Rindu Dalam Diam

Rindu Dalam Diam
Keteguhan Hati Sakura.


__ADS_3

"Sakura, Ayah sudah pikirkan ini baik-baik, kita akan pindah ke Surabaya, di sana kamu akan sekolah di pondok pesantren yayasan Al Ihsan milik Ayah." Ucap Ihsan. Sakura terkejut mendengar keputusan yang mendadak itu.


"Tapi Ayah.. aku masih Ulangan, nanti aja ya Yah mondoknya, kalau aku sudah selesai SMA, bagaimana Yah, nggak apa-apa kan?" Rayu Sakura.


"Ayah tahu kenapa kamu menolak pindah ke Surabaya, karena Kenzi kan?" Kata Ihsan menatap Sakura.


Sakura menunduk sedih, "Kalau Ayah sudah tahu alasannya, kenapa kita harus pindah Ayah? Kenapa!" Ucap Sakura kecewa dengan keputusan Ayahnya.


"Justru karena Kenzi, kita harus pindah, kamu harus memikirkan masa depanmu Sakura! kamu nggak bisa begini terus...terus-terusan mengurusi Kenzi, sedangkan untuk makan saja, Ayah yang selalu ingatkan kamu! bagaimana jika Ayah sudah tiada, Siapa yang akan mengurus kamu Sakura? siapa! Apa Kenzi bisa mengurus kamu? Heh..coba kamu pikirkan, Untuk berdiri saja dia sulit!" Ungkap Ihsan ingin Sakura sadar diri.


"Ayah! Kenapa Ayah tega sekali berkata seperti itu tentang Kenzi, Ayah ...dulu, waktu Kenzi masih memilki kekuatan, dia korban kan semuanya untuk menyelamatkan aku, Ayah! menyelamatkan kita semua! lalu sekarang, sekarang saat dia lemah dan butuh dukungan, kita malah berencana ingin meninggalkannya, begitu Ayah?" Jawab Sakura. "Ayah bener-bener tega!" Ucap Sakura sampai menangis.


"Sakura...Ayah Bukannya tidak tahu balas budi! tapi ini sudah tiga tahun, tiga tahun kamu selalu berada di sisi Kenzi, tapi sekarang nggak bisa begitu terus Nak! kamu semakin hari bertambah usia, kamu harus memikirkan pendidikan mu, cita-cita mu, dan masa depan mu, Sakura! kamu juga harus menikah, punya anak dan membangun keluarga sendiri, dan itu nggak mungkin kamu lakukan bila bersama Kenzi!" Jelas Ihsan pada Sakura.


"Ayah...Stop Ayah! aku nggak mau dengar lagi, aku nggak mau dengar apa-apa lagi, dari Ayah!" Sakura berlari masuk ke kamarnya lalu membanting pintu. "Brakk!"


"Astaghfirulloh...Sakura! Sakura...dengarkan Ayah Nak! Sakura...!" teriak Ihsan mencoba terus membujuk Sakura, Namun Sakura sangat keras kepala. Baginya Kenzi adalah segalanya. Tak mungkin baginya meninggalkan Kenzi begitu saja.


Ihsan menghela nafas, terduduk lemas di sudut ruang tamu, memandangi foto Mamanya Sakura yang sudah tiada.


"Dara, andai saja kamu ada di sini, pasti kamu bisa menasehati Sakura, lebih baik daripada aku." Ucap Ihsan sedih.


Sakura masih menangis sambil menutupi wajahnya dengan bantal. "Kenapa sih Ayah egois banget, seenaknya ngatur-ngatur hidup aku! aku bukan anak kecil lagi!" teriak Sakura di dalam kamarnya.


Ihsan terdiam, mendengar teriakan Sakura, hanya bisa menarik nafas panjang, berusaha sabar. "Aku harus apa? aku harus bagaimana? ini semua demi kebaikan mu Nak, demi kebahagian mu! kamu belum mengerti Sakura, Ayah takut kamu akan salah mengambil keputusan, dan kamu akan menyesal di kemudian hari." Pikir Ihsan sambil memandangi foto Sakura kecil yang di pangku oleh Mamanya Dara.


Di rumah Kenzi, Fumiko dan Hiroyuki masuk ke dalam rumah, setelah beberapa jam, menemani Kenzi terapi. "Kira-kira Sakura kenapa ya? tiba-tiba di panggil Ihsan?" Tanya Fumiko. "Entahlah, aku tidak tahu, biarkan saja! nggak usah kamu pikirkan! itukan urusan keluarga mereka." Jawab Hiroyuki.


"Iya juga ya! Kenzi..kita istirahat ya, kamu pasti capek, sini Mama bantu ya sayang!" Ucap Fumiko sembari mengangkat Kenzi, berdua dengan Hiroyuki.

__ADS_1


"Hap! Nah..sekarang kamu istirahat ya." Ucap Hiroyuki sambil menyelimuti Kenzi. Fumiko mencium kening Kenzi, lalu mematikan lampu kamar.


"Selamat tidur ya Nak!" Ucap mereka sambil tersenyum sembari menutup pintu.


