
Romeo keluar dari ruang praktek dokter Harry Sandoro dengan perasaan jengkel luar biasa. Memang dosen yang bertanggung jawab coas bedah adalah ayah Susan itu tapi Romeo tidak perduli jika nilainya jeblok karena dia akan membawa kasusnya ke dekan hingga bagian kode etik akademis IDI.
Wajah Romeo yang dingin dan tampak kemarahan disana membuat para rekan coasnya tidak berani mendekati pria berkulit putih itu. Jika mata Romeo bisa mengeluarkan laser macam Superman, mereka semua sudah gosong!
***
"Kak Romeo bilang begitu?" tanya Shayna yang malam ini harus berjaga di bagian Obgyn.
Tadi saat Romeo hendak meninggalkan rumah sakit, dirinya melihat Shayna diantarkan oleh Bambang dan pria itu menghampiri keduanya. Romeo meminta ijin pada Bambang untuk mengobrol dengan Shayna yang berhubungan dengan studi dan ayah satu anak itu pun mengijinkan.
"Reseh, Na. Dia tampaknya tidak perduli yang penting semua keinginannya tercapai."
"Julie padahal kemarin sudah bikin dia malu kan?"
"Benar-benar deh!" Romeo menghela nafas panjang sambil menyesap kopinya.
"Dilihat dulu saja kak. Kalau memang sudah kebangetan, kak Romeo bisa minta bantuan dokter Anandhita atau dokter Anarghya."
"Iya Na. Aku suka bedah, Na apalagi coas aku tinggal ini, psikiatri dan Obgyn terakhir. Sayang kan kalau aku mundur satu semester."
"Seperti aku bilang tadi. Ditunggu saja kak, semoga dokter Harry Sandoro sadar bahwa tidak semua bisa tunduk di tangannya."
Romeo tersenyum ke sahabat Juliet itu. "Thanks Na. Doakan aku dan Jules bisa segera meresmikan hubungan kami."
"Aamiin. Aku selalu dukung kak Romeo dan Julie. Oom Quinn bagaimana kak?"
"Hah, calon mertua aku itu bilang aku kucing garong Oyen yang mau nyolong anaknya!"
Shayna terbahak.
***
Susan membanting semua barang-barangnya di kamar mewahnya dengan perasaan kesal. Tadi ayahnya untuk pertama kalinya, menolak memaksakan untuk membuat nilai Romeo jatuh demi bisa diikat olehnya.
"Kamu berurusan dengan pria yang salah Susan! Dia itu punya backing lebih kuat dari papa!" ucap dokter Harry Sandoro ke Susan sesaat setelah Romeo keluar ruang praktek nya.
"Tapi papa!"
"Kamu cari pria lain saja Susan, papa tidak mau membahayakan karier papa! Mau kamu uang kamu berkurang?" bentak Harry Sandoro yang membuat Susan terkejut.
__ADS_1
"Memang kenapa sih papa takut dengan dokter Anandhita dan dokter Anarghya? Hanya ranking saja kok! Kan papa dokter bedah terbaik!"
"Kamu baca jurnal IDI tidak sih? Dokter Anarghya adalah ketua persatuan dokter bedah seluruh Indonesia! Sekali dia buka mulut tentang keburukan papa, habis karier papa! Paham kamu!" bentak Harry Sandoro lebih tinggi nadanya dari sebelumnya membuat Susan semakin terluka dengan perlakuan papanya.
Dan kini, Susan merasa ingin melenyapkan Juliet Reeves, tidak perduli dia anak siapa! Yang penting Romeo untukku!
Suara notifikasi di ponselnya membuat Susan menoleh dan melihat beberapa gambar disana. Senyum kemenangan terbit di wajah gadis itu.
Habis kau Juliet!
***
Juliet yang masih tinggal di Jakarta karena akan kembali ke Singapura pada hari Minggu, mendengarkan cerita dari Shayna.
"Tapi kenapa Rombeng tidak cerita padaku?" sungut Juliet kesal karena merasa Shayna didahulukan. Keduanya sedang melakukan panggilan telepon.
"Karena kak Romeo tahu kamu bakalan bawa meriam ke wajah Susan" kekeh Shayna. "Tadi kak Romeo minta ijin dulu sama mas Bambang untuk mengobrol denganku biar tidak terjadi fitnah."
