Romeo Untuk Juliet

Romeo Untuk Juliet
Bayu Ke Jakarta


__ADS_3

RS PRC Group Jakarta


Suara langkah kaki terburu-buru membuat Romeo dan Bambang menoleh dan tampak pria berbadan tegap dan besar bermata biru celingukan.


"Romeo! Mana Juliet?" tanyanya panik.


"Mas Bayu? Ngapain kemari?" tanya Romeo bingung ke putra Abiyasa dan Gandari O'Grady.


"Nengok adikku lah!" jawab Bayu cuek. "Kamu siapa?" tanyanya ke Bambang.


"Oh ini mas Bambang, suaminya Shayna sahabatnya Jules."


Bayu menjabat tangan Bambang yang terulur. "Aku sering mendengar Shayna sudah menikah dan baru kali ini bertemu dengan suaminya. Senang bertemu denganmu Bambang."


"Sama-sama tuan Bayu."


Bayu mengerenyitkan dahinya. "Mas Bambang kerja di PRC Group mas."


"Oh I see. Mana kamarnya si Jules?" tanya Bayu.


"Itu disana mas" tunjuk Romeo. "Ada Shayna di dalam."


"Oke." Pria bertinggi 185 cm dan berbadan mirip opa buyut nya Duncan Blair dan ayahnya Abi O'Grady itu bergegas masuk ke ruang rawat inap adiknya.


"Tuan Romeo, itu putranya pak Abi O'Grady?" tanya Bambang.


"Iya." Romeo menatap ke arah kamar Juliet.


"Saya salut dengan dekatnya keluarga mereka. Padahal tuan Bayu di New York kan?" ucap Bambang.


"Mereka sangat dekat bahkan sampai menistakan juga super niat!" gelak Romeo.


***


"Hai" sapa Bayu yang berdiri di depan pintu membuat Juliet dan Shayna yang masih asyik ghibah melihat ke arah pintu.



Bayu O'Grady


Juliet melongo. "Mas Bayu? Sama siapa?"


"Tadinya mau sama Oom Benji tapi ga jadi. Ya sudah aku berangkat sendiri. Halo? Kamu pasti Shayna, sahabatnya Juliet" sapa Bayu ke Shayna sambil mengulurkan tangannya yang disambut mama muda itu dengan wajah melongo.


"Julie! Kenapa kakakmu nggak ada yang jelek!" hardik Shayna ke Juliet yang hanya nyengir.


"Karena aku juga cantik" cengir Juliet.

__ADS_1


"Gimana kabar kamu?" tanya Bayu sambil mencium kening adiknya.


"Remuk redam!" sungut Juliet. "Mas Bayu nggak dimarahi Oom Abi main kabur kemari?"


"Wong tadinya babeh mau kesini tapi ditaha. Oom Hoshi, katanya biar dia yang urus lempar ke Empang piranha."


Juliet tertawa kecil. "Papa macan kalau sudah marah..."


"Wajar lah Julie kalau Oom Quinn marah! Lihat saja kamu sampai berantakan begini!" timpal Shayna kesal.


"Dik... Yuk pulang. Kasihan Kay kalau ditinggal kelamaan" ajak Bambang di depan pintu ke istrinya.


"Ah iya. Keasyikan ghibah sama Julie jadi lupa anakku. Kami permisi dulu kak Romeo, kak Bayu. Julie cepat sembuh. Nanti kalau aku mau kesini, aku kabari ya" ucap Shayna sambil menggenggam tangan Juliet.


"Terimakasih Na. Mas Bambang, makasih lho dibawain bento. Tahu saja aku benci makanan rumah sakit" senyum Juliet.


"Sama-sama. Mari semua. Assalamualaikum" pamit Bambang dan Shayna sambil bergandengan tangan.


"Wa'alaikum salam" balas ketiganya.


Usai Bambang dan Shayna pergi, wajah Bayu langsung berubah dingin. "Siapa yang sudah menabrak kamu?"


"Mas Bayu tanya saja sama Romeo."


Bayu lalu menoleh ke pria berdarah Jepang itu. "Aku ingin tahu, dari awal dan semuanya!"


***


Travis Blair dan Bimasena Baskara sekarang berada di ruangan Hoshi yang sedang duduk dengan wajah dingin menatap dua orang pria yang seumuran dengan mereka. Mata coklat tua Hoshi tampak ingin menghabisi keduanya.



