
Fumida terkejut mendengar penjelasan Ihsan, “Apa maksud mu Ihsan, ke Surabaya?” Fumida menatap mata Ihsan lalu melihat ke arah Sakura.
Ihsan menarik nafas, lalu menjelaskan lagi pada Fumida. “Begini, Sakura akan saya bawa ke Surabaya, di sana aku harus mengurus Yayasan pondok pesantren Al Ihsan, peninggalan kedua orang tuaku.” Cerita Ihsan.
"Tapi kenapa mendadak sekali Ihsan, lalu kalau memang dari dulu kamu punya pondok pesantren di sana, lantas kenapa kamu bisa tinggal di sini?” Fumida nampak kesal mendengar keputusan Ihsan membawa pergi Sakura.
“Pertanyaanmu sungguh aneh ya! Untuk apa kamu harus tahu alasan aku tinggal di sini? Dan kenapa kamu terlihat kesal! Memangnya kamu tidak suka aku membawa putriku sendiri untuk tinggal di rumah Kakeknya? Hemm..kamu nggak setuju, begitu?” Ihsan terlihat tidak suka dengan sikap Fumida yang terlalu ingin tahu urusan keluarga Ihsan.
“Bukan begitu maksudku! Ihsan..dengarkan dulu.., aku cuma..!” Fumida berusaha menjelaskan, namun tampaknya Ihsan sudah tersinggung dengan ucapan Fumida.
“Tidak, kamu nggak perlu menjelaskan apa-apa! Begitu juga aku, aku tidak perlu minta izin atau restu dari mu, Sakura itu anakku! jadi kamu nggak ada hak untuk mempertanyakan, mengapa aku mendadak membawa Sakura!” Ucap Ihsan tegas.
Fumida tak menyangka kalau ucapan nya membuat Ihsan jadi tersinggung seperti ini. “Aku tahu, aku memang bukan siapa-siapa bagi mu! Iya aku hanya orang luar, orang asing! Yang..yang salah alamat! Datang berkunjung ke rumah yang salah!”
Fumida lalu berdiri dan berbalik ingin melangkah menuju pintu keluar. “Fumida tunggu ..!” Ihsan menahan tangan Fumida. Mereka berdua saling menatap.
Sakura lalu berdiri sambil berderaian airmata, “Mengapa kalian jadi bertengkar! Seharusnya aku yang marah-marah, karena di sini ...akulah yang merasa sesak, akuuu!” teriak Sakura sambil meremas bajunya.
Sakura lalu berlari naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya. Fumida dan Ihsan terdiam melihat Sakura yang terlihat sangat bersedih.
“Sakura...Sakura...!” Ihsan memanggil-manggil tapi Sakura tetap mengurung dirinya di kamar.
Fumida jadi merasa bersalah, “Maafkan, ini semua gara-gara aku, seharusnya aku tidak usah banyak komentar soal keputusan mu membawa Sakura ke Surabaya!"
__ADS_1
"Aku lupa, kalau aku hamya orang lain, bukan siapa-siapa!” Fumida berkata dengan tertunduk sedih, “Sekali lagi aku minta maaf!” Fumida berbalik dan berjalan menuju pintu.
Ihsan memandangi Fumida, “Kamu bukan orang lain, kamu Fumida, teman Jepang ku yang cantik!” Ungkap Ihsan berharap Fumida berbalik menatapnya.
Mendengar kata-kata Ihsan, langkah Fumida terhenti. Perlahan Fumida berbalik. “Maafkan aku Fumida, aku yang egois, aku yang terlalu memaksakan kehendakku pada Sakura, aku bukanlah Ayah yang baik untuk Sakura!” Ihsan menangis.
Fumida menghampiri Ihsan dan segera memeluknya, “Kamu Ayah terbaik untuk Sakura, Ihsan...kamu Ayah terbaik!” Ucap Fumida sembari mendekap erat tubuh Ihsan. Pelukan Fumida menentramkan hati Ihsan.
Mereka duduk berdua di ruang makan. Fumida memegang erat tangan Ihsan, mencoba membujuk Ihsan agar mau berbagi keresahan hatinya, pada Fumida.
Ihsan mulai mau terbuka pada Fumida. “Sebenarnya aku khawatir dengan masa depan Sakura, entahlah apakah menurutmu aku masih Ayah yang baik atau bukan, kalau kamu tahu alasan ku membawa Sakura ke Surabaya!” Ungkap Ihsan.
