Rindu Dalam Diam

Rindu Dalam Diam
Satu Tim yang serasi


__ADS_3

Ihsan merasa sangat senang mendengar ada yang mengenali putrinya.


"Apa kamu tahu dimana Sakura sekarang?" Tanya Ihsan pada Fumida.


Fumida lalu mengembalikan ponsel Ihsan begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi.


Ihsan tak mengerti maksud orang ini. Tadi dia yang bertanya, kini setelah tahu malah diam saja membuat Ihsan jadi penasaran.


" Hey, bagaimana, apa kamu tahu di mana Sakura sekarang?" Tanya Ihsan lagi yang kini berdiri sangat dekat dengan sel sembari memegang jeruji besi sel menatap Fumida.


Fumida malah kembali merebahkan tubuhnya di lantai, sepertinya Fumida sengaja ingin membuat Ihsan makin penasaran.


Ihsan merasa di permainkan oleh Fumida, dia berfikir untuk menanyakan lebih jauh identitas Fumida kepada pak Polisi saja.


" Pak polisi, orang ini kenal anak saya, bisa bapak beritahukan saya dia tinggal di mana dan kenapa dia di penjara?" Tanya Ihsan berusaha mencari tahu sendiri siapa Fumida.


Namun Ihsan lupa, kalau dia sendiri tidak bisa bahasa jepang. Pak polisi diam saja, dan mengabaikannya, karena tidak mengerti bahasa yang diucapkan Ihsan.


Ihsan makin putus asa, dan akhirnya kembali berbicara pada Fumida.


" Tolong lah aku, Di mana Sakura, tolong beritahu aku?" Tanya Ihsan sambil memohon pada Fumida.


Fumida lalu bangun dan duduk di lantai bersandar pada dinding, kemudian menolehkan pandangannya ke arah Ihsan.


Fumida yang cerdik mencoba mengambil kesempatan ini agar bisa bebas dari penjara dengan memanfaatkan Ihsan. Fumida Lalu berkata pada Ihsan. "Bagaimana aku bisa menolongmu, aku saja butuh pertolongan!"


"Mungkin kalau aku bisa bebas dari sini, aku bisa mengantarkan mu menemui Sakura!"


Mendengar Fumida berkata seperti itu Ihsan sangat gembira, lalu dia mendekat lagi ke arah Fumida yang berada dalam sel. Ihsan berbicara sambil berbisik di antara jeruji besi.


" Kalau kamu janji akan mengantarkanku pada Sakura, maka aku akan membayar jaminan, dan kamu bisa bebas!"


" Bagaimana, kamu janji akan mempertemukan aku dengan Sakura?" Tanya Ihsan dengan wajah penuh harap pada Fumida.


Fumida pun tersenyum, ternyata rencananya berhasil, "orang ini bisa membebaskan aku!" Bisik Fumida dalam hati.


"oke, aku setuju..!" Fumida menjabat tangan Ihsan tanda sepakat.


Seketika Fumida langsung berteriak memanggil pak polisi.


"先生、この人は私の釈放を保釈したいと考えています!


"Sensei, kono hito wa watashi no shakuhō o hoshaku shitai to kangaete imasu!" (Pak, orang ini mau membayar uang jaminan pembebasan saya) Ucap Fumida begitu bersemangat.


Ihsan dan Fumida duduk di depan meja admintrasi, menanda tangani beberapa surat persetujuan dan perjanjian.


"この手紙に署名して、二度と問題を起こさないと約束してください!」


Kono tegami ni shomei shite, nidoto mondai o okosanai to yakusoku shite kudasai!' (Tanda tangani surat ini, kamu janji ya tidak akan buat onar lagi) Ucap Pak polisi sambil menyodorkan surat perjanjian pada Fumida agar di tanda tangani.


"はい!


"Hai!" (iya) Jawab Fumida sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Sembari menanda tangani, yang ada dipikiran Fumida sekarang adalah bagaimana cara menyusul Fumiko dan Kenzi tanpa harus di ikuti para pemburu green eyes.


Fumida setelah menyerahkan semua surat perjanjian yang sudah ditanda tangani nya, Fumida lalu berbisik di telinga Ihsan.


Ihsan yang mendengar permintaan aneh Fumida itu, menatap dan hanya bisa mengangguk kan kepalanya.


Fumida tersenyum lalu menyuruh ihsan untuk segera bergerak.


"Ayo cepat sana, aku tunggu di sini!" Ucap Fumida


Ihsan segera keluar dari kantor polisi, dia bergegas naik bis menuju pusat perbelanjaan.


Ihsan benar-benar tidak mengerti dengan permintaan Fumida, dia minta di belikan setelan baju baru beserta semua aksesorisnya.


Ihsan hanya menurut saja, dengan membelikan gaun sederhana seksi, serta topi warna merah muda, sepatu high heels dan kaca mata hitam trendy juga tas hitam berukuran sedang.


Ihsan bergegas kembali naik Taksi menuju kantor polisi.


Fumida menantikan Ihsan di ruang tunggu kantor polisi.


Dengan santai Fumida menyeruput kopi hangat sambil duduk.


Setengah jam kemudian, Ihsan sampai di kantor polisi sambil terburu-buru membawa tas belanjaan, lalu dia segera memberikannya pada Fumida.


" ini, sesuai permintaan mu!" Ucap Ihsan di depan Fumida.


