Ru-meet

Ru-meet
Arisan


__ADS_3

Siska belum beranjak dari ruang kerjanya. Dirinya sedang fokus membuat laporan bulanan toko telur asinnya. Kali ini tidak main main, dengan penuh tangung jawab Siska memeriksa lembar demi lembar tumpukan berkas yang ada di atas meja. Orang seperti Siska tidak akan menyianyiakan kesempatan yang telah hadir padanya.


Kontrak kerja dengan perusahaan Ambung Wangi, menjadi amunisi baru baginya. Kini ada banyak hal lagi yang harus dipersiapkan sebagai bentuk laporan pertangung jawaban.


Sejak ditandatanganinya kontrak kerja tersebut, Sudah banyak perubahan yang diterapkan pada Telur asin Yudha. Mulai dari penambahan karyawan untuk memaksimalkan target produksi, promosi besar besaran melalui media online dan konvensional, memperluas cakupan wilayah untuk mendapatkan bahan baku terbaik, hingga membetulan laporan yang tentu menjadi tugas Siska.


Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Karyawan yang mendapat jatahis istirahan awal mulai berdatangan. Perlahan mereka membuka pintu agar tidak mengagetkan Siska yang sepertinya tidak mau diganggu.


"Nyuwun sewu ngih buk." ucap Tono yang melintas di depan Siska.


Siska menghentikan sejenak aktifitasnya, kemudian melempar senyum kepada Tono. "Sudah jam istirahat to?" tanya Siska kemudian


"Sampun buk, sudah jam dua belas sekarang." kata Tono yang masih berdiri di depan Siska. "Ibu jangan lupa istirahan." Pesannya kemudian.


"Iya Tono, makasih ya." ucap Siska, kemudian merapikan berkas dimejanya. Karena sebentar lagi ia harus menjemput anak anaknya di sekolah.


"Saya pamit duduk dulu ya buk, mau makan bekal dari simbok saya." Kata Tono, kemudian bersiap bergabung dengan teman lainnya yang baru saja datang.


"Eh Tono, lihat Pak Yudha gak ya?" tanya Siska tepat saat Tono hendal melangkahkan kakinya.


Sepertinya Siska kehilangan suaminya. Biasanya sebelum jam dua belas Yudha akan menemuinya dan mengingatkan untuk menjemput anak anak bersama sama. Ini kali pertama Yudha tidak melakukan hal itu. Sembari menunggu jawaban Tono, Siskapun meraih smart phone nya untuk memeriksa, kalau kalau dirinya mengabaikan panggilan Yudha.


"Bapak tadi masih cek penurunan bahan baku di bawah buk, masih ada satu truk siang ini."


"Ya sudah kamu makan cepat, sebelum waktu istirahatmu habis."


"Injih buk." Kata Tono.


"Ibu, saya bawa ikan asin sama sayur urab, kita makan sama sama buk."

__ADS_1


"Iya buk, ini banyak saya juga bawa nasi jagung, tetangga habis panen."


"Mari buk kita makan siang sama sama."


"Ada juga tumis daun papaya buk."


Menu makan siang yang sangat mengoda. Jika Siska tinggal bersama ibunya pasti menu tadi bisa ia makan kapanpun ia mau, sang ibu akan dengan sigap membuatkan apapun makanan permintaan Siska. Tapi kini Ia harus bersabar menunggu liburan selanjutnya untuk menikmati masakan ibunya.


Untunglah siang ini Ia berlama lama di lantai tiga. karena biasanya pada jam sekarang Siska bersama Suaminya sudah menuju sekolah Lili dan Lisa. Walaupun ia harus buru buru menghindari keterlambatan ke sekolah, Siska menyempatkan untuk bergabung dengan karyawannya, dan meminta disisakan untuknya.


"Yati aku mau ikan asin sama urapnya," kata Siska setelah makanan tersaji di atas meja. "Tapi aku makannya nanti ya, setelah jemput anak anak, tolong sisakan." ujarnya kemudian berpamitan untuk segera menemui suaminya dan pergi ke sekolah.


"Baik buk, saya ambilkan piring untuk ibu." kata Yati sigap, sambil mengapai piring di dekatnya.


"Ini pokoknya buat Ibu." katanya memperingatkan teman temannya untuk tidak menganggu makanan untu Atasannya.


"Iyo yat iyo."


