
Hujan deras turun di sore hari ini. Padahal Sakura sudah janji, mau ikut antar Kenzi ke rumah sakit untuk terapi. "Hai..kamu butuh payung?" muncul laki-laki ganteng bertubuh tegap menawari Sakura payung.
Laki-laki itu adalah teman baru Sakura, di kelas beladirinya. Namanya Rivan.
"Ah..tidak usah, terimakasih!" Jawab Sakura. "Mmm..nggak apa-apa, pakai aja! aku ada satu lagi kok payung nya!" ucap Rivan sambil tersenyum, menyodorkan payung hitamnya pada Sakura.
Sakura melihat ke belakang Rivan, tidak ada payung lain selain payung yang ia tawarkan padanya. "Mana payungnya? jangan bohong! payung mu cuma satukan!" Ucap Sakura.
"Eh beneran! aku masih punya payung yang lain, payung ku ada di loker!" Jawab Rivan meyakinkan Sakura. "Sudah, ambil aja ini! yah!" Ucap Tuhan memaksa memberikan payung hitam itu pada Sakura. Rivan berbalik ke belakang dan pergi meninggalkan Sakura.
"Eeehhh..! ih maksa amat nih orang!" Jawab Sakura namun, Rivan sudah keburu pergi.
Sakura akhirnya pulang menggunakan payung pemberian Rivan. Di balik dinding Rivan ternyata mengintip Sakura, dia tersenyum lega, karena Sakura akhirnya mau memakai payungnya. "Yessss!" teriak Rivan senang, padahal dia bohong kalau masih ada payung yang lainnya.
"Tok..tok..tok..!" Sakura mengetuk pintu rumah Kenzi. Berharap dirinya tidak di tinggalkan. "Yah..jangan-jangan mereka sudah pergi!" Ucap Sakura sedih.
Fumiko dan Hiroyuki sudah sampai di rumah sakit, mereka membawa masuk Kenzi ke ruang terapi. "Hallo...selamat datang lagi Kenzi, loh Sakura tidak ikut?" Tanya Suster.
"Tidak suster, mungkin nanti dia menyusul." Jawab Fumiko. "Ya sudah, tetap semangat ya Kenzi ...ayo masuk! kita mulai terapinya!" Ucap Suster mendorong kursi roda Kenzi.
Fumiko mengikuti dari belakang membantu suster. Sedangkan Hiroyuki menunggu diluar.
Sakura menghentikan taksi, "Stop pak! stop..saya turun di sini saja!" Ucap Sakura turun dari taksi. "Makasi ya pak!" Sakura memberikan ongkos taksi dan segera berlari masuk ke dalam rumah sakit.
"Sakura..!" Ucap Hiroyuki. "Hai..Om, maaf aku terlambat datang! soalnya tadi hujan deras!" Jelas Sakura sembari tersenyum. Hiroyuki senang Sakura akhirnya datang.
"Syukurlah kamu datang, tadi sulit sekali membujuk Kenzi untuk terapi hari ini!" keluh Hiroyuki. "Kenapa memangnya?" Tanya Sakura sembari duduk di samping Hiroyuki.
"Dia nggak mau berangkat kalau tidak ada kamu, Sakura!" Jawab Hiroyuki. "Ooo..ya ampun Kenzi, maafin saya ya Om, telat datang !" Ucap Sakura merasa tidak enak. "Ah nggak apa-apa, Om malah sangat berterimakasih kamu mau menyusul ke sini." Kata Hiroyuki menepuk bahu Sakura.
"Aaaaakh..aaakh...!" suara jeritan Kenzi. "Loh itu kan suara Kenzi, ada apa ya?" Sakura dan Hiroyuki langsung masuk setelah mendengar teriakan Kenzi dari dalam ruang terapi.
__ADS_1
"Kenzi.. Kenzi..yang tenang nak! kamu kenapa sih!" Ucap Fumiko menenangkan Kenzi yang menolak berlatih. "Ayo di coba sedikit lagi! kamu pasti bisa...aku tuntun yaaa!"Ucap suster terus berusaha untuk menyemangati Kenzi.
"Ada apa? Kenzi...ada apa sayang?" Tanya Sakura mendekati Kenzi.
Seketika, Kenzi langsung menoleh ke arah suara Sakura. "Sa..saa..kura..!" panggil Kenzi, sulit mengucapkan nama Sakura.
"Iya..aku di sini, maafin aku datang terlambat.. maafin yaa!" Sakura segera memeluk Kenzi erat. Lalu Kenzi menangis, dia fikir Sakura tidak akan datang.
Fumiko menangis melihat Kenzi. Sambil berlari, Fumiko keluar dari ruang terapi. Hiroyuki segera menyusul.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu sedih, ada apa?" Tanya Hiroyuki yang menghampiri Fumiko lalu memeluknya. Fumiko terus menangis tersedu-sedu. "Mengapa Kenzi bertambah parah, padahal dulu tidak seperti ini! dia masih bisa bicara normal dan bahkan dia bisa berangkat sekolah!" Keluh Fumiko tak menyangka, Penyakit prader willi syndrome (PWS) Kenzi, semakin hari semakin parah.
