
Tibalah dihari terahir pada liburan sekolah tahun ini. Tiga minggu berlalu menorehkan kenangan dengan kesan masing masing tergantung pada si pada di pemilik hati. apapun itu, setidaknya mereka telah berbagi kasih sehingga membangkitkan energi baru menghadapi tantangan yang akan datang kedepan. Kini saatnya untuk memulai pengalaman baru.
Tak terkecuali Siska, yang telah berhasil menetralkan kembali pikirannya. setelah sebelumnya dirinya tak dapat mengendalikan emosi. Kini siska dapat menyambut pagi dengan senyuman terindahnya lagi.
Beruntunglah ada Indah hari kemarin. Perawat nomor wahid yang trampil mendampingi Siska, hingga ahirnya Siska mampu mengendalikan emosinya. Tidak salah jika tiga tahun berturut turut mendapatkan predikat terbaik di tempatnya bekerja, hingga mendapatkan rekomendasi untuk belajar dan bekerja di rumah sakit terbaik di kota ini.
"Mau sarapan apa pagi ini?" kata yudha sambil menciup kening Siska yang belum sepenuhnya terbangun.
"Spesial, hari ini aku yang siapin masakan buat kamu." katanya lagi, kini sambil membelai halus rambut Siska yang sudah membuka matanya. Mata itu masih terlihat membengkak, sisa menangis kemarin.
Siska tersenyum. Senyuman yang selalu membuat hati Yudha berdebar. Kemudian memainkan bola matanya ke kanan dan kiri, sembari berfikir menu sarapan yang ingin dia nikmati pagi ini.
"Kwetiau goreng seafood." keduanya hampir bersamaan menyebutkan salah satu makanan kesukaan Siska. Siska kembali melempar senyum, sementara Yudha membenampak kepalanya tepat dipundah Siska.
"Kamu lagi mikirin apa? kok bisa samaan gini." kata Siska kemudian.
Yudha mengangkat kembali kepalanya kemudian mengeleng. "Kamu." katanya serius sambil menatap dalam wajah bidadari dihadapannya. "Kamu, hanya Kamu dan selalu Kamu yang ada dipikiran aku."
"Kamu paniknya kemarin?" kata siska semakin serius
"Iya, aku juga merasa lemah dan bersalah."
"Maafkan aku ya membuat panik."
"Maafkan aku."
Saat maaf terucap dengan tulus, tidak ada kata lain yang mampu diucapkan untuk menimpali kesakralan dan kesuciannya.
Keduanya kini telah duduk berhadapan. Siska sudah semakin tenang, begitupun Yudha. Sejenak mereka terdiam, kemudian melempar senyum dan berpelukan.
***
Sejam kemudian, semua orang dirumah itu sudah berada di ruang makan, kecuali Siska. Diatas meja makan tersaji semangkok besar kwetiau goreng sifood, disampingnya terlihat telur mata sapi yang masih mengeluarkan asap, dilengkapi dengan barisan saos dan kecap penambah rasa sesuai selera.
"Teteh belum turun juga?" kata Indah kepada Yudha. Dalam hatinya masih tersimoan kekhawatiran.
"Iya, dari kemarin aku tidak melihatnya, padalah sengaja aku tunggu di ruang tamu hingga larus, palah aku yang ketiduran."
"Iya, kita pulang larus kemarin, ada yang harus diselesaikan di toko." Kata Yudha tak inginmembuat Dimas panik, hal ini disampaikan sesuai keinginan Siska. "Tak enak membangunkanmu Dimas."
"Lagian mendengkur sekeras itu, mana tega kami membangunkan." ejek Indah memancing tawa.
"Maklum empuk kali sovanya." Bela Dimas ditengah riuh tawa semua orang.
"Kang Yudha, jadi teteh masih tidur?" tanya Indah kemudian.
"Enga, tadi dia mau berendam dulu katanya. makanya lama." Terang Yudha menyampaikan pesan Siska yang sebenarnya sedang mengompres matanya yang masih bengkak karena menangis.
"Kami panggil ibu ya ayah." izin Lisa sambil setengah berdiri.
