Ru-meet

Ru-meet
Berbagi selimut


__ADS_3

Siska yang belum mengantuk memilih menonton acara di televisi. Selain itu dia ingin mendengar berita baik dari Yudha sepulang dari rumah Bang Tigor. Sebelumnya sudah dia siapkan sebotol minuman bersoda yang baru dikeluarkan dari lemari pendingin. Tak lupa kerupuk kentang kemasan yang sudah dituangkan di piring sebagai teman nonton malam ini. Semua itu tertata diatas meja kayu didepan meja televisi.


Siska duduk berselonjor di sova. Rasanya sudah lama Siska tidak bersantai seperti ini. Malam malam sebelum ini, dirinya lebih memilih untuk menghabiskan waktu dikamar anak anak sampai mengantuk dan tidur disana.


"Hahahaha....," tawanya sedari tadi tak berhenti, melihat adegan demi adegan lucu pada sebuah acara komedi. Selera humornya memang receh hingga keluar air mata dari kelopaknya.


Sejam sudah dirinya memanjakan diri. Namun kantuk belum juga datang. Matanya masih membulat siap untuk menyambut acara berikutnya. Diambilnya mangkuk berisi keripik dan dibawa ke pangkuannya.


Terdengar suara mobil memasuki halaman, kemudian berhenti disusul suara pintu mobil tertutup. Pasti itu Yudha.


Benar saja, sepuluh hitungan kemudian pintu utama terbuka. Dan Yudha melaluinya masuk ke dalam rumah. Membawa aroma rokok yang langsung menyebar keseluruh ruangan, hingga tercium oleh Siska yang masih asik menikmati acara televisi.


"Mau soda?" Kata siska begitu Yudha memasuki ruang keluarga.


"Enga ah." tolaknya kemudian duduk di bangku Di samping tempat Siska duduk.


"Aku tahu !!" Siska tiba tiba berdiri. Tak sengaja mengatakan Yudha. "Kopi ya.., Aku bikinin."


Yudha mengangguk mendengar tawaran istrinya. Dalam hati Yudha bersyukur atas perubahan sikap Siska kepadanya. Yudha tidak menghiraukan apapun penyebab perubahan itu, yang jelas hal tersebut membuatnya bahagia.


Beberapa saat kemudian, Siska kembali dengan membawa secangkir kopi hitam. Meletakkan di meja tepat di depan Yudha. Aromanya sangat mengoda.


"Heeemmmm." Yudha menghirupnya.


"Diminum, jangan cuma dihirup." Kata Siska mempersilahkan.


Dengan segera Yudha menuangkan kopi yang masih mengeluarkan asap itu ke piring kecil yang dijadikan alas cangkir. Kemudian meneguk tanpa meniupnya.


"Apa kabar Bang Tigor?" Siska memulai pembicaraan.


"Masih sama seperti waktu pertama dia kerumah. bulat, kesar, banyak bicara." Kata Yudha sambil menuang kopi yang kedua. Kemudian membiarkannya dingin.


"Dia baik banget lho, waktu itu ngobrol panjang sama aku. Dia cerita soal keluarganya dan perjalanannya sampai ke Jogja. eh katanya, dia nemuin kamu di alun alun. Ngalor ngidul sambil bawa buntelan baju. terusssss...." Siska menghentikan ceritanya menunggu tangapan Yudha.


"Terus aku kebentur tiang lampu taman, trus kepeleset kulit pisang." Yudha melanjutkan


"Hahahaha.... iya... hahahah."


"Padahal Aku sudah pengang tiang itu, niatnya biar bisa menghindar... eee palah tetep kepalaku maju."


"hahahahahha." Siska semakin terpingkal.


Sejenak Yudha terdiam menikmati tawa yang lama tak didengarnya. Kemudian Siska tersadar sedang diperhatikan.


"Kenapa berhenti ketawanya?"


