
Di ruang keluarga, saat anak anak sudah terlelap. Yudha dan Siska masih duduk sambil berbincang santai. Acara televisi yang menemani mal ini adalah sebuah acara kuis yang dipandu oleh host terbaik saat ini, bukan hanya pandai membawakan acara, hots tersebut memiliki karakter dan mampu menyajikan acara kuis yang sangat berbeda.
Siska sangat menyukai acara ini, padahal merupakan acara baru, namun siska begitu menarih hati. Bahkan jika siaran ulang acara ini diunggah kembali ke youtube siska akan selalu menontonnya.
Kini ia ditemani Yudha. Anak anak sudah tidur sejak setengah delapan tadi. Mereka sengaja tidur lebih awal agar esok tak terlambat datang ke sekolah pada hari pertama setelah liburan.
Siska sangat menikmati acara kuis itu. Dirinya selalu antusias untuk ikut menebak jawaban dari pertanyaan yang dibacakan hostnya, bukan hanya pertanyaan tentang pengetahuan umum, tak jarang menamoilkan permainan tebak tebakan yang dibumbui dengan komedi.
"Hahahaha...." Tawa renyah Siska terus terdengar. benar benar acara yang menghibur.
Yudha yang duduk disampingnya masih mencoba mengikuti alur pembawaan kuis. Ini kali pertama Yudha menonton kuis ini. "Hahahaha..." dan ahirnya Yudhapun ikut menikmati.
"rruutt.... rruuuttt....," Tawa keduanya terhenti saat sebuah pangilan telepon datang ke handphone Yudha.
"Hay Dimas," sapa keduanya bersamaan setelah Yudha mengangkat panggilan vidio di handphonenya.
"Sorry mas, teleponnya ke Mas Yudha, habis handphone nya mbak Siska mati."
"Iya Dim habis baterai, lagi aku cas di kamar."
"Ih kebiasaan deh." protes Dimas. "Anak anak mana mbak? Didi kangen katanya." kata dimas sambil mengarahkan kamera ke wajah didi yang sedang makan malam.
"Halo jagoan," Sapa Yudha. "Kak Lisa dan Lili sudah tidur."
"Halo om Yudha dan Tante Siska." Kata Dimas mewakili Didi yang sedang mengunyah.
"Lancar tadi penerbangannya?"
"Alhamdulillah, tadi cuma delay sebentar, selanjutnya aman. Sampai rumah langsing tidur, ini baru bangun jadi baru sempat ngabari."
"Gak papa, yang penting aman tadi perjalannya."
"Iya mas alhamdulillah, ya uda mas lanjutin berduannya, hahaha"
"Iya kamu ganggu aja." Siska menangapi.
"Iya iya sorry..., yo wes Dada."
"Dada... salam buat Nita ya." pungkas Siska kemudian meletakkan kembali handphone di meja. Kemudian melanjutkan menonton teelevisi.
Setelah menutup telephone adiknya, sambil masih menikmati acara di televisi. Tetiba rasa rindu dengan kampung halaman menghampiri Siska. Sudah lama rasanya Siska tidak menginjakkan kaki disana. Sejak ayah dan ibunya ikut pindah ke Jakarta, tak adalagi alasan baginya untuk mengunjungi Bandung. Tapi kini mereka telah kembali memilih tinggal di Bandung. Dan kini agaknya Siska mulai Rindu.
"Sayang," kata Siska memulai pembicaraan.
"Kenapa?" jawab Yudha penuh perhatian.
"Boleh pinjam handphone?"
"Untuk?"
"Telepon ayah sama ibu."
"Boleh." kata Yudha sabil mengulurkan handphone dan disambut oleh Siska.
__ADS_1
Segera Siska menghidupkan layar yang tidak memerlukan pasword. Sedetik kemudian Siska menemukan kontak orang tuanya, dimana tertulis kata mertua.
Tidak menunggu lama, panggilan siska langsung terjawab oleh si pemilik handphone.
"Assalamualaykum mak..."
"Waalaykum salam, ealah Siska ya?" tanya ibunya dari seberang. "Pakai nomor baru, jadi mak kira siapa."
"Iya Mak, pakai nomor Mas Yudha."
"Assalamu alaykym buk, apa kabar?" sapa Yudha kemudian.
"Alhamdulillah sehat nak Yudha, nak Yudha apa kabar?"
"Sehat buk alhamdulillah, bapak bagaimana kabarnya buk?"
"Bapak uda tidur, alhamdulillah sehat juga. kapan mau kesini?"
"Itulah mak, Siska tadi kangen sama Mak sama Bapak sama Kampung juga. jadi telepon. Mau kesitu tapi liburannya uda habis."
"Oalah..., yo di jenguk sini Mak sama Bapaknya. diajak Yudha nya."
"Iya buk, insyaAllah secepatnya. Yudha juga pingin silaturahmi ke rumaj ibu dan bapak. Doakan kami ya pak bu semoga lancar semuanya bisa berkunjunh ke tempat ibu sama bapak.
"Kalau doa itu sudah terus dilakukan. pasti ibu doakan untuk anak anak ibu."
