Ru-meet

Ru-meet
Tubuh yudha


__ADS_3

"Siska aku benar benar sayang kamu, aku gak mau kehilangan kamu lagi." Kata Yudha begitu tulus hingga air mata menetes dari kelopaknya.


Melihatnya, Siska menjadi semakin tak tega kepada suaminya. Kenapa Yudha harus melampiaskan emosinya dengan menyakiti dirinya. Diliriknya tangan suaminya yang mulai mengucurkan darah pada pungung tangannya. akibat terlalu banyak dibenturkan pada stir mobi.


"Ini pasti sakit Kan?" Tanya Siska sambil mengolesi obat merah yang selalu disimpan pada dasbord. Ada gunanya juga pad saat saat seperti ini.


Yudha mengeleng. Kini giliran dia yang terdiam. melihat siska yang justru sangat menghawatirkan dirinya. Mengobati suaminya yang tidak bisa mengendalikan emosi hingga menyakiti diri sendiri. benar benar hal yang bodoh.


"Yudha, tolong percaya sama aku." Kata Siska pelan, sambil sesekali meniupi tangan Yudha yang telah diolesi obat merah. Agar segera kering. "Aku juga cinta sama kamu. Pelajaran hidup kita sangat panjang yud, gak mungkin aku segampang itu ngelupain ataupun ngelepasin semuanya. Gak akan. percaya sama aku."


Siska mencoba meraih kedua tangan suaminya. memegangi lebih erat agar Yudha dapat merasakan ap yang saat ini Siska rasakan. Rasa cinta yang begitu besar untuknya.


"Lihat aku Yudha," pinta Siska kemudian. " Apa ada aku bohongin kamu sekarang?"


Yudha menatap dalam istrinya. Perempuan yang sangat ia cintai, dan juga mencintainya. Tidak ada sedikitpun dusta tersirat dari wajah ayu itu. Yang ada hanyalah ketulusan. ketulusan mencintai seorang Yudha yang sangat jauh dari kesempurnaan.


Sejenak Yudha membandingkan dirinya dengan Surya. seharusnya dirinya lebih banyak bersyukur bisa mendapatkan perempuan seperti Siska. Tugasnya saat ini hanyalah percaya pada Siska. Hingga tidak Ada keraguan sedikitpun yang mampu memicu amarahnya.


"Kalau kamu khawatir dan gak bolehin aku ketemu dengan Surya atau siapapun aku nurut Yud. Aku pasti lakuin. Tapi tolong kamu jangan bersikap seperti ini lagi. Aku gak sangup lihatnya. Kasian badan kamu."


Begitupun dengan Siska yang juga mencitai suaminya. Kisah mereka begitu pelik, hingga ahirnya bisa bersatu. Namun rintangan demi rintangan masih mewarnai perjalan cinta mereka. Rintangan yang tidak bisa dihindari. Namun harus diselesaikan untuk tetap menguji kasih Dan ketulusan diantara keduanya.


"Maafin Aku juga sis. Aku terlalu kalut tadi." Siska mengusap halus wajah suaminya.


"Janji akan nyakitin badan kamu lagi?" Kata Siska sambil mengacungkan kelingkingnya.


Yudha mengangguk kemudian melingkarkan kelingkingnya pada kelingking Siska. Keduanya kini saling berpelukan dan memberi ciuman. muncul hasrat keduanya untuk memberikan lebih. namun keadaan tidak memungkinkan.


"Sekarang kita pulang ya." Ajak Siska. Namun Yudha masih engan melepaskan pelukannya.


"Kasian anak anak kelamaan ditinggal." Kata Siska kemudian.


"Iya, kita lanjutin dikamar ya...," Yudha tersenyum Manis.


***


Hari sudah petang saat Siska dan Yudha tiba dirumah. Yati telah menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Melirik jam dindin yang baru pukul tujuh, namun anak anak sudah tidak ada diruang keluarga.

__ADS_1


Keduanya langsung menaiki tangga, dan menuju kamar anak anaknya. Terdengar dari kejauhan mereka sedang asik bermain sambil menyenandungkan lagu dari film frozen ke dua.


"Tok tok tok."