"Aku sedikit khawatir." Kata Fumiko sembari memegang tangan Hiroyuki. "Khawatir kenapa?" Tanya Hiroyuki.


"Bagaimana, jika suatu hari nanti, Sakura tidak bisa bersama Kenzi lagi? Hufff...Aku takut, Kenzi akan sedih dan bisa mempengaruhi kesehatannya!" Ucap Fumiko bersedih.


Hiroyuki lalu memeluk Fumiko, "Sudahlah.. jangan berfikir yang macam-macam! itu hanya akan membuat mu stress dan sedih, apa pun yang terjadi nanti, kita akan selalu di sisi Kenzi, mendukungnya dan menyemangatinya agar bisa pulih kembali. Kamu harus semangat juga ya!" Jawab Hiroyuki memberikan semangat baru untuk Fumiko.


"Kamu lapar nggak? Ayo kita makan! kamu duduk di sini dulu ya sayangku...Aku akan buatkan makanan spesial, buat istriku tercinta!" Ucap Hiroyuki tersenyum menghibur Fumiko.


"Hahaha..Kamu bisa...aja! memangnya, mau masak apa kamu?" Tanya Fumiko kembali tersenyum. Hiroyuki membuka lemari pendingin, "Adanya..telur..mmm..wortel, bikin apa ya? hmm..Nah, Omlet saja!" Jawab Hiroyuki.


"Waahh..pasti enak! ya udah, ayo cepat buatkan! aku dah lapar nih!" Ucap Fumiko manja.


"Tok..Tok.. Tok...!" suara ketukan pintu rumah Kenzi. "Iya, sebentar!" Jawab Fumiko dari dalam rumah.


"Kenzi...sabar ya sayang, ada tamu, jadi Mama pergi bukain pintu dulu yaaa..Kamu di sini aja, nanti Mama pasti cepat kembali lagi! tunggu yaa!" Fumiko dengan lembut, menjelaskan pada Kenzi, sebab bila tidak di jelaskan secara detail, Kenzi akan mengamuk, karena dia berfikir, Mamanya pergi meninggalkannya.


Fumiko berjalan menuju pintu depan.


"Kak Fumida!" Fumiko terkejut melihat Fumida ternyata datang berkunjung ke rumah nya.


"こんにちは、お元気ですか!"


"Kon'nichiwa, ogenkidesuka!"


(Hai, apa kabar cantik ) Ucap Fumida tersenyum bahagia, akhirnya bisa main ke rumah adiknya. "Iiihh..kakak! Kenapa nggak kasih kabar, kalau mau main ke Indonesia! Kan aku bisa jemput di bandara, dan aku bisa siap-siap masakin sesuatu yang spesial buat Kakak!" Ucap Fumiko sambil memeluk Fumida.

__ADS_1


"Justru itu, aku nggak mau merepotkan kamu." Jawab Fumida lalu masuk membawa koper nya.


"Sini koper nya! biar aku bawakan ke kamar!" Ucap Fumiko segera mengambil koper Fumida.


"Mana nih, ponakan Obasan yang paling ganteng?" Tanya Fumida.


"Ada, itu di ruang tengah!" Jawab Fumiko dari dalam kamar meletakkan koper Fumida.


"Hai Kenzi...masih ingat Obasan tidak yaaa!" Ucap Fumida yang mendekat dan berjongkok di depan kursi roda Kenzi.


Kenzi menoleh perlahan, lalu melihat Fumida. Agak lama Kenzi mengingat-ingat wajah Fumida.


Lalu beberapa saat kemudian, Kenzi baru teringat, "O..O.Obasan..!" Ucap Kenzi yang tak lancar memgucapkan kata-kata.


Fumida terharu, lalu memeluk Kenzi, merasa prihatin, sedih dan semuanya menjadi satu, bercampur aduk rasanya. "Ponakan ku..!" Ucap Fumida menetes Kan airmata.


Fumiko memandangi mereka berdua, yang sedang berpelukan. Fumiko jadi ikut menangis.


"Sudah..sudah ya..maafin Obasan! Obasan nggak boleh menangis, iya kan Kenzi! kamu pasti akan sembuh, Obasan yakin itu! Obasan ke sini, karena kangen sama kamu. Oh iya, Obasan bawa hadiah buat Kenzi, sebentar ya, Obasan ambilkan!" Fumida lalu bangun dan berbalik sambil mengusap air matanya.


Fumida melihat Fumiko yang juga sedang menangis. Fumida Lalu mengusap airmata Fumiko.


"Jangan sedih, kamu harus tetap semangat, aku ke luar dulu ya!" Ucap Fumida mengambil kado yang masih ada di luar. Fumiko mengangguk kan kepalanya.


"Naah..ini dia!" Fumida membawa sebuah kado berukuran besar, entah apa isinya.


"Waaawww..kok berat sekali! isinya apa Kak?" Tanya Fumiko heran ketika menerima kado itu. Fumida Lalu membukanya.


"Apa itu?" Fumiko tak mengerti, mengapa Kakak nya membawa hadiah, berupa bongkahan batu, berwarna hitam.

__ADS_1


__ADS_2