Ru-meet

Ru-meet
Butuh istirahat


__ADS_3

Dan disinilah aku berada saat ini. disebuah titik yang sangat aku benci. Aku sudah berusaha untuk menghindari, namun lagi dan lagi aku harus kembali tepuruk.


Terkutuk memang diri ini, yang terus melupakan namun keadaan selalu mengingatkan lagi. Bertahun tahun mencoba mengobati namun nyatanya tetap saja tak berarti.


Luka itu ternyata masih membekas, dan kini kembali tergores, meinggalkan sakit yang jauh kebih menyiksa batin ini. Sesak rasanya batin ini menyadari jika luka lama belum sepenuhnya pulih.


Kenapa ada banyak mahluk tidak berhati, yang tega menyakiti mahluk lain. Yang jelas jelas pernah mereka rayu dan mereka puja.


Jika jawabannya adalah bosan. Maka itu adalah alasan seorang pengecut yang hanya benyali ciut, tanpa pernah merunut dari mana dia tersambut pada dunia ini.


Pikiran Siska terus berputar putar. Seketika kepalanya menjadi penuh. banyak hal yang terbayang di otaknya saat ini.


Kejadin tadi ibarat pintu gerbang yang membuka seluruh memori lama yang telah dia kubur dalam dalam. Dimana Siska sebelumnya telah yakin untuk memaafkan dan melupakan semua itu. Kini dirinya kembali dipenuhi perasaan yang bermacam macam, kacau.


Siska terduduk pada sebuah sova, menekuk kaki dan memeluk dengan kedua lengannya. Berulang kali ia mengigiti kuku jari tangannya, kemudian mengaruk kepalanya yang jelas jelas tidak gatal.


Indah yang baru saja tiba. meminta Yudha untuk meninggakan mereka berdua. walaupun awalnya Indah percaya Yudha bisa menolong Siska sehingga Yudhalah orang pertama yang dia hubungi. Namun setelah Siska sadar sepertinya yang dia butuhkan bukanlah kehadiran suaminya.


Maka Indah mencoba menjelaskan aoa yang akan dia lakukan, sehingga Yudha paham dan dengan ilkas mau meninggalkan mereka berdua.


Sepeninggalan Yudha, Indah duduk di sova didepan Siska. Mengamati apa yang dilakukan sahabatnya, tanpa melarang ataupun mengatakan sesuatu. Menurut Indah, apa yang dilakukan Siska tidak membahayakan dirinya. Maka kini dianhanya akan menunggu untuk memberi ruang keoada sahabatnya hingga merasa aman.


Perasaan aman adalah hal yang dibutuhkan pertama kali bagi siapapun yang berada dalam situasi takut, panik, kacau. Seperti Siska saat ini.


Setelah beberapa saat, Sisk menurunkan kakinya. sehingga saat ini dia telah duduk bersandar. tangannya mengapai bantal kecil disampingnya dan meletakkan dipangkuannya.


"Indah," kata Siska disusul dengan suara tangisan.


Indah menyodorkan sebuah kotak tisu yang ada di meja. Meja itu pula membatasi jarak keduanya. Siska mengambil beberapa helai tisu kemudian mengusapkan ke mata dan wajahnya. Sementara India kembali menunggu reaksi Siska setelahnya.


"Kasian banget perempuan hamil tadi kan." kata Siska setelah kuat bercerita tanpa diiringi tangisan. "Kenapa si harus di sakiti, dia lagi hamil lho. apa pantes orang yang mengandung anak dari laki laki itu disakiti. apa pantes Indah?" Kata Siska kemudian kembali menanggis.


"Aku gak kuat bayangin gimana dia akan lalui hari harinya. Susah lho hamil, ditinggal suami, ngurus ini ngurus itu. kenapa gitu?" kata siska lagi.


Indah terus mendengarkan Siska. Kali ini, Indah memerlkukan Siska seperti pasiennya. menurut analis Indah, Keadaan siska saat ini masih terguncang, dengan melihat perkelahian suami istri tadi.

__ADS_1


"Aku harus apa Indah?"


"Teh Siska," kata Indah pada ahirnya. Siska menatap penuh kepada Indah. "Ini tentang kejadian tadi kan?" Indah mencoba menarik garis tertang penyebab ketidak stabilan emosi Siska. Siska mengangguk kemudian menatap kosong entah kemana.


Indah menarik nafas panjang, kemudian buru buru mengalihkan pikiran Siska, sehingga dia tidak berlarua larut pada perasaan dihatinya saat nelihat kejadian tadi.


"Teh, teteh boleh prihatin sama mereka dan orang orang lainnya, tapi teteh gak boleh terbawa suasana." Indah mencoba menarik pusat pikiran Siska.


