Ru-meet

Ru-meet
Petualangan baru dimulai


__ADS_3

"Itu siapa teh?"


"Ini kang Yudha, suami teteh." merekapun bersalaman dan menyebutkan nama masing masing.


"Ulu ulu, meni ganteng pisan nyak."


"Ganteng ganteng tapi tua."


"Ulah gitu teh, ganteng mah tetep ganteng, berkharisma gitu, walaupun uda tua."


"Iya, tua tua gitu, teteh tetep cinta." Pungkas Siska.


Yudha tersipu mendengar percakapan Istri dan sahabatnya. "hhhmmm" dehemnya, mengingatkan jika orang yang sedng mereka bicarakan ada di dekat mereka, dan mendengar semua pujian itu.


"Punten kang Yudha," Kaya Indah. "Ayo teh registrasi dulu."


Tanpa harus mengantri, Indah langsung melayani peserta teristimewa baginya. Sama seperti peserta lain, Siska diterangkan mengenai informasi letak kamar, ketentuan makan malam dan kewajiwan untuk mengikuti kegiatan secara penuh.


"Teteh ini kuncinya, Indah pilihin yang sampingan sama Indah." Kata Indah sambil mengedipkan mata. "Nah ini untuk kang Dimas." kata Indah kemudian menyerahkan kunci yang kedua.


"Makasih indah cantik, kami ke kamar dulu ya."


"Dada teteh nanti ngobrol ya teh."


***


"Teteh , Te e te e ha. teteh..." Kata Yudha, merasa sing mendengar ada yang memanggil istrinya teteh. Sejak mengenalnya baru ini ada yang memanggil sisk teteh.


"Cuma indah yang boleh panggil aku teteh." kata Siska memperingtkan suaminya.


"hahahaha, iya iya, aku kan manggil kamu SAYANG, sayangnya yudha, cintnya yudha." kata yudha sambil melingkarkan lengnnya ke pundah istrinya. Kemudian berjalan mobil mereka.


Didalam mobil yang mesinnya terus menyala. Ahirnya Dimas melihat Sepasang bucin itu keluar dari pintu resepsionis.


"Yuk Dim, kita ke kamar." kata yudha setelah masuk ke mobil.


"Ok mas, kamar nomor berapa kita?"


"217 dan 218." kata Siska. "didepan langsung belok kiri, ketemu kolam renang, barisan ke tiga dari kolam renang."

__ADS_1


"Ok mbak."


Kamar yang mereka dapatkan tidak jauh dari ruang pertemuan. Benar benar Indah yang cantik dan baik hati. Tepat seperti arahan Indah, Dimas memarkir mobilnya didepan kamar nomor 217.


Kamar berbentuk bungalow, dengan ruang tamu, dapur, kamar mandi dan kamar tidur. Memiliki akses masuk melalui dua pintu, satu pintu langsung ke tempat parkir dan satu pintu ke tempat menuju kolam renang. Tepat di seberang kolam renang adalah tempat pertemuan.


Mereka memasuki kamar masing masing. Dimas membantu Nita mengendong Didi yang bekum juga bangun. Sementara Nita membawa tas pakaiannya.


Siska lebih dulu masuk kekamarnya, menuntun Lili dan lisa dengan tangan kirinya. terlihat satu kursi panjang dari rotan, stu dapur sederhana dengan kompor listrik. Diatas kompor terletak peralatan masak sederhana yang terlihat dari kaca lemari.


Siska meminta kedua putrinya untuk duduk di kursi itu. Sementara Siska bersama Yudha merapikan pakaian mereka ke dalam lemari. Lemari pakaian terletak di dekat kasur, dimana bagian kamar tidur dan ruang tamu dipisahkan oleh kamar mandi.


Yudha langsung menyeret koper ke dekat lemari, sementara Sisk terlebih dahulu menghidupkan televisi dan mencarikan stasiun tv kesukaan anak anak. Setelah itu baru menyusul Yudha.


"Ibu rapiin baju dulu ya sama ayah."


"Okay ibu sayang." kata keduanya bersamaan.


Siska berjalan cepat ke bagian kamar, melewati kamar mandi yang bernuansa alam dengan bahtup berlapolis batu, senada dengan dinding kamar mandi yang juga bernuansa alam.


"Banyak juga baju yang kamu bawa Sayang."


