Rindu Dalam Diam

Rindu Dalam Diam
Kembalinya suara tawamu


__ADS_3

Hangatnya air membuat Sakura semakin nyaman di dalam bathtub. Meski ruangan kamar tidur nya tidak terlalu besar namun memilki kamar mandi yang cukup luas, begitulah yang terlintas di pikiran Sakura.


Saking enaknya Sakura hampir saja tertidur di bathtub. Di lihat nya sekeliling kamar mandi, sepertinya Sakura lupa membawa handuk.


Sakura berusaha bangun dari bathtub, lalu tanpa disadari tangannya tak sengaja menjatuhkan cairan shampo ke lantai kamar mandi.


Dengan hati-hati Sakura melangkahkan kakinya untuk keluar dari bathtub perlahan. Kenzi yang mengisi air terlalu penuh sebelumnya, membuat air sampai meluber keluar dari bathtub. Sehingga lantai kamar mandi menjadi basah.


Apalagi ketika Sakura berendam, tentu saja air sampai meluap keluar. Kaki kiri Sakura melangkah pertama kalinya lalu kaki kanan mulai mengikuti.


Di kaki Sakura merasakan lantai menjadi sangat licin karena tadi terkena cairan shampo yang tumpah. Sakura pikir sebaiknya untuk melangkah pelan sambil berpegangan dinding kamar mandi.


Di lihat oleh Sakura, di depan ada wastafel persis di samping pintu keluar kamar mandi. Dia mencoba meraih wastafel itu. Sakura merentangkan tangan kanan nya, sedangkan tangan kiri nya tetap berpegangan pada tirai penutup bathtub.


Namun lantai terlalu licin, sehingga membuat Sakura kehilangan keseimbangan. Belum tangan kanannya meraih wastafel, diri nya yang hanya berpegangan dengan tirai itu, terpeleset dan terjatuh ke lantai. "aaaaaaa.....!"


Sakura jatuh dengan posisi tiarap dan tubuh nya yang telanjang tertutupi oleh tirai yang terbawa jatuh di atas tubuhnya.


Kenzi yang sedang menantikan di tangga, mendengar jeritan suara Sakura, bergegas Kenzi bangkit dari tempat duduknya dan berlari menuju kamar.


"Sakuraaa..!" teriak Kenzi. Kenzi kaget setelah masuk melihat Sakura tergeletak, tubuhnya yang tak berbusana tertutup dengan tirai kamar mandi.


Kenzi jadi dan bingung, tak tahu bagaimana cara menolong Sakura, dia hanya bisa memandangi Sakura yang tersenyum malu padanya.


"hehehe, bisa tolong ambilkan handuk?" Tanya Sakura, dirinya merasa malu sekali.


Kenzi bergegas berbalik dan mengambil handuk yang tergeletak di tempat tidurnya.


"mmm...ini handuk nya!" Ucap Kenzi terbata-bata. Sakura yang mengulurkan tangan kanannya, terangkatlah tubuhnya sedikit, maka terlihat lah belahan buah dadanya.


Wajahnya Kenzi menjadi merah, ketika tak sengaja terlihat belahan buah dada Sakura yang tertekan di lantai kamar mandi.


Posisi seksi seperti itu, membuat Kenzi menelan ludah nya dan sambil memejamkan mata, tangan Kenzi gemetar karena gugup perlahan maju sembari memberikan handuk pada Sakura.


Sakura segera meraih handuk dan mengambilnya dari tangan Kenzi.


Kenzi segera berbalik pergi keluar dari kamar.


Sakura heran melihat ke arah Kenzi yang melangkah cepat, pergi keluar kamar tanpa berkata apa-apa.


Tanpa berfikir apa-apa lagi Sakura langsung bangun dan memakai handuk lalu berkata:


"Terimakasih Kenziii...!" teriak Sakura dari dalam kamar mandi.


Kenzi yang saat itu di luar, bersandar di balik dinding. Nafasnya terasa berat seakan habis berjalan mendaki bukit. Wajahnya yang masih memerah dan matanya yang terus terbayang kejadian tadi, membuat degub jantung Kenzi tak mau tenang.


Kenzi terdiam mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas panjang berkali-kali.

__ADS_1


Di dalam kamar Sakura menantikan suara Kenzi, sambil memakai pakaiannya Sakura berfikir " kenapa Kenzi diam saja, ada apa ya ?"


Sakura keluar kamar, dilihatnya sekeliling. Ternyata Kenzi sedang berdiri bersandar di dinding samping. Sakura memperhatikan Kenzi.


"Sedang apa dia?"


Kenzi mulai merasa tenang, detak jantungnya mulai stabil, sambil memejamkan mata, Kenzi menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Dan ketika Kenzi membuka mata.


Kenzi kaget ternyata Sakura sudah berdiri di hadapannya.


Mereka saling menatap.


"kamu sedang apa Kenzi ?" Tanya Sakura.


Namun sepertinya Kenzi tidak mendengarkan, Kenzi terpaku terpana melihat Sakura, rambutnya yang basah berderai sampai melewati bahu, kulit cerah Sakura yang terlihat sangat halus menyilaukan mata Kenzi.


Dalam hati Kenzi berkata, "bukannya Sakura yang terhipnotis, tapi akulah yang saat ini sedang terhipnotis dengan kecantikan Sakura".


"HEYYY...!" teriak Sakura lalu tertawa, "hahaha..kamu kenapa bengong begitu sih!"


"hahahaha..lucu banget sih muka kamu, Kenzi!" Ucap Sakura gemas melihat wajah Kenzi, membuat Sakura mencubit pipinya yang memerah.