__ADS_1
"Tidak usah, tante saja yang memanggilkan." cegah Indah "Lisa makan dulu kwetiau buatan Ayah. ok!" kata Indah kemudian segera bangkit dan berjalan menuju tangga.
Sementara yang lain mulai menikmati sarapan, Indah melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga. Dalam benaknya banyak hal yang ia pikirkan. Pertama tentu tentang keadaan Siska saat ini, jika dilihay dari ekapresi Yudha sepertinya Siska sudah jauh lebih baik. Namun benarkah siska ingin berendam sepagi ini? atau janganjangan ada hal buruk yang direncanakan Siska?
Pikiran Indah terhenti sampai disitu, pikiran pikiran lain yang sedari kemarin muncul berubah menjadi rasa khawatir. Berdasarkan pengalamannya, pada sebagian besar kasus yang pernah ia tangani, mereka yang depresi kemudian berubah tenang, sebenarnya ada hal lain yang direncanakan. "ah semoga aku salah." katanya dalam hati mekudian memoercepat langkahnya.
Setibanya di depan kamar Siska, tanpa mengetuk pintu, Indah langsung membukanya dan mencari keberadaan perempuan yang ternyata masih berada di kamar mandi.
"Teteh...." kata Indah lembut sambil membuka pintu kamar mandi. ia melihat siska terduduk di toilet. Apa yang sedang dilakukan Siska disana dengan baju yang sudaj rapi.
"Indah ya?" kata Siska tanpa mengubah posisi duduknya. Sebuah kapas menempel di masing masing matanya. Ternyata Siska masih berusaha mengompres matanya untuk meredakan bengkaknya.
"Astaga ngapain teteh?" kata Indah setelah mendekat kearah Siska.
"Kompres mata, bengkaknya gk ilang ilang." terang Siska.
"Hhhhh..." Indah merasa lega. tak ada hal buruk yang dilakukan teteh kesayangannya.
"Pakai air panas, atuh teh...," Kata Inda mengingatkan
"Uda, Indahku sayang...," Jawab siska sambil melepaskan kapas dari matanya. Kemudian berjalan menuju cermin diatas wastafel untuk melihat keadaan matanya.
"Uda mendingan kok teh." Kata Indah sambil menyusul Siska. "Sini aku bantuin samarin." Kata Indah sambil menarik tangan Siska dan mengajaknya ke luar kamar mandi.
Kini Indah mendudukan Siska didepan meja riasnya. Siska tampak pasrah dengan apa yang akan dilakukan Indah. kemudian perlahan Indah mulai menyapukan polesan demi polesan make up ke wajah Siska.
"Merem dulu." Perintah Indah. Sat set, semenit kemudian Indah menyelesaikan tugasnya. "Ok. sekarang buka matanya." katanya kemudian.
"Pokonya mulai sekarang dam seterusnya, aku akan selalu ada buat teteh, aku gak akan biarin teteh sendiri lagi. Kita sama sama lalui hari kedepan sama sama lagi ya, kaya dulu." Kata Indah sembari memeluk tubuh Siska yang masih duduk menghadap cermin.
Siska menepuk tembut tangan Indah. Kemudian berdiri dan merapikan bajunya. Setelah siap merekapun keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju ruang makan.
***
Di bandara menjelang siang. Mengambarkan suasana ahir liburan. Sedari tadi bandara tidak pernah sepi, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan mobil menurunkan penumpang yang akan meneruskan perjalanan mengunakan pesawat ke kota mereka.
Keluarga Yudha hari ini mengantarkan tamunya ke bandara. Liburan yang penuh kesan telah berlalu. kini saatnya bersiap untuk kegiatan selanjutnya. mudahnya adalah meneruskan hidup yang selalu dinamis dan penuh tantangan.
Kini mereka telah berada di depan pintu keberangkatan. Didi, lisa, dan Lili masih terus bergandengan tangan sedari tadi. agaknya mereka tidak mau liburan ini berahir.
"Didi disini saja ya." kata Didi kepada orang tunya yang baru selesai menaikan barang ke troli agar lebih mudah dibawa.
