
"Hosh! Hoshi!" panggil Travis sambil mengejar sepupunya.
"Apa!" balas Hoshi judes.
"Yang benar saja kamu mau membedah otak si Sandoro!" Pria bermata biru itu menjejeri Hoshi. "Kamu mau ke rumahnya?"
"Tentu tidak!"
"Kemana?"
"RS Cipto Mangunkusumo!"
***
RS Cipto Mangunkusumo Jakarta
"Dimana ruang praktek dokter Harry Sandoro?" tanya Hoshi ke resepsionis.
"Apa bapak sudah janjian?" tanya suster itu.
"Saya tidak perlu janjian karena saya hendak meminta pertanggungjawaban dia sebagai bapak yang punya anak pembunuh!" ucap Hoshi keras-keras. Sepulang dari rumah sakit, Hoshi berganti suit kerja. Selesai dari rumah Hoshi, lalu ke rumah Travis yang tidak terlalu jauh dan kini dua hot Daddy itu sudah berada di RS Cipto Mangunkusumo.
Siapa kangen bon cabe?
Bang Travis yang kudu sabar
Sontak ucapan Hoshi membuat banyak orang disana terkejut termasuk beberapa coas seangkatan Romeo.
"Maaf pak. Nama bapak?"
"Quinn Reeves." Hoshi melihat beberapa anak coas yang mematung disana. "Mana Susan Sandoro?" tanyanya dengan wajah dingin.
"Su... Susan ada di kantin, pak..."
Hoshi menoleh ke arah pengawalnya. "Seret ke ruangan bapaknya !" perintah pria itu ke dua orang pengawalnya yang langsung mengangguk. "Kamu! Kasih tahu yang mana namanya Susan! Jangan membohongi karena kalian akan saya anggap ikut bertanggungjawab mencoba membunuh putir saya!"
Mahasiswa coas tadi mengangguk sambil ketakutan. "Ma...mari pak, ikut saya..." ucapnya gemetaran ke arah dua pengawal Hoshi yang berwajah dingin itu.
"Sekarang, suster. Dimana ruangan dokter Sandoro?" Hoshi berpaling ke arah suster yang wajahnya sudah pucat pasi.
"Dad!" panggil Nelson. "Ini aku dapat rekaman CCTV nya."
"Good. Bawa semua!" pinta Travis.
"Ruang dokter Sandoro!" bentak Hoshi ke suster yang tidak segera memberitahukan dengan cepat.
__ADS_1
"Ru...ruangan ketiga dari ... sini..." Suster itu menunjukkan ruang praktek Harry Sandoro.
"Danke!" Hoshi pun segera kesana diikuti oleh Travis, Nelson dan David.
Tanpa mengetuk pintu, Hoshi masuk ke dalam ruang praktek itu dan tampak dokter Harry Sandoro tidak senang dengan sikap Hoshi.
"Siapa anda? Sungguh tidak sopan sekali main masuk tanpa mengetuk pintu!"
"Ohya? Sopan mana antara saya main masuk saja atau putri anda menyuruh temannya untuk membunuh putri saya?" Hoshi mendekati meja dokter Harry Sandoro.
"Apa maksud anda! Siapa anda? Main menuduh putri saya mau membunuh putri anda!" Dokter Harry Sandoro melihat ada dua orang pria bule dan pria Asia berdiri di dekat pintu.
Terdengar suara teriakan Susan yang memaki-maki pengawal Hoshi dan langsung membawanya masuk ke ruang praktek ayahnya.
"Brengsek kalian! B@JING@N! SIAPA KALIAN!" bentak Susan tanpa takut.
"Oh, ini yang namanya Susan Sandoro? Yang mencoba membunuh putri saya!" Hoshi berjalan mendekati Susan yang reflek mundur melihat seorang pria matang dengan tatapan ingin membunuh.
"Anda siapa! Enak saja main tuduh! Papa!" rengek Susan.
"Mau tahu siapa saya? Paramudya Quinn Reeves, ayah Juliet Reeves yang ditabrak oleh Anneke karena suruhan kamu!" ucap Hoshi dengan wajah penuh amarah. "Dan asal anda tahu dokter Sandoro, Dokter Anarghya Giandra dan dokter Anandhita Satrio adalah sepupu saya. Pria ini, David Hakim Satrio adalah suami dokter Anandhita."
Susan dan Dokter Harry Sandoro terkejut.
"Sekarang..."
"Hah! Untung belum kamu bongkar otaknya dokter Sandoro, Pak Quinn" ucap Randy lega. "Nona Susan Sandoro, anda kami tahan sebagai dalang percobaan pembunuhan kepada saudari Juliet Reeves."
