Rindu Dalam Diam

Rindu Dalam Diam
Markas besar Hanzai Teki


__ADS_3

Di atas bukit bersalju, Kenzi ternenung sendirian, melihat matahari mulai terbenam. Nafasnya terasa berat, Kenzi merindukan Sakura.


🎶Aku rindu setengah mati, kepada mu 🎶Sungguh ku ingin kau tahu, Aku rindu setengah mati 🎶Aku rindu...🎶 Kenzi menghela nafas berhenti bernyanyi.


Rezukinawa duduk di samping Kenzi. "Kenapa kamu? apa sedang merindukan seseorang?"tanya Rezukinawa.


Kenzi mendesah, "iya, begitulah, bagaimana kamu tahu?"


"Wanita cantik sebayamu yang berdiri di samping mu waktu itukan?" Rezukinawa mengingat saat dirinya mendadak menculik Kenzi.


"Betul sekali, baru saja aku berbaikan dengannya, eh sekarang sudah berpisah lagi." Wajah Kenzi muram.


"Maaf, karena aku, kamu jadi berpisah dengan kekasih mu." Ucap Rezukinawa.


"Iya ini semua karena kamu, bahkan aku belum sempat menyatakan perasaanku pada Sakura!" Jawab Kenzi kesal.


"Loh, soal perasaan mu sih bukan urusanku! sudahlah nanti malam kita berlatih lagi, bersiaplah!" Rezukinawa berjalan pulang.


"Apa! latihan lagi, aahh..pagi latihan! siang latihan! masa malam juga latihan! yang bener aja!" teriak Kenzi merasa lelah harus terus berlatih. "Kapan aku pulang, Rez! Kapan aku pulang!?"


Kenzi bangkit dan meneriaki Rezukinawa yang terus saja berjalan meninggalkannya.


Di gedung markas besar Hanzai Teki.


"Om yakin ini tempatnya?" Sakura tak percaya kalau gedung bak istana negara di atas bukit itu adalah markas besar pemburu green eyes.


Fumiko memandangi gedung megah yang terletak diatas bukit.


"Aku yakin sekali, Ayahku pernah mengajakku kemari!" Jawab Hiroyuki.


Dengan hati-hati, Hiroyuki, Fumiko dan Sakura mulai mendaki bukit itu.


Di dalam markas Ihsan masih di posisi yang sama, terguling di tanah. Fumida mulai beraksi dengan mata hijaunya. Dia mencoba membuka tali ikatannya.


Berkali-kali Fumida mencoba, tapi selalu gagal. "Dasar bodoh, kenapa aku tidak pernah melatih kekuatan ku!" Fumida kesal pada dirinya sendiri yang tak pernah perduli dengan mata hijaunya. Kini dia berharap kekuatannya bisa muncul di saat-saat genting seperti ini.


IHSAN memperhatikan Fumida sejak tadi. "Bagaimana mata mu bisa bersinar terang seperti itu?" Tanya Ihsan keheranan.

__ADS_1


"Sama seperti orang yang menghalangi taksi kita!" Ihsan ketakutan. Fumida Lalu melihat ke arah Ihsan sedang matanya hijaunya masih mengeluarkan cahaya.


"Kau mau apa! Hey..jangan tujukan matamu padaku!" teriak Ihsan khawatir sambil memejamkan matanya menunduk ke tanah, karena cahayanya menyilaukan mata.


"Tenang lah Ihsan, Aku tidak akan melukaimu !" Fumida segera tersadar dan meredam kekuatannya.


Ihsan mulai membuka mata. "Apakah kekuatan seperti mu itu yang di incar mereka?" Tanya Ihsan.


"Iya, tapi bukan kekuatan ku yang mereka cari! Kekuatan mata Kenzilah yang Raida inginkan." Jawab Fumida.


Sakura lebih dulu sampai di atas bukit, sedangkan Hiroyuki berada di bawah Fumiko. "Ayo cepat, berikan tangan mu Tante!" Sakura mengulurkan tangannya membantu menarik tubuh Fumiko ke atas. Hiroyuki yang lamban membuat Sakura dan Fumiko resah, khawatir keberadaan mereka di ketahui anak buah pemburu green eyes.


"Cepat Yuki, ayo cepat!" Fumiko terus berkata menyemangati suaminya.


"Berhenti! Ssstt..!" Sakura meminta Hiroyuki untuk berhenti naik, dan meminta Fumiko untuk diam tak bersuara. Rupanya anak buah pemburu green eyes sedang berpatroli di daerah itu.


Sakura dan Fumiko segera bersembunyi. Hiroyuki segera menyandarkan tubuhnya agar tidak terlihat.


Dua orang anak buah pemburu green eyes berpatroli sambil berbincang-bincang. "Apa kamu yakin pemimpin kita yang baru bisa membuat kita jadi penguasa dunia?"


