
Sakura masuk ke ruang guru sambil membawa surat pindahnya. “Permisi pak..!” Sakura mendekati meja Wali kelasnya. “Iya, ada apa Sakura?” Tanya Wali kelas 9. Ketika Sakura mulai menyodorkan surat pindahnya itu, Rivan bergegas masuk dan mengambil paksa surat pindahnya Sakura lalu merobeknya di depan Sakura dan di hadapan Bapak wali kelas 9.
“Rivan! Apa maksud mu berbuat seperti ini!” Sakura sangat marah. “Ada apa ini? Bisa tolong kalian jelaskan pada Bapak, kertas apa itu yang di robek Rivan?” Tanya Bapak wali kelas.
Rivan segera memungut sobekan kertas itu, “Maafkan saya Pak, hehe..! Ini cuma surat pernyataan cinta saya pada Sakura Pak!” Jawab Rivan sambil tersenyum lalu berlari keluar dari ruang guru.
“APA! Surat cinta!” Sakura benar-benar tak mengira Rivan mengatakan hal itu di depan Pak wali kelasnya. Bapak wali kelas hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. “Sakura untuk apa kamu bawa-bawa surat itu kemari Nak! Ada-ada saja kamu, sudah sana! Bapak masih banyak kerjaan!” Ucap Bapak wali kelas 9 kembali duduk.
Sakura nampak malu sekali pada Pak wali kelas. “Maafin saya ya Pak, Kalau begitu saya permisi...maaf ya Pak!” Ucap Sakura perlahan mundur dengan raut wajah memerah karena malu.
Sakura geram dengan tindakan Rivan. “Rivaaaaaann...!” Jerit Sakura di luar. “Heii..jangan berisik!” Teriak guru yang berada dalam ruang guru. “Ups...Maaf-maaf ! Duh kenapa aku teriak di sini, dasar bodoh!” Kata Sakura segera pergi.
Rivan bersembunyi di balik dinding gedung olah raga. “Hufff...untung saja dia tidak mengejar aku!” Ucap Rivan sembari membuang sobekan kertas tadi, yang ternyata masih dia genggam.
Sakura berjalan berkeliling sekolahan mencari Rivan, untuk menuntut penjelasan darinya. “Ngumpet di mana tuh anak! Awas kalau nanti ketemu, Iiiiikh !” Sakura gemas ingin segera memberi pelajaran pada Rivan.
“Hei...kenal Rivan nggak? Anak 8A!” Tanya Sakura pada adik kelasnya. “Oh..Rivan, tadi dia lari ke arah sana Kak!” Jawab Adik kelasnya. “Oke, terimakasih ya!” Jawab Sakura senang, akhirnya tahu kemana Rivan melarikan diri.
Ketika Sakura berlari menuju luar gedung sekolah, tiba-tiba Sakura bertabrakan dengan Kenzi. “Aduuh!” Sakura terjatuh bertabrakan dengan Kenzi. Begitu pula Kenzi ikut terjatuh bersama tongkat besinya.
__ADS_1
“Kenzi..!” Ucap Sakura terkejut. “Hai Sakura!” Kata Kenzi sembari mencoba berdiri dengan menegakkan kembali tongkat besinya. Sakura segera bangkit dan membantu Kenzi berdiri.
“Bagaimana kamu bisa sampai ke sini! Kamu jalan seperti ini dari rumah, atau ada yang mengantarkan mu. Kenzi?” Tanya Sakura keheranan sekaligus khawatir.
“Hehe...tidak! Aku sendirian, aku ingin membuat surprise untuk mu!” Jawab Kenzi sambil tersenyum bahagia bisa berjumpa Sakura.
Mereka berdua duduk berdua di halaman belakang sekolah, dekat gedung olah raga. “Kenapa kamu nekad ke sini sendirian Kenzi, kamu kan bisa telp aku kalau mau bicara!” Kata Sakura. “Aku kangen kamu Sakura, apa aku tidak boleh bertemu dengan mu?” Kenzi menatap Sakura yang duduk di sampingnya. “Bukan begitu..Aku belum sanggup jujur pada mu, aku tak mampu menatap wajah mu Kenzi!” Jawab Sakura.
“Memangnya ada masalah apa, sampai kamu tak bisa mengatakannya padaku, Sakura?” Tanya Kenzi bingung. “Aku...aku minta putus!” Ucap Sakura sembari memalingkan wajah dan meneteskan airmata. Kenzi kaget mendengar perkataan Sakura.
Kenzi menunduk sedih, beberapa saat mereka saling terdiam, tak berani menatap satu sama lain. Rivan yang sejak tadi memang bersembunyi di belakang dinding gedung olah raga, menyaksikan dari kejauhan Sakura yang sedang duduk berduaan dengan Kenzi.
