Rindu Dalam Diam

Rindu Dalam Diam
Menembus waktu


__ADS_3

Kenzi menghilang lenyap bersama angin, kejadian itu membuat Sakura syok, Fumiko cemas, dan Hiroyuki panik.


 Mereka bertiga berusaha mencari tahu di mana keberadaan Kenzi yang di culik oleh Rezukinawa sepupu Hiroyuki.


 Rezukinawa seorang wanita bermata hijau yang kehebatan hipnotis nya sudah mencapai master. Dia mampu membuka portal untuk menembus waktu.


 Kehebatan mata hijau ternyata bukan hanya bisa menghipnotis orang saja, tetapi tingkatan kemampuan mata hijau muncul sesuai dengan kepribadian diri sendiri.


 Dan Rezukinawa dengan kepribadiannya yang kuat dan teguh, ia mampu menembus waktu.


 Di tempat yang jauh, terbentang luas pemandangan bukit yang bersalju, terdapat sebuah pondok kecil.


 “Zwing...zwing...zwiing !” suara gema memecah kesunyian di bukit bersalju. Rezukinawa menembus portal dari dunia dimana dia menculik Kenzi menuju dunianya di depan halaman pondok kecil.


 “Aaahhh..!” teriak Kenzi yang jatuh tersungkur di tanah yang bersalju. Kenzi terlempar keluar dari portal. Kemudian beberapa detik saja Rezukinawa juga keluar dari portal. Rez berjalan masuk ke dalam pondok kecilnya.


Kenzi terdiam terduduk di tanah, tubuhnya masih gemetar efek dari perjalanan waktu yang sangat cepat. Kenzi tak mengerti dengan apa yang terjadi padanya. Dengan menatap sekeliling dan merasa heran juga asing dengan tempat ini, bibirnya pucat Kenzi berusaha berbicara.


“Di mana ini? Ada di mana aku!?” Kenzi berteriak meminta penjelasan pada wanita berbaju hitam yang tidak dia kenal.


Rezukinawa berdiri di depan pintu pondok menatap tajam pada Kenzi.


“Apa kamu mau diam saja di situ sampai membeku hah!?”


“Cepat masuk, sebentar lagi badai salju akan datang!” Ucap Rezukinawa menyuruh Kenzi segera masuk ke pondok.


Kenzi bangkit dan berjalan perlahan sambil menggigil kedinginan. Kaos hitam yang ia pakai tak akan mampu menahan angin dingin dan hujan salju yang menerpanya.


Kenzi mau tidak mau harus masuk kedalam pondok kecil itu untuk menghangatkan tubuhnya.


Kenzi akhirnya masuk ke dalam pondok, lalu Rezukinawa menutup pintu dan mulai berjalan menuju depan perapian.


Rezukinawa duduk di depan perapian, sedangkan Kenzi hanya berdiri menatap penuh kewaspadaan.


Agar tempat ini menjadi hangat, Rez memasukkan kayu satu demi satu dan menyalakan perapian.


Dengan wajah cantiknya yang bercahaya terkena pantulan cahaya api dari perapian, dia berkata :


“ Nama ku Rezukinawa !” Ucap Rez memperkenalkan diri pada Kenzi.


Kenzi terlihat kesal pada Rez, menatap penuh tanda tanya.

__ADS_1


“ Kenapa kamu bawa aku ke sini?” Tanya Kenzi.


Rezukinawa memasukan lagi kayu ke dalam perapian. “Sini, mendekatlah!” Rezukinawa berucap sambil menepuk lantai kayu di samping nya.


Kenzi ragu dan takut. Enggan mendekat ke Rezuki.


Rezukinawa tahu dan faham dengan sikap dingin Kenzi padanya.


“Hmmm... oke, akan aku jawab pertanyaanmu”. Rezukinawa berdiri lalu duduk di sofa dan bersandar. Ruang pondok kini sudah mulai terasa hangat. “kamu aku bawa kesini, agar kamu bisa berlatih!” Jawab Rezukinawa.


 Kenzi menatap heran dan tak faham dengan jawaban Rezuki.


“Berlatih!?” Kenzi memasang raut wajah penuh keraguan.


“Berlatih apa dan untuk apa aku berlatih!?” Tanya Kenzi penasaran.


“Ternyata Yuki tidak mengatakannya padamu!” Jawab Rezukinawa yang bersandar di sofa sambil memejamkan mata.


Kenzi makin bingung, kenapa nama ayahnya di sebut-sebut Rezuki, “memangnya apa hubungan mereka!?” Bisik Kenzi.


Rezukinawa menarik nafas panjang mencoba bersantai .