"Sepertinya begitu, karena katanya Tuan Raida bisa menyerap energi semua orang bermata hijau!"


Tangan Hiroyuki sudah mulai gemetar. Hiroyuki sudah tidak kuat menahan beban tubuhnya.


Setelah dua pria besar itu menjauh, segera Fumiko dan Sakura keluar dari persembunyian.


"Miko! aku sudah tidak bisa menahan lagi!" Hiroyuki merintih tak mampu lagi bertahan, dirinya hampir saja terpeleset.


Sakura tersadar. "Tante Miko, Om!" Sakura mendengar rintihan Hiroyuki. Mereka berlari segera mengulurkan tangan lalu menangkap ke dua tangan Hiroyuki. Syukurlah Hiroyuki bisa selamat.


Sakura, Fumiko dan Hiroyuki, mereka bertiga terduduk lemas di pinggiran bukit terjal itu, dengan nafas yang tersengal-sengal, mereka tersenyum.


"Ayo!" Hiroyuki mengajak semua untuk bangkit lagi bersemangat dan meneruskan perjalanan.


Dua orang penjaga berdiri tepat di depan gerbang utama Istana Hanzai Teki.


"Kita tidak mungkin bisa melewati mereka tanpa diketahui!" Bisik Fumiko. "Apa tidak ada jalan lain?" Tanya Sakura pada Hiroyuki.

__ADS_1


Sejenak Hiroyuki berfikir. "Ayo lewat sini!" Jawab Hiroyuki yang sepertinya tahu jalan masuk lain yang lebih aman.


"Masuk sini!" Hiroyuki menunjukan pintu kayu yang berada di belakang kebun istana.


Mereka pun masuk, Hiroyuki mengawasi di luar, kemudian segera menyusul dan menutup pintu kayu itu.


"Gelap sekali, Aku tak bisa melihat!" Ucap Fumiko yang berpegangan tangan denga Sakura.


"Sebentar!" Hiroyuki menyalakan senter di ponselnya. "lurus saja, nanti kita akan sampai di ruang penyimpanan anggur tua!" Kata Hiroyuki yang berusaha menerangi lorong gelap itu dengan sedikit cahaya dari ponselnya.


"Memang kemana ponsel mu Miko?" Tanya Hiroyuki. "Ada ditasku, tertinggal dimobil." jawab Fumiko sambil berjalan perlahan.


Sakura pun baru ingat. "Hehehe maaf aku lupa kalau aku bawa hp!" Sakura segera menyala senter di ponselnya sambil menahan malu.


"Ya ampun Sakura!" Fumiko tersenyum. Hiroyuki geleng-geleng kepala merasa lucu dengan tingkah Sakura.


Ruang bawah tanah dengan cahaya redup, di dalamnya tertata rapi berbotol-botol anggur merah. Sampailah mereka bertiga di sini.


"Bagaimana kamu tahu kalau pintu itu mengarah ke sini, Yuki?" Tanya Fumiko sambil melihat sekeliling.


"Ayahku dulu petani anggur di istana ini bersama pamanku Raida." Jawab Hiroyuki.


"Loh, kok namanya sama dengan nama pemimpin era baru pemburu green eyes, yang dua orang tadi sebut!" Sakura berkata dengan raut wajah curiga.


"Iya, betul kamu Sakura, 'Raida' Aku juga mendengarnya!" Ucap Fumiko.


Hiroyuki tertunduk sedih. "Raida adalah kakak Ayahku." Jawab Hiroyuki.


"Tapi sungguh aku tidak tahu, kalau Raida yang sekarang sama dengan Raida pemimpin era baru pemburu green eyes!" Jelas Hiroyuki.


"Sudahlah jangan dibahas lagi, sekarang kita harus pikirkan bagaimana cara membebaskan Ayahnya Sakura dan Fumida!" Kata Fumiko.


"Kita tunggu sampai jam satu pagi, semoga penjaganya sudah tertidur!" Jawab Hiroyuki.


Sakura mulai berfikir, "Tante, Om, kenapa kalian tidak gunakan kekuatan mata kalian untuk menghipnotis mereka?" Tanya Sakura.


Fumiko dan Hiroyuki tersenyum malu, "kami tidak tahu cara menggunakan kekuatan kami, kita berdua tidak pernah memakainya!" Jawab Fumiko.

__ADS_1


"Yaa ampun, hmmm...kirain Tante dan Om nekad ke sini, mau membebaskan mereka itu, karena Tante dan Om punya kekuatan super, ternyata gak bisa !" Sakura terduduk lemas.


"Hehehe..maafin Om Sakura!" Hiroyuki jadi memerah wajahnya karena malu.


__ADS_2