Rindu Dalam Diam

Rindu Dalam Diam
Lagu sedih


__ADS_3

Di depan loby penginapan Fumida dan Ihsan baru saja keluar dari lif. Fumida melihat curiga pada tiga orang laki-laki berpakaian serba hitam yang berdiri di depan pintu penginapan.


Ihsan yang berjalan santai mendekati loby penginapan langsung di tarik paksa mantelnya dari belakang oleh Fumida. Ihsan kaget hampir saja terjatuh.


“Apa-apaan sih kamu!” Teriak Ihsan kesal dengan tingkah Fumida yang tiba-tiba menariknya ke belakang.


Fumida menyuruh Ihsan duduk jongkok di balik dinding.


“Ssstt..diam!” Ucap Fumida pelan. Mata Fumida terus mengawasi diam-diam tiga orang laki-laki yang mencurigakan itu.


Ihsan masih kesal, dia lelah dengan sikap waspadanya Fumida yang sudah keterlaluan.


“Ada apalagi!” Tanya Ihsan dengan wajah frustasi melihat Fumida yang terus saja menaruh curiga .


“Kamu gak ngerti, mereka pemburu Green eyes, mereka sedang mengincarku!” Jelas Fumida singkat.


Ihsan terdiam dan mencoba memahami maksud Fumida.


“Apa kamu bilang, pemburu green eyes?” Tanya Ihsan heran.


Green eyes berarti mata hijau, Ihsan lalu teringat mata hijau yang dulu pernah digambar Sakura. “Mata hijau seperti matanya Kenzi maksudmu?” Tanya Ihsan penasaran.


Fumida tak menjawab, dia serius sekali mengawasi orang – orang yang di sana. Tiga orang laki-laki mencurigakan itu akhirnya masuk ke dalam penginapan lalu bertanya sesuatu pada resepsionis di loby.


Ihsan makin bingung dengan sikap Fumida yang selalu mengabaikannya “Kenapa kamu gak jawab ?” Tanya Ihsan lagi.


“Ssstt...jangan berisik, aku gak bisa dengar, mereka sedang menanyakan sesuatu pada resepsionis di loby!” Fumida meminta Ihsan untuk diam, karena Fumida ingin menguping pembicaraan mereka di loby.


“Apa kalian pernah lihat orang yang bermata hijau ini di sini?” Tanya salah seorang pemburu green eyes sambil menunjukan foto Kenzi pada resepsionis.


“Maaf, saya tidak pernah lihat!” Jawab resepsionis.


Fumida mendengarkan baik-baik lalu tiba-tiba saja Ihsan hidungnya terasa gatal dan ingin bersin.


“Achiiiimmm....!” Ihsan bersin keras sekali. Fumida menoleh ke arah Ihsan sambil melotot kesal.


Ihsan merasa tidak bersalah apa-apa. “ada apa, memangnya aku gak boleh bersin!” Ucap Ihsan sembari mengusap hidungnya.


Tiga orang itu tentu saja mendengar suara bersin Ihsan, dan segera memeriksa.


Fumida langsung berdiri bersiap untuk segala kemungkinan terburuk, Ihsan pun di minta Fumida untuk segera berdiri.


“Cepat bangun, kita kabur lewat pintu belakang saja!” Fumida segera memberikan kode pada Ihsan. “Ayo!”

__ADS_1


Benar saja tiga orang itu memergoki Fumida yang sedang berjalan diam -diam ke arah pintu belakang penginapan.


“Hey...siapa kalian!?” Tanya salah seorang pemburu green eyes melihat Fumida dan Ihsan.


Dengan cepat Fumida langsung berlari berusaha menjauh. Dan Ihsan kaget karena tak mengerti kenapa Fumida melarikan diri dari orang-orang itu.  


“Fumida tunggu aku!” teriak Ihsan menyusul Fumida dengan berlari.


Tiga pria berpakaian serba hitam itu pun mengejar Fumida.


Mereka terus berlarian sampai keluar penginapan.


Fumida segera menyetop taksi yang kebetulan lewat. Ihsan berlarian ikut masuk taksi bersama Fumida. Dan akhirnya mereka berhasil lolos lagi dari kejaran pemburu green eyes.


“Cepat ambil mobil, kita kejar taksi itu!” teriak salah seorang pria pemburu green eyes menyuruh rekannya.


Fumida yang nafasnya tersengal-sengal kini bisa sedikit tenang. Ihsan menarik nafas panjang, lalu bertanya. “Sebenarnya siapa mereka, dan mengapa mereka mengejar kita!?”


“Dan jangan abaikan pertanyaan saya kali ini!” Ucap Ihsan tegas sambil menatap tajam pada Fumida.


“Mereka memburu kami!” Jawab Fumida sembari melepaskan lensa kotak matanya. Lalu menunjukan mata hijaunya pada Ihsan.


Ihsan terpana melihat mata Fumida yang ternyata berwarna hijau. Ihsan tak menyangka kalau orang yang bermata hijau itu benar-benar ada.


“Jadi mata hijau itu ada, aku pikir itu hanya gambar hayalan Sakura saja!” Jawab Ihsan lalu diam sambil berbisik “mata mu indah sekali fumida".


Sensei, watashitachi o Totoro sanmyaku ni tsureteitte kudasai!


(Pak, tolong antarkan kami ke pegunungan Totoro) ucap Fumida pada supir taksi.


