Romeo Untuk Juliet

Romeo Untuk Juliet
Wisuda


__ADS_3

Lapas Perempuan Pondok Bambu Jakarta


Nelson dan Juliet menunggu ucapan Anneke tentang Susan Sandoro dengan harap-harap cemas. Jangan sampai masuk ke rumah sakit jiwa.


"Susan bunuh diri di selnya..." ucap Anneke pelan tapi mampu membuat mulut Nelson dan Juliet menganga.


"Bunuh diri?!" seru Nelson. "Kapan?" Pria bermata hijau itu menatap pengacara Anneke. "Benarkah?"


"Iya mas Nelson. Saudari Susan meninggal dua malam lalu dengan menyilet nadinya."


"Tapi kok tidak ada yang bilang pada Dad atau Tante Norma?" gumam Nelson sedangkan Juliet menyandarkan tubuhnya di kursi akibat shock.


"Ayah Susan meminta untuk tidak ada yang tahu dan ... Susan mencari jalan pintas. Dia tidak kuat berada di lingkungan napi yang mentalnya lebih parah darinya..." ucap Anneke sendu.


"Apakah kamu bisa kuat, Anneke?" tanya Juliet perhatian. "Disini kamu harus kuat mental dan fisik."


Anneke tersenyum sumbang. "Anggap saja aku membayar semua kesalahan aku padamu, Juliet. Dan tolong sampaikan pada dokter Anarghya, terimakasih atas obat yang diberikan untuk ayahku."


"Hah? Oom Arga? Memang kenapa?" tanya Juliet bingung.


"Dokter Anarghya yang selama aku dipenjara memantau kesehatan ayahku dan rutin memberikan obat jantungnya. Aku tahu aku salah tapi aku jauh lebih malu karena keluarga mu sangat baik pada ayahku..." Anneke meneteskan air matanya. "Aku sangat menyesal, Juliet."


"Bertobatlah, Anneke. Buat dirimu berguna meskipun kamu berada di lapas dan aku mohon, tetaplah hidup." Juliet menggenggam tangan Anneke. "Jangan pernah kamu berpikiran untuk mengakhiri hidupmu, karena kamu berharga!"


Anneke menatap Juliet. "Tidak heran Romeo sangat mencintai kamu, Juliet. Kamu adalah gadis idaman."


Juliet hanya tersenyum manis.


***


Di dalam mobil, Nelson dan Juliet hanya bisa saling memandang apalagi mereka baru saja mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan.


"Kenapa Oom Travis dan papa macan tidak ada yang bilang ya bang?" gumam Juliet.


"Abang juga tidak tahu." Nelson menstater mobilnya. "Jules, Abang habis ini balik ke Harvard ya sebab masih harus menyelesaikan program S2 disana."


"Iya bang. Kan semua sudah selesai?" senyum Juliet.

__ADS_1


"Iya. Good luck wisudanya bulan depan." Nelson memundurkan mobilnya lalu memindahkan ke gigi D untuk keluar dari lapas wanita pondok bambu.


"Thanks bang."


***


Bulan September


Pagi ini Hoshi dan Rina menghadiri acara wisuda Juliet di kampusnya di Singapura. Masih menggunakan tongkat, Juliet pun maju ke panggung untuk menerima ijazah dan pemindahan tassel toga nya.


Juliet tampak sumringah usai mendapatkan pengukuhan sebagai salah satu wisudawan terbaik. Hoshi dan Rina tampak bangga melihat putrinya berjalan dengan baju tegak meskipun harus perlahan dan menggunakan tongkat.


Ketika ada acara sambutan, rektor tempat Juliet kuliah, meminta gadis itu untuk berpidato. Juliet yang tidak siap hanya bisa menatap ayahnya bingung. Hoshi memberikan kode semangat kepada putrinya.


Juliet pun berdiri di atas mimbar dengan wajah sedikit gugup. Ayo, Jules. Kamu bisa!


"Ehem, Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh, selamat pagi semua..." Juliet menyapa semua hadirin dan mengabsennya satu persatu. "Yang paling aku sayangi, kedua orang tua ku, Paramudya Quinn Reeves dan Rina Kareem karena tanpa bimbingan kalian, aku tidak bisa seperti ini." Juliet menatap sayang ke kedua orangtuanya.


Hoshi dan Rina sama-sama memberikan ciuman dari jauh untuk putrinya.


"Perkenalkan, nama saya Juliet Anastasia Reeves dan saya merasa bersyukur bisa berdiri disini, mengikuti wisuda, mendapatkan ijazah karena semua itu bisa tidak terwujud akibat kecelakaan lalu lintas yang saya alami.


Juliet menatap para hadirin, lalu membasahi bibirnya sebelum melanjutkan pidatony.


"Saya berdiri disini bukan untuk menceritakan tentang kecelakaan saya, bukan. Tapi saya ingin menekankan bahwa hidup itu sangatlah berharga dan memang baru dirasakan jika sudah mengalami peristiwa yang traumatis. Ladies and gentlemen, tekad dan semangat pantang menyerah serta dukungan cinta kasih dari keluarga inti juga keluarga besar saya, merupakan komposisi yang membuat saya bisa berjalan, berdiri disini dan memberikan pidato.


Jangan lah mudah menyerah karena Allah tidak suka umat yang tidak mau berusaha. Terima kasih."


Juliet menutup pidatonya dengan mendapatkan standing applaus dari para tamu undangan begitu juga dengan Hoshi dan Rina yang bangga dengan pidato putrinya.


Juliet menatap kedua orangtuanya sambil tersenyum lebar.


***


Bandara Soekarno Hatta Jakarta


Pesawat milik Giandra Otomotif Co mendarat dengan sempurna di runway dan segera menuju hanggar milik perusahaan yang dibangun sejak jaman Abimanyu Giandra hingga sekarang dipegang oleh Hoshi Reeves.

__ADS_1


Rombongan keluarga Reeves itu pun turun dari pesawat dan mereka masuk ke dalam lounge yang tersedia disana. Wajah Juliet tampak sumringah melihat Romeo datang dengan membawakan bunga untuknya.



Duh yang sok romantis...



**Yang surprise**


"Rombeennggg!" seru Juliet tidak menyangka kekasihnya akan datang dan membawakan bunga. "Ya ampun..."


Romeo menghampiri Juliet yang masih mode takjub.


"Selamat ya sudah diwisuda" senyum Romeo sambil memberikan buket bunga itu kepada Juliet yang tersenyum manis.


"Terima kasih" jawab Juliet yang mendapatkan cium di keningnya dari Romeo.


"Sudah, nggak usah lebay!" sungut Hoshi yang jengah melihat keuwuan putri dan kekasihnya.


"Oom Quinn jangan iri dong!" gelak Romeo sambil menggandeng tangan Juliet menuju mobil mereka yang sudah menunggu di luar.


"Yang iri juga siapa Rombeng!" cebik Hoshi.


"Bunganya bagus Rom" puji Rina.


"Terima kasih Tante."


Keempatnya pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan bandara.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2