“Apa kamu bosan karena penyakit ku ini, Sakura?” Kenzi bertanya tiba-tiba. Sakura tersentak mendengar pertanyaan Kenzi. Sakura berpikir sejenak lalu menjawab, “Iya, aku harus melanjutkan hidupku! Aku nggak bisa terus-terusan menemani mu!” Jawab Sakura tak mau menatap,
“Kamu BOHONG! Tidak mungkin kamu berpikiran seperti itu, itu bukan Sakura yang aku kenal!” Jawab Kenzi. Bahu Sakura di pegang Kenzi, “Lihat aku Sakura! Aku sudah bisa berdiri, berjalan, meski dengan bantuan tongkat, dan...dan aku bisa bicara selancar ini pada mu! Aku sudah membaik Sakura...ini semua karena mu! Kamulah yang membuat aku semangat untuk sembuh!” Kenzi berharap Sakura mau memalingkan wajahnya, sebentar saja untuk melihatnya.
Namun Sakura tak juga mau menatap Kenzi. “Aku tahu, selamat ya! Itu berarti aku bisa pergi tanpa harus merasa bersalah!” Sambil berderaian airmata, Sakura berdiri dan pergi menjauhi Kenzi. “Sakura...!” Panggil Kenzi, tapi Sakura mengabaikannya.
Rivan memperhatikan mereka dari kejauhan, “Sepertinya mereka berdua bertengkar!” Ucap Rivan tanpa sadar keluar dari persembunyiannya, menampakkan dirinya, sehingga Sakura menemukannya.
__ADS_1
“Heiiii...Rivan! Diam di situ!” Teriak Sakura sambil menunjukkan jarinya ke arah Rivan. Kenzi melihat Sakura berlari menghampiri seorang laki-laki tampan yang sedang berdiri di sana. “Mengapa Sakura minta putus? Apa dia sudah tidak menyayangiku lagi?” Bisik hati Kenzi.
Sakura berlari sembari mengusap airmatanya. “Waduh...Sakura ngeliat aku lagi!” Rivan buru-buru berbalik untuk melarikan diri. “Eeettt...mau kemana lagi Hah!” Sakura dengan cepat menarik kerah baju Rivan.
Rivan akhirnya tertangkap oeh Sakura. Tangan Rivan di pelintir ke belakang dan tubuh Rivan di dorong Sakura sampai merapat ke dinding.
Adududuh..! Ampun Sakura..ampun!” Teriak Rivan kesakitan. “Apa maksud perbuatan mu tadi di ruang guru Hah!?” Tanya Sakura sembari terus mencengkram erat tangan Rivan.
“Aku minta maaf! Aku cuma tidak mau kamu pindah sekolah itu saja, Sakura!” Jawab Rivan. “Apa urusan mu? Coba jelaskan apa alasanmu! Kita kan tidak sedekat itu!” Kata Sakura merasa heran. Rivan lalu mebalikkan tubuhnya menghadap Sakura.
Sakura wajahnya kini malah terlalu dekat dengan wajah Rivan, karena tangan Sakura di genggam balik oleh Rivan. “Apa alasanku...? Karena sekarang kita sudah sangat dekat, seperti saat ini!” Jawab Rivan malah semakin berani mendekap tubuh Sakura.
“Iiiihh..apaan siih!” Sakura segera mendorong dan menjauhi Rivan. Kenzi segera menangkap tubuh Sakura yang doyong ke belakang. “Kamu tidak apa-apa Sakura?” Tanya Kenzi sambil menatap Sakura yang jatuh dalam dekapan nya.
Sakura tak menyangka, ternyata Kenzi sudah menangkap tubuhnya. “Apa? Oh iya..aku nggak apa-apa!” Jawab Sakura terbata-bata.
“Siapa kamu?” Tanya Rivan terlihat cemburu menatap sinis pada Kenzi. Baru Kenzi mau menjawab, Sakura segera menyelak dan berkata, “Dia hanya teman! Terimakasih ya Kenzi, sekarang kamu pulanglah, silahkan!” Ucap Sakura meminta Kenzi untuk pergi.
“Tidak, aku pacarnya! Namaku Kenzi!” Jawab Kenzi memperkenalkan diri pada Rivan dan mengabaikan perkataan Sakura. “Haha..Dia sepertinya tidak mau di sebut pacarmu! Bagaimana dong? Masih mau main paksa, Hah!” Rivan berkata sinis pada Kenzi sambil mendorong bahu Kenzi.
__ADS_1
Sakura melerai. “Sudah...! Aku nggak mau masalah ini jadi melebar kemana-mana! Sebaiknya kamu pulang Kenzi, dan kamu Rivan, ikut aku! Urusan kita belum selesai!” Sakura menarik tangan Rivan dan pergi meninggalkan Kenzi.