"Iya mas, katanya banyak kegiatan kotor kotoran, biar banyak oilihan ganti bajunya.


"Cepet banget suamiku. Makasih ya." Siska melangkah mendekati yudha yang baru sja menutup pintu lemari. Memberikan pelukan yang langsung dibalas oleh Yudha.


"Kenapa sayang?" tanya Yudha


"Tentang Surya," mendengar nama itu Yudhapun melepas pelukannya.


"Kenapa sayang?" Yudha menatap wajah istrinya.


"Diacara ini pasti dia akan ada dimana mana. kamu beneran gak apa apa?" kata Siska teringan kejadian Yudha dan Surya yang sling melempr pandangan sinis.


Yudha tersenyum. "Tadi kelihatan banget ya, arti tatapan aku?" kata Yudha menyajari istrinya kembali khawatir akan dirinya.


"Suamimu ini cuma membalas tatapan dia saja." kata Yudha sambil memegang pipi istrinya. "Kita sudah disini, aku ikut agar aku lebih tahu teman temanmu, untuk berkenalan dengan mereka. itu juanku. aku gak akan meladeni siapapun yang memancing keributan."


"Janji?" siska menunjukkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


"Asal kamu selalu bersamaku." kata yudha sambil melingkarkan keingkingnya ke jari Siska.


"Pasti." Keduanya kembali berpelukan.


Secara jujur yudha telah mengakui apa tujuannya mengizinkan dan ikut serta dalam kegiatan ini. Berharap akan menikmati setiap proses yang terjadi.


"Aku sayang kamu, Sayang banget."


"Iya. aku juga sayang sama kamu."


Saat itu juga, lisa dan Lili datang. Masing masing memeluk boneka teman tidurnya.


"Ayah ibu lagi apa?" tanya Lili.


"Oh sayang..., sini peluk ibu dan ayah." kata Siska sambil membuka pelukannya. Lili dan Lisapun berlari kecil , kemudian keempatnya berpelukan.


Sebagai seorang laki laki, Saat ini yudha merasa sangat beruntung berada diantara orang orang yang sangat ia cintai. entah sudah berapa banyak ungkapan cinta yang ia sampaikan pada novel ini. semoga kebahagiaan ini abadi hingga ahir hayat nanti.


Begitupun Siska, yang selalu merasa hangat dan bersemanggat saat berada ditengah tengah mereka. Disaat seperti inilah dirinya bisa melupakan setiap ketakutan yang terkadang melintas dipirannya. Pelukan ini adalah senjata untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.


"Ayah ibu, kita lapar.' kata Lisa kemudian.


Benar juga hari ini mereka baru mengisi perut pereka dengan roti bakar dan telur rebus. sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lebih lima belas menit. jam segini biasanya anak anak sudah makan siang.


"Anak anak ibu mau makan apa?"


"Ayam goreng,"


"Baiklah, mari kita lihat di buku menu restoran." Siska berjalan ke meja kecil di samping kasur untuk meraih buku menu.


Kedua anak kecil itu mengikuti ibunya kemudian melihat gambar menu di buku. Tentu yang mereka tunjuk adalah makanan kesukaan mereka, Ayam goreng.


Siska juga menanyakan kepada suaminya makanan yang ingin ia santap untuk makan siangnya. kemudian menelepon restoran dan memesankan juga untuk Dimas dan keluarganya.


Sambil menunggu makanannya datang Siska meminta anak anaknya untuk membersihkan diri dan berganti bakaian agar lebih segar. Keduanya kini berada di kamar mandi, dibantu oleh Siska agar lebih cepat. Selanjutnya bergantian antara Yudha dan Siska untuk membersihkan diri.


Kini semua telah membersihkan diri dan bersiap untuk makan siang. Siang ini Siska memilih pakaian untuk keluarganya, mengunakan kaos berlengan panjang dengan warna toska.


Dimas dan keluarganya juga telah bergabung ke kamar siska untuk menikmati makan siang bersama sebelum acara pembukaan reuni. Tinggal menunggu pelayan restoran mengantarkan pesanannya.

__ADS_1


Tak lama pelayanpun datang, membawa makanan pesanan mereka. Sepertinya perjalanan tadi menguras banyak tenaga hingga mereka sangat lahap menikmati santapan makan siang. Maka setelah ini mereka harus benar benar menyiapkan diri karena petualangan baru saja dimulai


***


__ADS_2