“Apapun alasanmu, menurutku tidak ada Ayah yang paling baik di dunia ini, selain kamu Ihsan! Jadi katakan saja, siapa tahu aku bisa mengurangi beban di hatimu!” Ucap Fumida tersenyum manis.
Ihsan menatap lembut Fumida. “Ayo ..katakan saja, aku sudah siap mendengarkan!” Kata Fumida meyakinkan Ihsan lagi. Ihsan menatap lalu meremas tangan Fumida, dan berkata, “Aku ingin menjauhkan Sakura dari Kenzi!” Fumida perlahan menarik tangannya dari genggaman tangan Ihsan.
Fumida berdiri. “Apa? Kamu ingin Sakura dan Kenzi berpisah?” Tanya Fumida memastikan. “Maksudku, agar Sakura bisa fokus belajar dan menata masa depannya, apa itu salah?” Ucap Ihsan.
“Ya... tapi kamu lihat sendiri Sakura sekarang! Apa menurutmu Sakura sekarang bisa belajar? Bisa menata hidupnya? Yang bener aja Ihsan! Kamu malah membuatnya nampak putus asa!” Jelas Fumida emosi.
Sekarang malah gantian, Ihsan yang kini mendengarkan kemarahan Fumida dengan sabar. “Hemmmm...!” Gumam Ihsan.
Fumida lalu berhenti bicara, karena Ihsan dari tadi hanya diam menatapnya. “Ada apa? Kenapa kamu malah diam aja!” Fumida jadi salah tingkah di tatap oleh Ihsan.
__ADS_1
“Tadi kamu sendiri yang bilang, agar aku mengatakan semua beban di hatiku, sekarang setelah aku utarakan...kamu malah menambah resah hatiku!” Jawab Ihsan.
“iiih...apa sih maksud kamu Ihsan! Aku jadi nggak faham!” Fumida kembali duduk dan menundukkan pandangannya.
“Biar bagaimana pun Sakura masih anak-anak, belum saatnya untuk dia menjalin hubungan serius dengan seorang pria!” Jelas Ihsan.
“Dari awal seharusnya kamu katakan itu pada Sakura, kalau sekarang, ya terlambat! Cinta mereka terlanjur kuat!” Jawab Fumida.
“Tapi apa iya, cuma karena itu alasan mu ingin memisahkan Sakura dengan Kenzi? Tidak ada hal lain ?” Tanya Fumida curiga. Ihsan diam dan tertunduk.
“Apa ini..! Kenapa kamu diam? Jadi benar perkiraan ku, ada hal lain yang membuat mu bersikeras memisahkan Sakura dan Kenzi!” Fumida benar-benar merasa kecewa.
“Tunggu, dengarkan dulu penjelasanku! Aku melakukan ini untuk kebahagiaan Sakura, anakku satu-satunya! Kalau kamu di posisiku, kamu pasti akan berbuat yang sama!” Ucap Ihsan meminta Fumida untuk mengerti.
“Apakah kamu pernah berpikir, apa yang akan kamu lakukan, bila kamu di posisi Sakura saat ini?” Balas Fumida dengan berbalik bertanya.
Ihsan kembali menarik nafas, sebenarnya terasa sangat berat baginya untuk mengambil keputusan ini. “Tak mudah Fumida, tak mudah mengambil keputusan ini, aku ..aku hanya ingin Sakura bisa memiliki masa depan yang cerah, tolong fahami maksud ku!” Jawab Ihsan.
“Baiklah, jika memang itu sudah keputusan mu, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi, selain..aku doakan semoga kamu dan Sakura berbahagia!” Fumida menyerah dan berbalik pergi meninggalkan Ihsan.
Ihsan kali ini pun tak bisa membujuk Fumida lagi. Hanya satu yang ada di benaknya sekarang, yaitu dia ingin membuat Sakura bahagia dan membuat Sakura berhenti bersedih.
Fumida pulang dengan perasaan kecewa, dia tak menyangka Ihsan akan berpikiran sempit seperti itu.
__ADS_1
“Kalau memang dia tidak mau anaknya suka dengan Kenzi yang cacat, kenapa tidak dari dulu saja dia jauhkan Sakura dari Kenzi, kenapa dia tidak dari dulu bawa Sakura ke Surabaya! Sehingga aku pun tidak perlu bertemu dengan Ihsan, sehingga aku tak perlu jatuh cinta padanya!” Fumida menangis terduduk bersimpuh di jalanan.