
Didalam sebuah taxi konvensional. Melaju kencang dijalanan yang lengang. Sesuai permintaan pelangan yang harus segera sampai ke tempat tujuan. Untungnya hari sudah malam sehingga lancar sampai tempat Yang dimaksudkan
Seorang laki laki dengan jacket kulit, berkaca mata hitam dengan topi berlambangkan LV. Keluar dari Pintu belakang sebuah taxi yang telah berhenti sempurna di lobby rumah sakit. Laki laki itu mengendong ransel Yang juga berwarna hitam. kemudian berjalan memasuki pintu rumah sakit.
"Langsung ke lantai dua ruangan tulip satu." sebuah pesan WhatsApp yang dibacanya sejak mendarat tadi.
Karena sudah Malam, keadaan menjadi sangat sepi. Bahkan dipintu masuk tak Ada security Yang berjaga. Pastilah tidak Ada yang datang ke rumah sakit semalam ini, kecuali gawat darurat.
Pandangannya menyapu seluruh ruangan, kalau kalau Ada orang yang bisa ditanyai. Tapi hanya gelap yang didapat. kemudian dia mencoba melangkahkan kaki ke arah tangga yang ada Di sudut ruangan. Hingga ahirnya seseorang mengagetkannya dari belakang.
"Ada yang bisa dibantu Pak?"
Ragu Ragu dia menoleh ke arah suara tersebut. takut kalau Bukan manusia Yang mengatakannya. Karena suara itu terdengar sangat berat.
"A..a..Ada Pak." katanya sambil menoleh.
Dari sudut ruangan lainnya. Tampak seseorang dengan badan tegap. Matanya langsung ditujukan kebagian kaki sosok itu. "Syukurlah menapak Di lantai." gumannya.
Sosok yang ternyata security itu menghampirinya. Ternyata dia Yang seharusnya berjaga Di pintu masuk, namun terpaksa harus meninggalkan sebentar untuk buang air kecil. Terang security sesaat setelah melihat wajah laki laki itu.
"Saya keluarga pasien Pak, mau menjaganya Malam ini."
"Kamar berapa Pak?"
"Tulip satu lantai dua."
"Bukan lewat sini Pak. ini tangga untuk managemen." Kata security sambil menunjukkan papan informasi di ujung tangga. "Kalau kamar pasien lewat gedung didepan Sana. Pas sebelah gerbang masuk." terangnya kemudian.
Setelah paham laki laki itu undur diri menuju gedung Yang dimaksud oleh security. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih.
Dirinya kini telah berada Di gedung yang dimaksud. sebelum masuk matanya lebih dulu melihat kepaoan informasi Yang Ada Di atas pintu. tertulis ruang rawat inap. maka dia masuk melalui pintu tersebut.
berbeda dengan gedung sebelumnya. disini lebih terang dan beberapa aktifitas dilakukan Oleh mereka Yang berseragam putih diujung lorong yang baru saja ia masuki.
"Ada keperluan APA Pak? suara Yang tak kalah mengagetkan. datang dari sebelah Kirinya.
"haaaahhh..." nafasnya lega, setelah melihat senyum dari security lain Yang berjaga di belakang pintu masuk. Tepatnya disebuah pos dengan tumpukan buku didepannya.
"Saya keluarga pasien, Akan menunguinya malam ini." katanya sama Persis.
"Kamar berapa Pak ?"
"Tulip satu lantai dua."
"Ada Surat jaganya?"
"Tidak ada Pak, dia sendirian Dari tadi. belum Ada keluarganya yang datang."
"Siapa Nama pasiennya?"
"Siska Arum Sasmita."
"Bapak siapanya ibu Siska?"
"Saya ayah dari bayinya."
__ADS_1
security itu menatap sinis kearah laki laki Yang mengaku ayah Dari anak ibu Siska.