"Teteh ingen sekarang teteh punya banyak orang yang menyayangi teteh. Yang siap jagain teteh, dan gak qkan ngebiarin ada yang nyakitin ***** lagi." Kata Indah kemudian.


Penglaman indah menjadi suster dokter Jalu, yang jug adalah psikolog, membuatnya selalu belajar cara menenangkan orang, untuk pertolongan pertama. kali ini dia mempraktekan apa yang dilihatnya, dan kali ini tanpa dokter Jalu.


Siska kini telah kembli sepenuhnya kepada dirinya. pandangan matanya tak lagi kosong. sedari tadi terus memoerhatikan Indah. pertolongan pertama yang Indah lakukan sepertinya berhasil.


Kemudian Indah memanfaatkan kesadaran penuh Siska untuk menguatkan sahabatnya itu. Indah mendekati Siska mengengam tangannya untuk menyalurkan energi baik diantara keduanya.


"Indah tahu, teteh pernah berada pada keadaan sulit, dan indah juga tahu, teteh adalah orang yang hebat yang bisa melewati itu semua." indah mencoba menguatkan Siska.


"Teteh harus bisa membagi perasaan teteh untuk tidak larut dalam kejadian yang teteh lihat. Indah sayang banget sama teteh. begitupun orang orang lain disini, semuanya sayang teteh."


"Sekarang teteh coba untuk tarik nafas kemudian keluarkan, agar diri teteh lebih tenang."


Siska melakukan apa yang dikatakan Indah. "makasih Indah" kata Siska dengan tenang.


"Sama sama teh." kata Indah lega. "Teteh uda lebih tenang sekarang?"


"belum," kata Siska sambil mengeleng. "Iya tadi teteh terlalu terbawa perasaan. sesek banget tadi rasanya." kata Siska sudah bisa menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya. hal ini memudahkan Indah untuk memberi saran apa yang bisa dilakukan Siska.


"Teh, apa yang teteh rasakan sekarang?"


"Teteh ngerasa sakit hati waktu laki laki itu pukul istrinya yang lagi hamil. padahal kan itu anak dia."


"Tenag teh. ambil nafas dalam dalam keluarkan pelan pelan." kata Indah menenangkan Siska yang mulai meluap kembali emosinya."


"Teteh gak tahu harus gimana, teteh sadar itu bukan teteh, tapi tetep sakit ndah." Kata Siska kembali menangis.

__ADS_1


"Iya teh, Indah pasti bantuin teteh." kata indah kembaki mengengam tangan Siska. "Sekarang teteh tenang ya."


Sudah hampir satu jam Indah dan Siska berada di ruang istirahat. Indah terus mencoba memberikan pertolongan pertama pada Siska.


Sementara di ruangan lain, Yudha ditemani Bang tigor menunggu di ruangnnya. Yudha tidak bisa tenang sedari tadi. berulang kali ia duduk dan berdiri kemudian berjalan mondar mandir tak tentu tujuannya.


"Tenanglah kau Yudha."


"Bagaimana saya bisa tenang bang, saat istri saya pingsan tiba tiba."


"Apa ini berkaitan dengan Surya?" Kata Tigor curiga.


"Bukan, kami sudah berbaikan kemarin, saat reuni."


"Bagaimana ceritanya?" tigor penasaran. kemudian Yudha menceritakan secara detail kejadian saat reuni.


"Paten kali bah!" Tigor sedikit kaget dengan jawaban Yudha. dalam hati dia berdoa semoga Surya benar benar baik seperti yang diceritakan Yudha.


"Kalau begitu kenapa Siska?"


"Kata Indah sebelum siska pingsan mereka melihat perempuan hamil Yang diselingku suaminya. kemudian dipukul." Yudha mencoba menerangkan


"Bah macam pernah dengar aku. sama seperti cerita siska yang ditinggal sama mu dulu." Kata Tigor lantang. "Aku rasa Siska trauma," Tigor membuat kesimpulan.


Mendengar apa yang disampaikan bang Tigor, Yudha merasa bersalah. kembali ia menghantamkan tangannya kemeja. menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi oada Siska saat ini


"Bukan sikap seperti ini, yang Siska butuhkan dari mu saat ini." Tigor yang selalu berkata bijak. "Kuatkan dirimu, biar kau bisa mendampingi dan menguatkan istri kau."


toktoktok.


"Indah masuk ya aa." kata Indah dari balik pintu kemudian tanpa menunggu izin pemilik ruangan, dirinya langsung membuka pintu dan melangkahkan kakinya mendekati meja dimana Yudha dan Tigor berada.


"Mana Siska?" tanya Yudha sambil berdiri.


"Teteh tertidur tadi, jangan di ganggu aa, teteh butuh istirahat sekarang

__ADS_1


__ADS_2