
Angin berhembus terasa dingin sampai menembus ke tulang. Meski Kenzi sudah memakai mantel berbulu tebal tetap saja bibirnya membiru kedinginan.
Pagi hari di bukit bersalju, Rezukinawa sudah menyuruh Kenzi untuk berlatih di luar mendaki bukit.
"Ah gila, dingin banget !" keluh Kenzi sambil melangkah perlahan menyusuri salju yang tebal.
Rezukinawa sudah lebih dulu melangkah, sepertinya udara dingin tak mempengaruhinya.
"Cepat jalannya, lamban sekali, kaya kura-kura kamu!" teriak Rezukinawa pada Kenzi.
Kakinya terasa berat karena harus menembus tanah bersalju setebal tembok cina.
" saljunya terlalu tebal, aku belum terbiasa berjalan di tempat seperti ini!" Jawab Kenzi kesal merasa Rezukinawa sedang mengerjainya.
" Lagian ngapain sih naik bukit segala, latihan di halaman pondok juga bisa!" Kenzi berkeluh kesah sambil terus berjalan.
Rezukinawa memandangi Kenzi dari atas bukit, dia sudah sampai lebih dulu.
"Gunakan kekuatan matamu!" teriak Rezukinawa yang sudah mulai memberikan pengarahan.
Ternyata menaiki bukit bersalju termasuk bagian dari melatih fisik Kenzi.
Kenzi bingung mengapa Rez memintanya menggunakan kekuatan mata hijaunya, apa dia tidak khawatir dengan pemburu green eyes yang bisa melacak kalau kekuatan itu digunakan? Pikir Kenzi.
"aku gak bisa menggunakan nya, bahaya, tempat persembunyian kita bisa terlacak nanti!" Jawab Kenzi sembari berteriak melihat ke atas bukit.
"Dasar anak bodoh!" Bisik Rezukinawa mendengar jawaban Kenzi.
"ngapain aja kamu selama ini, tidak tahu apa-apa tentang mata hijau mu sendiri!" Rezukinawa tertawa sinis.
"Terserah, mungkin kamu lebih suka berjalan seperti itu sampai mati kedinginan!" Ucap Rezukinawa pelan dan langsung meninggalkan Kenzi masuk ke dalam hutan dengan berlari secepat kilat. "wuuuzzzz...!"
Kenzi yang masih di bawah melihat Rez yang pergi meninggalkannya.
"Woyy...jangan tinggalin aku dong, huuu.. rese banget si tu nenek sihir!" Ucap Kenzi kesal.
Rezukinawa tertawa mendengar keluhan Kenzi, menyebutnya nenek sihir, sambil membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Pendengaran Rezukinawa sangat tajam, padahal posisi Kenzi sangat jauh dari tempat Rezukinawa duduk sekarang.
Kenzi akhirnya sampai di atas bukit, nafasnya tersengal sengal seperti mau habis. Kenzi tersungkur ke tanah, dia kelelahan. Tapi jika diam saja di sini, tubuhnya bisa membeku.
"Aku harus menggerakkan tubuh ku!" Kenzi bangkit meski tubuh terasa berat, dia melihat ada cahaya api unggun di depan sana.
"Itu pasti si nenek sihir!" Ucap Kenzi sambil melangkah menuju cahaya api unggun.
Rezukinawa duduk di atas batu besar sambil bermeditasi. Kenzi akhirnya sampai dan langsung menghampiri api unggun untuk menghangatkan diri.
Kenzi menatap sinis pada Rezukinawa yang berdiam di atas batu. "Hey, sekarang aku harus apa?" Tanya Kenzi.
__ADS_1
Rezukinawa masih saja terdiam tak menjawab pertanyaan Kenzi.
Kenzi makin kesal, diri nya sudah lelah berjalan jauh melalui salju yang tebal, sekarang setelah sampai malah di abaikan Rez.
Kenzi duduk diam di depan api unggun yang berkobar-kobar, tiba-tiba terdengar suara auman serigala hutan.
Kenzi ketakutan khawatir jangan-jangan serigala akan datang kesini.
Benar saja, seekor serigala besar berbulu putih berdiri tidak jauh dari tempat Kenzi duduk.
Kenzi kaget dan langsung bangkit dari tempat duduknya sambil mengambil kayu yang ujungnya berapi.
"huzz..huzz..huzz..!" Ucap Kenzi mencoba menakuti serigala itu sambil mengayun-ayunkan kayu berapi.
"Kendalikan Serigala itu dengan matamu!" Ucap Rezukinawa yang berbicara namun masih dalam posisi meditasi.
Kenzi kaget, dan tak faham, kenapa masih saja disuruh memakai kekuatan mata hijau.
" nanti mereka bisa tahu posisi kita, kalau aku menggunakannya!" Jawab Kenzi sambil terus mengawasi Serigala yang juga menatapnya.
"Bodoh! Udara di sini terlalu dingin, sehingga mereka tidak akan bisa melacak kekuatan kita!" Jelas Rezukinawa.
Kenzi terperangah mendengar penjelasan Rez, kini dia tidak akan ragu-ragu lagi mengunakan kekuatannya.
Serigala mengaum lagi, seperti nya dia memanggil kawanannya.
