
"Teteh dimana?"
"Dikolam renang."
"Ok, kesitu sekarang."
Siska duduk dikursi tepian kolam sambil menunggui anak anaknya berenang. Sambil memegangi smartphonenya, mengamati foto yang didapat dari Tono.
Tak lama setelah itu Ali, Indah dan keluarga Dimas memasuki area kolam berenang. Didi segera berlari bergabung dengan Lili dan Lisa yang sudah lebih dulu bermain didalam air. Sementara yang lainnya menghampiri Siska dan duduk berkeliling.
"Teteh ayo cerita sekarang."
"Nih lihat." Siska menyodorkan smart phone nya. dengan cepat, Indah meraih dan mengamati foto yang ditunjukan.
"Ini kan suami teteh, Kang Surya, eh ada kang akbar juga."
"Coba lihat?" Dimas mendekat kearah Indah. "Jadi beneran bang surya dan Mas Yudha uda kenal."
Siska mengangguk. "Jadi awalnya mereka kenalan lewan Bang Tigor, temen Mas Yudha, nah Surya bilang namanya Jangkung."
"hah kok bisa?"
"kenapa?"
"Trus, gimana tahu dia Bang Surya?"
"Ehhh dengerin dulu."
"Makasih Ali, aku lanjutin ya," kata Siska mengambil smartphonenya dari tangan Dimas. "Sampai sekarang aku juga belum tahu apa maksudnya, Aku tahu setelah foto ini ada. ahirnya bang Tigor kasih tahu semuanya ke Mas Yudha. Mas Yudha baru kasih tahu ke aku."
"Marah dong Mas Yudha di bohongi."
"Jadi kontaknya batal?
"Kalian ya, dengerin dulu ceritanya, jangan suka motong."
"Maaf deh, aku penasaran banget kang Ali."
"Aku uda sampaikan ke Mas Yudha untuk membatalkan kontak kerja, cuma pertimbangan Mas Yudha, kesepakatan itu antara Ambung Wangi dan usaha kami, bukan dengan Surya, dan di kontrak juga tidak ada hal yang memberatkan kami. jadi kontrak kami lanjutkan."
__ADS_1
Siska mengeser layar smartphonenya, dan menunjutkan satu foto lain saat dirinya pertama kali ketemu Surya. "Disini Surya mengakui semuanya, tapi dia tidak tahu kalau bang Tigor sudah membuka rahasianya."
"Tunggu." lagi lagi Dimas menyela. semua orang menatap ke arahnya, memasang mata penasaran.
Seakan Dimas sedang mengingat sesuatu. "ingat waktu mbak Siska sakin?" kata dimas sambil menatap kakaknya. Siska mengangguk.
"Siang itu, pas bilang mau ketemu kawan buat makan siang." lanjut dimas
"Kamu ketemu Surya juga?" tebak Siska.
"Iya." jawab Dimas singkat. "Tapi dia gak bilang apapun ke aku Soal mas Yudha, berarti memang ada yang dia rencanakan." kesimpulan Dimas.
"Berarti teteh harus waspada teh."
"Tenang Indah, aku sudah peringatkan dia siang itu." Kata Dimas.
"Tapi kau kan di Jakarta, gak bisa lindungi langsung."
"Gimana kalau kita pindah ke Jogja?" Kata Ali dengan idenya yang selalu diluar dugaan.
"Gak harus gitu juga Ali, aku kasih tahu kalian karena kalian kenal Aku, Surya dan Mas Yudha, jadi biar kalian gak cangung kalau kita papasan di acara ini." cegah Siska iska pada ide Ali.
"Mas Yudha memang tidak terlalu suka dengan Surya, dan aku rasa suryapun begitu. Tapi tenanglah ini negara hukum, aku masih bisa minta perlindungan kepada mereka." kata Siska bersemanggat.
"Teteh mah, selalu berprasangka baik sama orang." kata Indah yang sangat sayang kepada Siska. "Teteh gak ada kabar empat tahun ini aja aku kecarian lho teh." Mendengar perkataan Indah, Siskapun memeluknya.
"Maafin teteh ya, tapi kalau kalian beneran mau pindah ke Jogja aku seneng banget. Apalagi kalau Kamu sama Ali uda nikah." hibur Siska yang langsung membuat Indah melepaskan pelukannya.
