Romeo Untuk Juliet

Romeo Untuk Juliet
Menunggu Keputusan


__ADS_3

Sebulan sudah Juliet berada di rumah sakit karena Anarghya dan Anandhita ingin agar kondisi tubuh yang retak dan patah dalam kondisi sudah menyembuhkan diri. Apalagi kamar Juliet di lantai dua, membuat Hoshi dan Rina harus memindahkan semua barang-barang putrinya ke kamar di lantai satu agar tidak naik turun tangga.


Selama di rumah sakit, Juliet sudah menyelesaikan sidang skripsinya yang mendapatkan hasil memuaskan dengan ditemani Rina disana. Tentu saja papa dan mama macan itu sangat bahagia putrinya sudah menyelesaikan studinya. dalam waktu cukup cepat.


Kini Juliet menjalani pemeriksaan kembali ke area kanan tubuhnya yang mengalami patah dan retak akibat tabrakan lalu. Bersama dengan Rina, Yanti dan Chitra, gadis itu melakukan Rontgen menyeluruh dan fisioterapi agar kakinya bisa berjalan lagi.


Ketiga wanita yang mendampingi Juliet tampak cemas melihat gadis itu merasa kesakitan saat melakukan fisioterapi tapi Juliet adalah gadis pantang menyerah. Meskipun harus menangis karena merasa sakit, tapi dia tetap berusaha menyelesaikan sesinya.


"Sakit Jules?" tanya Chitra cemas melihat cucunya mengerenyitkan dahinya.


"Nggak separah Minggu kemarin Oma..." senyum Juliet.


"Semangat sayangku" ucap Rina sambil mengelus kepala putrinya yang sudah duduk di kursi rodanya meninggalkan ruang fisioterapi.


"Iya mama macan. Yang penting sudah selesai sidang skripsi, tinggal wisuda tapi kan bisa tahun depan ikut juga nggak papa karena kalau yang wisudah besok September, aku tidak yakin sudah bisa jalan dengan benar."


"Kamu ikut yang September saja Jules. Kan masih ada waktu sekitar tiga bulan buat penyembuhan" saran Yanti.


"Tapi kalau Jules masih harus pakai kruk?" tanya gadis itu ke Omanya.


"Memang kenapa kalau pakai kruk? Kan pada tahu kamu habis kecelakaan" sahut Yanti yang berjalan bersama besannya sedangkan Rina mendorong kursi roda Juliet.


"Takutnya pada malu...".


"Sayangku! Yang penting pakai baju kan? Dengar Jules, Deya yang tuna rungu saja tidak malu, kenapa kamu yang harus memakai kruk merasa malu? Jangan seperti itu!" omel Rina gemas.


"Iya mama macan..." senyum Juliet.


Keempat wanita kesayangan Abrisam, Levi, Hoshi dan Valentino itu pun masuk ke dalam kamar rawat inap Juliet sebulan ini.


Ketika mereka masuk, Valentino sudah ada bersama dengan Arka dengan pakaian hendak bepergian.


"Jadi ke MIT kalian?" tanya Rina setelah Valentino dan Arka menyalami mama macan itu.

__ADS_1


"Aku antar Valentino saja kok Tante, tapi aku sudah diundang Tante Alea dan Mas Bayu buat mampir ke AJ Corp dan PRC Group. Siapa tahu ada lowongan yang pas buat passion aku" senyum Arkananta.


"Lha kalau kamu ke New York, Arabella gimana Ka?" tanya Yanti.


"Ara sudah tahu sih kalau PRC group New York buka lowongan arsitek yang berbeda point of view." Arkananta memang bekerja di PRC Group Jakarta tapi dia melihat adanya peluang lebih besar di New York.


"Dicoba saja Ka, kamu masih muda cari pengalaman yang banyak sebelum kamu settle dengan Arabella. Kan Ara juga masih kuliah juga." Nasehat Chitra.


"Iya Oma. Bokap juga bilang gitu sih. Katanya 'jauh-jauh lah kau ke New York cari pengalaman, biarkan papa dan mamamu pacaran lagi'. Aku bilang 'Ngusir anaknya nih?'. Bokap bilang 'Mumpung elu masih muda, cari pengalaman yang banyak'. Tapi Aku takut tiba-tiba aku kesundul terus gimana ya Oma?" tanya Arkananta dengan wajah polos.