"Kenapa Baru datang Pak, ibu Siska sendirian sedari tadi, tidak tega rasanya melihatnya mengurus ini itu sendirian dihari ia bersalin. Kami Yang tak tega membantunya Dari tadi......," Masih panjang Kata kata security kepada laki laki Yang tak lain adalah Yudha.
Yudha hanya mendengarkan tanpa bisa berkata Kata. Karena memang sebenarnya hal ini tak pantas ia lakukan, sebagai seorang ayah harusnya dia mendampingi pasangannya Saat bersalin.
"Syukurlah sekarang bapak sudah datang." Kata security kemudian mengrahkan Yudha kekamar Yang dimaksud.
"Terimakasih Pak," Kata itulah yang paling tepat untuk diucapkan Saat ini. kemudian berjalan sesuai arahan security. Kemudian berhenti Di pintu sebuah kamar bertuliskan Tulip satu.
"krekkkkkk ..."
Bunyi derit pintu. Disusul langkah tegas Yudha. Orang yang sudah ditunggu Siska sedari tadi. Melihat kedatangan Yudha, Siska meletakkan smartphone disamping tubuhnya yang masih terbaring. Menoleh ke arah Yudha kemudian membetulkan bantalnya.
"Aku bisa sendiri." Kata siska begitu melihat Yudha akan membantunya. Namun Yudha tetap melakukannya.
Diruangan itu hanya Ada mereka berdua. Siska Masih berbaring dengan kepala sedikit terangkat. sementara Yudha duduk dikursi dekat ranjang Siska, menghadap kearah Siska.
"Tinggal disini atau bawa bayi itu." Kata siska setelah Hening beberapa Saat.
"Iya, nanti kita bicarakan ya. sekarang Kamu pulih dulu." Kata Yudha tidak ingin membuat keributan.
Matanya kemudian tertuju pada sebuah kontak besi diatas meja disamping ranjang, berisi makanan Yang Masih tertutup plastik wrap, yang penuh uap.
"Kamu belum makan?" siska mengeleng mendengar pertanyaan Yudha.
"Makan ya, Aku suapin."
"Nanti Aja," Kata siska Tampa memalingkan pandangannya dari televisi.
"Tenanglah, Aku sudah disini sekarang." Kata Yudha sambil memberanikan diri mengengam tangan Siska. Gengaman itu semakin erat saat Siska mencoba melepaskannya.
"Aku Yang Salah. Aku Minta maaf. sekarang Aku disini Akan mempertangung jawabkan semuanya." lanjut Yudha sembari mendekatkan tangan siska ke dadanya. namun belum mampu membuat Siska memalingkan pandangannya.
"Tapi Aku Gak bisa lakuin sendiri, Aku cuma punya Kamu disini. Aku butuh bantuan Kamu Siska." Kata Yudha memohon.
"Tolong bantu Aku, jangan buat Aku bingung disini. Dan Aku Mohon Kamu tetap Ada disampingku apapun yang terjadi nanti." pintanya tulus.
"Aku Gak sangup kalau harus merawat mereka sendirian lagi." Kata siska lirih, terlintas kepaitan yang selama ini Siska jalani sendirian.
"Enga, enga Akan lagi. Aku janji." Kata Yudha sambil mencium tulus tangan Siska. Begitu tulus, hingga menetes air mata membasahi tangan Siska.
"Bersihkan badan terus istirahatlah." perintah Siska.
"Iya, setelah itu Aku suapin Kamu ya."
"Aku bisa sendiri." tolak Siska. "Dikamar Mandi Ada sabun Dan handukku, kalau mau Kamu bisa pakai." Yudha mengangguk dan segera berjalan ke kamar Mandi.
***
Pagi Masih gelap. Sinar mentari masih bersembunyi. mengumpulkan energi untuk bersiap menembus setiap celah rumah sakit. Menghadirkan kehangatan. Bau khas rumah sakit menyebar sesaat pintu terbuka.