"Tetehhhhhh...." Teriak Indah, sementara Ali tersipu malu.
"Cie Kang Ali, senyum senyum." goda Dimas
"Jadi kapan kamu mau nikah sama aku Indah?" tembak Ali tiba tiba, dan lagi lagi diliar dugaan.
"Gak mau lah kalau ngelamarnya kaya gini," Jawab Indah malu tapi serius.
"Nanti kita bahas lagi ya, ada yang lebih penting sekarang." kata Ali sambil mengarahkan tangannya ke sisi Taman didepan ruang pertemuan.
Terlihat Yudha baru saja keluar dari ruang pertemuan, Baru saja ia selesai merokok dan berniat menemui istrinya. Namun ternyata Siska dan anak anaknya sudah meninggalkan ruang pertemuan. "Ah pasti di kolam renang." tebak Yudha.
__ADS_1
Baru beberapa langkah dari pintu, seseorang tampak berjalan cepat mendekati dirinya yang fokus berjalan ke arah kolam renang.
"Pak Yudha, mau kemana?" sapa orang itu, yang ternyata adalah Akbar.
"Mau ke kolan renang, maaf dengan siapa ya?" Yudha berhenti, dan memberi perhatian penuh pada lawan bicaranya.
"Saya Akbar pak, kita ketemu di Ambung Wangi." Katanya sambil membuka kaca mata hitamnya.
Yudha mengingat ingat sebentar. "Oh iya Pak Akbar, analis di Ambung Wangi, maaf Bapak terlihat jauh lebih muda hari ini." Kata Yudha yang sebenarnya tidak terlalu peduli.
Saat Akbar mencoba mengarabkan diri, dari kejauhan Ali, indah dan Dimas berjalan cepat kearah mereka. Bak detektif yang akan melindungi saksi kunci, serasa angin berhembis kencang mengibarkan rambut mereka. Dengan tatapan tajam dan tepat pasa sasaran. Satu visi mereka Menjauhkan Yudha dari si penjilat.
"Kang Yudha kok disini." Kata Ali kemudian berdiri diantara Akbar dan Yudha yang berhadapan. Dimas dan Indah berada di samping kanan dan kiri Yudha.
"Uda dicuci mukanya?" tanya Ali tegas. Berdiri sambil bersedakap.
"Apaan si lo ganggu aja." kata Akbar kemudian menginggalkan mereka kesal.
Setelah Akbar pergi. Mereka bertiga mengajak Yudha untuk kembali ke kolam renang. Bergabung dengan Siska dan Nita yang telah memesan snack dan minuman untuk mereka.
Yudha langsung mencium kening Siska setibanya di tepian kolam renang. Yang dibalas oleh siska dengan menyuapi kentang goreng. Pemandangan yang membuat yang lain iri, termasuk seluruh pengunjung yang saat itu berada di kolam renang.
"Pokoknya mulai sekarang, kang Yudha gak boleh jauh jauh dari kami, biar gak dapat pengaruh buruk dari manusia penjilat disini." cerewet Indah. Semua tertawa mendengar perkataan Indah. kecuali Yudha yang belum mengeri apa maksudnya.
"Baiklah, aku punya banyak penjaga sekarang." Kata yudha santai. "Tapi kalau berenang siapa yang jagain?" tanya Yudha mulai jahil
"Kalau itu tugasnya teteh, sok teh temenin berenang." kata indah dengan nada memerintah.
"Ayo penjagaku kita berenang," goda Yudha pada istrinya.
"Aku masih datang bulan." kata Siska, Mendengar jawaban Siska, Yudha yang telas menanggalkan pakaiannya tersenyum kecut kemudian memakainya lagi.
"Uda mau petang juga, besok pagi aja berenangnya, sekarang siap siap untuk gala dinner." usul Ali, kali ini masuk akal.
Dimas memanggil anak dan ponakannya, untuk menyudahi berenang. Anak anak yang sudah puas berenang itupun segera mengangkat dirinya kearas. dan menghampiri orang tua mereka.
Berbalut handuk, Sejenak mereka beristirahat, sambil menikmati snack dan minuman untuk menganjal perut sebelum tiba waktu gala dinner. Entah apa lagi kejutan yang dipersiapkan oleh panitia.
Semua makanan ludes, tersisa saos dan garnish, Merekapun sepakat untuk kembali ke kamar masing masing.
__ADS_1