Fumida lalu membuka isi tas belanjaan itu, dan tersenyum puas. "style mu...lumayan lah!" Komentar Fumida melihat barang-barang yang di beli Ihsan.


Lalu Fumida tiba-tiba berbalik badan dan berkata pada Ihsan.


"Namaku Fumida dan aku tantenya Kenzi, teman anakmu!"


Ihsan terkejut, tak menyangka kalau Fumida ternyata tantenya Kenzi.


Ihsan kembali melirik keheranan melihat Fumida yang sedang berjalan menuju toilet, tak mengerti apa yang sebenarnya Fumida rencanakan.


Cukup lama Ihsan menunggu di luar toilet wanita. Ihsan semakin resah khawatir Fumida melarikan diri.


" Kenapa lama sekali ganti bajunya!?" Tanya Ihsan dalam hati.


Tak berapa lama kemudian Fumida keluar dengan gaya busana yang sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Fumida yang perawan tua itu, berdandan cantik sekali.


Mata ihsan terbelalak ketika melihat Fumida keluar dari toilet. Ihsan hampir tak mengenalinya, ternyata Fumida merubah penampilannya, pantas saja dia lama di dalam, fikir Ihsan.


" Bagaimana sayangku, kita sudah siap pergi ?" Tanya Fumida yang dengan manja menyebut Ihsan sayang.


Kaget dan tak menyangka kalau Fumida akan memanggil Ihsan dengan sebutan 'sayang'.


Ihsan terdiam dan mengikuti saja apa yang direncanakan Fumida. Fumida Lalu menggandeng tangan Ihsan sambil berjalan keluar dari kantor polisi.


Ihsan tersenyum lucu ketika Fumida hampir terpeleset karena tak biasa memakai sepatu high heels.


Fumida lalu tersenyum dan kembali berdiri tegak lagi, terus menggandeng tangan Ihsan erat sambil berjalan kembali menuju halte bis.

__ADS_1


Sambil mengintip lewat kacamata hitamnya, Fumida melihat depan, belakang, samping, memantau apakah pemburu green eyes masih ada, dan apakah mereka masih bisa mengenali Fumida.


" Tunggu dulu!" Fumida tiba-tiba memeluk tubuh Ihsan yang tinggi itu.


Ihsan kaget dengan sikap Fumida yang mendadak ini.


" Ssstt..dengar...kamu pesan Taksi, kita masuk dulu ke penginapan terdekat!" Ucap Fumida pelan sambil matanya terus memantau sekitar.


Para pemburu green eyes itu memang masih mengawasi kantor polisi, dan alat pendeteksi radiasi tidak mendeteksi adanya radiasi di sekitar tempat itu.


" Berapa lama kita akan menunggu di sini?" Tanya salah satu pemburu green eyes.


"Entahlah, kita lihat saja nanti, bila tidak ada perkembangan, kita lapor pada Bos!" Jawab salah seorang pemburu green eyes yang lain.


Ihsan menghentikan taksi, dan naik bersama Fumida.


Fumida langsung masuk dan menarik tangan Ihsan yang sebenarnya hendak duduk di depan.


Ihsan akhirnya mengalah, dia menghela nafas sambil masuk dan duduk di belakang bersama Fumida.


"行ってください!


Itte kudasai!" ( jalan pak) ucap Fumida meminta supir taksi segera menjalankan mobilnya.


Ihsan memperhatikan tangannya yang masih di pegangi Fumida.


Dan Fumida pun melihat, sepertinya Ihsan sudah tidak nyaman dengan sikap Fumida yang sedang berpura-pura jadi pacarnya sejak keluar kantor polisi tadi.


Fumida berlahan melepaskan pegangannya dari tangan Ihsan.


" Sekarang setelah kita ke penginapan, kita mau apa? mau pesan kamar untuk bulan madu yang biasa atau yang spesial?" Tanya Ihsan menguji Fumida. Fumida Lalu menatap kesal pada Ihsan.


"Loh apa salahku, kan kamu sendiri yang minta kita ke penginapan, 'sayang' !" Jawab Ihsan yang dengan sinis menanggapi pandangan mata Fumida yang kesal padanya.


Sambil menatap keluar jendela taksi. Fumida berkata :


" Oke, jika kamu tidak suka caraku tadi, aku minta maaf!" Ucap Fumida sambil membuang muka.


" Tapi aku punya alasan untuk melakukan itu!" Ungkap Fumida.


"Dan kamu tidak perlu tahu!"


Fumida terdiam sambil memasang raut wajah marah sekaligus malu karena terpaksa berpura-pura sebagai pacar Ihsan demi menghindari pemburu green eyes.


Ihsan kemudian merasa tidak enak, biar bagaimana pun dia satu-satunya orang yang tahu dimana keberadaan Sakura anaknya.


" Aku juga minta maaf, tolong jangan marah lagi padaku, kita kan satu tim, jadi maafkan aku ya?" Ihsan berkata sembari mengulurkan tangannya meminta maaf.


Fumida hanya melihat tangan Ihsan lalu mengabaikannya. Ihsan kembali meletakkan tangannya.


Jabatan tangan Ihsan di tolak Fumida.


Sepanjang perjalanan menuju penginapan terdekat, mereka berdua saling memalingkan wajah, Fumida menatap jendela kirinya sedangkan Ihsan menatap jendela di sebelah kanannya.

__ADS_1


__ADS_2