"Malu diperhatikan sama kamu." katanya kemudian meneguk soda yang telah dituang di gelas.


"Ditempat Bang Tigor aku bertemu Jangkung."

__ADS_1


"Jangkung?"


"Entah siapa nama aslinya, Bang Tigor paksa memangilnya Jangkung. Karena badannya yang tinggi deh." Terang Yudha. Kemudian meneruskan cerita pertemuannya tadi.


Siska memberi perhatian penuh. Matanya tertuju pada bibir Yudha, tanpa jeda bercerita. Ditambah gerakan lincah tangannya memperagaaakan apa yang terjadi di rumah Bang Tigor. Ada banyak harapan terpancar dari sorot mata Yudha.


Hingga malam semakin larut. Yudha dan Siska masih asik bercengkrama. Seakan mengulang hal yang dulu selalu mereka lakukan saat bertemu lewat telepon, yaitu berbincang bincang semalaman. Menceritakan setiap kejadian yang terjadi selama mereka tidak bertemu.


***


Sepulangnya siska dari Surabaya. Ia kembali menjalankan aktifitas seperti biasa. Banyak tugas dari project terbarunya yang harus dia selesaikan. Siska yang sangat bersemangat mengerjakan pekerjaannya, tak jarang dia pulang petang untuk lembur, atau sengaja menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Siska melakukannya agar proyek barunya segera terlearisasikan.


Namun, selarut apapun dirinya tidur. Tak akan menganggu aktivitas paginya. Waktu baru menunjukkan pukul enam tepat, saat Siska baru menyelesaikan gerakan senamnya yang terahir. selanjutnya dia akan berjalan ke dapur Dan mengambil sereal untuk sarapan.


"kringggggggg...." dering telepon gengammnya disela sela waktu sarapan. Siapa dia yang meneleponnya sepagi ini. Siska mengabaikan semua panggilan telepon sebelum dirinya tiba dikantor. Terkecuali sudah ada janji sebelumnya. Maka dia melanjutkan sarapannya hingga suapan terahir.


Dirumah ini Siska tinggal bersama kakak dan adiknya. Waktu itu adiknya masih bersekolah, baru kelas dua sekolah menengah atas. Sementara kakaknya telah berkeluarga, kakaknya berbaik hati mengajak Siska dan adiknya tinggal dirumah itu.


Mengingat tingginya biaya hidup di kota metropolitan. Siska memilih untuk tinggal bersama kakaknya, sekaligus untuk menghemat. lagipula kakaknya lebih sering keluar kota menemani suaminya dalam perjalanan bisnis.


Adik Siska keluar dari kamarnya. Menyelempangkan handuk dilehernya. Lalu berjalan ke arah Siska di meja makan.


"Sarapan apa kak?"


"Sereal."


"Aku sarapan di sekolah saja." Kata Dimas kemudian berjalan ke kamar mandi.


"Hemat dik hemat. Hidup gak cuma hari ini."


Sindir Siska.


"Tenang..., Aku baru dapat bayaran buatin promo iklan." Sangkal Dimas yang sudah berada Di kamar mandi.


"Eh ngomongin desain, bantuin Aku desain poster ya."


"Wani piro?" Kata Dimas mengeluarkan kepalanya yang sudah dipenuhi busa.


"Tenang, ini buat kerjaan bukan buat kuliah. Ada harganya."


"Wah jelasnih." kata Dimas bersemanggat. "Anggkat dulu teleponmu itu. Dari tadi krang kring terus." omelnya kemudian.


Siska mengelengkan kepalanya. "Nanti aja di Kantor." Katanya, lalu merapikan meja bekas makannya.


Siska dan Dimas sejak kecil selalu bersama. Selisih usia mereka empat tahun. Dimas yang sebenarnya bisa bersekolah Di Bandung bersama orang tuanya, memilih ikut bersama Siska yang awalnya akan berkuliah di Jakarta. Hingga kini Siska hampir lulus dan telah mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan.


