
Yudha melajukan mobilnya dengan lambat. Menyalip mobil didepannya tidak akan bisa. Jalan ke tempat wisata memang hanya tersedia satu lajur saling berlawanan. Sementara dimusim liburan seperti ini semua orang seperti hendak mengunjungi tempat wisata, memenuhi Jalanan dengan mobil mereka.
Suasana sedikit berkabut, namun jarak pandang masih jauh. Hal ini biasa terjadi didaerah lereng gunung seperti kali urang. Dari dalam mobil masih bisa menikmati pemandangan hijau nan asri, mengurangi penat yang selalu terjadi saat bertemu macet seperti sekarang.
Kali ini anak anak harus duduk terpisah, Didi dipangku ayahnya di samping kursi kemudi. sementara Lili dan Lisa duduk diantara Siska dan Nita memeluk boneka boba masing masing, warna pink untuk Lili dan coklat untuk lisa. Selama perjalanan mereka terus saja bernyanyi, meminta Dimas sebagai operator untuk mengulang terus lagu frozen.
Yudha mengarahkan mobilnya untuk singah di pom bensin agar bisa beristirahat sebentar.
"Kita gantian mas Yudha." kata Dimas setelah mobil berhenti sempurna.
"Boleh Dim, nanti aku duduk belakang saja ya." pinta Yudha yang terlalu penat menerjang kemacetan. "Aku sebatang dulu ya." Pamit yudha kemudian keluar dari mobil.
Yudha berdiri tak jauh dari mobil. mengeluarkan bungkus rokok dan korek. walaupun sudah zamannya Rokok elektrik, Yudha tetap memilih rokok konvensional yang selalu berhasil membangkitkan semanggatnta. Yudha mengepulkan asap ditengah kabut.
Dari balik asap mata yudha menangkap sosok perempuan yang seperti tidak asing baginya. Dia baru saja keluar dari pintu dengan seluet peremouan berwarna merah. Yudha terus memperhatikan langkah peremouan itu. Hingga ia masuk pada sebuah mobil, kemudian mobil itu langsung pergi. Karena kabut semakin tebal Yudha tak mampu memperhatikat lebih jauh siapa perempuan itu. Ada sedikit rasa penasaran namun segera hilang saat Lili memanggilnya dari jendela.
"Ayah jangan merokok terus, nanti sakit." teriaknya, membuat semua orang yang berada ditempat itu mematikan rokoknya seketika.
"Nah bagus oom oom semuanya, lingdungi anakku, jangan merekok tiap hari (menyanyikan lagu minuman fermentasi yogurt)." teriak Lili lebih keras.
Yudha berlari meninggalkan orang orang yang sedang merokok bersamanya tadi. Ada rasa tidak enak sekaligus bangga terhadap apa yang dilakukan lili barusan. Ternyata anak itu mewarisi sifat berani dirinya.
Masuk ke mobil dari pintu dimana Lili mamanggilnya tadi. Sementara Dimas dan Nita telah berpindah tempat duduk terlebih dahulu. jadi sekarang bisa langsung meneruskan perjalanan.
"Kalau dilihat dari GPS kita akan sampai empat puluh lima menit lagi." Kata yudha sambil meletakkan smartphone nya dikotak samping temoat duduknya. Tak lupa ia mengeraskan volume pada GPS. Tidak mau kesasar ataupun terlewat, karena pasti akan menyusahkan kalau harus putar balik di jalan yang macet seperti ini.
"Ayah kenapa ayah merokok?" Tanya Lili begitu mobil berjalan."
"Kenapa ya? Ayah juga lupa kenapa ayah merokok." kata Yudha sambil mencari alasan yang tepat. bisa gawat kalau salah jawab.
"Kata bu gurunya kak Lisa, merokok itu tidak baik iya kan kak." Kata lili kemudian.
"Gimana kalau ayah berhenti merokok." Tanya Siska masuk di moment yang tepat."
"Iya iya ayah coba berhenti merokok ya." pungkas Yudha.
"Tenang ayah, nanti Lisa bantuin kasih tahu caranya."
"Ada caranya? gimana kaka lisa?"
"Pertama ayah harus ada niat untuk berubah, kedua ayah harus banyak olah raga, ketiga ayah hasus banyak minum air putih."
"wah lengkap ya caraya kak." puji Yudha pada Lisa yang sangat cerdas seperti ibunya.
Sementara itu, tertidur lelap dipangkuan ibunya. hawa dingin memang membuat tubuh menjadi lebih cepat mengantuk.
__ADS_1
"Belok kiri setelah dua ouluh meter, tujuan anda berada di sebelah kiri." arahan dari GPS memberikan harapan baru. Ahirnya sampai juga mereka ditempat tujuan.
***
Panitia Reuni telah lebih dulu sampai sehari sebelumnya, memastikan semua kebutuhan telah terpenuhi. Mereka berbagi tim sesuai tugasnya masing masing. Ada yang sedang menyiapkan api unggun untuk kegiatan malam, sebagian lagi sibuk mengatur ruangan untuk pembukaan dan membangun suasana. Ada juga tika dan indah yang menunggu peserta di lobby hotel untuk membagi kamar.
Ada enam puluh tujuh orang anggota yang ikut hadir, baik sebagai peserta maupun panitia. mereka adalah anggota lintas generasi, dari generasi Surya hingga generasi saat ini yang masih aktif meneruskan generasi sebelumnya untuk berkarya. Tak sabar rasanya saling bertemu satu sama lain.
