Ru-meet

Ru-meet
Mencari teman


__ADS_3

Saat semua sudah kembali bekerja, Siska masih duduk di dekat Dewi. Ia ingin mengetahui bagaiman anak buahnya bekerja, Sekaligus memberikan cara cara untuk mengevisienkan waktu dalam menyelesaikan tugasnya.


"Dewi kamu kapan mulai buat laporan nya?"


"Biasanya setiap hari Jumat dan Sabtu buk, soalnya tunggu semua nota dikumpulkan."


"Kenapa gak setiap hari?"


"Itu buk, kadang kadang yang pakai uang kasir untuk belanja suka lupa minta bon, jadinya saya nunggu."


"Lalu apa lagi kendalanya?"


"Sama nota kadang kadang ada yang minta dobel. habis waktu disitu buk."


Mendengar keterangan Dewi, Siska meminta Mengeluarkan semua bahan bahan yang ia gunakan untuk membuat laporan. Berdasarkan keterang Dewi banyak bon yang lupa diambil, maka Siska meminta Dewi untuk mengumpulkan semuanya saat ini juga.


"Kamu dikasih kewenangan untuk mengatur Pengunaan uang kasir. Jadi kamu juga harus tegas kepada semua yang mengunakan uang itu." Terang Siska, bagaimanapun ini adalah tangung jawabnya untuk memastikan usahanya berjalan lancar. "Sekarang kamu tagih semua yang pakai uang kasir seminggu ini."


"Baik buk." Kata Dewi lirih, muncul rasa takut dihatinya setelah teguran Siska. Kemudian ia segera mencari kartawan lain yang mengunakan uang kasir untuk berbelanja sesuai dengan perintah Siska.


Sementara itu, Siska kembali memeriksa pekerjaan Dewi. Walau seharusnya Siska sudah pulang kerumahnya. Namun kali ini Ia merasa harus menyelesaikan permasalahan Dewi, yang sebenarnya hanya perlu ketertiban setiap karyawan.


"Yati kamu lagi apa?" Kata Siska kepada Yati yang baru saja melayani pembeli.


"Belum ada lagi buk, bagaimana?" kata Yati setelah mendekat kearah Siska.


"Kamu ke lantai tiga, minta sama orang admin buku kuarto kosong, pena dan pengaris ya." Perintah Siska dengan jelas.


"Baik buk." Kata Yati kemudian melaksanakan perintah atasannya.


Siska sengaja meminta Yati mengambil sejumlah peralatan, dimana nantinya akan digunakan untuk membantu pencatatan manual laporan Dewi. Selama ini Siska sering menemukan kesalahan dalam pencatatan yang dilakukan oleh Dewi. Maka pelan pelan Siska akan merencakan untuk menempatkan Yati sebagai asisten Dewi.


Dengan adanya Yati yang nantinya akan membantu pencatatan dewi, diharapkan bisa mengurangi kesalahan pelaporan ahir yang selalu diserahkan Dewi kepada Siska.


Yati telah kembali dengan membawa alat alat yang diminta Siska. Namun saat ia hendak menyerahkan kepada Siska, Siska justru meminta Yati mengambil kursi dan duduk disampingnya. Menyadari ini adalah perintah maka Yatipun mengikuti.


"Nah sekarang coba kamu bikin garis seperti ini." perintah Siska kepada Yati yang telah duduk di sampingnya. Siska juga menunjukkan sebuah kertas yang menunjukkan contoh tabel laporan pemasukan dan pengeluaran sederhana.


"Dibuku ini buk?" Yati memastikan sebelum memulai pekerjaannya.


"Iya Yati pelan pelan saja." Terang Siska.


Yati segera mengamati kemudian mengoreskan tinta pada kertas itu hingga membentuk seperti gambar yang di tunjukan Siska padanya. Siska terus mengamati Yati yang cepat mengerti. Disaat itu juga Dewi datang dengan setumpuk nota belanja.


"Ibu ini beberapa nota yang saya dapat. Tapi masih ada yang belum ada notanya juga." terang Dewi sedikit gugup.


"Baiklah sekarang rapikan dan urutkan pertanggal." perintah Siska kemudian.


Tanpa banyak bicara Dewi menjalankan perintah dari majikannya. Begitupun Yati masih sibuk dengan tugasnya.

__ADS_1


"Ibu ini sudah selesai," kata Yati beberapa saat kemudian sambil mengulurkan pekerjaannya ke hadapan Siska.


"Coba saya lihat yat," Siska mengamati pekerjaan Yati yang rapi. Senyumnya mengembang melihat hasil kerja Yati. "Rapi sekali Yat." pujinya.


"Wah iya Yati kamu pinter banget, bisa rapi begitu." Puji Dewi sedikit penasaran dengan apa yang dilakukan Yati.


"Aku disuruh gambar itu mbak sama ibu. padahal aku ngak tahu apa maksudnya. maaf buk." terang Yati.


"Oh, itu namanya buku kas Yati," jelas Dewi "Aku ada juga, dulu ibu yang ajari buatnya."


"Iya Wi, Saya sedang mencarikan teman buat kamu mengerjakan buku kas." kata Siska menyambung.


"Wah iya buk." jawab Dewi bersemgat. "Jadi Yati yang bantuin saya mulai sekarang?"