Setelah selesai merapikan meja, siska mengambil telepon gengammnya, melihat siapa yang meneleponnya dari tadi. Terlihat nama Yudha di daftar panggilan teratas. sedetik kemudian Yudha meneleponnya lagi.


"Hay ada apa?" Siska tak tega terus mengabaikan puluhan pangilan tak terjawab dari Yudha.

__ADS_1


"Ahirnya diangkat juga, Aku kira kamu lupa sama Aku, sampai gak mau angkat teleponku. Lama banget si angkat teleponnya." gerutu Yudha


"Aku gak akan angkat telepon sepagi ini. Lagian Aku masih di rumah, masak iya harus ngomongin urusan kantor. Teleponnya nanti di kantor ya. Aku tutup teleponnya."


"Tunggu tunggu....," Pinta Yudha. "lhhh.., siapa yang mau ngomongin kerjaan."


"Jadi apa?"


"Aku Rindu, semalam mimpi kamu."


"Ishhh ngaco..., ya uda lah ya, lanjut kapan kapan ya. Aku mau Mandi."


"Iku...," Kata kata Yudha yang tak terdengar oleh Siska karena sudah menutup teleponnya. "Sial, ditutup lagi." keluhnya


Ini pertama kalinya Yudha memberanikan diri menelepon Siska, sejak pertemuan keduanya di Surabaya. Sayangnya dia memilih waktu yang yang salah. Pasti lain kali dia akan menelepon Siska di waktu yang tepat.


Yudha yang saat itu berada di mobilnya yang terpakir didepan sebuah taman kanak kanak, setelah Siska mengahiri pangilannya, Yudha pun segera menjalankan setiran untuk selanjutnya pergi ke Kantor.


***


"Sudah lama ya kita gak ngobrol lama gini." Kata Yudha mengahiri ceritanya tentang bertemuannya dengan Bang Tigor dan si Jangkung. Kemudian menguap dan mengeliatkan badannya.


"Bapak sudah tua, baru jam segini sudah ngantuk."


"Jangan panggil bapak lah..." Dari dulu Yudha selalu marah saat siska memanggilnya Bapak.


"Jadi?"


"Sayang," Kata Yudha manja.


"Iya, sayangku sudah tua sekarang." Yudha tersenyum mendengarnya. "Jadi mau istirahat sekarang?" tawaran Siska.


"Enga, mau peluk kamu dulu." Yudha masih saja berusaha


"Ayo." Kata Siska kemudian mengulurkan tangannya. Merekapun berpelukan.


"Malam ini tidur dikamar kita ya." bisik Yudha saat pelukan mereka semakin hangat.


"Iya."


Mendengar jawaban Siska, Yudha melepaskan pelukannya. Menatap dalam istrinya, kemudian keduanya saling bertemu pandang. Kini jangtung mereka berdebar dengan irama yang sama. Irama penuh cinta dan kehangatan.


Tanpa menunggu lama, Yudha mengendong istrinya, menaiki tangga kemudian masuk ke kamar mereka.


Bagi keduanya ini adalah pertama kali mereka akan tidur di kamar ini. Ya tentu karena ternyata selama Siska tidur di kamar anak anak mereka, Yudha memilih tidur di sova ruang keluarga. Yudha juga engan jika harus berada di dalam kamar sendirian. Pagi harinya sebelum Siska bangun, dia akan masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan beribadah.


Dan malam ini adalah pertama kalinya untuk mereka saling berbagi selimut. Setelah sekian lama Yudha dengan sabar dan bersunguh sungguh membuktikan kepada Siska usahanya untuk membahagiakan Siska.


Siska yang telah melihat dan merasakan kesungguhan itu, kini luluh dan percaya sepenuhnya kepada Yudha. Cinta diantara keduanya kini bersemi kembali.

__ADS_1


__ADS_2