"Enga boleh Didi, sekarang liburan sudah usai, didi kan lusa harus kembali ke sekolah. nanti bisa kesini lagi kalau liburan." Nasihat Nita kepada Didi sambil berusaha memisahkan pelan tangan ketiga anak tersebut yang masih terus bergandengan.
"Baiklah mama." katanya lemas "Sampai ketemu lagi ya kak Lisa dan Lili." pamitnya kepada dua sepupunya itu. ketiganya kini berpelukan.
"Mas Yudha, Mbak Siska kami pamit dulu ya." kata Dimas berpamitan
"Hati hati, sampai ketemu lagi."
__ADS_1
"Indah kami duluan ya." katanya kepada Indah yang masih harus menunggu Ali.
"Ok bro, see you ya. Hati hati Kak Nita, dada didi." kata Indah sambil melambaikan tangan.
Setelah berpamitan merekapun berjalan memasuki pintu keberangkatan. Sementara Lisa dan Lili masih berdiri di tempatnya didampingi ayah dan ibunya.
"Lisa , Lili sini duduk temani Tente." teriak Indah kemudian.
"Iya, Ayo kita duduk." Ajak Siska. Lalu mereka berjalan menghampiri Indah. Lisa dan Lili duduk di samping kiri dal kanannya. Kemudian Yudha dan Siska memilih duduk di bangki berseberangan.
"Uda jangan sedih. Saling mendoakan, biar bisa ketemu lagi nanti." Kata Indah menenangkan kakak beradik itu.
"Tapi tante Indah juga mau pergi kan." kata lisa kemudian.
"Iya, tapi tante kan cuma seminggu, nanti juga kembali lagi kesini." terang Indah.
"Sungguh?" tanya keduanya bersamaan. Indah mengangguk mantap. Membuat kedua anak itu bersemanggat kembali. Lili dan Lisa kini asik bermain di area bermain anak tak jauh dari tempat duduk indah dan orang tuanya.
"Kami main di sana ya ibu." izin Lisa tadi.
Setengah jam berlalu. Ali belum juga ada tanda tanda kehadiran. Untuk membunuh waktu Lili dam Lisa terus berbincang. sementara Yudha asik mendengarkan sambil sesekali melihat keberadaan lili dan lisa yang masih asik bermain.
Hingga ahirnya Ali terlihat di kejauhan. Berjalan berdampingan bersama Surya. keduanya menarik koper masing masing. Rupanya surya juga akan berangkat ke luar kota.
"Haduhhh lama banget si." Komplain Indah.
"Jangan kesel dulu, tu si Ali mules dari tadi."
"ha kok bisa?"
"gara gara kopi, tadi pagi nemenin Surya ngopi."
"Uda tahu gak bisa kena kopi, masih aja nekad ngopi. Kang Surya juga uda tahu temennya anti kopi, malah dibiarin ngopi." cecar Indah.
"Maaf maaf aku kira dia sudah bisa minum kopi." bela Surya.
Dari tempat bermain anak, Lisa dan Lili berlarian menghampiri orang tua mereka yang terlihat asik berbincang. Sambil tergopoh gopoh ahirnya merekapun sampai.
"Oom es krim, kapan kami boleh membuat es krim di restoran oom?" tanya Lisa sambil terengah engah.
"Eh anak anak manis." Kata Surya menyambut gadis gadis itu. "Kapanpun kalian mau," katanya sambil berlutut untuk menyamai tinggi mereka. "Asalkan diizinkan oleh ayah dan ibu." kini ketiganya menatap penuh harap kepada Siska dan Yudha.
"Boleh," kata mereka hampir bersamaan.
"Ye..., terimakasih ibu dan ayah."
"Sekarang sini sama ayah dan ibu dulu. Karena Oom dan Tante harus segera terbang." ajak Lisa
"Baiklahhhh..." keduanya menghampiri orang tua mereka.
__ADS_1
Setelah saling berpamitan merekapun berpisah untuk sementara waktu. Setelah Indah, Surya dan juga Ali Mesuk ke pintu keberangkatan, Yudha dan keluarganyapun kembali ke rumah. Dan bersiap untuk hari pertama masuk sekolah.
***