
Malam berlalu digantikan pagi. Matahari malu malu memunculkan sinarnya, tertutupi awan yang engn berlalu. Seakan masih ingin menjaga para manusia yang masih terlelap.
Begitu juga dengan Yudha dan Siska yang masih berada dibawah selimut yang sama. Yudha yang setengah tersadar merasakan hangat tubuh istrinya yang memeluknya sedari semalam, meletakkan kepala tepat didepan dada suaminya, sehingga bisa merasakan aroma tubuh Yudha yang membuatnya semakin tertidur lelap.
Yudha terbangun, membuka matanya pelan. kemudian melihat istrinya yang masih tertidur di pelukannya. Tangan kanannya perlahan membelai wajar ayu itu. Kemudian menyikap rambut hitam yang bergelombanh milik siska. Membuat Siska tersadar namun engan terbangun.
"Aku belum mau bangun." Kata Siska dengan mata terpejam. "Jangan ganggu." katanya lagi, kemudian mengencangkan pelukannya. Yudha hanya tersenyum.
"Ternyata senikmat ini ya sayang." gumannya. Siska masih memejamkan mata.
Melihat istrinya yang tidak menghiraukan kata katanya membuat Yudha terus saja berceloteh. "Curahan kasih sayang dan cintamu." Siska masih engan menangapi perkataan Yudha yang disampaikan dengan nada berat. "Terimakasih sayang" Yudha mengecup kening istrinya.
Sedetik kemudian Siska melepaskan pelukannya pada tubuh Yudha. Kemudian bangun dan berdiri. Segera tangan Yudha mencoba meraih tangan Siska.
"Mau kemana?" Tanya Yudha merasa tercampakan.
"Mandi, siap siap nanti anak kita telat kesekolah." Kata Siska sambil merapikan pakaian tidurnya.
"Ikut."
"aAdududu....," Kata Siska sambil berjalan menuju kamar Mandi. "kejar kalau bisa."
Tanpa menunggu lagi. Yudha langsung mengejar istrinya. Hingga terdengar teriakan manja Siska disusul derit pintu kamar mandi.
***
Hari ini Lisa mendapatkan jadwal belajar di luar sekolah. Bersama teman sekelas mereka akan diajak melihat cara pembukaan es krim di sebuah restoran cepat saji.
Maka Lisa bangun lebih pagi dari biĆ sanya. Dirinya telah berseragam saat Siska mengetuk dan membuka pintu kamar anak anaknya.
"Morning buk." sapa Lisa yang sudah duduk di depan cermin menyisir rambut pirangnya.
"Morning dear..., pagi sekali bangunnya nak." Siska menghampiri Lisa kemudian membantu menyisir rambutnya.
"Yes ma, Kita gak boleh telat pagi ini, Aku gak mau ketinggalan bus ke restoran nanti."
"Sure, you will not late." Kata Siska menenangkan.
Anaknya yang pertama memang sangat disiplin, tegas dan jenius. Baginya sekolah adalah yang utama.
"I wan use this rubber." Kata Lisa sambil menunjukkan karet rambut berwarna hijau dengan hiasan pita. "Bagus Gak kalau Lisa pakai ini?"
"of course." Siska membantu Lisa menguncir rambutnya dengan karet rambut yang dimau. "Ok sempurna." Kata Siska merapikan rambut Lisa sebagai sentuhan terahir.
"Ibu yang terbaik, thanks mama."
"Lisa sekarang ambil tas, periksa lagi yang mau dibawa. Ibu akan bangunkan adik kamu."
__ADS_1
Segera Lisa menjalankan perintah ibunya. Sementara Lisa menuju meja belajarnya, Siska berjalan ke ranjang tempat Lili masih tertidur pulas. Terlihat olehnya tangan gempal anak keduanya masih terlentang. Tidurnyaasih sangat tetap. Kemudian Siska duduk didekat tubuhnya.
"Nak bangun nak, Ayo sekolah." bisik Siska sambil mengelus rambut Lili.
Tubuh gempal Lili mengeliat, kakinya menendang selimut hingga terlepas dari tubuhnya. Kemudian tangannya mengucek mata yang baru saja terbuka. Dan dilihatnya wajah cantik ibunya.
"Ibu peluk." pintanya manja. Siska pun memeluknya kemudian mendudukan Lili
"Ayo cepat Lili mandi. Kakak harus datang lebih awal hari ini." Kata Lisa dari meja belajarnya.
"Lili telat bangun ya buk?" Kata Lili manja.
"Enga nak, cuma Kaka harus berangkat lebih pagi karena persiapan belajar di luar."
"oouuuhhh." kata Lili santai.
"Jangan ohhh Lili, cepat Mandi." pinta Lisa takut kalau dirinya tertinggal bus.
"Masih pagi ini kak...," Lili mengoda Lisa.
Melihat kedua anaknya saling mengoda membuat Siska senyum senyum sendiri sambil mengelengkan kepala, gemas. Kedua buah hatinya kini sudah bisa saling mengoda.
Kemudian Siska memberi isarat kepada Lili agar segera ke kamar mandi, dengan mengerakkan kepalanya ke arah kamar Mandi. Kemudian mengangkat kedua alisnya.
Sambil pura pura memejamkan mata dan gaya malasnya, Lili berjalan ke kamar mandi. Tak lupa mengangkat tangannya ke depan untuk menunjukkan arah.