Lihatnya jangan seperti itu dong Hosh


Travis sendiri sedang berada di ruangan Hoshi untuk membicarakan perkembangan kasusnya Juliet sedangkan Bima datang untuk mengembalikan mobil Mercedes Benz convertible milik Eiji Reeves yang sedang diservis di bengkelnya.


Pada saat keduanya berada bersama bon cabe, dokter Harry Sandoro dan ayah Anneke datang untuk meminta keringanan hukuman kedua putrinya ke Hoshi.


Kedua sepupu Hoshi pun menunggu keputusan si jenius MIT itu dengan berdebar - debar mengingat bagaimana pendendamnya papa macan itu.


"Jadi kalian masih mengeyel meminta agar putri anda bisa bebas?" ucap Hoshi dingin. Dirinya agak sedikit tenang setelah Anarghya mengambil alih test untuk Romeo yang sempat tertunda dan Juliet ditemani Bayu dan Rina.


"Setidaknya hukumannya jangan sampai lama pak..." pinta ayah Anneke itu. "Lagipula putri saya diancam oleh putri dokter Harry."


"Pelaku tabrak lari bisa dikenakan pasal 312 UU LLAJ dengan ancaman 5 tahun penjara, baik korban luka berat maupun luka ringan" ucap Travis membuat kedua ayah itu menatap pengacara bermata biru itu. "Jadi kalau nona Anneke dihukum lima tahun itu wajar. Itu masih ringan dibandingkan jika jaksa penuntut umum bisa membuktikan tujuan nona Anneke adalah untuk membunuh meskipun hanya sebagai kaki tangan nona Susan."


"Tapi pak Travis, anda tahu sendiri kan kondisi Susan..." Dokter Harry Sandoro menatap Travis dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Ohya pak. Tapi kondisi itu juga tidak membuat hukuman menjadi ringan. Asal bapak tahu, hukuman otak pembunuhan adalah maksimal hukuman mati, karena dialah yang merencanakan. Pak Darwin, nona Anneke juga bisa dijatuhi hukuman mati karena sebagai pelaku utama." Travis menatap ayah Anneke yang tampak begitu tua sekarang.


"Astaghfirullah..." Ayah Anneke sekarang menangis.


"Anda beruntung pak Quinn memilih jalur hukum karena jika Juliet sampai tewas, kedua anak anda juga tinggal nama. Kasarannya, nyawa dibalas nyawa" balas Bima dingin.


"Sekarang..." Hoshi memajukan tubuhnya. "Anda pilih mana? Saya menggunakan jalur hukum atau saya main hakim sendiri? Saya bisa menjadi jaksa, hakim dan algojo sekaligus! Ini bukan perkara main-main, nyawa putri saya menjadi taruhannya!"


Dokter Harry Sandoro dan pak Darwin hanya bisa menundukkan kepalanya dengan lemas karena bagaimanapun itu salah Susan dan Anneke.


"Pak Darwin, Anneke harusnya bisa memilih mana yang baik mana yang tidak. Sayangnya dia memilih yang tidak. Pencurian obat hukumannya paling hanya setahun dengan resiko di DO dari fakultas kedokteran. Tapi ini, ancaman hukumannya tidak main-main. Mendapatkan 30 tahun atau penjara seumur hidup itu sudah bagus" papar Travis lagi.


***


Kantor Kejaksaan


Nelson menghela nafas panjang berulang kali sebelum masuk ke dalam gedung itu. Setelah bertanya ke bagian resepsionis, akhirnya pria tinggi itu tiba di depan ruangan bertuliskan 'Norma Theresia S,Hum, M.H' disana.


Nelson mengetuk pintu ruang kerja itu dan suara wanita terdengar mempersilahkan masuk. Nelson membuka pintu dan melihat seorang wanita berumur yang masih cantik itu duduk disana.


"Hah? Nelson Blair! Mantan Mahasiswaku yang paling tukang ngeyel sekelas hukum Harvard!" ejek Norma dengan wajah yang menyebalkan menurut Nelson.


"Selamat pagi Miss Norma" sapa Nelson sopan.


"So, ada angin apa anaknya Travis kemari?"


"Saya mau mengajukan berkas ini sebelum Kapten Randy datang."


Norma menatap Nelson. "Ini kasus adikmu yang hendak dibunuh dengan jalan tabrak lari?"


"Iya Miss Norma."


"Nelson! Kita tidak di kampus Harvard, kita di ruangan jaksa jadi kamu harus memanggil saya Bu Norma" tegur Norma galak.


"Iya deh!" balas Nelson sambil melengos. "Tante Norma."


Norma mendelik mendengar ucapan Nelson. "Benar-benar anak nya Travis!"


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2