, saking panik dan ketakutan dia segera menggandeng tangan Fumiko dan membawa keluar dari ruangan itu.


"Hati-hati jangan buru-buru!" Jawab Hiroyuki mencegah Fumida yang berlari keluar kamar.


Fumida menghentikan langkahnya dan menatap Hiroyuki dengan keheranan.


Hiroyuki keluar dan memantau keadaaan, "Ayo, sekarang cepat, kita turun!" Ucap Hiroyuki yang sudah yakin bahwa keadaan di luar aman tidak ada orang.

__ADS_1


Fumiko yang melangkah keluar menoleh kebelakang, melihat Fumida yang terdiam. Fumida baru menyadari kehadiran Hiroyuki, yang dia tahu, Hiroyuki sudah meninggal delapan bulan yang lalu.


"Hiroyuki?" ucap Fumida pucat, sambil menunjuk Hiroyuki.


"Ayo kak, cepat keluar! nanti aku jelaskan!" Jawab Fumiko.


Perlahan mereka menuruni tangga, namun tiba-tiba anak buah Raida muncul di hadapan mereka, menghadang.


"Rupanya ada yang ingin melarikan diri, apa aku mengganggu?" Anak buah Raida itu tersenyum sadis.


Fumida dan Fumiko bersiap, begitu pula Hiroyuki. Anak buah Raida mengeluarkan pedang samurainya lalu di hunuskan ke hadapan mereka.


"Hey...ada yang mau kabur !" teriak anak buah Raida memanggil yang lainnya.


"Syiattt...Fumida dengan cepat menendang tangan anak buah Raida itu sehingga pedang samurainya terlepas dan terlempar jauh.


Perkelahian pun tak terelakkan, Hiroyuki tanpa ragu menyeruduk perut anak buah Raida itu, sampai terdorong jauh kebelakang. "Hyaaaattt!" teriak Hiroyuki mendorong, menahan, sekuat tenaga.


"Cepat kalian lari! biar aku tahan dia!" teriak Hiroyuki. Fumida menarik tangan Fumiko untuk segera melarikan diri.


Fumiko terlihat kaget dan tak tega meninggalkan Hiroyuki sendirian menghadang orang itu.


Namun tak berapa jauh mereka berlari, anak buah Raida berdatangan menghadang langkah Fumida dan Fumiko.


Fumiko melihat pedang samurai yang tergeletak di lantai, segera di ambil nya. "Chiaaatt!" Fumiko dengan garang menyerang mereka. Terjadilah perkelahian dua orang wanita melawan enam orang pria besar. Tentu itu tidak sebanding.


Fumida mulai kewalahan dan Fumiko mulai kehabisan nafas.


"Hyaaattt!" tiba-tiba dari arah belakang, anak buah Raida di jambak rambutnya lalu di patahkan lehernya oleh Sakura. "Chiattt!" Tanpa ragu-ragu Sakura memutar badannya dan menendang perut lalu mematahkan leher orang yang satu nya lagi. Satu demi satu mereka tumbang, terkapar tak berdaya.


Sakura dengan tatapan sadis, mengingat mereka semua sudah tega menyiksa Ayahnya, maka tanpa belas kasihan, Sakura terus menghantam membinasakan mereka tanpa ampun.


Tersisa satu orang lagi, tubuhnya tegap, berotot besar. Fumida dan Fumiko yang sudah lemas menyaksikan keganasan Sakura dalam mematahkan lawannya.


"Kecil-kecil jago juga lo! sini maju lawan gue!" ucap anak buah Raida bersiap menghadapi Sakura sang juara karate.


Sakura berkeringat sampai kaos hitam Sakura basah kuyup. Dia melemaskan otot-otot tubuhnya, memasang kuda-kuda. Mereka berdua saling beradu pandang. "Hyaaaaatt!"


"Chiaaaattt!"

