Rindu Dalam Diam

Rindu Dalam Diam
Usaha membebaskan sandera


__ADS_3

Lonceng jam di dinding istana yang megah, sudah berbunyi dua belas kali, tanda waktu sudah tengah malam.


Sakura yang sempat tertidur, terbangun karena dentingan jam yang menggema. "Baru jam dua belas malam." Sakura melihat Fumiko dan Hiroyuki masih tertidur dengan saling bersandar satu sama lain.


Di keheningan malam, Sakura seperti mendengar suara jeritan orang dari atas. Dinding dan atap kayu di gudang anggur ini pastinya tidak kedap suara.


Sakura mendengar sambil memasang telinga nya baik-baik.


"Ayah..itu suara ayahku!" Sakura segera berlari keluar dari gudang anggur, meninggalkan Fumiko dan Hiroyuki yang masih tertidur pulas.


Sakura berjalan perlahan menyusuri lorong ruang bawah tanah, dia melihat ada tangga yang menuju ke atas.


"Aaaaaa...!" Suara jeritan Ihsan makin jelas terdengar. Sakura mempercepat langkahnya menaiki tangga.


Ruang ketiga sebelah kiri, dari situlah suara Ihsan berasal.


Sakura berusaha mendekat, namun satu orang tiba-tiba keluar dari sana. Sakura segera bersembunyi di balik pintu kamar lain di sebrangnya.


Orang itu keluar sambil membawa cambuk yang panjang lalu di gulungnya. Sakura cemas, "jangan-jangan Ayah habis di siksa orang itu!" pikir Sakura, wajahnya memerah karena marah.


Sakura keluar dari tempat persembunyian, kembali berjalan mengendap-endap, ke ruang di mana dia mendengar suara Ayahnya.


Dua tangan terikat tali, ditarik ke langit-langit. Ihsan dalam keadaan tidak berpakain, tubuhnya penuh luka, tercabik bekas cambukan.


Sakura menahan tangis, hatinya pilu melihat kondisi Ayahnya yang mengenaskan. "Ayah..!" Ucap Sakura pelan.


"Mengapa mereka tega melakukan ini padamu Ayah!" Sakura berusaha membuka ikatan tangan Ihsan, sambil berderaian air mata.


Ihsan lemas tak berdaya, melihat putrinya yang sedang menolongnya. "Sakura..Kamu di sini!" Ucap Ihsan dengan suara yang sangat lemah.


Ikatan itu akhirnya terlepas, Ihsan jatuh dalam pelukan putrinya. "Ayah..!" Sakura memeluk tubuh Ayahnya yang terluka.


Sakura segera membuka atasan baju karatenya, lalu menyelimuti tubuh Ayahnya yang tak berbusana. "Ayah tidak apa-apa nak!" Ihsan terduduk lesu.


"Cepat kamu pergi dari sini, berbahaya! bahaya Sakura!" Ihsan mendorong Sakura untuk segera pergi dari tempat ini.


"Tidak Ayah! kita akan keluar sama-sama, kita pulang sama-sama Ayah!" Jawab Sakura yang langsung membopong Ayahnya dan membawanya keluar dari tempat penyiksaan itu.


"Tunggu...Fumida..Fumida!" teriak Ihsan. "Dimana dia Ayah?" Tanya Sakura.

__ADS_1


"Raida membawanya ke atas, Aku mencoba melawannya , tapi dia terlalu kuat, Raida menghipnotis Ayah, sehingga Ayah tidak bisa bergerak!" Ihsan bercerita sembari menahan sakit.


"Ayah tenang saja, Aku akan menolongnya nanti, sekarang kita harus ke bawah dulu!" Jawab Sakura membawa Ihsan ke gudang anggur.


Fumiko terkejut saat membuka mata, Sakura sudah tidak ada. "Sakura! Yuki..Yuki..bangun! Sakura hilang, Sakura tidak ada!" Fumiko panik sambil membangunkan Hiroyuki.


Hiroyuki kaget dan terbangun. "Ssstt..kenapa kamu teriak-teriak Miko? nanti mereka dengar!" Ucap Hiroyuki menutup mulut miko.


"Sakura..Sakura tidak ada di sini!" Kata Fumiko cemas. "APA!" Hiroyuki terkejut melihat sekitar, memastikan.


Tak Lama kemudian, Sakura datang sambil membopong Ayahnya masuk ke dalam gudang anggur. "Ihsan..!" Ucap Fumiko dan Hiroyuki.


Hiroyuki segera berdiri membantu membopong Ihsan masuk. Fumiko mempersiapkan tempat untuk Ihsan berbaring.


"Ke sini, baringkan di sini!" kata Fumiko.


Sakura duduk bersandar kelelahan, karena membawa Ayahnya yang lemah, sendirian.


"Darimana kamu? bagaimana kamu bisa bertemu Ayah mu, Sakura?" Tanya Hiroyuki.


