
Didalam rumah makan. Seorang pelayan laki laki mengantarkan dua tamunya. Kemudian memberikan buku menu dan bersiap menulis di lembar pesanan.
"Jus jeruk tidak pakai gula dan sedikit es."
"Aku cappuccino dingin. nah itu dulu yang lainnya kami pesan nanti. "
Pelayan itu tersenyum dan meninggalkan meja untuk menyerahkan pesanan ke bagian dapur.
"Aku sebenarnya marah kali samamu. Tapi untunglah kau ajak aku siang ini, berkurang sikit marahku padamu."
"Bukan begitu maksud saya bang, perusahaan terus menekan saya untuk penandatangan kontrak. Jadi terpaksalah saya jalan duluan." alasan Surya pada Tigor, memang benar perusahaan menargetkan penandatangan kontrak, namun selain itu sebenarnya Surya memang ingin meninggalkan Tigor yang menurutnya telah berpihak pada Yudha. "Jadi maafkan saya bang"
"Baiklah lagipula niatmu memang untuk membantu mereka." Mendengar jawaban Tigor , Surya merasa diatas angin.
"Ngomong ngomong bagus juga seleramu memilih tempat ini. Sudah lama aku ingin makan disini tapi baru kesampaian."
"Hahahaha...." Surya hanya tertawa. Sebenarnya ada alasan lain kenapa Surya memilih tempat ini, tak lain karena dirinya pernah mengajak Siska makan ditempat ini usai lomba teater tingkat nasional, dan mereka memenangkan perlombaan. Surya ingin mengingatkan moment itu pada Siska.
"Itu mereka datang," Bang tigor yang duduk menghadap pintu langsung melihat Siska dan Yudha memasuki restoran. Siska mengandeng tangan Yudha Mesra.
Sebelumnya Bang Tigor telah diberitahu jika dalam pertemuan ini juga menyertakan Siska. Alasan Surya yang disampaikan kepada Tigor adalah karena Yudhalah yang meminta. Tanpa Surya ketahui jika Bang tigor ikut dalam perencanaan pertemuan ini.
Surya menengok kearah pintu. Berdiri dan tersenyum lebar untuk menyambut Siska.
Siska yang terus mengandeng Yudha menghentikan langkahnya satu meter dari tempat Surya berdiri. Yudhapun ikut perhenti. Kemudian Siska memainkan perannya, menatap bingung dan kaget kearah Surya yang terus tersenyum.
"Kenapa sayang." Yudha melihat ke arah Siska yang masih memperhatikan Surya. Walaupun mereka telah bersepakat untuk memainkan peran, tetap saja Yudha tidak suka istrinya menatam Surya.
Siska meminkan matanya, melirik kearah surya dan yudha bergantian beberapa kali. Kemudian memukul manja lengan suaminya.
"Kenapa kamu gak bilang kalau Jangkung itu Surya." kata Siska dengan naga keras agar didengar oleh dua orang di meja itu.
__ADS_1
Kini gantian Yudha yang memainkan peran dengan mengerutkan kening, hingga kedua alisnya yang tebal saling beradu. Memasang wajah tak kalah bingung.
"Maksudmu?" kata Yudha sambil memandang surya, kemudian memasang muka marang dan menatap Bang Tigor. "Apa ini maksudnya bang Tigor?"
"Duduklah dulu kalian berdua, akan aku jelaskan semuanya."
"Tidak bang, aku tidak terima dibohongi seperti ini." Kata Siska menambah dramatis keadaan.
"Mas Yudha ingat waktu kamu marah padaku, saat aku tak sengaja bertemu dengan Surya?" Siska melanjutkan kata katanya, "Tapi ternyata kalian sudah saling kenal, Mas Yudha sengaja mempermainkan aku?"
"Siska siska, pandai sekali kamu memutar balikkan keadaan, atau sebenarnya kamu yang membohongiku, meminta bang tigor memperkenalkan Surya sebagai Jangkung." Yudha menimpali Siska yang membuat keadaan terasa semakin nyata.
Surya terdiam. "Inikah yang aku mau?" pikirnya. Dalah hati Surya merasa bahagia melihat pertengkaran sepasang suami istri didepannya. Kini ia berfikir langkah apa yang harus ia ambil. Haruskan ia menunggu keadaan menjadi semakin panas, kemudian ia akan membela dan melindungi Siska. Atau...
