
Kediaman Keluarga Reeves
Romeo dan Juliet bersama Valentino memutuskan untuk menikmati brownies buatan Rina dan teh wasgitel.
"Kamu jadi berangkat ke MIT V?"
"Jadi. Aku masuk bulan Agustus. Bagaimana si uget-uget?"
Romeo menatap bingung ke arah sahabatnya. "Uget-uget?"
"Cewek yang mencoba mengganggu hubungan kalian. Siapa namanya, sundel bolong?"
Juliet terbahak. "Nanti minta sate 200 tusuk!"
"Susan, Valentino, bukan sundel bolong atau Susana" kekeh Romeo. "Duh, V, aku bakalan sepi nggak ada kamu di Jakarta."
"Jules kan sebentar lagi skripsi dan wisuda. Dia bakalan balik ke Jakarta kok."
"Apakah kamu akan mengejar Katya D'Angelo?"
"Really? Kamu pun tahu?" gerutu Valentino.
"Oh come on V, aku dan Jules sudah tahu dari jaman SMA. Hanya saja kamu agak telat menyadari nya." Romeo menatap Valentino geli.
"Seriously? Kalian berdua sudah tahu lama?"
"Mas V aja yang Lola, loading lama" ejek Juliet.
"Ah kamu juga sama saja sama Rombeng!"
"Setidaknya aku sama Rombeng ada hubungan jelas. Romeo yang membuat hubungan kami tetap nyata" ucap Juliet sambil menatap lembut ke Romeo.
"Thanks Sayang." Romeo mencium pelipis Juliet.
"Really? Ini ada jomblo lagi mencoba mengejar cinta tahu!" cebik Valentino yang kesal melihat keuwuan adik dan sahabatnya.
Juliet dan Romeo tertawa melihat wajah manyun Valentino.
"So, kembali ke sundel bolong. Apakah kamu diganggu dia lagi?" tanya Valentino.
"Dia masih mengganggu Val tapi aku sudah bilang aku tidak takut jika dia memakai jabatan ayahnya. Memangnya yang orang tuanya kaya dia saja?" cebik Romeo kesal.
"Memangnya dia tidak tahu siapa orang tua aku?" tanya Juliet.
"Aku sudah bilang kamu anaknya siapa Jules tapi tampaknya dia tipe cewek bebal. Tanda-tanda calon pelakor kelas tinggi" jawab Romeo.
"Bokapnya nomer delapan saja ngaku-ngaku nomer satu di Jakarta" kekeh Juliet.
"Apanya?" tanya Valentino bingung.
"Dia bilang kalau bokapnya adalah dokter bedah nomor satu di Jakarta dan pada saat dia bilang begitu, aku cari info di IDI dong. Ternyata yang nomor satu adalah Tante Dhita."
__ADS_1
"Idiihhh!" Valentino memasang wajah sebal. "Ngadi-ngadi!"
"Itu juga yang aku bilang! Mana yang nomor dua adalah Oom Arga pula!"
"Rom, tenang saja kalau kamu dipersulit, bilang sama aku atau Jules. Biar nanti kita beri pelajaran!"
"Thanks V tapi selama aku masih bisa hadle sendiri, biar aku hadapi dulu."
Juliet dan Valentino saling berpandangan karena tahu, Romeo tipe yang harus menyelesaikan segala sesuatu sendiri sampai pada titik dia membutuhkan bantuan.
***
RS Cipto Mangunkusumo Jakarta
Pagi ini adalah jadwal visite bersama dengan dokter Anarghya Giandra. Pria yang masih berwajah imut itu tampak dingin dalam mengajari para coas disana. karena itu memang khas Anarghya yang tidak mau ada fatal error dan malpraktek terutama dalam ilmu bedah.
Romeo dengan serius mendengarkan semua penjelasan Anarghya yang hampir mirip dengan Anandhita tapi dokter Arga jauh lebih ketat dibandingkan istri David Hakim Satrio.
"Ilmu bedah itu ilmu yang membutuhkan vision empat dimensi. Kamu harus tahu sumber mana yang harus kamu ambil. Anatomi harus hapal diluar kepala jangan sampai scalpel kalian mengenai aorta, pembuluh darah kecil dan fatalnya sampai putus! No, big No! Itu namanya kamu membunuh pasienmu pelan-pelan!" Anarghya menatap ke semua coasnya.
Romeo sendiri sudah mempelajari di rumah dan pria itu tanpa sungkan berguru kepada Arum Giandra dan Safira Pratomo Hadiyanto. Gara-gara Dewananda, putra Bagas dan Safira memilih minggat ke Inggris, mommy yang dulunya Clumsy itu merasa terhibur jika Valentino dan Romeo main ke rumahnya. Dan disana Romeo banyak belajar tentang ilmu bedah sedangkan Valentino belajar bisnis bersama Bagas terutama di bidang perbankan.