"Kenapa tidak membangunkan kami!" Fumiko marah pada Sakura karena bertindak sendirian.


"Hmm..sudahlah! yang penting kalian selamat!" Kata Hiroyuki.


"Belum selamat Om, kita masih di dalam markas mereka! dan Obasan..Obasan di bawa Raida ke ruang lain, entah diruangan yang mana!" Jelas Sakura.


"Minumlah dulu..ini!" Fumiko memberikan minum pada Sakura.


"aku tidak apa-apa Tante, berikan saja pada Ayah." Sakura menolak botol berisi air dari Fumiko.


Fumiko memberikan minum pada Ihsan. Lonceng Jam kembali berbunyi, kini sudah jam satu tepat.


Hiroyuki berdiri, "aku akan ke atas, kalian tunggu di sini!" Ucap Hiroyuki. "Aku ikut!" Fumiko memegang tangan Hiroyuki.


"Sakura, kamu tunggu di sini saja, temani Ayah mu, ya!" Ucap Fumiko. Sakura mengangguk, "Nanti aku menyusul!" Jawab Sakura.


Hiroyuki dan Fumiko berjalan keluar gudang anggur.


Fumida meronta-ronta. Tangannya terikat di tiang-tiang besi ranjang Raida. "Lepaskan aku, dasar manusia brengsek!" teriak Fumida dengan raut wajah penuh kebencian pada Raida.

__ADS_1


"Fumida apa kamu ingat cincin yang pernah aku sematkan di jari mu, dulu?" Tanya Raida.


"Siapa yang perduli! lepaskan aku!" Jawab Fumida.


Raida membuka laci dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. "Cincin ini masih kusimpan." Raida membuka. kotak itu dan mengeluarkan cincin bermata biru. "CUIH...! tak sudi aku memakainya !" Fumida meludahi Raida yang mendekat dan memegang tangan Fumida, bermaksud ingin memakaikan cincin itu.


Raida mengusap wajahnya, yang terkena cipratan air liur Fumida.


Raida tetap memaksakan cincin itu masuk ke jari manis Fumida.


"Besok, setelah Kenzi dapat aku kuasai, kau akan jadi pengantinku, Fumida." Raida membelai rambut Fumida. Terlihat Fumida memalingkan wajahnya, merasa risih rambutnya di sentuh Raida.


"Tua bangka! aku gak akan pernah jadi milik mu!" teriak Fumida emosi.


"Hahaha..kita lihat saja besok, dengan kekuatan ku, sangat mudah, membuat seorang Fumida menjadi istriku!" Jawab Raida lalu tertawa terbahak-bahak.


Fumiko dan Hiroyuki terus mencari disetiap ruangan. "Huf..rumah ini terlalu luas, kita harus cari kemana lagi?"Hiroyuki merasa putus asa. "Aku harus menemukan kakakku, Yuki, dia pasti di sekitar sini!" Jawab Fumiko.


Raida berjalan keluar dari sebuah kamar, di lantai paling atas. Hiroyuki dan Fumiko melihatnya langsung berbalik mencari tempat sembunyi.


"pantas saja kita tidak menemukan Fumida di sini, pasti Raida menyekapnya di kamar atas sana!" Kata Hiroyuki. Fumiko mengangguk. Lalu mereka segera merapatkan tubuh mereka di balik dinding, karena Raida sedang berjalan ke arah mereka.


"Ssstt..!" Hiroyuki memberi kode pada Fumiko untuk diam tak bersuara.


Jantung mereka berdegup cepat, mereka saling bergandengan tangan, gemetaran. "Semoga dia tidak belok sini, tidak belok sini!" Bisik hati Fumiko. Hiroyuki memejamkan mata saking takutnya.


Derap langkah kaki Raida semakin mendekat, dekat, dan ...Syukurlah Raida tidak berbelok. Fumiko dan Hiroyuki menarik nafas panjang, lega.


Sakura dan Ihsan mencoba keluar dari gudang anggur, karena Sakura mendengar langkah kaki anak buah Raida menuju tempat persembunyian mereka.


Dua anak buah Raida berjalan masuk sambil berbincang-bincang


"Hahaha..kita pesta besok! Tuan akan menikahi wanita itu!"


"Ya, sudah lama kita tidak berpesta!"


Ihsan terkejut mendengar obrolan mereka. "Sakura kita harus kembali! Kasihan Fumida! aku, aku tidak mau Fumida sampai menikah dengan penjahat itu!" Ihsan yang posisinya hampir sampai di pintu keluar, kembali masuk sambil tergopoh-gopoh melangkah ingin menolong Fumida.


"Ayah..Ayah..Tunggu!" Sakura mencegah Ayahnya.

__ADS_1


"Ayah! Ayah tunggu di sini saja, biar aku yang masuk, Aku janji akan membawa Fumida ke sini!"


__ADS_2