"Ibu, Lisa sarapan dulu ya." Pamitnya kemudian berjalan meninggalkan kamar, setelah melihat Siska mengangguk dan mengembangkan senyumnya.
***
Lisa yang kini akan genap berusia sepuluh tahun. Tumbuh menjadi anak yang cerdas. Sejak kecil memang sudah terlihat kecerdasan dari pancaran matanya yang tajam. Tak heran jika dirinya selalu menduduki peringatan tiga besar di kelasnya.
Persis sekali dengan Siska, yang tidak pernah bersantai demi mendapatkan predikat juara di kelasnya. Sejak Lisa kecil, Siska selalu membiasakan Lisa untuk mendiri dan bertangung jawab pada dirinya sendiri.
Kedekatan mereka berdua memang terjalin dengan baik. Bahkan banyak sekali kesamaan sifat diantara keduanya. Bisa dibilang jika Lisa adalah kopiannya. Bedanya hanya warna kulit Lisa yang lebih terang.
Teringat olehnya saat pertama kali mendengar tangisannya. Disebuah ruang bersalin milik rumah sakit swasta terbaik di Jakarta. Suara bayi perempuan dengan panjang empat puluh Lima senti meter dan berat tiga koma lima kilogram. Saat itu menjelang senja, suara itu terdengar sangat keras.
Bersamaan dengan itu, tubuh Siska merasakan getaran yang amat sangat setelah berhasil melahirkan anak pertamanya dengan normal.
sesaat setelah dokter selesai menjahit robekan dijalan lahir si bayi, getaran ditubuhnya semakin terasa kencang. Siska tidak begitu khawatir, setelah perawat menjelaskan jika hal yang wajar terjadi pasca bersalin.
"Selamat ya bu," ucap dokter sambil melepaskan sharung tangannya. "Jahitannya juga sudah selesai. Segera pulih ya bu, saya pamit dulu." ucapnya seraya meninggalkan ranjang Siska.
"Syukurlah..., terimakasih dok." Kata siska mengiringi kepergian dokter.
Ucapan syukur yang juga dipanjatkan keluarga dan teman Siska yang berada di ruang tunggu, sesaat setelah salah seorang perawat mengabarkan jika bayi ibu Siska telah lahir.
__ADS_1
Satu persatu dari mereka diizinkan menjenguk keadaan Siska. Dengan wajah bahagia mereka mengunjungi Siska dan memberi selamat. Hampir semuanya meneteskan air mata. Bahagia sekaligus mengagumi perjuangnya selama sembilan bulan ini.
Kini giliran Dimas, adik siska yang sangat dekat dan sayang kepadanya. Dimas tiba bertepatan dengan kedatangan perawat bersama bayi perempuan cantik yang sudah rapi dibedong.
Terlihat bayi itu begitu cantik, kulitnya putih bercahaya, bibirnya tipis dan berwarna merah. matanya terus saja mencoba untuk membuka, tak sabar melihat indahnya dunia.
"Ini ibu bayinya, cantik sekali." Kata perawat memuji. Kemudian meletakkannya di lengan kanan Siska.
"Terimakasih sus." Kata Siska kemudian memandangi bayinya sembari tersenyum lega.
"Siapa namanya bu?"
"LISA" jawab Siska dengan mantab.
Begitulah awal perjumpaannya dengan malaikat kecil itu.
keduanya bersama sama bertumbuh. Lisa yang baru pertama dan harus belajar mengenal dunia, dan Siska yang juga pertama kali belajar menjadi ibu. keduanya saling menguatkan satu sama lain. Dengan sebuah harapan besar dapat bahagia bersama, melewati segala rintangan dan hambatan kedepan.
Kini bayi itu telah tumbuh dan memiliki tekad yang sangat kuat. Bayi kecil yang dulu selalu ditimangnya kini telah bisa berjalan mantab. Bukan tangis lagi yang dia bagikan melainkan senyuman dan sapaan kepada setiap yang dilihatnya.
***
Lisa dan Lili telah tiba di lobby sekolah, bersiap untuk turun dari mobil.
"Kan, apa Lili bilang, masih pagi kak. sekolah juga masih sepi." Kata Lili saat ayahnya menghentikan mobil tepat di lobby sekolah.
"Iya Lili.., tapi bus Kaka sudah ada di halaman. bu guru juga sudah menunggu." sangah Lisa.
"Lisa, Lili mau sampai kapan berdebatnya?" Yudha mencoba menengahi.
"Ayah..., Lili seharusnya bisa santai sarapan tadi." keluhnya lagi.
"Kaka juga sudah bilang ke Lili kalau hari ini harus berangkat pagi."
"Iya, tapi gak bangunin tadi." Kata Lili sambil menyilangkan tangannya yang gempal.
"Lili lihat itu, ibu guru sudah menunggu, eh Ada Una juga. rajinnya Una." Kata siska sambil menunjuk ke Mobil yang ada di depan mereka. Dimana baru saja turun seorang gadis kecil teman sebangku Lili.
"Aaaaaaaaa Una." Teriak Lili langsung kembali bersemanggat, tak sabar dirinya langsung mengendong tas kemudian membuka pintu mobil.
Begitu pintu dibuka, Siska sudah berada tepat didepannya menunggu buah hatinya hingga dijemput oleh guru mereka.
Setelah mencium tangan Siska keduanya berpamitan, dan langsung disambut oleh guru mereka.
"Da ibu...,"
"Dada. ibu tunggu cerita belajar diluarnya ya..."
__ADS_1