Acara visite itu pun berakhir menjelang jam sebelas siang dan para coas pun kembali ke ruang coas sembari mempelajari tugas dari Anarghya sebagai konsulen dan harus diserahkan jam dua siang ini.
Romeo mulai mempelajari kasus yang diberikan Arga dan jika dia sudah konsentrasi penuh, Romeo memilih duduk di pojok sambil mengerjakan tugas.
"Romeo... Kerja kelompok yuk!" ajak Susan.
"Romeoooo" rengek Susan tapi Romeo masih saja sok tuli. Susan akhirnya memukul bahu Romeo membuat pria itu menatap Susan tidak suka.
"Apa sih Susan? Ganggu orang kerja saja!" hardik Romeo kesal.
"Kerja kelompok yuk" rengek gadis itu lagi.
"Bikin sendiri sana! Kan kamu anaknya dokter bedah terkenal! Masa tugas begini kamu minta kerja kelompok? Ini kan tugas individual!"
"Ayolah. Ini aku ada yang ga bisa..."
"Minta bantuan sana sama teman-teman kamu! Kan pengikut kamu banyak! Masa pada nggak bisa! Sudah, aku sibuk!" Romeo lalu kembali tenggelam dengan tugasnya yang membuat Susan jengkel luar biasa.
Brengseeekkk kamu Romeo! Awas kamu!
***
Romeo melongo saat mendengar dirinya dipanggil oleh dokter Harry Sandoro, ayah Susan.
Apa lagi yang direncanakan oleh cewek reseh itu? Romeo pun berjalan menuju ruang praktek dokter Harry.
"Masuk!" suara bariton terdengar ketika Romeo mengetuk pintu.
Pria itu membuka pintu ruang praktek dokter Harry dan melihat ada Susan disana.
__ADS_1
"Jadi ini teman coas yang tidak mau kerja kelompok sama kamu?" tanya Dokter Harry ke putrinya.
"Iya papa. Dia sombong sekali tapi aku mencintainya" jawab Susan dengan gaya sok malu-malu membuat Romeo melongo.
Kampret! Kurang ajar! Jadi kamu mau jebak aku sundel bolong? Romeo segera merubah ekspresi wajahnya menjadi datar dan dingin.
"Nama kamu Romeo Akihiro?" tanya Dokter Harry.
"Benar dok" jawab Romeo.
"Kenapa kamu tidak mau membantu putri saya? Apa kamu tidak takut nilai bedah kamu saya kasih jelek dan membuat kamu harus mundur setengah tahun lagi?"
"Anda mengancam saya dok?" Romeo menatap tajam dan tanpa takut ke dokter senior itu.
"Harusnya kamu sadar, anak muda, siapa Susan ini."
"Oh saya sadar sekali dok. Putri anda adalah tipikal putri manja yang terbiasa dipenuhi segala keinginannya."
"Heh! Harusnya kamu senang dicintai oleh putri saya dan saya bisa membantu karir kamu di rumah sakit jika menikah dengannya!" hardik dokter Harry.
"Apa? Saya senang dicintai oleh putri anda? Dia mencintai saya itu urusan perasaan dia tapi saya sudah punya tunangan."
"Putuskan!"
"Apa hak anda meminta saya memutuskan tunangan saya?"
"Putuskan dan menikahlah dengan Susan!"
Romeo tertawa sinis. "Dokter Harry Sandoro terhormat, apakah anda selalu menuruti semua permintaan putri anda sampai ke hal yang tidak masuk akal? Apa jika putri anda meminta anda untuk membunuh, anda lakukan juga?"
"Kamu..."
"Saya tidak perduli nilai saya anda berikan E sekalipun karena saya bisa adukan ke dekan!"
"Memang tunangan kamu siapa? Apakah lebih cantik dari putri saya?"
"Cantik itu relatif yang penting personaliti nya. Percuma cantik tapi sifatnya manipulatif penuh bullsh1t! Kalau anda ingin tahu siapa tunangan saya, namanya adalah Juliet Reeves, putri Quinn Reeves, CEO Giandra Otomotif Co yang juga saudara sepupu dokter Anandhita Satrio dan dokter Anarghya Giandra. Jadi dokter Harry yang terhormat, untuk apa saya membuang berlian saya yang sudah bersama empat tahun ini untuk bersama putri anda yang tidak tahu malu itu. Jadi jika anda ingin menggunakan kekuasaan anda untuk menindas saya, pikirkan ulang! Selamat sore!" Romeo pun keluar dari ruang praktek dokter Harry Sandoro yang terbengong bengong.
Yang emosi tingkat tinggi
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1