__ADS_1


Mereka berdua sama-sama maju, sambil berlari mengepalkan tangannya dan berteriak menghimpun tenaga.


Sakura tiba-tiba menunduk dan tubuhnya meluncur melewati bagian bawah, diantara kaki lawan yang melangkah lebar itu, Sakura masuk diantara nya, "BUG!" Pukulan keras menghantam ******** orang berotot besar itu.


"Aaaaaaa!" orang itu menjerit kesakitan tak berdaya sambil memegang ***********.


Kenzi di pegunungan bersalju tersadar dari semedinya. "Sakura!" Ucap Kenzi. Sekilas seperti mendengar teriakan Sakura. "Ada apa?" Tanya Rezukinawa.


"Aku mendengar jeritan suara Sakura!" Jawab Kenzi. Rezukinawa berdiri menghampiri Kenzi. "Kamu yakin itu suara Sakura?" Tanya Rezukinawa lagi.


"Iya, aku yakin!" Kenzi lalu turun dari tempatnya bermeditasi.


"Biarkan aku pulang! aku mengkhawatirkan keadaan mereka semua di sana!" Kata Kenzi meminta izin pada Rezukinawa.


"Kau tidak perlu minta izin pada ku lagi, Kenzi! kau sudah siap sekarang!" Jawab Rezukinawa mengambil pedang samurainya dan bersiap untuk pergi.


"Kamu mau kemana?" Tanya Kenzi. "Ini saatnya kita berperang melawan mereka! kita tidak perlu bersembunyi lagi!" Jawab Rezukinawa.


"Melawan siapa? para pemburu green eyes maksud mu?" Kenzi selama ini tak tahu siapa musuh sebenarnya.


"Iya, kita akan hancurkan mereka sampai ke akar-akarnya!" Jawab Rezukinawa.


"Cepat buka pintu teleportasinya !" perintah Rezukinawa pada Kenzi.


"Bagaimana caranya?" Kenzi bingung. "Sakura, pusatkan pikiran mu padanya, maka dimanapun dia berada, maka kekuatan mata hijau mu akan menuntun mu ke Sakura!" Jelas Rezukinawa. "Kenapa harus Sakura?" Tanya Kenzi.


"Karena tadi kamu bisa mendengar suara Sakura, itu berarti kemampuan teleportasi mu, sudah siap membuka pintu waktu, jika kamu memikirkan Sakura!" Kata Rezukinawa kembali menjelaskan.


Kenzi memulai memusatkan pikirannya hanya pada Sakura.


Cahaya terang mendadak muncul, Pintu lorong waktu terbuka.


"Sakura!" teriak Kenzi yang di dalam lingkaran lorong ruang waktu terlihat Sakura yang sedang melawan anak buah Raida sendirian.


"Chiaaatt!" Sakura melakuan tendangan memutar lalu memukul tepat ke arah jantung. "Bug!" orang itu mati di tempat. "Ayo Tante cepat! ke arah sini!" Sakura mengarahkan jalan.


Hiroyuki segera menyusul Fumiko dan Fumida. Ditengah perjalan Hiroyuki melihat Raida yang mencoba menggunakan kekuatan mata hijaunya untuk menghipnotis Sakura yang sedang berlarian. Hiroyuki segera menghunuskan pedang samurai yang tadi berhasil dia rebut. "Hyaaattt!" Dari arah belakang Hiroyuki menyerang Raida mengarahkan samurai tepat di atas kepalanya.


Tapi kekuatan mata hijau Raida mampu menghentikan laju pedang samurai yang Hiroyuki arahkan. "Aaaa!" Hiroyuki berteriak berusaha melawan kekuatan yang menahan tangannya.

__ADS_1


"Wessssss!" Raida menghempaskan tubuh Hiroyuki sampai terpental jauh.


"Yukiii...!" teriak Fumiko yang menyaksikan tubuh suaminya terlempar jauh, menabrak dinding.


__ADS_2