"Mbak Siska boleh ambilin kunci kamar kami sekalian?" kata Dimas tepat saat mobilnya berhenti di lobby.
Resort ini dibangun dengan konsep bangunan kamar yang terpisah dengan lobby. Kamarnya menyebar dibagian belakang lobby. untungnya menyediakan jalan yang bisa diakses mobil.
"Ambil kuncinya di resepsionis kan ya?" tanya Siska yang memang tidak bergabung di group, sehingga tidak mendapatkan informasi registrasi, dan mengandalian dimas sebagai sumber informasi.
"Katanya si ada Tika dan Indah." terang Dimas
"Indahnya kita?" tanya Siska memastikan pemilik nama tersebut berasal dari angkatan yang sama dengannya.
"Iya,"
"Oh okok." kata siska bersiap untuk membuka pintu. "Aku turun dulu ya mas."
"Aku temani," kata Yudha kemudian menyusul Siska yang lebih dulu turun. "Titip anak anak Dim."
"Ahirnya sampai juga kamu Siska." sapa Surya sewajarnya teman yang bertemu.
"Hay Sur, aku rombongan ni, sama Mas Yudha." bersamaan dengan itu Yudha yang keluar dari pintu sebelah muncul dihadapan Surya."
"Pak Yudha, Saya senang bapak disini."
"Kami juga sekeluarga senang bisa bergabung." jawab Yudha. kata yudha menekankan kata keluarga. Mata mereka saling menatap dibalik kata kata manis yang terucap.
"Uda nostalgianya nanti lagi, bantuin aku angkat kaos di bagasi." Kata Dimas menetralkan suasana. kemudian menarik tangan Surya untuk membantunya.
Diluar kesepakatan panitia, Surya seharusnya berada bertugas menyiapkan ruangan untuk pembukaan. Dimas yang dari tadi sudah melihat Surya berlari kearah mobil bersamaan dengan Siska turun dari mobil, memasang sikap siaga, kalau kalau ada ketegangan yang terjadi.
Dan benar saja, ketegangan antara yudha dan suryapun terjadi. Untunglah Dimas sudah mengalihkan perhatian anak anak ke vidio yang dari televisi dasbord. kemudian meminta istrinya yang masih memangku didi untuk mengawasi mereka. dan segera turun tepat disaat yudha dan dimas saling menatap sinis.
Saat mereka akan membuka bagasi untuk menurukan barang dibagasi. Yudha yang sudah turunpun menemani Siska melakukan registrasi dan mengambil kunci kamar.
"kang surya." kata seorang dari arah tempat parkir. "Dicariin dari tadi rupanya disini." Rumanya dia adalah Ali, ketua generasi setelah Surya.
"Eh ada kamu juga Dimas, apa kabar." Kata Ali kemudin memeluk Dimas.
"Baik Ali, tambah gagah kamu sekarang." Balas Dimas setelah Ali melepas pelukannya.
__ADS_1
"Kenapa lagi li?" Tanya Surya kesal.
"Gawat kang." kata Ali kembali panik. "Rudi gak bisa hadir, jadi anak anak minta abang gantiin sambutan Rudi."
"Kenapa mendadak ginj?"
"Rudi ada tugas negara hari ini. mendadak siang ini harus ke Jepang."
"Tenang itu kalau ada Kang Surya." goda Dimas, sejatinya dia tahu dari duku Surya tidak pernah suka sesuatu yang mendadak.
"Betul Dim, makannya aku langsung minta tolongnya ke Kang Surya."
"Uda kang sok sana siapin pidatonya." kata Dimas dengan logat sunda yang sudah lama tidak ia pakai.
"Tunggu atuh, akang lagi bantuin Dimas angkatin kaos." alasan surya katena m masih ingin menunggu Siska kembali.
"Uda kang, tunggu yang lain aja, atau kalau gak aku anterin pakai mobil ke ruangan, bisa?"
"Nah bener, sok wae atuh pas dibelakang gedung ini ruangannya, loba (banyak) anak anak disana." kata Ali sambil menarik tangan Surya menjauh.
Dimas langsung kembali ke kursi kemudinya. sebenarnya dia juga sudah tahu jik logistik bisa langsung dibawa ke ruang pertemuan. Namun hal itu adalah satu satunya alasan untuk memisahkan yudha dann Surya.
***
Dideretan kursi dekat resepsionis, Tika dan indah masih menjelaskan lokasi kamar kepada peserta yang sepertinya dari angkatan setelah Siska.
"Indah cantik sibuk banget...."
"Tetehhhhhh...." Teriak Indah begitu menyadari suara itu adalah suara Siska. Kemudian berlari memeluk Siska.
"Teteh kemana aja? kangen teh..., ngilang terus di group WA." Kata Indah masih memeluk Siska. mendengar Indah mengunakan logat sunda serasa langsung kembali ke Bandung. Selama di bandung, Dari semua anggota hanya Indahlah yang diizinkan memanggil Siska sebagai teteh, sementara yang lain Siska memaksa untuk memanggil nama atau menambahkan awalan mbak.
"Indah, teteh gak bisa nafas, kenceng banget." Kata siska meminta Indah melepaskan pelukannya.
"Punten teh, saking kangennya." Indahpun melepaskan pelukannya.
"Itu siapa teh?"
"Ini kang Yudha, suami teteh." merekapun bersalaman dan menyebutkan nama masing masing.
"Ulu ulu, meni ganteng pisan nyak."
"Ganteng ganteng tapi tua."
"Ulah gitu teh, ganteng mah tetep ganteng, berkharisma gitu, walaupun uda tua."
__ADS_1