Ihsan kembali ingin menanyakan lebih jauh tentang mata hijau pada Fumida. “Apa mereka juga mengejar Kenzi?” Tanya Ihsan.


Fumida mengangguk kan kepalanya sembari menyalakan ponsel berusaha mengirim pesan pada Fumiko.


“Apakah Sakura sekarang ada bersama Kenzi ?” Tanya Ihsan lagi. Fumida kembali mengangguk kan kepalanya.


Ihsan benar-benar terkejut dan sangat mengkhawatirkan putrinya. Padahal sudah jelas-jelas Ihsan melarang Sakura bergaul dengan Kenzi. Itu di sebabkan dulu sewaktu Kenzi masih tinggal di Indonesia, Ihsan pernah menyaksikan bagaimana kejamnya orang berbaju serba hitam menyeret tubuh Fumiko mamanya Kenzi di lorong stasiun kereta yang sepi. Saat itu Ihsan baru saja turun dari kereta menuju parkiran.


Lalu Ihsan sempat menolong Fumiko melarikan diri dari orang-orang kejam itu. Kemudian Fumiko berpesan padanya agar Sakura menjauhi Kenzi, karena bisa berbahaya.


Setelah kejadian itu, Fumiko dan seluruh keluarganya menghilang tanpa kabar.


“Kenapa kamu tidak pernah menurut pada Ayah, Sakura!” Bisik hati Ihsan sambil memandang ke luar jendela Taksi.

__ADS_1


 Di rumah besar di balik pepohonan yang rindang. Kenzi mencoba membujuk Sakura yang mengurung diri dalam kamar.


Sakura tidur tengkurap sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia menangis keras, menyesal kenapa jadi begini, kenapa Kenzi tidak merasakan hal yang sama, “Apa hanya aku yang merasakan berdebar di dekatnya!” Fikir Sakura yang membuat hatinya semakin tidak karuan.


Kenzi berdiri didepan pintu,  mengetuk pintu berkali-kali. “Sakura...Sakura..ayo kita sarapan bareng, Sakura!?” Kenzi terus berusaha bicara pada Sakura.


Sakura mendengar suara Kenzi semakin kesal. “Dasar cowok brengsek, kurang ajar, siapa suruh kamu lembut sama aku, siapa suruh kamu baik sama aku, kenapa kamu juga dekat-dekat aku, kenapa....!” teriak Sakura di balik selimut.


Apa lagi Sakura teringat kalau dulu pernah mencium bibir Kenzi duluan. Sakura langsung bangun dan mengusap bibirnya berulang-ulang. “iiihh...aku sebel...sebelll!” teriak Sakura memaki diri nya sendiri.


Kenzi berusaha menguping dan mendengarkan dari balik pintu, apa yang Sakura ucapkan.


“Sakura ngomong apa ya, seperti lagi marah-marah”.


“Sakura..Kamu gak apa-apa kan?”


Tanya Kenzi sambil mengetuk pintu kamar lagi. Kenzi tidak mengerti dan bingung sambil garuk-garuk kepala, bingung dengan sikap Sakura yang mendadak ngamuk-ngamuk sendiri tidak jelas di dalam kamar.


Sakura melempar bantal ke arah pintu lalu berteriak pada Kenzi,


“Pergi sana! Gak usah perdulikan aku!” teriak Sakura.


Kenzi raut wajahnya berubah menjadi sedih mendengar teriakan Sakura dari dalam kamar. Kenzi tak tahu harus bagaimana lagi membujuknya.


Kenzi bukannya pergi tapi justru dia duduk sambil bersandar di depan pintu kamar. Kemudian dia bernyanyi lagu sedih, yang isinya tentang permohonan maaf pada kekasihnya.


Fumiko yang mendengar dari bahwa hanya geleng-geleng kepala. “hmmm dasar remaja !” Ucap Fumiko.


Hiroyuki yang menunggu di meja makan tak sabar menantikan untuk sarapan bersama.


“ Loh mana Kenzi dan Sakura?” Tanya Hiroyuki yang melihat Fumiko berjalan sendirian mendekati meja makan.


“Ah..biarkan sajalah, kita makan berdua saja!” Jawab Fumiko sambil menarik kursi lalu duduk.


“Memangnya kemana mereka ? Apa mereka tidak lapar?” Hiroyuki bertanya sambil mengambil piring  yang sudah disiapkan di atas meja.


Fumiko mulai mengambilkan mie goreng buatannya dan menuangkan sedikit demi sedikit ke dalam piring Hiroyuki.


“Sepertinya mereka bertengkar, Sakura mengurung diri dalam kamar dan Kenzi sibuk membujuknya, yah begitulah!” Cerita Fumiko pada Hiroyuki.


Hiroyuki tersenyum mendengar cerita Fumiko.


Kemudian ponsel Fumiko berbunyi, tanda ada yang mengirimkan pesan. Fumiko segera membuka pesan itu.

__ADS_1


“Fumida...syukurlah dia selamat!” Ucap Fumiko tersenyum bahagia mengetahui Fumida selamat.


Sakura yang di dalam kamar mendengar Kenzi bernyanyi bangun dari tempat tidur, dan duduk bersandar di pintu kamarnya. Sakura mendengarkan sambil meneteskan airmata. Kenzi sangat menghayati lagu sedih itu.


__ADS_2