
Pagi ini, Siska dan Yudha kembali beraktifitas di tokonya. Sebelumnya mereka mengantarkan Indah ke rumah sakit daerah, untuk mengurus pindah kerja dan menyerahkan titipan berkas dari rumah sakit tempat ia bekerja sekarang.
"Jadi kapan kamu pindah"
"Harusnya bulan depan teh, agak susah memang masuk ke rumah sakit daerah ini, antrinya Panjang banget. Makannya atasan Indah suruh Indah bawa berkas ini ke kepala rumah sakitnya hari ini. biar lebih gampang katanya." kata Indah dari kursi belakang.
"Nikmati aja prosesnya Ndah. Jangan terburu buru, kalau belum saatnya juga gak akan didapat itu." pesan Siska.
"Iya teh, doain ya teh."
Mobil telah memasuki area Rumah sakit, Indah mengarahkan manuju lobby kantor rumah sakit. Yudha menghentikan mobilnya tepat di depan lobby rumah sakit.
"Pamit ya teh, kang" Kata Indah sambil turun dari mobil.
"Kabari kalau uda selesai ya." kata Siska dari jendela mobil yang terbuka.
"Siap teh, hati hati." Teriak Indah sambil melambaikan tangan, hingga mobil berlalu.
Memasuki pintu lobby, Indah menghampiri meja resepsionis. Disitulah ia akan mendapatkan informasi letak ruangan pimpinan. Sebelum bertanya pada petugas, Indah lebih dulu menelepon atasannya untuk mengabarkan bahwa dia telah berada di rumah sakit.
"Selamat siang, saya Indah ingin bertemu dengan dokter Erika." kata Indah setelah menutup teleponnya.
"Selamat datang Ibu Indah, dokter Erika sudah menunggu di ruangannya, Ibu akan diatar oleh security kami." Kata petugas kemudian memanggil seorang security yang berjaga di depan pintu.
Indah berjalan beriringan dengan security, menaiki satu persatu anak tangga, menuju lantai dua. setibanya di lantai dua, terlihat lorong layaknya rumah sakit, sepi. Indah yang mengekor mengamati ruangan demi ruangan yang dilewati. ruangan tersebut dibatasi oleh kaca sehingga bisa dilihat aktifitas orang didalamnya.
Hingga sampailah di ujung lorong, mereka berhenti didepan pintu dengan papan nama bertuliskan ruang direktur. security mengetuk pintu kemudian menyampaikan niatnya untuk mengantar tamu pimpinannya tersebut.
Seorang suster membukakan pintu dari dalam kemudian mempersilahkan Indah masuk. Setelah Indah masuk, security kembali ke tempat berjaga.
kini Indah berada di dalam ruangan bernuansa putih. Ada sebuah meja kerja dengan papan nama bertuliskan direktur. Dokter Erika menyambut kedatangan Indah dan mempersilahkan duduk.
"Jadi ini dokter andalan dokter Jalu." puji Erika setelah Indah duduk. "Saya sudah banyak mendengar prestasimu dari Jalu, sahabat ku." lanjut Erika, Dokter senior yang berpenampilan modern. Sedari tadi terus mengembangkan senyumnya.
"Saya senang ada anak muda sepertinu di rumah sakit, ini, jadi langsung saja kapan kamu mau pindah?" Tanya Erika langsung ke pokok tujuan.
"Terimakasih dokter." kata Indah sedikit bingung dengan respon dokter Erika tentangnya, yang diluar dugaan. Siska sangat senang secara tidak langsung dari respon tadi, dia bisa langsung bekerja. Namun sebenarnya urusannya hari ini dengan dokter erika bukan tentang perpindahan pekerjaan.
Menurut cerita atasannya, dokter Jalu, dokter erika adalah orang yang sangat susah percaya dengan calon pegawai baru. Maklum sebagai pinpinan, dia harus menimbang segalanya demi mempertahankan nama baik institusinya.
Teringat Indah akan titipan dokter Jalu. Maka ia berniat terlebih dahulu menyerahkan berkas tersebut. "Maaf buk, sebelumnya saya ingin menyerahkan titipan dokter Jalu." kata siska sambil meletakkan berkas ke atas meja.
__ADS_1
"Hahahaha......," tawa Erika. "Karyawan yang baik, benar kata Jalu, kamu tidak mengabaikan tugasmu, Suster simpan itu di lemari." kata Erika.
Suster yang sedari tadi berdiri di belakang Erika segera mengambil berkas yang diserahkan Indah. kemudian menyimpan di lemari sesuai arahan atasannya. Sementara indah hanya tersenyum dan menelaah maksud dari calon atasannya itu.
"Obrolan tentang pekerjaan mu adalah pancingan, Aku ingin mengetes perkataan Jalu tentang mu. dan aku kini sudah yakin."
"Iya maaf dokter, saya belum menyampaikan tujuan saya menemui dokter. sebenarnya saya kesini memang ditugaskan oleh dokter Jalu untuk menyerahkan berkas tersebut. Kalau tentang pekerjaan saya serahkan sesuai ketentuan rumah sakit, saya tidak berani untuk menentukan tanggal."