"Tenanglah Yudha." Bang tigor menghampiri Yudha dan menuntunnya untuk duduk. "Duduklah disini Sis." Katanya kepada Siska, memerintahkannya duduk disamping Yudha.
"Jangkung, kini giliranmu mengatakan niatmu." Kata bang tigor menengahi.
"Sial, Si tigor palah langsung memintaku menjelaskan. ini berarti aku yang disalahkan." batin Surya.
"Surya datng padaku, dan meminta bantuan untuk membantu usaha kalian. karena di khawatir jika dia oangsung datang akan membuat kalian salah paham seperti sekarang." Itulah yang diwamaikan Bang tigor agar surya tetap mempercayainya.
"Akan aku batalkan perjanjian kita." Ucap yudha kemudian.
"Jangan gegabah kau yudha. ada banyak orang yang bergantung pada kontrak itu. termasuk aku yang kau janjikan sebagai pemasok."
Percakapan antara yudha dan tigor sengaja dilakukan untuk memqncing Surya ikut bicara. Sementara siska diam dan mulai mengeluarkan air mata.
"Siska hapus air matamu." kata Surya kemudian.
"Apa kau ingin merusak pernikahanku Sur?"
__ADS_1
"Tidak, sunguh bukan itu maksud aku Siska. benar yang dikatakan Bang Tigor aku hanya ingin membantu kalian dalam pengembangan usaha." Tak tega jik harus menyakiti Siska lagi. kini suryapun menjelaskan niat yang disampaikan pada tigor diawal dulu, yang tentunya bukan niat sesungguhnya.
"....Jadi tolong jangan batalkan perjanjiannya pak Yudha. Kita jalankan secara provesional." kata Surya, tentu saja dia menolak pembatalan, dengan berjalannya proyek ini dirinya akan semaik banyak bertemu dan bekerjasama dengan siska seperti dulu lagi.
"Baiklah jika memang benar niat tulus anda untuk membantu usaha kami. saya akan meneruskannya." pungkas Yudha.
Dalam pertemun ini Surya merasa menang karena ahirnya Yudha terpaksa harus menjalankan kontrak yang sudah dotanda tangani. Dan berarti membuka kesempatan bagi Surya untuk kembali merebut hati Siska.
Ya itulah yang dirasakan Surya, tampa ia ketahui jika semua ini adalah rencana yudha dengan banyuan Siska dan tigor untuk membuatnya lengah dan tidak melakukan pergerakan lainnya. tentu saja Yudha telah mempersiapkan rencana lain yang menguntungkan usahanya tapi tidak mengorbankan orang orang yang ia cintai.
Surya tetap memaksa ketiganya makan siang. dengan begitu Surya bisa mengingatkan Siska tentang tempat tersebut antara dirinya dan Siska.
"Mas yudha aku mau Nasi ayam bacem, tolong pesankan. aku mau ketoilet dulu." Kata siska kemudian pergi ke toilet.
***
Didalam toilet, Siska merapikan makeup nya yang berantakan akibat adegan menangis barusan. Siska tersenyum lebar di depan cermin.
"Tak ku sangka, kemampuan aktingku berguna juga." kata siska sambil menyapukan bedak kepipinya.
"Sudi Surya Atmaja, apa yang kau rencanankan sebenarnya?" tanya siska dalam hati. Kini beberapa pertanya membayangi pikirannya.
Kenapa Surya datang disaat semuanya baik baik saja. Kenapa dia mengumpulkan informasi tentang ku dan anak anakku. dan juga tempat ini, sengajakan dia memilih rumah makan ini hari ini.
Jika kau hanya datang untuk merusak maka, aku telah menyiapkan pertahanan yang kuat. jika kau datang hanya untuk mencoba coba maka itu akan sia sia.
Apapun cerita kita dimasa lalu. kini Aku telah memilih jalanku. Menjalankannya dengan sepenuh hati apa yang menjadi tkdirku. Menikah dengan Yudha adalah hal yang paling aku syukuri. dan semoga tuhan memberkali langkah kami.
Begitulah ikiran Siska yang terus bercabang selama ia merapikan riasnnya. Dan kini tinggal membubuhkan lipstick pada bibirnya.
Setelah rapi kini Siska siap untuk bergabung kembali. Tapi dia harus mengecek WhatsApp nya yang menandakan notifikasi pesan masuk.
__ADS_1
"Kamu baik baik saja Siska? sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Siska mengacuhkan pesan tadi. Dan langsung kembali ke meja makan dengan suasana baru.
***