"Matur suwun buk."
"Makasih ya mak doanya."
"Mudah mudahan pas liburan tengaj semester anak anak ya mak."
"Kapan itu? masih lama ndak?"
"Tiga bulan lagi mak."
"Yo wes ditunggu, nah anak anak mana?"
"Sampun tilem buk." kata Yudha sopan, mengunakan bahasa jawa halus yang artinya sudah tidur.
"Besok besok telepon kalau anak anak masoh bangun ya, kangen ini simbahnya."
"injih buk, pangapuranipun." kata Yudha sopan.
"Jadi kalian lagi apa?" tanya ibunya tiba tiba. membuat Siska dan Yudha bingung mau menjawan apa?
"Nonton tv mak." kata Siska kemudian.
"Yo wes dirampungke nontonnya, besok lagi teleponnya ya, uda malam, ganggu tetangga."
"Masih kangen mak."
"Makannya sini ke bandung." Kata ibu Siska sedikit memberi tekanan.
__ADS_1
"Iyaaaa makku sayang."
"Yo wes Assalamu alaykym. wes ndang ditutup, mak gak tahu nutup teleponnya gimana." perintah maknya.
"Moh, masih mau telepon aku, coba aja mak tutup, ndak ngerti caranya to?" goda Siska.
"Mas Yudha tolong tutup dulu mas." ahirnya ibu Siska meminta tolong menantunya. Kalau urusan jahil sepertinya Siska masih sama seperti dulu.
"Sini Siska," kata Yudha sambil mengambil Handphone ditangan Siska. Merasa kasian kepada mertuanya yang sudah terlihat mengantuk.
"Maaf ya buk, Siska ini jahil, saya tutup teleponnya ya. Assalamu alaykym." kata yudha kemudian mengahiri pangilan telepon.
"Sayang, jangan gitu kalau sama Mak." kata Yudha setelah meletakkan kembali teleponnya diatas meja.
"Hahaha... iya iya."
"Gak enak aku sama mak jadinya. Besok besok gak aku izinin telepon mak malam malam."
"Ihhh kok sayang marah..., jangan marah dong ganteng." Rayu Siska.
"Janji jangan godain mak lagi."
"Iya ganteng." kata Siska sambil mengangkat jari tangannya membentuk huruf V.
"Ya uda cium dulu sini si gantengnya." Gantian Yudha yang mengoda istrinya.
"ishhh...," kata Siska sambil menepuk nepuk pipi Yudha dengan kedua tangannya. "Bantuin aku bikin mie yuk!" ajaknya kemudian.
"Awas kamu ya!!!" teriak Yudha sambil berlari mengejar istrinya, yang sudah lebih dulu menuju dapur.
Didapur Siska dan Yudha saling membantu menyiapakan santapan tengaj malam. Dua keping mie instan rasa soto medan dimasukkan kedalam air yang sudah mendidih. Sebelumnya sudah lebih dulu dimasukkan telur dan bumbu.
Aroma mie instan mulai menyebar. Mambuat rasa lapar tak terelakan.
"Emmm harumnya," kata Siska sambil mengetes kematangan mie. "Sayang masukan sayurnya dong." perintahnya kemudian.
Setelah yudha memasukkan sawi kedalam panci. Siska kembali mengadukknya hingga semua benar benar matang. "Sip uda matang." katanya sambil mematikan kompor.
Yudha membarikan dua buah mangkok yang sudah ia siapkan sedari tadi. Siskapun langsung menuangkan mie kedalam mangkok. Setelah tertuang keduanya membawa mangkok masing masing dan kembali ke ruang keluarga.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Acara televisipun telah berganti menjadi siaran berita khusus kasus kriminal besar yang terjadi di negeri ini. Selama enam bulan, kasus kriminal ini selalu mondar mandir di televisi, semua stasiut tv menjadikan kasus ini sebagai berita, bahkan hingga persidanganpun diberitakan secara langsung oleh lebih dari satu stasiun tv.
Saat memasuki ruang keluarga. Keduanya mendapati handphone Yudha tengah bergetar, menandakan ada pangilan masuk. Tanpa mengabaikan panggilan tersebut, keduanya mempercepat langkahnya dan berusaha mengapai handphone sesaat setelah meletakkan mangkuk diatas meja. Namun panggilan itu sudah berahir.
Yudha kemudian memerika handphonenya, memeriksa siapa yang meneleponnya. Dan ia lihat 32 panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, nomor baru.
Siska duduk ditempat yang sama, kemudian bersiap untuk menyuap mie dimangkuknya. begitupun Yudha yang memilih meletakkan mangkuk diatas meja agar lebih mudah menyantapnya.
"Siapa sayang?" tanya siska sambil menyup mie.
"Kurang tahu," kata Yudha menunjukan layar handphone kepada Siska. "32 panggilan tak terjawab." kata Yudha sedikit heran.
"Telepon balik, pasti penting." perintah Siska sambil tetap menikmati mie nya.
__ADS_1
"Iya nanti, setelah makan moe sama kamu." terang Yudha.
Keduanya kemudian kembali menikmati hidangan tengah malam hari ini.