Kemudian masuk segerombolan perawat. Membuat Siska membuka matanya. Sementara Yudha Masih terpejam dengan meletakkan kepalanya disamping tubuh Siska, Dan tubuhnya terduduk dikursi.
"Selamat pagi ibu Siska." sapa Salah satu Dari mereka. Siska melempar senyum.
__ADS_1
"Ibu Siska, kondisi stabil, infus terserap dengan baik." Kata Yang lain menerangkan kepada Tim Yang Akan berganti siff.
"Sudah buang air kecil bu?"
"Belum suster."
"Diusahakan pagi ini buang air kecil ya buk, supaya nanti sore sudah boleh pulang."
Siska mengangguk dan kembali tersenyum. setelah proses serah terima tugas selesai, merekapun berpamitan untuk menuju pasien berikutnya.
Agaknya deritan pintu Kali ini membangunkan Yudha. Yang langsung bangkit dari temoat duduknya, kaget.
"Ada APA?" Kata Yudha Masih waspada.
"Perawat ganti shift." terang Siska
Terlihat Siska berusaha untuk bangun dari tidurnya. Yudha Yang melihatnya bersiap membantu. Namun Siska terhenti Dan menatap tajam Yudha.
"Izinkan Aku membantumu Siska." pintanya tulus.
Tubuh Siska Masih kaku, walaupun sudah dia Coba gerakkan dari semalam. Namun Rasa sakit pada jalan lahir bayi Masih terasa. Maka dia izinkan Yudha membantunya untuk duduk kemudian berdiri.
"Mau Kemana Sis?" Tanya Yudha Saat melihat Siska berusaha memindahkan kakinya ke lantai untuk mencoba berdiri.
"Bersih bersih ke kamar Mandi."
"Sini Aku papah." Yudha langsung memotong tubuh Siska dan membantunya berjalan ke kamar mandi.
"Sampai sini saja." Kata siska sesamoainya Di pintu kamar Mandi.
"Yakin Kamu bisa?"
"Iya, ambilkan pembalut di laci meja dan celana dalamku." perintah Siska kemudian.
Tok tok tok
"Siska ini pembalutnya." Yudha membuka sedikit pintu kamar Mandi. kemudian mengulurkan dua Brenda Yang dibutuhkan Siska. "Letakkan saja semuanya disitu, Aku yang akan membersihkannya." kata Yudha, setelah Siska menerima pemberiannya.
Sudah hampir Lima belas menit Siska dikamar Mandi, tanpa suara sedikitpun. Yudha Yang menunggunya tepat dibalik pintu, mulai khawatir.
"Sis..., Kamu baik baik saja?" ucapnya lirih
"iya." Kata siska kemudian. Dirinya Masih mencoba buang air kecil sesuai anjuran perawat tadi. Butuh waktu cukup lama hingga ahirnya dia berhasil buang air kecil.
Terdengar bungi sower disusul air flas dari toilet. Membuat Yudha sedikit lega. Sesaat kemudian Siska keluar. Yudha kembali membantu Siska berjalan menuju ranjang. setelah Siska terduduk, Yudha kembali ke kamar Mandi untuk membersihkannya. Namun ternyata Siska sudah merapikannya lebih dulu.
"Kenapa Kamu bersihin sendiri Siska?" Tanya Yudha sekembalinya Dari kamar Mandi
"Enga lah, Aku Masih bisa sendiri kalau itu."
Yudha melangkah mendekati Siska Yang sedang menyapu bedak kemukanya, setelah sebelumnya dibersihkan.
"Kamu cantik sis." puji Yudha.
"Bantu Aku sisir rambut." Kata siska sambil mengulurkan sisir. Seoertinya Siska Masih kesusahan mengapai rambutnya Yang panjang Di bagian belakang.
__ADS_1
"Aku Akan selalu menjagamu Dan anak anak Kita." katanya sambil terus menyisir rambut Siska.
"Tapi ngomong ngomong dimana anak anak sis?"