"Tapi... saya tidak bersalah! Anneke! Ya Anneke yang melakukannya karena dia cemburu Romeo sama gadisnya!" ucap Susan dengan nada panik.
"Saudari Anneke tidak memiliki mobil, nona" ucap Toro. "Kami sudah memiliki bukti, bahwa andalah yang membayar mobil sewaan yang dipakai oleh saudari Anneke. Saudari Anneke tidak memiliki kartu kredit apapun, dan yang tercatat disana adalah kartu kredit milik anda!" Toro menghembuskan nafas panjang. "Akhirnya bisa ala ala di CSI" cengirnya membuat Randy, David dan Jimmy sebal.
"Tapi... bukan saya pak! Saya tidak bersalah!" teriak Susan sambil digiring Randy dan Yono diikuti oleh Toro dan Jimmy.
"Sayang, nanti papa akan sewa pengacara untukmu!" teriak Harry Sandoro yang bingung dengan kejadian di hadapannya. "Nomor Travis Blair... dimana?" ucapnya sambil mencari nomor kontak ponselnya membuat Hoshi menoleh ke arah Travis dan Nelson yang menahan tawa.
"Really? Dia tidak tahu kamu, bro" goda David.
"Biarkan saja" jawab Travis kalem.
"Dad, this is so hilarious" bisik Nelson.
"Ini belum seberapa, boy. Nanti kamu akan lebih sering bertemu yang Membagongkan apalagi kalau menyangkut sepupumu" kekeh Travis yang harus pasang badan setiap sepupunya berulah.
Suara ponsel Travis berbunyi bersamaan dengan Harry Sandoro menghubunginya.
"Ya dokter Sandoro" jawab Travis tenang di hadapan dokter Harry Sandoro yang melongo. "Saya tidak akan membela putri anda karena dia membuat keponakan saya nyaris tewas."
***
__ADS_1
Dokter Harry Sandoro tampak lemas di depan Hoshi dan Travis sedangkan David dan Nelson kembali ke kantor polisi untuk mengikuti proses Interogasi Susan oleh Randy dan Yono.
"Apakah pak Quinn yakin itu putri saya?" tanya dokter Harry Sandoro.
"Silahkan anda lihat sendiri." Travis mengambil iPad nya dan memperlihatkan folder yang dibuat oleh Nelson tadi.
Disana terdapat rekaman CCTV dari Starbucks Kuningan yang sangat canggih layar dan audionya. Harry Sandoro memutar rekaman itu dan wajahnya terkejut melihat Susan dan Anneke disana.
"Jadi foto-foto Romeo dengan adik kelas itu sudah kamu DM ke Instagram milik Romeo dan ceweknya Juliet?" tanya Anneke.
"Sudah dong! Dan aku yakin mereka pasti akan bertengkar hebat dan putus!" Susan tertawa sambil menyesap frappuccino nya.
"Kalau tidak berhasil?"
"Aku sudah menyiapkan semuanya. Dan kamu yang akan melakukannya." Susan menatap tajam ke Anneke.
"Apa maksudmu Susan?"
"Kamu buat cewek bule itu celaka!"
Anneke terkejut. "Tapi aku tidak tahu dimana rumahnya."
Susan tertawa sinis. "Tentu saja aku sudah siapkan ! Lusa adalah jadwal test Romeo dengan papa. Dan aku sudah bilang ke papa untuk merubah jam testnya menjadi siang. Anggap saja aku gambling Romeo ke rumah ceweknya. Dan disaat ceweknya turun dari mobil, kamu hantam dia! Mampus lebih baik!"
Rahang Hoshi mengeras saat mendengar kalimat terakhir Susan dan dia akan membuka mulutnya namun ditahan Travis agar dokter Sandoro mendengar semuanya.
"Kenapa harus aku San?"
Susan mendelik. "Kamu mau aku laporkan kasus pencurian obat di ruang obat rumah sakit ? Biar di DO kamu?"
Anneke menggelengkan kepalanya.
"Turuti semua perintah aku dan kamu tidak akan ketahuan!" Susan mengatakan dengan yakin.
"Tapi..."
Susan memegang wajah Anneke dengan kuat. "Aku hanya ingin Romeo menjadi milikku! Kalau cewek itu mati, aku yang akan menjadi penyelamat hatinya. Aku yang akan menjadi penghiburnya. Kamu tenang saja. Aku akan mengurus Kamu hingga selesai kuliah dan mendapatkan pekerjaan! Lagipula, papaku selalu menurut apa mauku! Kan aku princess nya!"
Mata Harry Sandoro tampak berkaca-kaca. "Astaghfirullah... Susan..."
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1