Ru-meet

Ru-meet
Rencana renovasi


__ADS_3

Yudha sedang menemani Siska menikmati makan siangnya. Kali ini ia memilih duduk di toko sambil bercerita dengan para penjaga toko. Sepertinya Siska sudah punya analysis tentang kapan toko lengang dan kapan ramai. Sehingga ia bisa leluasa makan siang sambil ngobrol dengan karyawan saat toko lengang.


Sejenak ia menikmati makan siang spesialnya. Sebelumnya ia telah menyiapkan makan siang untuk anak anaknya. kini Lisa dan Lili juga sedang menikmati ayam goreng tepung faforit mereka, ditemani salah satu karyawan keuangnnya di lantai Tiga. Sehingga Siska bisa benar benar menikmati makan siangnya.


Siang ini Siska sengaja berada di toko, setelah menyelesaikan separo laporannya. Siska dan Yudha ingin berdiskusi dengan para karyawan tentang renovasi toko. Tujuannya jelas untuk menambah kenyamanan pembeli. Karena para karyawan yang selalu melayani maka renovasi akan dilakukan berdasarkan masukan mereka. Agenda itu akan ia lakukan setelah menikmati makan siangnya.


"Enak sekali ini." Puji Siska setelah suapan pertamanya. "Gak mau coba pak?" Goda siska pada suaminya yang duduk berhadapan dengannya.


Yudha hanya mengeleng. Dirinya memilih menyantap bakso gerobak yang selalu mangkal di depan toko. Kalau masalah makanan Yudha tak pernah pilih pilih, apapun akan ia makan, kecuali ikan asin yang menjadi pantangannya.


Bagaimana tidak, secuil saja daging ikan asin masuk ke mulutnya, maka akan bentol bentol di sekujur tubuhnya. Sejak kecil Yudha sangat alergi pada ikan asin. Maka walaupun Siska yang menawari tetap akan ia tolak.


"Coba lah sesuap." kini Siska mengulurkan tangan yang penuh dengan nasi.


"Sayang, kalau aku kenapa kenapa kamu tangung jawab ya." tentang Yudha serius. Siska lantas mengurungkan niatnya, kemudian menyuapkan tangannya ke mulutnya sendiri.


Hal ini juga yang membuat Siska tidak pernah memasak ikan asin selama tinggal di Jogja. Ia tidak mau jika harus melihat Yudha menderita setelah makan ikan asin. Bahkan terkadang bau ikan asin saat di goreng bisa membuat Yudha pingsan.


"Ibu mau tambah bu?" Tawar Yati yang berada tak jauh dari mereka. "Masih ada banyak buk, Yati ambilkan ya." Yati hendak bergegas mengambil sisa makanan di dapur toko.


"Makasih Yati, gak usah, saya sudah kenyang." tolak Siska sambil merapikan pirngnya kemudian berjalan ke dapur untuk cuci tangan.


Sementara Yudha masih berusaha menghabiskan semangkok bakso. Agaknya ikan asin tadi menganggu selera makannya.


"Enga dihabisin mas?" tanya Siska sekembakinya dari mencuci tangan. Terlihat Yudha sudah menjauhkan mangkoknya dari tempat ia duduk


"Enga sayang, tiba tiba pusing." Kata Yudha sambil memegangi keningnya. "Yati tolong kembalika. mangkok baksonya ya." perintahnya pada Yati.


Mendengar perintah majikannya, Yati segera mengangkat mangkok yang dimaksud, kemudian berjalan ke luar toko menuju tukang bangso dengan derobak biru yang masih menunggu pembeli mengembalikan mangkok.


"Sayang aku istirahat dulu ya. pusing ini." Kata Yudha kemudian beranjak dari tempat duduknya.


Siska berdiri mendekati suaminya. "Gara gara ikan asin ya?" tanya Siska pelan.


"Sepertinya iya."


