
Ruang kerja Dokter Harry Sandoro terasa hening macam kuburan ditambah hawa dingin menguar dari si bon cabe yang membuat Travis bersyukur dia pakai mantel.
Kayaknya musim dingin nyasar dimari deh! Batin Travis yang melihat sepupunya menatap dingin ke pria yang seumuran di depannya. Bon cabe kalau sudah keluar psychonya ampun deh!
"Pak Travis... Apa bapak tidak bisa membela putri saya?" pinta Harry Sandoro.
"Seriously dok? Ayahnya Juliet di sebelah saya dan anda meminta membela putri anda yang hendak membunuh keponakan saya? Coba anda di posisi Quinn! Anda sayang putri anda, wajar karena saya juga punya seorang anak perempuan tapi tidak semua kesalahan anak kita bisa kita permisif kan! Ini sudah masuk kriminal dokter Sandoro!" ucap Travis gemas.
Hoshi mengambil ponselnya dan menunjukkan kondisi Juliet saat baru keluar dari kamar operasi. "Ini kondisi putri saya, Juliet, setelah keluar dari kamar operasi." Jari pria itu lalu menggeser ke video saat Juliet ditabrak Anneke. "Hati ayah mana yang tidak hancur melihat putrinya ditabrak seperti ini?"
Dokter Harry Sandoro terkesiap melihat kondisi Juliet yang langsung dihampiri Romeo dan dibawa masuk ke sebuah mobil SUV lalu pergi ke rumah sakit.
"Ini kondisi Romeo yang bersimbah darah Juliet. Apa anda masih tidak percaya bahwa putri anda seorang sosiopat sejati?" ucap Hoshi dingin.
"Tidak... putri saya tidak sakit jiwa... Putri saya bukan seorang sosiopat..."
"Tidak perlu menjadi seorang psikolog untuk bisa mengetahui bagaimana tidak punya hatinya putri anda saat berbicara dengan Anneke. Sosiopat dan Manipulator ulung! Bahkan anda ayahnya sendiri juga dimanipulasi!" lanjut Hoshi. "Anda kan seorang dokter dan pasti saat kuliah dulu saat coas ada jadwal psikiatri kan?"
"Tapi pak Quinn... Apa tidak ada jalan lain?"
"Astaghfirullah! Juliet putri saya hampir tewas! Bang, secara resmi aku akan menuntut dokter Harry Sandoro, Susan Sandoro dan Anneke sebagai pelaku percobaan pembunuhan pada Juliet!" hardik Hoshi marah luar biasa sambil menggebrak meja dokter Harry Sandoro. "Jangan salah kan saya jika putri anda saya lempar ke Empang piranha!"
Hoshi lalu keluar dari ruang kerja dokter Harry Sandoro dengan menendang pintunya hingga rusak. Travis hanya menatap dingin dokter Harry Sandoro. "Saya tahu anda tidak percaya tapi believe me, Susan tidaklah baik-baik saja. Selamat siang!" Travis pun keluar dari ruang praktek.
***
"Ingin aku bedah kepalanya dan dadanya! Otaknya kulempar ke kandang buaya! Jantungnya kusumbang ke donor organ!" omel Hoshi kesal. "Masih untung Rina tidak ikut. Habis dia! Aku tadi sudah ingin menarik batonku!"
Keduanya kini sudah berada di dalam mobil bersama dengan dua pengawal Hoshi. Travis hanya tersenyum mendengar Omelan si bon cabe.
"Nelson mengabari kalau Randy berhasil membuka kedoknya Susan. Dan sekarang resmi ditahan" lapor Travis yang membaca pesan di ponselnya.
"Menurut mu apa Arga akan membuat dokter sedeng itu habis?"
"Aku tidak tahu Hosh karena kalau Arga begitu berarti dia tidak netral karena masalah pribadi dicampur adukkan dengan jabatannya. Berbeda kalau dokter Sandoro melakukan malapraktik, baru Arga bisa menindak."
Hoshi menghela nafas panjang. "Kamu kan punya Nadya, bang. Tahu kan rasanya ketika mendengar anak perempuan kamu celaka..."
"Beruntung Anneke sedikit ragu saat menabrak Juliet hingga cideranya masih bisa sembuh apalagi anakmu masih muda, fisiknya juga bagus."
"Tetap saja Bang. Kalau aku tidak ingat siapa aku sekarang, aku tabrak dokter Sandoro di hadapan Susan. Biar dia trauma seumur hidup!"
