
Hari ini setelah mengajar bahasa ingris, Siska memilih berada di ruang keuangan. Sambil langsung memeberikan isntruksi kepada kartawanannya untuk perbaikan laporan. serta menerangkan terkait pajak usaha yang harus segera dilaporkan sebelum habis masa tahun pajak.
Dengan seksama kedua karyawan tersebut memperhatikan penjelasan lembut dan teratur dari Siska. Sebentar saja mereka telah paham dengan apa yang harus mereka lakukan.
Siska meminta kedua karyawannya mulai mengerjakan tugasnya, saat dia menerima sebuah panggilan telepon.
Pangilan itu dari Naya, anak sulung dari tiga bersaudara hasil pernikahan yudha dan istri pertama. Setelah orang tua mereka resmi bercerai, anak anak memilih untuk tinggal bersama ibunya. Yudha yang telah menjua semua aset kecuali rumah yang anak anaknya tinggali, memberikan semua hasil penjualan aset untuk anak anaknya dalam bentuk deposit dan tabungan untuk keperluan mereka.
"Halo Naya, apa kabar." Kata Siska ramah.
"Hay kak, aku baik, mamah dan adik adik juga baik. kakak sama papah apa kabar? Sambut Naya tak kalah ramah.
"Kami baik disini Naya, ada perlu apa? tuben telepon biasanya chat aja."
"Hehehe... iya kak." suara Naya terdengar malu. siska tersenyum walau tak terlihat oleh lawan bicaranya.
"Naya mau ambil kursus bakery." kata Naya kemudian.
"Bikin kue?" kata siska memudahkan istilah. "Terus apa yang bisa kakak bantu?
"Tahu aka kaka kalau aku butuh bantuan," Kata Naya girang. "Aku belum ada uang buat daftar kursus jadi aku mau pakai uang tabungan dari papah. Kak Siska boleh bantu bilangin."
"Bilang sendiri aja, biar papah tahu langsung alasannya dari kamu."
"Gak berani kak, baru bulan lalu Naya ambil tabungan buat Dp mobil. pasti gak dibolehin, padahal Naya butuh kursus buat kresiin bekery naya." Naya mulai merengek.
Sudah sejak lama, Siska membangun hubungan baik dengan anak anak yudha dari pernikahan terdahulu. Terutama pada anak pertamnya yang terpaut delapan tahun. Untunglah usia mereka tidak terpaut jauh, sehingga mudah akrap. Bahkan siskalah yang banyak membatu Naya menjadi teman berbaginya.
Siska juga yang menyemangati Naya untuk berkuliah dan mengembangkan bakatnya dalam bidang bakery. Dan kini naya mulai membuka pesanan bakery dari rumah disela sela waktu kuliah.
Dan untuk urusan meminta izin pada Yudha, Siska tidak akan pernah mau memintakan izin. biasanya siska akan menguatkan anak anaknya untuk berani bilang sendiri keinginannnya pada papah mereka.
"Bantuin ya kaka cantik dan baik hati."
"Nay, mimpinya siapa punya toko bakery?
__ADS_1
"Naya si kak."
"Beneran pingin punya gak?"
"Iya kak?"
"Jadi siapa yang harus minta izin ke papah buat pakai uang tabungan?"
"Nay si kak.... tapi..."
"Ya uda nanti Naya tetep bilang sendiri ke papah ya, Kaka bantuin setelah kamu bilang ke papah."
"okay kak.... bantuin ya!!!"
"Iyaaa...."
Mereka melanjutkan obrolan mengenai banyak hal. Naya bercerita tentang kehidupan kampusnya yang sangat menyenangkan. Juga tentang ibunya yang mulai berkumpul bersama twman temannya lagi. semua yang diceritakan Naya membuat hati Siska semakin bahagia.
Tuhan selalu tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Teruslah berusaha, tapi jangan terlalu memaksa Tuhan untuk memberikn apa yang kita mau, karna Tuhan jauh lebih tahu. Karena apa yang menurutmu baik belum tentu baik untukku. maka jalani semua dengan iklas dan sabar hingga Tuhan berkata iya atas segala doa dan usaha yang lita lakukan.
***
Saat perjalanan pulang ke rumah, Siska menanti cerita Yudha tentang Naya yang ia oastikan sudah meneleponnya dan mengutarakan niatnya sama seperti yang ia sarankan pada Naya tadi.
Namun hingga separo perjalanan, Yudha tak juga membicarakannya. Yudha justru asik membahas judul lagu yang menemani perjalanan mereka.
"Mas, gak ada yang mau diomongin gitu selain judul lagu?"
"Enga deh kayaknya. memangnya kenapa?"
"Oohhh... ok." Siska hanya tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
"oh iya lupa." kata Yudha kemudian. Siska langsung mengalihkan pandangannya penuh ke Yudha.
"Apa mas?"
__ADS_1
"Naya tadi telepon, mau ambil uang tabungan lagi katanya." Kata Yudha kecut. "Trus katanya kamu janji mau bantuin ngomong ke aku buat izinin naya pakai uang tabungan." kata yudha membulatkan suaranya, serius.
Siska yang mendengarnya justru tidak enak, karena Perkataan Naya pada Yudha terkiat dirinya yang akan membantunya. harusnya Naya yidak usah bilang itu pada papahnya.
"Naya bilang gitu?" kata siska cangung.
"Kamu ya Siska. Selalu manjain mereka. Dulu kamu paksa aku buat kasih atm nya ke mereka. dan yang aku takutin terjadi mereka jadi seenaknya pakai uangkan." kata Yudha semakin meninggi. Saat ini siska memilih diam hingga amarah suaminya mereda.
"Sekarang kamu telepon Naya, kasih tahu dia buat berhemat pakai uang."
Siska tidak segera melakukan perintah Yudha. otaknya terus berfikir kenapa suaminya bisa semarah ini. Padahal uang yang diminta tidak besar, dan apa salahnya membantu mengenbangkan bakat anaknya. bukankah itu kewajiban. "Kenapa kami harus bilang aku akan membantumu si nay..." kata Siska dalam hati.
Siska tak jua menelepon Naya, hingga ahirnya smartphone nya berdering. dan ternyata panggilan dari Naya.
"Siapa?" tanya yudha datar tanpa memelankan laju kendaraan.
"Naya..." Kata siska dengan suara pelannya.
"Baguslah... angkat kalau gitu". kata yudha tambah ketus.
siska mengeser keatas tanda telepon berbarna hijau di layar smartphone. kemudian menempelkannya ke telinga.
"halo naya...." katanya Ragu
"Kakak... makasih banget ya, aku sayang kakak. papah uda ngijinin buat bayarin aku kursus." Kqta naya girang.
Sejenak siska melirikan matanya ke arah suaminya. yang kini menutup mulutnya dengan tangannyang mengepal agar tidak tertawa. Rupanya yudha sengaja mengerjai istrinya.
"Iya naya sama sama. semanggat ya. kerja yang rajin, jangan boros boros kalau uda punya penghasilan." kata siska penuh penekanan sesuai narehat yang yudha perintahkan kepadnya untuk disampaikan kepada Naya.
Siska menutup teleponnya. Kemudian Yudha yang tidak bisa menahan tawanya, melepaskan sekuat kuatnya.
"Mas... kamu ya ngerjain aku."
"Maaf sayang, habis kamu sayang banget sama mereka. aku cemburu..."
__ADS_1