
Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta
Pesawat pribadi milik keluarga Giandra mendarat dengan selamat dan mulus di runway sekitar jam delapan malam setelah menempuh waktu sekitar delapan jam perjalanan.
Juliet yang sudah terbangun, tampak terkejut ketika mengetahui dirinya main peluk Romeo macam guling. "Kok aku bisa peluk kamu?" tanya gadis itu bingung.
"Lha bisa lah! Yang main sandar kepala di bahu aku siapa? Apalagi kita duduk bersebelahan" cengir Romeo yang merasa senang hampir sepanjang perjalanan dipeluk Juliet.
Juliet memicingkan matanya. "Modus!"
"Eh? Yang modus itu kamu Jules!" kekeh Romeo. "Sudah, kita sudah mendarat kok malah ribut!"
"Lha yang lain pada kemana?" Juliet celingukan tidak menemukan seluruh anggota keluarganya yang ada dalam satu pesawat.
"Sudah pada turun sepuluh menit lalu! Kamunya saja yang langsung kebluk tidurnya!" Romeo melepaskan sabuk pengaman Juliet. "Yuk turun!"
Juliet pun tidak menolak saat Romeo menggandeng tangannya menuju pintu pesawat itu.
Keduanya turun dan tampak para anggota keluarganya sedang mengantri mengambil tas dan koper mereka di bagasi pesawat.
"Bangun juga si sleeping nggak beauty" ledek Arkananta. "Keenakan peluk si Romeo langsung angler ( nyenyak ) tidurnya ya Jules."
"Mas Arka apaan sih!" Tak ayal wajah Juliet memerah merasa malu karena semua anggota keluarga di Jakarta melihat bagaimana dirinya dengan enaknya memeluk pria yang ditolaknya terus.
"Kamu nanti tidur rumah saja, Rom. Soalnya ini kita makan malam dulu baru balik ke rumah masing-masing" ucap Valentino sambil menyerahkan duffle bag Balenciaga milik Romeo.
"Kita makan dimana nih enaknya?" tanya Bima ke semua anggota keluarganya.
"Nasi Padang!" seru Arabella yang membuat semua orang mendelik.
"Sebah tahu malam-malam makan santan!" cebik Arkananta yang dibalas cemberut oleh Arabella.
"Ke RR's Meal saja. Aku sudah pesan tempat dan mereka masih buka sampai jam dua belas malam" ucap Anarghya.
"Mas Romeo, betah ya sama mbak Juliet. Padahal judesnya minta ampun" kekeh Remy Giandra, putra Anarghya Giandra.
"Betah lah Remy. Wong mas sayang mbakmu itu." Romeo menjawab dengan kalem.
Sepuluh mobil mewah milik masing-masing keluarga yang menjemput mereka pun meluncur meninggalkan bandar menuju RR's Meal yang merupakan milik mereka sendiri.
***
Usai acara pernikahan Zinnia, Juliet pun disibukkan dengan masuk kelas akselerasi bersama dengan Shayna. Dua sahabat itu pun menyusun target akan lulus tahun depan.
"Kamu jadi ambil kedokteran UI, Na? Jadi adik kelasnya Rombeng?" tanya Juliet ke Shayna saat mereka makan siang di cafetaria sekolah.
__ADS_1
"Insyaallah, Julie. Mas Bambang sudah oke kalau aku ambil jalur ujian tapi kalau tidak, ya jalur mandiri. Hanya saja kamu kan tahu sendiri jalur mandiri itu mahal banget dan aku tidak mau membebani mas Bambang. Jadi aku akan berusaha di jalur ujian."
"Baguslah Na. Aku dukung kamu."
Shayna melihat ke arah sahabatnya. "Kamu kok nggak semangat gitu? Kenapa?"
"Aku ingin kuliah di Singapura seperti mama macan tapi Rombeng nggak kasih. Maunya aku tetap di Jakarta biar nggak jauh-jauh dan harus masuk UI. Padahal aku maunya jauhan dari dia. Bukan apa-apa, Na, aku ingin mencari jati diri aku sendiri tanpa ada bayang-bayang Romeo atau mas Vi. Aku ingin mandiri, jatuh bangun sendiri di negeri orang, berusaha menjadi dewasa."
"Tapi di Singapura kan ada saudara kamu juga Julie."
"Mas Radita dan Mbak Gemini tahun depan kemungkinan besar sudah lulus, Na. Mbak Gemintang yang belum soalnya kan ambil kedokteran hewan. Dua kakakku bakalan balik ke Jakarta sedangkan aku kan beda fakultas dengan mbak Gemintang."
"Kamu jadi mau ambil desain interior?"