Kenzi kemudian meletakkan kayu berapi ke tanah, dan mengambil posisi bersiap lalu menarik nafas panjang. Dia memfokuskan diri sambil memejamkan mata, mulailah dari selah- selah kelopaknya mengeluarkan cahaya hijau yang menyilaukan.
Serigala itu mulai berkumpul dan semakin mendekati Kenzi, serentak mereka mengeluarkan suara yang menakutkan.
Kenzi sedikit terganggu konsentrasinya mendengar suara Serigala yang bergetar.
"Rrrrrr...Rrrr!" Srigala siap menyerang Kenzi.
Kenzi berusaha kembali fokus. Disaat yang bersamaan, ketika serentak Srigala mulai berlari ke arah Kenzi dan melompat ingin menerkam, mengincar leher dan kaki Kenzi. Pada saat itulah Kenzi membuka mata dan menatap mata serigala yang meloncat ke arah nya.
"Diam....!" teriak Kenzi dengan pancaran hijau yang keluar dari matanya menatap mata serigala yang tepat berada di depan wajahnya.
Sontak Serigala-serigala itu terdiam dan tak bergerak.
Rezukinawa menyaksikan kedahsyatan kekuatan mata hijau Kenzi sambil tersenyum. Kemudian Rezukinawa melanjutkan meditasinya.
Kenzi yang masih berdiri menatap tiga serigala yang tak berkutik, memejamkan matanya dan meredakan pancaran kekuatan mata hijaunya.
Serigala terduduk patuh pada Kekuatan mata Kenzi.
Kenzi lalu maju dan mengelus-elus Serigala-serigala itu yang mendadak menjadi jinak.
__ADS_1
Kenzi pun dalam hati merasa takjub dengan kekuatannya sendiri, baru kali ini dia menggunakannya untuk mengendalikan hewan buas.
Kenzi jadi berfikir, "berarti aku bisa melakukan apa saja yang aku mau!?"
"Iya kan Rezuki?" Tanya Kenzi yang menoleh ke arah Rezukinawa yang sedang bermeditasi.
Kenzi maju dan mendekat ke hadapan Rezukinawa. Di lambaikan tangannya di depan wajah Rez, namun Rez tidak bereaksi. Kemudian Kenzi berbalik dan berniat ingin mengerjai Rezuki.
Kenzi diam-diam mengambil sebatang kayu dan langsung mengarahkan lalu mengayunkan kayu ke Rezukinawa.
"syiaaaaatttt....!" teriak Kenzi yang mencoba memukul kepala Rezukinawa.
"Happ..!" Rezukinawa dengan cepat menangkap kayu itu meski dalam keadaan matanya terpejam.
Kenzi takjub dengan kehebatan Rezukinawa. "Waaawww...gaya mu mengingatkan ku pada seseorang!" Ucap Kenzi sembari melepaskan kayu yang kini berada di tangan Rez.
"Siapa dia?" Tanya Rez sambil turun dari batu besar tempat bermeditasi tadi.
Kenzi duduk kembali dekat api unggun, lalu menjawab.
"Sakura, dia ahli beladiri !" Jawab Kenzi.
Di dalam ruang bawah tanah, Sakura menyaksikan dua orang yang sedang memperebutkan gulungan kertas yang kata Hiroyuki isinya adalah mantra menghipnotis semua orang.
"Kemarikan sobekan itu!" pinta Fumiko pada Yuki sambil mengejar Yuki.
"tidak...kau yang kemarikan sobekan sebelahnya!" Jawab Hiroyuki ngotot tidak mau menurut pada Fumiko. Hiroyuki terus menghindari Fumiko.
"Apa kamu tidak berfikir, isi kertas ini berbahaya, dan harus segera di musnahkan!" Ucap Fumiko. "apa kamu tidak sayang dengan anakmu!?"Tanya Fumiko dengan tatapan marah.
"Tapi, ini adalah warisan leluhurku, dan sudah menjadi tugasku untuk menjaganya!" Jawab Hiroyuki.
Fumiko berhenti berlari mengejar Hiroyuki.
"warisan kata mu!" Jawab Fumiko kesal. Lalu Fumiko mengambil obor yang ada di dinding. Tanpa ragu, dia membakar bagian gulungan kertas itu di hadapan Hiroyuki.
Hiroyuki berteriak histeris.
"jangaaaaannn...!" teriak Hiroyuki segera mencegah Fumiko. Tapi kertas itu sudah terlambat di selamatkan.
Fumiko tersenyum senang. " kamu pikir warisan ini bisa menyelamatkan Kenzi!"
"Kemarikan kertasnya!" Fumiko meminta sebagian lagi gulungan kertas yang ada di tangan Hiroyuki.
Hiroyuki dengan pasrah memberikan gulungan itu pada Fumiko. "apa kamu pikir dengan membakar gulungan kertas ini juga bisa menolong Kenzi!" Jawab Hiroyuki kesal dengan sikap Fumiko.
Fumiko terdiam dan menyadari bahwa perkataan Hiroyuki ada benarnya. Kemudian Fumiko menghempaskan kertas itu ke tanah.
__ADS_1
Mereka semua terdiam dan tak tahu harus bagaimana.