Rindu Dalam Diam

Rindu Dalam Diam
Kabar baik dari Kenzi


__ADS_3

Fumida ternyata tidak sungguh-sungguh tertidur. Dia hanya berpuar-pura terpejam, untuk menghindari pertanyaan Fumiko, tentang Sakura padanya. Tanpa sadar airmata Fumida menetes, dia masih teringat dengan kejadian tadi sore di rumah Ihsan.


 


Fumida kesal pada dirinya sendiri, “Dasar bodoh kamu Fumida! Kamu pikir Ihsan merindukanmu, ternyata tidak sama sekali! Bahkan ketika dia bilang mau pindah ke surabaya pun, dia tak memikirkan bagaimana perasaan ku! Padahal aku sudah berniat ingin tinggal menetap di sini!” Fumida lalu mengusap airmatanya,”Ngapain juga aku nangis, nggak perlu! Ihsan sama saja seperti pria lainnya, egois!” Ucap Fumida di dalam selimut.


 


Funida kemudian membuka selimutnya. Tak di sangka ternyata Kenzi sudah berada di dalam kamar Fumida. “Kenzi!” Ucap Fumida kaget melihat Kenzi. “Sedang apa kamu di sini?” Tanya Fumida. “Obasan, apakah tadi obasan ke rumah Sakura?” Tiba-tiba Kenzi mampu berbicara sangat lancar. “Iya, tadi tante ke rumah Sakura!” Jawab Fumida singkat, tanpa menyadari perubahan cara bicara Kenzi. “Apakah dia masih marah padaku, Obasan?” Kenzi bertanya sambil menunduk sedih.


 


Fumida baru tersadar, setelah mendengar lagi suara Kenzi yang berbicara tanpa terbata-bata lagi. “Tidak, dia tidak marah padamu!” Jawab Fumida lalu turun dari tempat tidurnya dan mendekati Kenzi. “Kenzi, sejak kapan kamu bisa berbicara dengan lancar seperti ini?”  Tanya Fumida heran. Kenzi saja tak tahu, kalau sekarang dia bisa bicara dengan baik, tanpa terjeda-jeda. Kenzi tak yakin dengan apa yang Fumida katakan, “Masa sih!...AA..tes, tes, tes, Abcde...bener Obasan! Aku dah lancar bicara!” Ucap Kenzi senang, setelah mengetes dirinya sendiri.

__ADS_1


 


Fumida lalu mendorong kursi roda Kenzi mengantarkannya keluar kamar. “Fumiko...Hiroyuki....kalian berdua cepat sini!” Teriak Fumida. Fumiko dan Hiroyuki yang sedang duduk di ruang makan segera bangun dari tempat duduknya, setelah mendengar teriakan Fumida. “Ada apa dengan Fumida?” Hiroyuki kebingungan. “Entahlah, semoga tidak ada apa-apa!” Jawab Fumiko.


 


Fumiko dan Hiroyuki segera menghampiri Fumida. Kenzi dan Fumida tersenyum, tak sabar ingin segera memberitahukan berita gembira ini. Ada apa Kak? Bukannya tadi kakak tidur! Apa kakak bermimpi buruk?” Tanya Fumiko khawatir lalu memegang tangan Fumida dan mengajaknya untuk duduk. Fumida malah tertawa melihat Fumiko mengkhawatirkannya.  “Hahaha...ada apa sih? Aku nggak apa-apa kok! Kalian ini kenapa!” Ucap Fumida


“Hahaha...kalian ini kenapa lagi! Buat apa aku marahin kalian? Emang kalian salah apa!” Jawab Fumida sambil tertawa lagi. Lalu Kenzi pun reflek ikut tertawa. “Hei..kalian berdua kok malah tertawa! Kakak, sebaiknya kakak istirahat ya?” Ucap Fumiko yang tak menyadari kalau tadi Kenzi sudah bisa tertawa lepas, Sedangkan Hiroyuki memperhatikan Kenzi sejak dia mendengar suara tawa Kenzi.


Hiroyuki lalu mencolek Fumiko, “Iiih apa sih,colek-colek!” Ucap Fumiko masih belum menyadari. Kenzi dan Fumida tersenyum melihat Fumiko yang masih saja mengkhawatirkan Fumida. “Fumiko, Kenzi...! Kenzi...! Fumiko!” Ucap Hiroyuki. Fumiko masih tak mengerti maksud Hiroyuki. “Ada apa dengan Kenzi? Hah..apa Kenzi sakit?” Tanya Fumiko mendekati Kenzi dan memeriksanya dengan seksama. “Ada apa sayang? Apa kamu merasa ada yang sakit? Bilang sama Mama, mana yang sakit!” Fumiko merasa cemas.