"Sini aku bantu taro."


Kata mereka saling bersahutan. Porsi makan siang kali ini berlimpah, jadi tak ada yang takut tidak kebagian. Setelah memisahkan bagian Siska merekapun memulai santapan siang ini.


***


Siska turun dari mobilnya yang baru saja memasuki gerbang sekolah, kemudian berjalan menuju area lobby. Siska terpaksa turun, karena antrian mobil masih panjang, dirinya khawatir jika anak anak menunggu terlalu lama.


"Ibu..." teriak Lili dari kejauhan. Suaranya sangat keras, tanpa malu malu. Kalau seperti ini, jelas karakter Yudha yang menurun padanya.


Siska mempercepat langkahnya sambil melampaikan tanggan. "Tunggu situ ya." katanya pelan kemudian mengangkat tangannya untuk menahan Lili dan Lisa yang hendak berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Kita tunggu ayah disini saja." Kata Siska ketika sudah berada di hadapan lili dan lisa. Dua gadis kecil itu kini berdiri bergandengan manantikan ayah mereka.


Antrian mobil masih sangat panjang. dengan sabar mereka menunggu di lobby. Sambil memperhatikan satu persatu siswa pulang meninggalkan sekolah.


"Mama Lili, tumben berlama lama disekolah." sapa seorang perempuan yang sepertinya mengenal Siska.


"Iya mama Fero, tadi telat jemput, jadi mobilnya masih nganti." Jawab Siska kepada orang tua tean sekelas Lili yang bernama fero.


"Sama ma, mobil kami juga masih ngantri. kita tunggu sama sama ya." katanya sambil menaikkan tas bermerk yang ia jinjing.


Mereka berdiri sejajar. Siska menandai mobil yang dikemudikan Yudha, berharap segera menerobos antrian. Lisa dan Lili masih berdiri di tempatnya, kali ini bersama Fero, ketiganya asik bercanda.


"Anak anak memang palinh bisa membawa suasana ya." Kata Siska memulai pembicaraan.


"Iya ma, Lili sama Fero memang akrab di kelas juga. Miss Rika selalu laporan ke saya. Pinter pinter mereka." terang Mama Fero


"Syukurlah..."


"Iya Ma, kita sebagai orang tua juga harus rajin ngobrol gini. Biar lebih akrab." katanya sok akrab "Jangan kaya itu tu." Kini orang tua dari vero memainkan bola matanya menuju ke orang tua yang lain. "Dia ma... gak pernah mau ngobrol gini. gal tahu kenapa. Katanya si sibuk kerja. haduhhh..."


"Aku kan juga jarang kumpul kumpul." potong Siska agar tidak melebar kemana mana pembicaraan siang ini.


"Mama kan masih sempetin saling sapa tiap kali antar anak sekolah. Tapi ma, kalau Mama mau lebih akrab sama ibu ibu yang lain, gabung di arisan kita mah." ajaknya tiba tiba. "Gak ribet kok, gak cuma gosip aja, kita sering datengin ahli ahli parenting pas pertemuan arisan. pokoknya daging semua. Ini juga, tas aku dapetin dari arisan." Kini ia kembali meninjukkan tas yang dibawanya.


"Baru tahu saya ada kelompok arisan, boleh nanti aku tanya tanya dulu ya." jelas Siska yang sebenarnya tidak begitu tertarik dengan arisan, namun ia merasa perlu untuk menjalin komunikasi dengan orang tua siswa lainnya.


"Beres say, pokonya nanyi tanya tanya aja." katanya bangga karena mendapatkan sambuta baik dari Siska. "Kalau mau ikut pertemuan bulan ini boleh lho say, hari kamis ini."


"Boleh nanti aku kabari ya ma." kata Siska menutup pembicaraan. Mobil Yudha sudah berhenti di depannya. "Kami pamit dulu ya." katanya kemudian menjabat tangan teman bicaranya, yang disambut dengan ciuman pipi.

__ADS_1


"Da Lili, Lisa, besok kita main lagi ya." kata Fero akrab.


Siska membukakan pintu untuk anak anaknya. Setelah memastikan keduanya masuk, Siskapun menutup pintu belakang mobil, dan bersiap masuk ke mobil. "Da Feri... mari mama." pamitnya sekali lagi kemudian masuk ke mobil.


__ADS_2