Rindu Dalam Diam

Rindu Dalam Diam
Meningkatnya kekuatan Fumida


__ADS_3

Fumiko menunggu dengan cemas di rumahnya. Hiroyuki lalu menghampiri Fumiko. “Duduk lah Miko, untuk apa kamu berdiri terus di depan pintu seperti ini!” Bujuk Hiroyuki. “Kenapa Fumida lama sekali ya? Seharusnyakan kakak sudah pulang dari tadi!” Ucap Fumiko mengkhawatirkan Fumida. “Sabarlah, mungkin mereka terllu asyik mengobrol, sampai lupa waktu, hehehe..aku yakin Mida pasti sedang mengobrol berduaan dengan Ihsan!” Hiroyuki  mencoba menenangkan Istrinya.


 


“Apaan sich kamu! Ada-ada saja!” Ucap Fumiko. “Eeehh...di bilangin nggak percaya, aku tahu kalau mereka berdua itu pasti saling suka, sejak mereka sama-sama di sandera oleh Raida!” Jelas Hiroyuki. “Aaah sudahlah! Mana mungkin, Kakak ku yang galak itu, bisa suka sama Ihsan!” Kata Fumiko.


 


Fumiko akhirnya nasuk ke dalam rumah dan naik ke atas untuk memeriksa Kenzi di dalam kamarnya. Hiroyuki sebenarnya juga khawatir dengan Fumida, karena ini Indonesia bukan di Jepang, Hiroyuki takut Fumida tersasar dan ada masalah dijalan, pikir Hiroyuki. Ketika Hiroyuki baru mau menutup pintu rumahnya, dia melihat dari kejauhan Fumida berjalan perlahan di tengah hujan deras. “Fumida..!” Ucap Hiroyuki keheranan, melihat Fumida.


 

__ADS_1


Hiroyuki segera mengambil payung dan menyusul Fumida, “Kakak...Kakak Fumida!” Panggil Hiroyuki. Fumida berjalan di saat hujan deras sambil berderaian air mata, dan yang paling aneh adalah, sedikit pun air hujan tidak mengenai tubuhnya, sehingga Fumida bajunya tetap  kering meski berjalan di tengah hujan deras.


 


Funiko yang baru mau membuka kamar Kenzi, mendengar teriakan Hiroyuki yang menyebut nama Kakaknya. Fumiko mengurungkan niatnya masuk ke kamar Kenzi, berbalik berlari menuruni tangga mencari Hiroyuki.”Yuki..Yuki..ada apa apakah Kakakku sudah kembali!”


 


 


Fumiko melihat ke arah luar, “Hiroyuki...kakak!” Fumiko kaget melihat Fumida kembali pulang tidak naik taksi melainkan berjalan kaki. “Apa yang terjadi? Mengapa Yuki malah membuang payung nya dan meninggalkannya begitu saja di jalan? Aneh!” Ucap Fumiko. Hiroyuki dan Fumida akhirnya sampai di depan teras rumah, Fumiko segera menyambut. “Kakak...!” Fumiko tak faham setelah melihat Fumida bajunya tidak basah sama sekali, sedangkan Hiroyuki saja basah kuyup.

__ADS_1


 


Namun setelah melihat mata hijau Fumida yang bercahaya, Fumiko sedikit mengerti. Fumida segera di istirahat kan di kamarnya, di rebahkan di ranjangnya. “kak..Kakak kenapa? Kenapa Kakak terlihat sedih begini! Memangnya apa yang Ihsan dan Sakura katakan sama Kakak?” Tanya Fumiko tak sabar ingin tahu apa yang terjadi dengan Fumida. “Ssssttt...biarkan Kakakmu istirahat dulu! Ayo kita keluar, kita bicara di luar!” Hiroyuki mengajak Fumiko keluar kamar agar Fumida bisa beristirahat.


 


Fumiko menuruti saran suaminya, dia pun menyelimuti tubuh Fumida yang tertidur, dengan selimut. Fumiko dan Hiroyuki keluar kamar dan menutup pintunya. “Apa yang sebenarnya terjadi Yuki?” Fumiko menatap Hiroyuki penasaran. Hiroyuki lalu mengambil segelas air dan minum sambil berdiri, setelah itu dia duduk dan meletakkan gelas di meja makan. “Aku juga tidak mengerti, dia sudah begitu, sejak aku melihatnya berjalan sendirian, di tengah hujan deras!” Jawab Hiroyuki. “Tapi kamu lihatkan baju Fumida, sedikit pun tidak basah! Aneh, bukankah sebelumnya Fumida tidak pernah bisa menggunakan kekuatan mata hijaunya! Lalu kenapa sekarang dia bisa mengendalikan air hujan?” Ungkap Hiroyuki.


 


Fumiko juga menyadari itu, “Aku juga lihat Yuki! tapi aku tak begitu memikirkan masalah itu! Yang jadi pikiran ku adalah, sebenarnya apa yang terjadi di rumah Sakura? Kenapa Kakak nampak sedih?” Ucap Fumiko.

__ADS_1


__ADS_2