
Kamar Romeo
Juliet memeriksa suhu badan Romeo dengan termometer digitalnya dan tampak mengerenyitkan dahinya.
"Kamu tuh sakit atau nggak sih?" Juliet tampak bingung dengan hasilnya.
"Kenapa Jules?" Romeo tampak kebat kebit jika ketahuan bohongan sakitnya.
"Suhumu sekitar 36,5°C tapi kok badan kamu hangat? Ini bener termometernya? Ada yang pakai air raksa nggak? Soalnya kalau digital suka ngaco."
"Jules, memang kenapa?"
"Memang kenapa? Memang kenapa? Aku takut kamu sakit tidak ketahuan macam demam berdarah, flu tulang, COVID..."
"Astagaaa Jules! Aku cuma kecapekan kuliah" senyum Romeo. "Dan yang penting kamu datang mengkhawatirkan diriku itu, sudah jadi obat untukku."
"Pak calon dokter, obatmu mana?"
"Hah?"
"Persediaan obatmu mana. Biar aku cek semua!"
Romeo menunjukkan sebuah kotak diatas meja belajar nya, kotak dari kayu rotan dengan tulisan 'obat' disana.
Juliet mulai membuka kotak itu dan mencari obat Paracetamol dan vitamin lalu membawanya untuk diberikan pada Romeo.
"Sudah makan sandwich kan? Diminum obatnya."
"Tapi Jules..."
"Minum!" perintah Juliet galak.
Romeo melongo. "Galaknya kamu Jules. Gak pantas jadi dokter kalau kamu seperti ini. Pasienmu pada kabur."
__ADS_1
"Makanya aku tidak mau jadi dokter. Eh tapi Tante Georgina juga sadis jadi dokter gigi. Pasiennya macem-macem, langsung main bius."
"Hah? Serius?" Romeo meminum obatnya.
"Serius! Oom Joey yang cerita."
Romeo menggenggam tangan Juliet. "Terima kasih Jules. Kamu sudah mau kemari."
"Kalau kamu sakit, nanti mas V bisa marah sama aku karena aku tidak perhatian sama kamu."
Romeo melongo. "Jadi karena Val?" Hati Pria itu langsung mencelos. Jadi bukan karena dari hati kamu, Jules.
"Ish! Aku kan tadi sudah bilang aku sangat mengkhawatirkan dirimu."
"Lha bawa-bawa Val?"
"Itu juga."
Romeo memeluk Juliet. "Kamu itu Membagongkan. Tidak jelas tapi aku suka. Aku sayang kamu Jules."
"Juliet! Yuk makan siang bersama!" suara Megumi membuat keduanya membeku.
"Kita... aku sebaiknya turun" bisik Juliet. Romeo melepaskan pelukannya.
"Iya...aku juga akan turun bersamamu."
***
"Sudah mendingan setelah ditengok Juliet?" goda Megumi ke putranya yang turun tangga bersama dengan gadisnya sambil bergandengan tangan.
"Obatnya cuma Juliet, okāsan." Romeo menoleh lembut ke gadisnya.
"Jangan terus kamu sakit-sakit melulu, kasihan Juliet kepikiran nanti." Megumi menatap Juliet yang wajahnya memerah.
__ADS_1
"Ish yang pengen sakit tuh siapa, Okāsan?" cebik Romeo.
"Lho Juliet?" suara Haruto Akihiro membuat Juliet menghampiri dan mencium punggung tangan pria yang sebaya dengan papanya.
"Oom Haruto apa kabar?" sapa Juliet.
"Alhamdulillah baik. Lama nggak ketemu, kamu tambah cantik. Pantas Romeo nggak mau lepasin kamu" kekeh Haruto sambil melirik ke arah putranya.
"Apaan sih otousan?" cebik Romeo manyun karena digodain ayah dan ibunya.
"Eh sudah yuk makan siang. Jules, makan sederhana ya." Megumi mengajak semua orang untuk duduk.
"Ish Tante, segini mah nggak sederhana tapi sudah macam menu restoran." Juliet duduk di sebelah Romeo. "Kamu mau makan yang mana Rom?"
"Aku diambilkan ini?" Romeo menatap tidak percaya Juliet mau mengambil kan makan siang nya
"Nggak mau diambilin ya sudah..." Juliet membatalkan mengambil lauknya.
"Eh? Jadi dong! Aku mau ini, ini sama ini" ucapnya sambil menunjukkan lauk mana yang dia mau.
Juliet mengambil kan lauk buat Romeo.
Aku bahagia sekali hari ini.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Lanjut Besok, Okay
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️