Mendengar jawban Indah, calon atasannya menjadi sangat senang. Seakan dia menemukan orang yang dia cari selama ini sebagai salah satu dokter umum di rumah sakitnya, yang juga akan menjadi orang kepercayaannya.
"Baik lah kalau begitu. Minggu depan kamu boleh mulai bekerja. aku akan urus surat surat perpindahanmu dengan Dokter Jalu." kata Erika memberikan keputusan. "Kau boleh pulang sekarang."
Tidak sampai sepuluh menit Indah berada diruangan. Pemilik rungan sudah mempersilahkan meninggalkan ruangan. kali ini Indah keluar ruangan dengan hati yang berbunga bunga dan membawa berita bahagia.
Setelah sampai di lantai satu. Indah menelepon Siska untuk mengabarkan berita bahagia ini.
"Tetehhhhhh...., minggu depan aku uda pindah kerja." kata Indah sambil diahiri dengan menutup mulut dengan tangan karena tersadar suaranya keras.
"Langsung ditema? wuih keren."
"Iya teh."
"Jadi kamu dimana sekarang?"
"Kita puter balik ya. tungguin di lobby ya."
"Makasih teteh."
***
Sepulang dari rumah sakit, Indah memilih untuk ikut ke toko bersama Yudha dan Siska. Tidak enak baginya jika harus meminta diantar pulang. Lagipula Indah punya banyak waktu berbagi cerita dengan Siska. Tanpa menganggu pekerjaan Siska tentunya.
Kini mereka berdua berada di lantai tiga. Duduk berhadapan dengan memegang minuman jeruk kemasan. Siska membuka tablet dan melihat laporan anak buahnya. Sementara Indah masih asik menikmati pemandangan sekitar.
"Wini, tolong ambil lapiran yang sudah saya periksa." Kata Siska melalui panggilan telepon. Wini yang berada di balik tembok langsung datang dan mengambil lembaran laporan yang dimaksud. Kemudian membawanya kembali ke ruangan.
"Teteh enak banget diatas sini ya, banyak angin." kata Indah setelah wini masuk dan memastikan pekerjaan Siska telah selesai.
"Ketagihan kamu kan..." Kata Siska sambil menutup tablet dan memasukkan ke tas. "Makannya teteh lebih suka kerja disini daripada di dalam."
"Kenapa gak dibikin kafe aja teh? pasti banyak yang nongkrong"
__ADS_1
"Abah kamu mau modalin?" tanya Siska langsung menangkap kesempatan.
"Abah mah kalau teteh yang bilang pasti cair." kata Indah kemudian meneguk minumannya.
"Bisa aja kamu Indah."
"Inget gak yang teteh minta sponsor acara pelajar sekota bandung, Abah langsung hubungi temen temennya kan, padahal aku uda minta dari kaoan hari gak dikasih kasihnya...". gerutu Indah.
"Abah memang baik Indah, bantuin kita buat konsumsi acara itu kan...," kata Siska ikut mengenang masa lalu. "Abah gimana kabarnya? masih hobi bonsai?"
"Masih, bulan lalu waktu Indah pulang makin penuh tamannya." Jawab Indah santai. "Abah juga nanyain ***** kemarin, uda lama gak main katanya, trus ku jawab, Indah aja uda empat tahun gak ketemu, panik lah abah waktu itu."
"Beneran?" tanya Siska tak percaya. "Besok besok kalau ke Bandung mampir ke tempat abah ah."
"Kapan? teteh aja sibuk terus."
"Hahaha..., ada satu hari yang teteh pasti ke bandung," Siska membuat Indah penasaran. "Waktu kamu sama Ali nikah."
"Harus datang lah kalau itu. wajib!" tegas Indah.
"Jadi kamu uda bilang sama Abah soal Ali?"
"Belum, enakan langsung aja pas uda sampai bandung."
Saat keduanya asik bercerita, Yudha datang dengan wajah tersenyum. Pemandangan yang sangat jarang. Siska dan sahabatnya membuat hari Yudha tenang. Untunglah Indah membawa berita baik pagi ini, sehingga Siska akan mendapatkan temannya lagi di Jogja.
"Sayang, bang Tigor mau kesini. Dia uda survey ke temanggung dan purwokerto, hasilnya mau dibicarakan siang ini." Kata Yudha setelah duduk di samping istrinya.
"Kita gak jadi ikut ya?"
"Iya, biar menghemat waktu katanya,"
"Oh...," kata Siska. "Eh siang ini kita juga mau ambil sablon kemasan, sama bicarain desain terbaru." Siska mengingatkan suaminya, disaat seperti ini Siska juga beroeran sebagai sekretaris yang selalu mengingatkan jadwal atasannya.
"Waduh, gak enak kalau aku undur sama Bang Tigor."
"Ya uda aku aja yang ke tempat sablon, kan ada Indah yang nemenin. Dia jago kalau milih desain."
"Baiklah..." kata Yudha lemas, lagi lagi mereka harus berbagi peran
***
__ADS_1
Siang ini Siska mengajak Indah berbelanja kebutuhan toko.