"Obat alerginya ada di tas aku. kamu minum obatnya terus istirahat ya." pesan Siska kemudian. "Perlu aku antar ke atas?" tawarnya kemudian.


"Gak usah, kalau kamu masih mau disini." jelas Yudha. "Aku masih kuat naik."


"Pelan pelan aja naiknya." pesan Siska.

__ADS_1


"Iya." kata Yudha sambil mencium kening istrinya. kejadian yang membuat cangung seisi ruangan.


Tanpa ada kata kata lain, Yudha berjalan perlahan menuju tangga. Siska terus mengamati suaminya hingga tak terdengar langkah dan disusul deritan pintu, menandakan Yudha telah sampai di ruangnnya dengan selamat.


Setelah Yudha beristirahat Siska kembali melanjutkan rencananya untuk berdiskusi dengan para karyawan tentang desain renovasi toko.


"Tono tolong bilang yang lain untuk kumpul ya, saya mau ajak diskusi renovasi toko." Kata Siska sejenak setelah memastikan suaminya telah berada do ruangnnya untuk beristirahat.


"Siap buk, laksanakan!" kata Tono dengan sikap hormat dalam baris berbaris. Kemudian melaksanakan perintah atasannya.


Tono memanggil satu persatu teman temannya di bagian penjualan dan pemasaran. Kemudian memerintahkan mereka untuk berkumpul di dekat Siska duduk. Hingga semuanya telah berkumpul dan mengambil tempat masing masing untuk duduk.


"Makasih Tono." kata Siska kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Sama sama buk." Sahut Tono yang sudah nyaman duduk di tempatnya.


"Pertama saya mau tanya tentang penilaian kalian selama bekerja disini, termasuk cerita soal pelangan kita." Kata Siska santai. Dirinya ingin mengali semua hal yang dipikirkan karyawannya.


"Dewi buk," kata Dewi sambil mengangkat tangannya untuk meminta izin berbicara.


"Iya Dewi silahkan." perintah Siska.


"Kalau soal pelangan nanti tono dan yati bisa membantu menyampaikan. Dewi mau cerita soal situasi pekerjaan disini. Sebenernya ratih seneng bekerja disini cuma Dewi butuh teman untuk membantu membuat laporan. Dewi cukup kualahan buk ahir ahir ini, karena semakin banyak penjualan." Terang Dewi


"Kamar mandi buk." kata salah seorang karyawan. "Kalau bisa kamar mandinya dibanyakin, soalnya pas rame kadang kadang banyak yang numpang ke kamar mandi." Lanjunya kemudian.


"Iya buk, malah bagusnya kamar mandi di luar jadi gak ganggu kalau sedang angkut barang."


"Boleh." kata Siska sambil membuat catatan pada bukunya. "Ada lagi?" katanya kemudian.


"Tempat duduk untuk pelangan yang menunggu barang buk." Karyawan lain memberi ide. "mungkin di pojokan pojokan toko. Bangku bangku kayu buk."


"Tono kasih ide ya buk, sekarang kan jamannya sosial media, sedikit sedikin upload foto do sosmed, nah kita bikin kekinian desain ruangan ini buk. Biar bagus kalau ada yang foto."


"Sama banyakin lampu lampu buj, biar kalau malam lebih terang."


"Tambaj jual souvenir boleh juga buk, cangkir dengan ciriikhas telur asin."


Setengah jam berlalu, banyak ide yang Siska catat siang ini. Dari ide ide tersebut Siska mencoba untuk menegakomodir semuanya. Karena bagi Siska para karyawannya adalah orang yang benar benar paham tentang kemauan pembeli. Merekalah yang setiap saat berinteraksi dengan mereka.


"Terimakasih teman teman, idenya sangat menarik. Saya akan sampaikan ke Pak Yudha, saya Yakin pak Yudha akan setuju." Kata Siska menyakinkan karyawannya. "Tinggal kita cari waktu yang tepat untuk melakukan perubahan ini."