“Sudahlah, simpan saja semua pertanyaan mu itu untuk besok pagi, sekarang sudah malam istirahatlah!” Ucap Rezukinawa yang seakan tahu pikiran Kenzi yang muncul banyak pertanyaan tentang semua yang terjadi.


“tidurlah dimana saja kamu merasa nyaman, selimut tebal nya ada di lemari hitam itu!” Rezukinawa menunjukan dengan jari telunjuk nya ke arah lemari hitam di pojok ruang tamu.


Kenzi lalu berjalan bermaksud mengambil selimut.


“Besok pagi kita akan mulai berlatih!” Ucap Rezukinawa merebahkan kembali punggungnya di sofa beristirahat.


Kenzi menatap keluar jendela, Sambil memeluk selimut tebal. Dia heran melihat keluar ternyata memang sudah malam, suasana di luar hujan salju.


“Bukankah tadi di sana masih pagi? Kenapa di sini sudah malam?” Kenzi menatap kaca jendela sambil mengingat kejadian dipagi hari yang masih bersama Sakura, begitu cepat berpindah ke tempat asing ini. “Sakura...”. Bisik suara hati Kenzi menyebut namanya.  


Fumiko dan Sakura melihat takjub dan tak percaya kalau ternyata ada pintu rahasia di dalam sebuah lemari.


Entah mereka mau berjalan kemana. Mereka hanya mengikuti saja langkah kaki Hiroyuki memasuki pintu rahasia.


Hiroyuki menyalakan obor yang sudah terpasang di dinding berbatu.


Lalu Yuki mengambil obor dan membawanya. Di susuri lorong gelap itu.

__ADS_1


Sakura yang merasa takut menggenggam erat tangan Fumiko.


“Kita mau kemana?” Sakura berbisik pada Fumiko.


“Ssstt..kita ikuti saja dia!” Jawab Fumiko sambil mengikuti Hiroyuki.


Di ujung lorong terdapat pintu, Hiroyuki membuka pintu itu yang ternyata sebuah elefator. Bentuk pintunya tidak nampak sebuah lif.


Lif ini hanya untuk turun ke ruang bawah tanah. Fumiko dan Sakura berhenti di depan pintu lif, mereka ragu dan takut melangkah lebih jauh.


“Ayo, masuklah, lif ini aman, aku sering menggunakannya!” Ucap Hiroyuki yang menyadari kalau istrinya dan Sakura khawatir.


Fumiko lalu masuk ke dalam lif tanpa ragu-ragu lagi. Sakura pun ikut masuk dan tetap berpegangan tangan pada Fumiko.


Hiroyuki lalu menutup pintu lif.


Lif mulai berjalan turun menuju ruang bawah tanah.


Sampailah mereka , Hiroyuki membuka pintu dan melangkah keluar. Fumiko dan Sakura keluar sambil melihat dengan mata terbelalak.


“ Waaaaaaaahhh....!” Ucap Sakura takjub. “gak nyangka ada ruangan seperti ini di bawah rumah!” Sakura melangkah maju, dan melihat ada sebuah tempat pemujaan di dindingnya terdapat gambar, gambar mata hijau.


Sakura melangkah lebih dekat.


Sedangkan Fumiko mengikuti Hiroyuki.


“Untuk apa kita ke sini, memangnya Kenzi ada disini?” Tanya Fumiko yang melihat Hiroyuki terus saja berjalan mendekati sebuah meja Altar yang besar.


Hiroyuki mengambil sebuah buku besar bersampul warna hitam. Kemudian membukanya.


“Bacalah bagian lembaran ini!” pinta Hiroyuki sambil memberikan buku hitam itu pada Fumiko.


“Apa lagi ini? buku lagi! buku lagi! Cape aku dengan semua misteri ini!” Fumiko berkeluh kesah, merasa frustasi dengan cerita asal usul mata hijaunya, kalau boleh memilih, akan lebih baik kalau dirinya lahir tanpa memilki mata hijau, fikir Fumiko.


Hiroyuki memahami sikap Fumiko, memang sejak dulu mereka berdua bukanlah orang yang bangga dengan mata hijau mereka. Justru mereka ingin menyembunyikannya seumur hidup.


Hiroyuki kemudian mengelus punggung Fumiko mencoba menenangkan hati Fumiko yang resah.


"Dari buku inilah aku bisa tahu kalau Kenzi anak kita yang terpilih". Ucap Hiroyuki yang masih mengusap punggung Fumiko.


Fumiko menatap kaget mendengar ucapan Hiroyuki.

__ADS_1


"Terpilih bagaimana maksud mu?" dengan mata melotot ke arah Hiroyuki.


__ADS_2