“Hehehe..Tidak Mamaku sayang..! Aku baik-baik saja! Bahkan sekarang merasa lebih baik!” Jawab Kenzi tersenyum. Fumiko baru sadar, kalau Kenzi ternyata sudah lancar berbicara. “Ini yang aku maksud Miko, Kenzi sudah tidak kesulitan bicara lagi!” Ungkap Hiroyuki. “Iya...itulah mengapa aku tadi memanggil kalian berdua, Kenzi keadaannya semakin membaik, itu pertanda Batu hitam yang aku bawa, ternyata bekerja!” Jelas Fumida.

__ADS_1


Hiroyuki dan Fumiko kini faham, “Jadi kejadian tadi, yang terjadi padamu Kak, apakah itu juga pengaruh dari batu hitam itu?” Tanya Fumiko. “Iya, bisa saja! Soalnya bukankah selama perjalanan ku ke indonesia, aku selalu memegang erat batu itu!” Jawab Fumiko. Hiroyuki dan Fumiko nampak sangat bahagia mendengar kabar baik ini, “Sakura pasti bahagia kalau tahu kamu sudah semakin membaik Kenzi!” Ucap Fumiko.


“Biar aku beritahu Sakura!” Ucap Hiroyuki ingin mengirimkan pesan ke Sakura. Fumida kemudian berkata, “Tidak, jangan!” Teriak Fumida tiba-tiba, membuat semua orang menoleh ke arahnya. “Kenapa tidak boleh?” Tanya Fumiko heran. Fumida beralasan, “Hehe..masa kasih kabar gembira, malam-malam begini! Kalian nggak lihat ini sudah jam berapa, aku yakin Sakura sudah tidur!” Jawab Fumida.


“Ooo..iya! Betul juga apa kata Kakak, baiklah kita kabari Sakura besok pagi saja!” Ucap Hiroyuki kembali mengantongi ponselnya. “Huuuff..!” Fumida bernafas lega. Pasalnya Fumida belum bisa menceritakan bagaimana kabar Sakura pada mereka bertiga. Fumida lalu berjalan hendak masuk kekamarnya. “Obasan!” Panggil Kenzi. Fumida jadi terhenti langkahnya. “Mmm..iya ada apa Kenzi?” Jawab Fumida. “Bagaimana kabar Sakura? Obasan belum ceritakan pada ku, apa saja yang Sakura katakan tentang ku!” Pinta Kenzi.


Inilah yang di hindari Fumida sejak tadi, dia bingung harus mengatakan apa pada Kenzi. “Mmm..Sakura baik-baik saja, dia kirim salam untuk mu!” Jawab Fumida ingin segera masuk kamarnya. “Hanya itu saja Obasan? Tidak ada kata-kata lain dari Sakura untuk ku?” Tanya Kenzi lagi. Fumida yang sudah melewati pintu kamarnya berkata, “Besok saja kita bicarakan lagi ya Kenzi, Obasan sudah mengantuk.” Kata Fumida beralasan.


“Kenapa sepertinya Kakak selalu menghindar, jika kami mempertanyakan tentang Sakura? Memangnya ada apa Kak? Apa ini ada hubungannya dengan Kenzi?” Fumiko menahan langkah Fumida. “Besok saja ya Miko, lebih baik sekarang kita semua istirahat! Selamat malam!” Jawab Fumida. Sebenarnya Fumiko masih ingin bicara, namun Hiroyuki melarangnya. “Sudahlah Miko! Jangan di paksa, percuma! Biarkan saja kita tunggu dia yang mengatakannya sendiri besok!” Ucap Hiroyuki.


Sakura menangis semalaman di kamarnya. Ihsan pun tak bisa menenangkannya, dia hanya terdiam di depan pintu kamar Sakura. “Apa yang harus aku katakan padanya agar dia berhenti menangis? Kalau saja ibu mu masih ada...!” Ihsan mendesah nafasnya berat, satu-satunya yang tak bisa ia lakukan untuk Sakura, adalah bicara dari hati ke hati dengan anak perempuannya. Ihsan menutup pintu kamar Sakura perlahan.


“Apakah saat ini, Obasan sudah menceritakan semuanya pada Kenzi?” Pikir Sakura sembari memeluk gulingnya. Ponsel Sakura tiba-tiba berdering. “Kenzi...?” Sakura menatap layar Hp nya. Ternyata Kenzi yang menelponnya, dengan berat Sakura menerima telp Kenzi. “Hallo..ada apa Kenzi?” Tanya Sakura. “Boleh aku bicara sebentar?” Kata Kenzi. Sakura merasa ada yang berbeda, tapi apa itu, Sakura juga belum yakin.

__ADS_1


__ADS_2