"Padahal kalau sekedar ngobrol sama kamu, aku sih nggak papa. Kan kita juga bersahabat dari jaman putih abu. Kamu sudah bahagia dengan mas Bambang dan Kaysa." Suara Juliet terhenti ketika melihat siapa yang datang dan gadis itu tersenyum lebar. "Na, ini obyek ghibahnya datang."
"Ah kak Romeo sudah sampai ya. Dikasih puk puk ya" gelak Shayna.
"Iya ya. Jaga emosi kamu ya Julie. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam." Juliet meletakkan ponselnya dan menatap wajah lelah Romeo dengan gemas. "Kamu cerita apa sama Shayna? Kenapa nggak cerita duluan sama aku?"
Romeo meletakkan kepalanya diatas paha Juliet sambi memejamkan matanya. "Shayna cerita apa?"
"Hanya kesal kamu diancam dokter Harry Sandoro."
"Aku tidak cerita detail tapi maaf aku tadi ngobrol dengan Shayna hanya sekedar menyalurkan emosi sebentar. Aku sudah ijin sama mas Bambang kok tadi pas lihat dia mengantarkan Shayna supaya tidak menjadi fitnah."
Juliet mengelus rambut tebal Romeo. "So, kamu mau cerita padaku detail?"
"Of course lah." Romeo pun bercerita detail tentang kondisi dirinya dipanggil oleh Harry Sandoro dan pria itu tahu kekasihnya menahan emosi tingkat dewa.
"Jadi dengan sok iyenya si bapak itu menuruti semua permintaan si sundel bolong?" Juliet menatap judes ke Romeo.
"Hei, jangan pasang judes ke aku dong! Kan kamu minta diceritain."
__ADS_1
"Hiiishhhh benar-benar pengen aku cincang dan lempar ke Empang piranha bang Lukie!"
"Kejauhan Jules" kekeh Romeo.
"Yang penting kamu hati-hati saja Rombeng. Cewek macam Susan itu seorang sosiopat dan manipulator ulung. Bahkan bapaknya bisa dirayu seperti itu! Entah terlalu begok atau terlalu sayang! Papa macan itu sayang sama aku dan mas V tapi kalau kami salah, ya dihajar lah!"
"Beda pola asuh, Jules. Keluarga kalian memiliki pola asuh yang nyaris sama. Kalian memang bergelimpangan harta tapi kalian dididik ketat menjadi humble. Kalian memakai barang branded tapi tidak perlu memamerkan di sosial media."
"Karena orang yang memang kaya raya, tidak suka memamerkan semuanya. Buat apa? Yang penting pakai baju, tidak telanjang. Mau baju harga 100ribu atau 100juta fungsinya sama. Itu ajaran dari oma-oma kami. Aku tidak malu pakai baju harga seratus ribuan yang penting nyaman dan semuanya tergantung siapa yang pakai kan?" senyum Juliet.
"Itulah kenapa aku jatuh cinta padamu Jules. Kamu adalah wanita yang bisa hidup dalam kondisi apapun dan tahan banting. Jaman sekarang, sulit mencari wanita yang mau sama-sama berjuang dalam segala hal." Romeo menatap lembut ke kekasihnya.
"Terimakasih mau bersabar denganku..."
"Terimakasih mau bersama dengan aku..."
"Itu ngapain tiduran di paha Juliet! Rombeennggg! Mau digantung di pohon mangga?"
Juliet dan Romeo melengos mendengar suara yang sangat dihapal oleh mereka berdua.
"Ya Allah papa macan tuh!"
***
Pagi ini Romeo menjemput Juliet yang bilang ingin ke toko buku dan karena jadwal ujian kecil Romeo jam sebelas siang, pria itu menyanggupi permintaan gadisnya. Dan Juliet mengatakan bahwa dirinya akan menunggu Romeo di cafe toko buku itu sampai dijemput.
Karena posisi toko buku berada di seberang, Juliet meminta Romeo memarkirkan mobilnya sebelah kiri supaya tidak merepotkan kekasihnya yang harus memutar. Setelah mencium kening Juliet, gadis itu pun keluar dari mobil dan Romeo menunggu sampai Juliet menyebrang di zebra cross saat lampu merah.
Ketika hendak menyebrang ke jalur sebelah, tiba-tiba sebuah mobil dengan kencang menabrak Juliet di depan mata Romeo dan langsung tancap gas. .
"JULLLLEEEESSSS!!!"
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️