
Kantor Polisi
Travis Blair bersama dengan putranya Nelson, yang sedang liburan dari program magister Harvard Law School, mendatangi kantor polisi bersama dengan Valentino Reeves.
Laporan kecelakaan lalu lintas yang berujung tabrak lari itu segera ditindaklanjuti karena menyangkut putri dari Quinn Reeves dan juga keponakan Travis Blair sendiri.
Kepala polisi area Juliet kecelakaan menemui keluarga Sultan itu dengan wajah murung.
"Pak Travis, plat nomor kendaraan yang menabrak nona Juliet Reeves tidak terlihat meskipun kami sudah memakai semua cara tapi dia menggunakan plat tidak terlihat" ucap Kapolsek itu.
"Bisa saya lihat?" pinta Valentino dan Nelson bersamaan.
"Silahkan mas..."
"Ini Nelson, putra saya dan itu Valentino Reeves, putra sulung Quinn Reeves" ucap Travis.
"Anaknya pak Quinn? Kakaknya nona Juliet?"
"Betul" senyum Travis. "Pak Kapolsek, sementara kami baru laporan korban kecelakaan sampai kami mendapatkan wajah si pelaku."
Valentino dan Nelson tampak serius melihat posisi mobil hitam itu.
"V, kamu sudah pindah ke MacBook kamu?" tanya Nelson.
"Sudah. Ini aku sedang memakai aplikasi pertajam wajah dan plat nomor." Valentino terpaksa harus mematikan perasaan mirisnya melihat adiknya ditabrak seperti itu. "Aku masih kalah dibandingkan sama Oom Benji dan Mas Bayu."
"Tidak apa V, yang penting kamu bisa melihat siapa yang menyetir" ucap Nelson yang mengikuti jejak ayahnya menjadi pengacar. Travis dan istrinya Rahajeng, memiliki dua anak Nelson dan Nadya, nama yang diambil dari Oma buyutnya. Nadya juga masuk Harvard Law School tingkat satu.
Kedua pria itu terkejut saat Valentino berhasil mendapatkan wajah si pelaku.
"Dad, lihat ini!" panggil Nelson.
Travis melihat layar MacBook milik V.
"Ini siapa V?" tanya Travis.
"Yang jelas bukan si Sundel bolong!" ucap Valentino geram.
***
Rumah Sakit PRC Group
Levi dan Yanti datang usai Maghrib bersama dengan Bara dan Arum. Opa jenius itu tidak mampu menahan air matanya melihat cucunya tak berdaya di ruang ICU, begitu juga Yanti yang menangis di pelukan Hoshi.
"Siapa yang tega melakukan hal ini, Hosh?" tanya Levi berulang kali.
"Hoshi tidak tahu Dad..."
"Oom Levi?" panggil Anarghya. "Oom mau masuk?"
Levi menatap Anarghya. "Boleh Ga?"
"Boleh tapi pakai baju steril ya."
__ADS_1
Levi menatap Hoshi dan Rina. "Kami tadi sudah masuk kok Dad. Nanti gantian mom."
"Oom ganti dimana ini?" tanya Levi. Anarghya pun mengajak Levi masuk ruang khusus baju steril.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam." Yanti menoleh dan hatinya merasa lega melihat Nathan dan Haura disana.
"Gimana Juliet, Yan?" tanya Nathan sambil melihat cucunya di atas tempat tidur dengan selang dan kabel di tubuhnya ditambah kaki kanannya ditutupi gips.
"Masih begitu, Nat. Haura..." Yanti berpelukan dengan dokter syaraf itu.
"Arga mana? Biar aku lihat hasil MRI dan CT Scan nya" tanya Haura ke Yanti.
"Sedang membantu mas Levi berganti baju."
Haura mengangguk dan melihat Levi berjalan pelan menuju tempat tidur cucunya. Anarghya yang melihat Tante Hauranya langsung sumringah.
"Tante Haura, Oom Nathan" sapa dokter bedah itu.
"Mana hasil MRI, CT scan, EKG semua Ga?" pinta Nathan.
Anarghya mengambil iPad dari tasnya yang dibawanya dan memberikan pada dua dokter senior itu. Nathan dan Haura duduk di kursi tunggu sambil mempelajari semua hasil tes dan pemeriksaan internal menyeluruh.
***
"Jules, ini Opa. Bangun sayang... Opa kangen cerewet kamu. Kangen lihat kamu ribut sama Rombeng." Tangan kiri Levi yang sudah berkerut menggenggam tangan cucunya. "Rombeng nangis itu di luar."
Tiba-tiba genggaman Levi merasakan gerakan samar dan Levi tersenyum. "That's it Jules. Bangun. Kalau Opa Eiji datang di mimpi kamu, bilang saja 'Dasar pianis durjana' ganggu saja!"