__ADS_1
Travis menepuk bahu sepupunya. "Hosh, stop. Ingat Keluarga kamu. Apa kata Oom Levi nanti? Rina? Bisa juga Valentino meniru kamu..."
"Pak Toyib? Paling tepuk tangan. Rina? Cewek Arab itu pasti satu server sama aku! V? Nggak sama dengan aku, patut diragukan kalau dia berdarah Reeves dan Pratomo!"
"Oh astagaaa..." Travis menyandarkan kepalanya di jok mobil.
***
Kantor Polisi
Hoshi dan Travis tiba di Polres tempat Randy menjabat sebagai Wakapolres.
"Haaaaahhh... Cukup merepotkan tapi aku berhasil membuatnya mengaku!" ucap Randy yang tampak lelah.
Di dalam ruang kerjanya yang penuh dengan berkas, ada Hoshi, Travis, Nelson dan David.
"Dave, aku kangen kamu jadi partner karena aku butuh rekan berbagi menghadapi si Tororong..." cengir Randy ke David yang duduk santai di sofa.
"No, Ran. Aku sudah pensiun. Tororong dan Jimbong jadi tanggung jawab mu ya pak Ustadz Randy..." kekeh David.
"Reseh lu!" gelak Randy mengingat dulu mereka satu apartemen demi mengawasi penjahat. ( Baca My Boyfriend is not a transgender ). "Mentang-mentang gue udah naik haji!"
"Alhamdulillah kisanak. Doa kisanak saat itu terkabul dan terwujud" balas David.
"Nanti aku ceritakan Quinn" jawab David.
"Jadi gimana nih Rand?" tanya Travis yang jika kondisi informal begini memanggil dengan nama.
"Resmi ditahan tapi aku khawatirkan dia bisa bebas dengan alasan insanity ( kegilaan ) dan harus dirawat di rumah sakit jiwa. Dan dengan kekuatan ayahnya, apapun bisa terjadi." Randy menatap serius ke semua orang disana.
"Kamu harus mencari jaksa penuntut umum yang bisa membuktikan bahwa dia tidak insanity tapi memang ingin membunuh dengan menggunakan tangan orang lain!" ucap Hoshi dingin. "Sayang jaksa yang dulu mengurus kasus Mbak Gandari sudah pensiun." ( Baca Bonchap My Cold Chef ).
"Aku ada sih jaksa yang sangat-sangat lurus dan galaknya minta ampun." Travis menatap Hoshi dan Randy bergantian.
"Oh come on Dad. Jangan dia!" protes Nelson.
"Oh yeah. Hanya dia yang bisa." Travis menyeringai lebar.
***
Ruang Rawat Inap VIP Juliet
__ADS_1
"Ya ampun Julie! Kok bisa seperti ini? Astaghfirullah! Anneke kok bego banget sih mau-maunya disuruh sama Susan!" cerocos Shayna yang datang membesuk Juliet malam harinya bersama dengan Bambang yang pulang kantor.
"Aku juga nggak tahu! Dia memang sinting!" jawab Juliet yang sudah mulai membaik tapi oleh Anarghya masih harus bedrest total.
"Beneran deh! Kamu tahu, dia mengirimkan foto-foto aku ngobrol berdua sama kak Romeo ke mas Bambang via DM Instagram!" ucap Shayna. "Dibilang 'lihat pasanganmu selingkuh' gitu!"
"Terus mas Bambang gimana?"
"Cuma bilang 'Julid banget sih!' Padahal kan kak Romeo sudah minta ijin sama mas Bambang jadi kami santai-santai saja. Lagian mas Bambang kan tahu kamu sama Juliet sudah pacaran lama. Kita kan tidak baru kenal!"
"Na..."
"Apa Julie?"
"Kamu semenjak punya Kaysa kok jadi cerewet? Emak-emak banget vibenya!" gelak Juliet meskipun setelahnya mengerenyitkan dahinya akibat rusuknya nyeri.
"Kan aku seorang emak Julie!" jawab Shayna sambil manyun.
***
"Alhamdulillah nona Juliet masih dikasih umur, tuan Romeo" ucap Bambang yang duduk bersama Romeo di kursi luar ruang rawat inap.
"Iya mas Bambang. Aku bersyukur sekali Julietku masih hidup sekarang."
"Apa pelakunya sudah tertangkap?" tanya Bambang.
"Alhamdulillah sudah."
"Saya hanya takut pak Quinn bisa membunuh pelakunya..."
Romeo tersenyum. "Hampir kok mas Bambang. Rencananya mau dilempar ke Empang piranha."
Bambang melongo.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️