"Bukan mbak, belum." Potong Yati dengan cepat.


"Kenapa Yati? Pekerjaanmu bagus lho."


"Kalau meniru contoh yang ibu kasih semua orang pasti bisa buk. kalau lebih dari itu saya masoh belum pandai."


"Nanti saya ajari. Yang penting kamu mau."


"Bagaimana ya buk."


"Pasti kamu bisa Yati," Dewipun ikut mencoba menyakinkan temannya. "Jujur Yat, menurutku diantara kita semua kamu paling pinter, paling gampang paham."


"Iyo Yat, Bantuin ibu dan mbak Dewi." Tono yang sedari tadi memperhatikan ketiganya berbicarapun ikut berkomentar.


"Kalau ibu memilih Yati memang paling pas," kata tono sambil menyeret bangkunya mendekat ke meja Dewi. "Tadi pagi saja buk, Yati sudah bisa bicara langsung sama orang asing pakai bahasa inggris." terang Tono.


"Wah." puji Siska sambil memperhatikan cerita Toni dengan antusias.


"Iyo kan mbak Dewi?"


"Iya buk, awalnya si Tono, tapi ditengah tengah palah ngadat." terang Dewi


"Ngadat?"


"injih buk." kata Tono malu. "Itu lho buk, ibu ibu yang pernah kesini. Dia kesini nyari ayam goreng ya yat?"


"Yang mana satu?"


"Itu lho buk, temannya upin ipin."


"Yang kesini sebulan lalu, yang borong telur."


"Yang dari Malaysia."


"Ohhhh." kata Siska panjang.

__ADS_1


"Nah!!! ingat kan buk." kata ketiganya bersamaan.


"Jadi ibu itu nyari ayam kesini? ada ada aja." kata Siska heran.


"Iya ya buk, aneh aneh aja uda jelas jualnya telur asin, malah nyari ayam. kalau mau bebek mungkin ya buk." kata Tono membuat semua tertawa.


"Jangan ketawa Tono, tadi untung ada Yati. jadi tertolonh kita." kata Dewi kemudian.


"Sebenernya aku yo bisa mbak, kalau cuma friend chicken." Bela Tono. "lupa sedikit tadi,"


"Bukan friend tapi fried. F R I E D itu atrinya goreng, kalau F R I E N D Artinya teman. terang Siska di tengah tawanya.


"Begitu ya buk." kata Yati mencoba memahami penjelasan Siaka. " Sek sek, kalau begitu ibu tadi nyari bukan nyari ayam goreng, tapi Friends, teman."


"Teman makan ayam mungkin ya, aku yo gelem nek ngono." canda Tono yang selalu mengundang tawa.


Hari semakin sore. Jam di dinding menunjukkan pukul 5. Siska harus segera mengahiri kegiatannya bersama karyawannya. Kemudian mengajak anak anaknya kembali ke rumah.


"Sudah sore kita lanjutkan besok ya, Yati kamu bisa baca baca di google soal buku kas atau ngobrol sama Yati."


"Baik buk." kata Yati singkat


"Saya lihat anak anak dulu ya." kata Siska kemudian beranjak dari tempat duduknya.


***


Tampaknya Yudha masih terpengaruh efek obat alergi yang ia minum tadi. Tubuhnya masih terbaring di atas sofa dengan mata terpejam. Ia tertidur sangat lelap, hingga tak menghiraukan derit smartphonenya sedari tadi.


Siska memasuki ruang kerja Yudha. Melangkah kearah sova untuk membangunkan suaminya. "Sayang bangun, sudah sore." ucap Siska dengan lembut. Tangannya mengusap wajah suaminya agar segera bangun. Namun Yudha masih terlali lelap.


"reeetreeetreettt..." Getar smartphone Yudha kembali terdengat. Siska memalingkan pandangnnya pada smartphone yang terletak di atas meja dekat Sova. Kemudian tangannya meraihnya.


"Halo." kata Siska kepada penelepon itu, namun tak ada jawaban. "Halo dengan siapa ini?" kata Siska kemudian. lagi lagi tak ada jawaban.


"Halo benar ini nomornya Pak Yudha Pratama?" Suara seorang perempuan dari seberang telepon.


"Benar, pak Yudhanya sedang tertidur. Saya istrinya. Ada yang bisa saya bantu?" kata Siska tenang. Walaupun hatinya bergemuruh.


"Saya temannya Pak Yudha, saya hanya ingin memastikan ini benar nomor teman saya." jawaban dari seberang yang membuat Siska semakin bergemuruh.


"Ini dengan siapa ya?"


"Saya Ariyani."


"Ariyani?"


"Iya, saya teman Pak Yudha waktu SMA. Kalau pak Yudha sudah bangun tolong disampaikan ya, jika saya mencarinya." Katanya tergesa gesa.


"Baik." Kata Siska kemudian mengahiri pembicarannya.

__ADS_1


Lisa dan Lili membuka pintu sesaat setelah Siska meletakkan kembali smartphone suaminya. Keduanya segera berlari mendekati orang tua mereka. Melihat sang ayah masih terlelap, merekapun bergegas membangunkannya. Agaknya keduanya sudah tak sabar segera kembali ke rumah


__ADS_2