"iihh..kenapa Aku di cubit!" Kenzi tersadar dari lamunan karena cubitan Sakura. Kenzi yang menghindar karena malu, berjalan dan mengambil mie instan dari lemari dapur.


Sakura tersenyum dan mengikuti Kenzi dari belakang.


Sakura yang berdiri di samping melihat Kenzi membuka bungkus mie instan, langsung berkomentar.


"waahh...pasti enak nih, lagi hujan begini makan mie pedas, mmm...lezat!" Ucap Sakura sembari melihat Kenzi yang hanya diam sembari menyiapkan air untuk merebus mie.


Sakura bingung melihat Kenzi yang diam saja sejak tadi. Sakura mengira mungkin Kenzi marah, tersinggung karena sudah mencubit pipinya tadi.


Sakura mencoba mencairkan suasana.


Postur tubuh Kenzi lebih tinggi dari Sakura.


Tubuh Sakura yang mungil itu menyenggol paha Kenzi dengan menggunakan pinggulnya. Kenzi tetap diam dan fokus memasak.


Sakura tak mau menyerah, dia goyangkan lagi pinggulnya ke arah paha Kenzi yang sedang memasukkan bumbu mie instan ke dalam mangkuk.


Kenzi yang menyadari tingkah Sakura yang jail, meneruskan memasak sambil menahan senyuman di bibirnya.


Sepertinya Sakura tahu kalau Kenzi pura-pura tidak perduli.


Sakura kembali menggoda Kenzi, di goyangkan pinggulnya dengan kuat ke arah Kenzi, berharap bisa menyentuh paha Kenzi lebih keras.


Tapi Kenzi yang sudah menebak gerakan Sakura, mengelak dan menjauh dari Sakura. Seketika Sakura yang terlanjur menggoyangkan pinggulnya kuat-kuat terjatuh dan tubuh nya di tangkap oleh Kenzi.

__ADS_1


Sakura yang merasa lega karena tak jadi jatuh itu tersenyum lebar, lalu mereka tertawa bersama-sama.


"Dasar iseng kamu ya, hahaha!" Ucap Kenzi sambil tertawa.


Sedari tadi ternyata Fumiko mengamati dari pintu atas, dia mendengar suara tawa Kenzi, sudah lama Kenzi tidak tertawa seperti itu. Sejak Hiroyuki tiada.


Fumiko lalu keluar dari ruangan itu dan menyusuri jembatan sambil berfikir membiarkan mereka berdua untuk sementara. Fumiko tidak ingin mengambil kebahagiaan anaknya, dia ingin melihat anaknya kembali tersenyum meski hanya beberapa hari saja.


Fumida melihat Fumiko masuk, terlihat wajah Fumiko yang tersenyum bahagia.


"Hal apa yang membuat Fumiko tersenyum" fikir Fumida.


" Sebentar lagi kita tutup, kamu mau makan apa?" Tanya Fumida pada Fumiko.


Namun pertanyaan Fumida tidak segera di jawab oleh Fumiko.


Fumiko sedari masuk tadi hanya duduk termenung menatap keluar cafe.


Kaca jendela terlihat buram dan berembun, karena udara dingin disebabkan hujan yang belum berhenti sejak tadi, sehingga tercipta ribuan percikan air di jendela cafe.


Fumida merasa ada yang aneh, bukankah barusan dia tersenyum seperti orang yang baru mendapatkan hadiah kejutan, tapi kenapa sekarang wajahnya berubah jadi mendung.


Fumida sambil membawakan makanan dan minuman, menghampiri dan duduk berhadapan dengan Fumiko.


"Ada apa, tadi senyum-senyum, sekarang malah bersedih lagi?" Tanya Fumida sambil meletakkan piring berisi kan makanan di depan Fumiko.


Fumiko kemudian menoleh ke arah Fumida, sambil menunduk sedih lalu berkata:


" Apa yang harus aku lakukan!" Ucap Fumiko sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Fumida terdiam dan berfikir mungkin Fumiko sedang mengkhawatirkan putranya Kenzi. "Sudah, makanlah dulu, Kenzi bukan anak kecil lagi, bahkan dia sekarang sudah bisa hidup mandiri, apa lagi yang harus kamu khawatirkan miko!" jelas Fumida sembari meminum teh hangatnya.


"Tapi...para pemburu green eyes itu masih berkeliaran di luar sana!" Ucap Fumiko sembari menunjukkan jarinya ke arah jendela cafe.


Fumida tetap meminum teh hangatnya dengan tenang. Lalu memegang tangan Fumiko.


" Percayalah, anak mu bukan kita, aku merasakan perbedaannya!" Ucap Fumida.


" maksud mu kak?" Tanya Fumiko tak faham.


" Aku sering melihat Kenzi sedang menghipnotis dirinya di depan cermin, dia menyembuhkan dirinya sendiri !" Ungkap Fumida menceritakan apa yang ia lihat.


Fumiko baru sadar, memang penyakit yang di derita Kenzi sepertinya berangsur hilang, tanpa adanya pengobatan ataupun terapi.


"kamu benar kak, mengapa aku tidak menyadari itu!" Jawab Fumiko. Dia tersenyum dan merasa lebih tenang karena ternyata anaknya lebih cerdas darinya.


Fumida dan Fumiko memahami apa yang Kenzi sedang lakukan, Kenzi berusaha menutupi kesembuhannya, dia berpura-pura sebagai anak berkebutuhan khusus di luar sana agar tidak di curigai para pemburu green eyes.

__ADS_1


__ADS_2