__ADS_1


Tampak kelegaan terpancar dari wajah para karyawan. Mereka tak menyangka semua ide diterima oleh atasannya. Hal ini menambah kepercayaan diri dan keloyalan mereka pada perusahaan tempat mereka bekerja.


"Selanjutnya soal keluhan Dewi, mari kita diskusikan bersama sama." Kata Siska mengajak karyawannya ikut serta memikirkan permasalahan yang terjadi di antara mereka.


"Jika mencari orang baru untuk membantu Dewi, menurut saya kurang efektif, pertama karena pasti butuh penyesuaian, yang kedua saya percaya dengan karyawan saya, pasti diantara kalian ada yang mampu dan mau membantu Dewi." Siska mengawali diskusi. "Bagaimana menurut kakian, jika yang membantu Dewi adalah salah satu dari kalian?"


Sejenak keadaan menjadi riuh. Masing masing mencari kawan bicara untuk menangapi ide Majikan mereka. Beberapa setuju dengan usul Siska, namun masih bingung siapa yang akan mendapat tugas ini, karena bagi mereka itu adalah tugas yang berat.


Dewi adalah satu satunya karyawan tamatan SMA di bagian penjualan dan penasaran. Sehingga ia ditunjuk sebagai kepala penjualan dan pemasaran sekaligus kepala toko. Sedangkan karyawan lain kebanyakan lulusan SD dan SMP, sehingga mereka merasa tidak mampu membantu Dewi.


"Kamu saja."


"Enga ah, itu saja,"


"Siapa ya yang bisa."


Begitulan komentar yang terdengar dari para karyawan.


"Begini begini, coba pelan pelan kita pikirkan bersama ya," Siska mencoba menengahi. "Saya Yakin kalau mau belajar pasti bisa, Ratih kalau menurut kamu siapa yang bisa membantu kamu?"


"Maaf bu, kalau menurut saya, Yati." Jawab Dewi yakin.


"Jangan, jangan aku mbak, aku masih belum bisa, yang lain saja." Yati segera mengajukan penolakan atas usulan Dewi. Walau sebenarnya diantara yang lain, Yati memang paling bisa diandalkan. Hanya saja hatinya masih ragu akan kemampuannya.


"Iya saya setuju jika Yati yang membantu mbak Dewi." Kata Tono memberi semanggat. "Diantara kita semua Yati yang paling mudengan buk." Kini ia mencoba menyakinkan Siska. "Iyo to, yati paling pinter." Kata tono kepada teman temannya, dan semua orang membenarkan pernyataan Tono.


"Kamu saja Tono, yang laki laki, yang lebih kuat dan berani." Sangah Yati, sejenak Siska hanyaemperhatikan.


"Kamu saja Yati, kamu paling pas." Salah satu karyawan lain mencoba mennyakinkan Yati.


"Iya, waktu belajar bahasa inggris kamu yang paling cepet apal, nanti kalau bantuin mbak Dewi pun kamu pasti cepet paham." tambah Tono.


"Iya Yati, seperti tadi pagi, waktu ada orang asinh datang, kamu yang bisa ngatasi." sahut yang lainnya.


"Itu karena dia sudah pernah datang sekali, jadi saya berani." Bela Yati masih belum yakin akan kemampuannya.


"Ya sudah Yati boleh pikir pikir dulu seminggu ini. bagaimana Yati?" kata Siska melihat Yati yang masih ragu, namun Siska juga memilih Yati dalam hati.


"Injih buk." Sambut Yati.


"Mbak Dewi sementara bisa minta bantuan admin ya untuk membuat laporan." terang Siska kemudian.

__ADS_1


Satu persatu sudah didiskusikan. Siska merasa sudah cukup untuk hari ini. Maka ia menyudahi pertemuan dan mempersilahkan karyawannya untuk kembali kepada tugasnya masing masing.


__ADS_2