"Jadilah, itu obsesi aku Na. Aku ingin seperti Tante Alea atau mbak Leia meskipun dia ambil arsitektur sih."
"Julie, sebenarnya perasaan kamu sama kak Romeo itu gimana sih?" Shayna merasa gemas dengan sahabatnya satu ini. Kopeghnya minta ampun! Apa sih kurangnya kak Romeo?
"Nggak tahu!" jawab remaja berusia 16 tahun itu.
"Julie, pada saat kamu ulang tahun kemarin, kak Romeo sampai kasih kamu hadiah nggak main-main lho, kalung emas. Terus sekarang kalungnya dimana? Kenapa nggak kamu pakai?"
"Nggak lah, aku paling malas pakai perhiasan. Lihat! Aku hanya pakai anting-anting dan jam tangan, tidak ada yang lain."
"Mbok dipakai tho Julie, hormati niat baik kak Romeo. Aku lihat dia selalu pakai jam tangan darimu, kenapa kamu tidak pakai kalung darinya? Kamu jangan judes begitu Julie. Kalau ada yang Nyamber kak Romeo dan kamu ditinggal, jangan bilang aku tidak memperingatkan kamu!"
***
Kediaman Keluarga Reeves
Sore ini Romeo menyempatkan diri datang ke rumah Juliet untuk membawakan pizza kesukaan gadisnya. Semenjak dia masuk kuliah kedokteran, jadwal padat sudah di depan mata dan dirinya jarang bertemu dengan putri Hoshi Reeves itu.
"Assalamualaikum" sapa Romeo saat masuk ke dalam rumah langsung menuju ruang makan karena biasanya Levi dan Yanti pasti sedang menikmati acara minum teh bersama.
"Wa'alaikum salam. Ah akhirnya kamu kesini juga Rom. Sibuk ya di kedokteran?" balas Yanti.
"Iya Oma. Romeo nggak menyangka bakalan sesibuk itu" senyum pria Jepang itu sambil mencium punggung tangan Yanti. "Opa Levi."
"Tapi kan kamu memang ingin masuk kedokteran kan Rom" ucap Levi.
"Iya Opa. Lho Oom Quinn dan Tante Rina kemana?"
"Pergi ke Surabaya memeriksa Giandra Otomotif Co disana. Valentino pergi entah kemana tadi tapi Juliet ada di kamarnya" jawab Yanti. "Kamu kalau masuk, pastiin dulu Juliet sudah pakai baju apa belum!"
Romeo mengusap tengkuknya mengingat saat Valentine kemarin membuat gegeran keluarga Reeves.
__ADS_1
"Iya Oma... Romeo naik dulu ya." Remaja berusia 18 tahun itu berjalan menuju tangga.
"Rombeng..."
"Ya Opa?" Romeo berbalik.
"Ini pizzanya yang rasa apa?"
"Khusus buat Opa, yang American favorit. Kalau punya Jules yang beef ekstra cheese."
"Opa buka ya."
"Monggo Opa. Kan Romeo memang beli untuk dimakan bukan buat disawang ( dilihat )" cengir Romeo.
"Oh bocah tengil!" umpat Levi sambil tertawa lalu membuka kotak pizzanya.
Romeo pun menaiki tangga menuju kamar Juliet dan mengetuk pintunya.
"Jules? Boleh aku masuk?" tanya Romeo.
"Masuk saja Rom" balas Juliet.
Romeo pun masuk ke dalam kamar Juliet dan tampak gadisnya sedang duduk di karpet sambil memilah-milah brosur kampus di Singapura, London dan New York.
Hati Romeo mencelos melihat Juliet benar-benar ingin kuliah di luar Jakarta padahal dirinya berharap gadisnya tetap dekat dengannya.
"Kamu serius mau kuliah di luar Jakarta?" tanya Romeo. "Kenapa nggak di Bandung saja? Sama-sama luar Jakarta tapi kan masih dekat. Kapan saja aku ada waktu, aku kan bisa tengok."
"Aku pengen ke Singapura, Rom. Pengen hidup sendiri di negeri orang seperti mama macan dan kalau aku disini, nanti aku selalu tergantung padamu dan mas V. Nggak mau aku."
Romeo hanya menghela nafas panjang. Dia tahu Juliet terlalu dimanja olehnya dan Valentino jadi gadisnya ingin mandiri. Eh? Kalung dari aku dipakai?
"Jules... kalungnya..."
"Dikasih ya dipakai lah Rombeng... Aku hanya melepasnya kalau ke sekolah. Habis itu aku pakai lagi."
Romeo tersenyum senang. Juliet yang melihatnya sedikit tertegun. Sederhana tapi Rombeng tampak bahagia.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️