Perlahan kelopak mata Juliet bergerak dan mata hijau kecoklatan yang dirindukan Levi mulai terlihat.
"O...opa..." bisik Juliet. Anarghya bergegas memakai baju sterilnya begitu melihat keponakannya sadar sedangkan keluarga Reeves tampak menangis bahagia melihat Juliet sadar.
"Ya sayang. Kamu ingat opa?" bisik Levi dengan menangis.
"Opa... Kata... Opa pianis durjana... Opa Toyib... jelek kalau... nangis..."
Levi auto melongo begitu juga Anarghya yang mendekati keponakannya. "Oom Levi, apa Juliet tahu soal Opa Eiji?"
"Tidak sih..." gumam Levi bingung. Apa tadi Juliet bertemu si Toyib Senior?
"Jules, ingat Oom?" tanya Anarghya.
"Oom...Arga. Ini... Jules dimana?"
"Jules di rumah sakit. Ingat nggak tadi pagi kamu ditabrak?" jawab Anarghya sambil memeriksa semua organ tubuh Juliet.
"Rombeng... dimana Oom?"
Anarghya dan Levi saling berpandangan dengan tatapan lega karena Juliet masih mengingat semuanya.
"Romeo di rumah. Oom suruh pulang. Katanya malam mau kemari."
__ADS_1
"Rombeng sudah test?"
Anarghya melongo. "Jules... Apa kamu tidak ingat kalau kamu...ditabrak?"
Juliet hanya menatap kosong. "Dita... brak apa? Jules...ingat mau ke toko buku... tapi kok malah disini?"
Anarghya menoleh ke arah jendela kaca ke Haura dengan tatapan bingung.
***
"Kasusnya kayak Bima dulu. Lost short memories. Ingat waktu bom mobil menghancurkan bengkel dan rumah Bima?" ucap Haura ke semua orang setelah Juliet dipindahkan ke ruang rawat VVIP dan ditemani oleh Rina dan Romeo. ( Baca Bara dan Arum Bonchap Gelap dan Lost Short Memories ).
"Aku tidak tahu Oma" jawab Arkananta. "Tapi mama pernah cerita sih."
"Juliet termasuk beruntung gegar otak nya tidak mempengaruhi memori sebelumnya jadi masih mengingat kami semua. Hasil MRI dan CT scan memang ada memar di kepala dan efek dari gegar otak akan merasa pusing, mual dan muntah. Bisa juga mempengaruhi balance tubuh karena kita semua tahu, otak adalah pusat dari semua syaraf yang ada di tubuh kita. Untuk efeknya bagaimana, baru bisa kita lihat beberapa hari ke depan nanti."
"Jadi dia hanya tidak ingat saat ditabrak mobil itu saja" gumam Hoshi.
"Iya Hosh. Sepertinya si penabrak ada keraguan hingga cederanya Juliet parah nggak parah. Maksudnya begini memang tulang rusuk patah, tulang panggul retak, kaki patah itu wajar dalam kasus tabrakan tapi organ perut selamat semua yang berarti mobil itu sebatas tinggi panggul Juliet dan posisinya sisi kanan yang tertabrak jadi bagian kanan sangat parah. Tulang rusuk patah karena terkena hantaman spion mobil itu kalau aku lihat dari rekaman CCTV." Haura memperlihatkan hasil pengamatannya.
Setelah Juliet sadar dan dinyatakan Anarghya masa kritisnya sudah lewat, keluarga disana baru bisa konsentrasi penuh.
"Kamu benar Haura. Ini Jules tertabrak dan spion mobil itu mengenai sisi kanan dadanya dan hasil Rontgen memang semua sisi kana yang cidera kan?" ucap Nathan.
Suara langkah kaki membuat keluarga yang sedang berkumpul menoleh dan tampak Travis, Nelson dan Valentino datang dengan wajah tegang.
"Dimana Rombeng?" tanya Valentino.
"Di kamar sana bersama mama dan Jules. Memang kenapa V?" tanya Hoshi. "Siapa yang nabrak? Apakah Sundel bolong?"
"Bukan!"
"Bukan?" seru semua orang. Romeo pun keluar ketika mendengar suara Valentino.
"Ada apa Val?"
"Rombeng! Kamu tahu ini siapa?" Valentino memperlihatkan sebuah foto ke Romeo. Tampak seorang wanita di balik setir.
"Ini salah satu anggota gerombolan Susan, namanya Anneke."
Hoshi dan Valentino saling berpandangan. "Dia cuci tangan!" ucap ayah dan anak itu bersamaan.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Maaf kalau kurang seru
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1