"Ssstt..tenanglah..tenang, hmmm..aku juga tak mengerti mengapa bisa begini." Jawab Hiroyuki.
"Kalau saja dia tidak menghilangkan kekuatannya, mungkin sekarang Kenzi sudah melanjutkan sekolah kelas 11!" Ucap Fumiko.
"Mengapa kamu mengatakan itu, ini sudah jadi pilihannya, dan ini yang terbaik! sebab, hidupnya tidak akan pernah tenang, kamu tahu kan! banyak orang jahat yang ingin menguasai kekuatannya!" Jelas Hiroyuki mengingatkan Fumiko.
"Lihat..Kenzi sedang berjuang, syukurlah di sisinya ada Sakura, yang setia mendukungnya, oleh karena itu kamu juga harus kuat, Miko!" Kata Hiroyuki sembari melihat Kenzi dan Sakura dari kaca jendela.
Fumiko melihat, rasa terharu sekaligus sedih melihat mereka berdua. "Kasihan mereka berdua, aku harus bisa menyemangati mereka, demi anak ku!" Ucap Fumiko dalam hati.
Kenzi terlihat bersemangat dan bahagia saat berlatih berjalan bersama Sakura. Suster pun ikut terharu. "Sakura benar-benar gadis yang baik." Bisik hati suster melihat Sakura yang dengan tulus membantu Kenzi berdiri.
"Naah..gitu dong sayang! selangkah lagi..ayo Sayang...ayo sini..raih tangan ku!" Ucap Sakura sambil tersenyum mengulurkan tangannya, dan menantikan Kenzi maju ke depan dan meraihnya.
"Aaakh..!" Kenzi terjatuh tak mampu menggapai tangan Sakura. "Kenzi...Kenzi..maaf..maafkan aku! seharusnya aku terlalu memaksa mu!" teriak Sakura terkejut melihat Kenzi jatuh. Sakura memegang tangan dan memeriksa kaki Kenzi, cemas.
"Jangan panik, nggak apa-apa kok, ya kan Kenzi! Kenzi kuat pasti bisa berdiri lagi!" Suster segera membantu Kenzi berdiri.
"Aaakh..!" Kenzi tak kuat berdiri lagi. "Cukup..Cukup saja suster! mungkin dia butuh istirahat." Sakura menuntun Kenzi ke kursi rodanya. Suster mengalah dan ikut membantu memapah Kenzi.
__ADS_1
Ponsel Sakura berdering.
"Sebentar ya Kenzi, ada telp! aku trima dulu yah!" Ucap Sakura lalu keluar ruang terapi. "Aaakh..Sa..kura..!" Kenzi tak mau di tinggal Sakura. Suster mencoba menenangkan Kenzi. "Aduduh...Kenzi manja banget ya sama pacarnya! haha..Nanti juga Sakura balik lagi kok, kamu tenang aja ya!" Ucap Suster.
Fumiko dan Hiroyuki bergantian masuk menangani Kenzi. Sedangkan Sakura berbicara di telp. "Hallo..Ayah." Ucap Sakura.
"Ada di mana kamu?" Tanya Ihsan. "Biasa Yah, aku ada di rumah sakit, menemani Kenzi terapi, memangnya ada apa Yah?" Kata Sakura menjelaskan.
"Pulang sekarang! Ayah mau bicara! penting!" Jawab Ihsan tegas.
Telp langsung di tutup. "Loh! ada apa ya? Kenapa kedengarannya Ayah marah, emang aku salah apa?" Pikir Sakura.
"Tante ..Om.." Bisik Sakura memanggil Fumiko dan Hiroyuki. "Iya ..ada apa nak?" Tanya Mereka. "Maaf Tan, Om..aku harus pulang, Ayah tadi menelpon, meminta ku untuk segera pulang!" Jawab Sakura tertunduk sedih, karena hari ini, tak bisa menemani Kenzi terapi sampai selesai.
"Oh sudah tidak apa-apa sayang, salam ya sama Ayah mu, Sakura." Jawab Hiroyuki. "Hati-hati di jalan ya, nak!" Ucap Fumiko.
Sakura pulang ke rumah.
"Aku pulang!" Ucap Sakura sembari masuk ke dalam rumah.
Ihsan sudah menunggunya di meja makan."Kemari sebentar Nak!" Ucap Ihsan.
"Iya Ayah..ada apa?" Sakura duduk di hadapan Ihsan.
"Kamu sudah makan?" Tanya Ihsan khawatir. "Ya..ampun ! iya aku lupa Yah, hehehe..!" Jawab Sakura santai sambil bangun dan membuka kulkas.
"Ini, Ayah sudah buatkan kamu sayur dan ayam goreng, makan lah dulu." Ihsan menaruh makanan untuk Sakura di meja makan.
Sakura dengan hati-hati mengambil makanan yang sudah di sediakan. "Terima kasih Ayah!" Ucap nya sambil takut kalau Ayahnya akan marah. karena Sakura telat makan lagi.
"Makan yang banyak, kamu terlalu sibuk mengurusi orang lain, sampai lupa mengurus diri sendiri!" Ucap Ihsan kesal.
__ADS_1