Yati membukakan pintu kamar. Dirinya tersenyum lebar saat melihat Pak Yudha dan Bu Siska berdiri berdampingan di depan pintu. Terlihat olehnya tangan Pak Yudha merangkul pinggang istrinya.


"Pak, buk," sapa Yati.


"Kalian sudah makan malam?" Tanya Siska.


"Sudah bu, tadi goreng ayam di kulkas."


"Ibu, mbak Yati biar tidur dikamar kita aja ya."


"Boleh kalau mbak Yati mau."


"Mbak Yati mau kan?" Tanya Lisa dan Lili yang telah memakai kostum Ana dan Elsa.


"Iya buk saya tidur dikamar ini saja. Biar rame."


"Baiklah kalian lanjutkan bermain, jam sembilan sudah harus tidur ya." pesan Yudha masih berdiri di tempatnya bersama Siska.


"Iya buk gak papa."


"Nanti kalau butuh apa apa kabari aja." pesan Siska


"Jangan yati, kami percaya kamu pasti bisa. Jangan ganggu kami ya. Kami mau fokus bikin adek buat Lisa dan Lili." Kata Yudha, membuat perutnya mendapat dorongan keras dari siku Siska.


"Maaf ya, ada ada aja Pak Yudha ini." Kata siska dengan wajah memerah." Ya sudah kami pamit dulu ya."


***


Didalam kamar, Siska sedari tadi sibuk membujuk suaminya untuk membersihkan diri. Tidak seperti biĆ sanya, kali ini Yudha begitu manja. Mengekor kemanapun Siska berjalan.


"Sayang mandi dulu. Gantian ku juga mau Mandi."


"Bareng." jawab Yudha manja. Sambil mengeratkan pegangannya pada pinggul Siska. dimana sekarang mereka saling berhadapan.

__ADS_1


"Ishhh..., Kamu dulu, aku mau ambil smartphone sama tas aku, ketinggalan di mobil." keluh Siska.


"Baiklah," Yudhapun mengalah.


Yudha masuk ke kamar mandi. sSementara Siska berlari menuju mobilnya yang diparkir didepan teras.


Kini Siska berada di dalam Mobil, dan telah menemukan smartphone dan tasnya. Namun sebelum kembali ke kamar dirinya hendak menelepon Dimas. Untuk menanyakan kebenaran perkataan Surya terkain Dimas yang memberitahukan nama anak anaknya.


"Halo Dimas."


"Iya kenapa mbak"


"Tadi aku ketemu Surya."


"Kok bisa, bukannya dia di Bali."


"Gak tahu, cuma aku mau yanya sama kamu, kata dia, dia tahu nama Lisa dan Lili Dari kamu. Bener?"


"Enga mbak beneran. Mana berani aku kasih tahu orang lain. Jelas jelas mbak larang aku kasih tahu siapapun."


"Oh ya uda okok. Besok besok aku telp lagi ya, dan jangan bilang mas Yudha kalau aku telp kamu."


"Mas Yudha gak tahu kalau mbak ketemu Surya?"


"Tahu, jadi gede tadi masalahnya."


"Mbak gak kenapa napa kan?"


"Aman, ya uda ya. Dada."


Siska mengakhiri teleponnya. Kemudian buru buru kembali ke kamarnya.


Setibanya di kamar, Yudha masih berada di kamar mandi. Siska memberanikan diri untuk menyusul suaminya. Yang ternyata masih asik mencujur kumisnya didepan cermin.


"Nyusul juga kan ahirnya." Kata Yudha sambil melemparkan mata genitnya.


"Iya." Siska mendekat ke arah Yudha. "Habis kamu kelamaan." katanya kemudian memeluk tubuh Yudha dari belakang. Merasakan hangat tubuhnya yang menenangkan. Sejenak ia lupakan rasa penasaran dari mana Surya tahu nama anak anaknya.

__ADS_1


Satu lagi, yang sebenarnya ada dalam benaknya, pertanyaan tentang kenapa Yudha begitu marah saat aku bertemu Surya. Dirinya memang pernah menceritakan kisahnya dengan Surya, secara jelas dan gamblang. Dan saat itu sudah selesai tidak ada kemarahan sedikitpun. Siska juga tahu, jika Yudha telah berbicara pada Surya dan telah mendapatkan kejelasan tentang dirinya dan Surya.


***


__ADS_2