Chitra dan Yanti hanya saling berpandangan sedangkan Rina dan Juliet terbahak mendengar ucapan Arka.


"Bima kiieee pancen deh ( Bima itu memang. deh )! Ora kelingan nek ditinggal anake, mengko nangis-nangis drama ( nggak ingat kalau ditinggal anaknya, nanti nangis - nangis drama terus bikin pusing Bara sama Gendhis" gelak Yanti.


"Namanya juga pak Bimasena, Oma" sahut Arka cuek mengatai ayahnya.


"Kalian berangkat jam berapa ke bandara? Pakai pesawat mana? PRC atau Giandra?" tanya Rina.


"Pakai Giandra, mama macan. Soalnya yang PRC mau dipakai Tante Fayza ke Melbourne. Kan Mbak Mintang mau wisuda."


"Tapi mbak Bee mundur kan gara-gara milih ke Belgia jadi mundur satu semester" sahut Juliet. "Tapi sekarang sudah selesai malah hamil dua kali dalam waktu tiga tahun menikah."


"Subur tuh anak..." celetuk Valentino.


"Nah kalau modelnya kayak Rania kesundul dalam waktu berdekatan nggak papa. Lha kalau kayak aku? Usia 22 mau 23 punya adik? Apa kata dunia? Tar dikira itu anak aku di luar nikah!" sungut Arkananta sambil manyun membuat semua orang melongo.


"Astaghfirullah! Arkaaaa!"


***


Arkananta dan Valentino sudah berangkat menuju New York setelah berpamitan pada Hoshi dan Bima datang usai menghadiri sidang Anneke dan Susan Sandoro.


Dan sore ini, semua keluarga Juliet berkumpul ditambah dengan hadirnya Arimbi dan Romeo bersama dengan kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Bagaimana sidangnya tadi Hosh?" tanya Arimbi.


"Minggu depan pembacaan putusan. Tadi sih Norma menuntut hukuman mati tapi aku rasa hakim tidak setega itu karena aku lihat dia tampak galau melihat wajah Anneke. Dia agak tidak tega melihat Anneke menangis saat pembacaan tuntutan."


"Susan sendiri?" tanya Haruto dan Megumi bersamaan karena merasa kesal ada orang yang berpikiran kriminal macam itu.


Hoshi menatap semua orang di ruang rawat inap putrinya dengan wajah geram. "Dia khas sosiopat pada umumnya. Tidak ada emosi di wajahnya."


Romeo dan Juliet saling berpandangan. "Apakah bisa bebas Oom dengan alasan gangguan mental?" tanya Romeo yang tidak ikhlas Susan bisa lepas ke rumah sakit jiwa daripada di penjara.


"Oom tidak tahu Rombeng. Segala sesuatu bisa terjadi Meskipun Norma sudah memaparkan semua bukti-buktinya."


"Aku nggak ikhlas kalau Susan bisa bebas dan ditahan di rumah sakit jiwa. Dia itu manipulator ulung! Bisa saja dia nanti memanipulasi data dan psikiater yang memeriksanya..." omel Rina.


"Mama macan kebanyakan nonton film drama thriller..." kekeh Juliet.


"Tapi memang bisa lho Jules! Coba kamu tanya sama Deya dan Raveena yang sama-sama kuliah di psikologi!" sahut Rina. "Atau tanya Zee!"


"Ma, yang harusnya ditanya itu Mbak Veena soalnya dia kuliah di psikologi analisa ( psikoanalisa ) yang majornya dia ambil klinis. Kalau tanya mbak Zee sama Deya, beda ceritanya. Mereka psikologinya ambil psikologi perkembangan anak. Jauh ma" terang Juliet.


"Atau nggak tanya sama bang Pedro. Kan dia sekarang masuk BAU ( Behavioral Analysis Unit ) yang mempelajari psikologi klinis unsub" sambung Romeo.


"Kok malah bahasnya kemana-mana" gelak Megumi. "Eh tapi benar kata Quinn. Kita semua tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan hakim besok karena hukum di Indonesia tidak seperti di Amerika yang memakai 12 orang juri."


"Semoga saja hakim bisa bertindak adil baik kepada korban maupun pada tersangka" ucap Haruto.


"Aamiin."


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2