
Saat yang lain bergembira bisa melihat siska kembali maupun yang pertama berjumpa. Ada perasaan kesal ada hati surya mendengr siska menyebutkan nama Yudha dan memperkenalkan sebagai suaminya. Matanya terus mengikuti langkah Siska hingga tertangkap Yudha.
Menyadari hal itu, Yudha justru semakin menunjukkan perhatinnya pada Siska, dengan berdiri dan menarik kursi untuk untuk mempersilahkan istrinya duduk. Sambil matanya terus melihat kearah Surya.
***
Sesi pertama berahir pukul setengah lima sore. mengisi acara istirahat, mereka saling mengakrabkan diri. beberapa yang membawa anak langsung mengajak mereka berenang. sementara yang lain memilih tetap diruangan sambil bernostagia.
Bukanlah sebuah reuni jika tak ada yang membangakan diri dengan capaian karir mereka saat ini, ataupun bercerita tentang kehidupan baru setelah pernikahan, dan berahir pada pertanyaan kapan nyusul? pertanyaan yang selalu dihindari oleh kaum kaum bebas yang mengutamakan kemapanan sebelum berkomitmen.
Sekelompok anak bermain disudut ruangan. disana bergabung Lisa, Lili, dan Didi. Memainkan permainan tebak kata.
Sambil mengawasi anak anaknya, para orang tua berkelompok dan berbagi cerita sambil menikmati jajanan pasar yang disediakan hotel.
Yudha telah meminta izin kepada Siska untuk merokok, walaupun sudah janji pada anak anaknya untuk berhenti merokok, wgaknya Yudha masih kesulitan. Maka ia pergi ke ruangan khusus merokok agar asapnya tidak menganggu yang lain.
Didalam ruangan Siska terus mengobrol bersama teman temanya, termasuk Ali, Dimas dan Indah.
"Jadi mbak Siska sekarang di Jogja?"
"Iya kang ali..." jawab Siska
"Waduh uda pakai kang dan mbak ni pangil pangilannya." celetuk Indah.
"iya ndah, merasa sok muda mereka." sambunh Dimas
"Habis nih ali dulu yang terus terusan manggil mbak." bela Siska
"iya iya Siska." kata Ali merasa terpojokkan. merekapun tertawa
"Kamu Dimas, masih dijakarta?"
__ADS_1
"Iya kang Ali, ini liburan aja di Jogja nemenin mbak Siska."
"Kenapa kamu Sis minta ditemenin Dimas? takut sama Surya?" tanya Akbar yang tiba tiba bergabung.
"Ish kang akbar datang datang rusuh nih." Indah menimpali.
"Siapa yang rusuh indah cantik, bener kan kata gue, Si Surya pindah ke Jogja gara gara siapa coba? gara gara dia tahu kalau Siska pindah ke Jogja, tapi dia gak tahu kalau Siska uda nikah."
"Uda yuk kita ngobrolin yang lain aja. Akbar mending lo cuci muka gih kusut banget." Kata Ali tak suka dengan sikap temannya. Ali tidak mau Siska merasa terbuli seperti empat tahun yang lalu.
"Iya nih kang Akbar ah, ngerusak suasana, yang lalu biarlah berlalu. Mbak Siska sekarang uda bahagia, jangan diganggi." Bela Dimas.
"Eh Dim asal lo tahu ya, Si surya bela belain kerjasama sama usaha telur asin siska biar apa coba? ya biar bisa deketlah." tambah Akbar semakin membuat kesal.
Semua terdiam beberaa saat, tak percaya dengan apa yang dikatakan akbar. Namun bisa jadi itu memang benar karena selama setahun belakangan ini Surya selalu menceritakan semuanya kepada Akbar. Itupun karena Akbar terus mendekatinya.
Dimas yang tidak tahu segera menatap Siska. siska menganggukan cepat kepalanya. "nanti aku jelasin." bisiknya pada Dimas.
Akbar tersenyum sinis, menyepelekan kata kata Siska. Sementara Ali, Indah dan Dimas bersiaga kalau kalau Akbar berbuat macam macam.
"Oh iya, gue lihat lo ada di foto waktu penandatanganana kontrak, sekarang kerja juga di Ambung Wangi kan? Pasti hasil ngejilat lo sama Surya." lanjut Siska penuh penekanan. "Gue saranin lebih baik lo waspada dan kerja bener bener." kini siska yang menyungingkan senyumnya. Sementara akbar terlihat panik dengan tuduhan Siska.
"Sebagai orang yang dipercaya Surya dari dulu sampai sekarang, gue bisa dengan mudah nyingkirin lo." kata Siska sambil menunjukkan jarinya ke dada Akbar.
Rasa sakit hati Siska empat tahun lalu, yang menjadi bahan buliian adalah akibat perkataan lancang Akbar. Namun kali ini, siska tidak akan terbawa arus, dirinya hadir dengan persiapan yang jauh lebih matang.
"Lo ya!!!" kata Akbar demgan suara tinggi.
"APA!!!" kata Siska tegas dengan mata melotot.
"Uda teteh, katanya mau berenang, sama anak anak, yuk." kata Indah tak ingin meladeni Akbar. Merekapun berlalu meninggalkan Akbar.
__ADS_1
Dari dulu hingga sekarang, sikap Akbar tidak pernah berubah selalu saja mencari cara untuk merusak suasana. Dan bagi mereka Akbar adalah benalu untuk Surya, namun Surya tidak pernah menyadari itu karena sikap Akbar yang pandai menjilat.
***
Sementara itu di ruang merokok. Hanya ada Yudha dan Surya. sebuah kesempatan yang sangat ditunggu tunggu bagi keduanya. Diawali dengan sikap dingin yang hanya fokus kepada rokok mereka.
"Saya kira Pak Yudha tak alan hadir." kata surya dingin.
"Kenapa?" balas surya sambil tetap menghisap rokoknya. "Aku tak pernah bermasalah dengan masa lalu Siska. termasuk pak surya yang hanya menjadi masa lalunya." Kata yudha lirih namun menusuk hati.
"Saya adalah masalalu Siska, tapi saya akan selalu ada untuknya, apalagi jika pak Yudha menyakitinya lagi."
"hhheeeh!" kata yudha sengit. "Bukankah Pak Surya yang lebih dulu menyakitinya?" Yudha menatap Surya tajam.
Keduanya kembali saling menatap. Dalam hati mereka membenarkan apa yang dikatakan lawan bicaranya, namun gengsi untuk saling mengakui.
"Saat ini Siska telah bahagia bersamaku, maka hargailan itu. kita jalankan apa yang sudah menjadi tangung jawab kita masing masing." kata yudha ingin membuat kesepakatan dengan Yudha, terutama tentang menjalankan kontrak kerja agar lebih provesional.
Pahit bagi Surya mendengar perkataan yudha, walauun memang saat ini, itulah kenyataannya. tidak ada kesedihan sedikitpun teroancar dari wajah Siska, kini dirinya melihat Jika Siska lebih bersemanggat, mengingatkannya pada Siska yang dulu selalu bersamanya.
Dalam hati itu pula, Surya masih saja menyesai sikap dan kenaifannya pada Siska. Namun apa yang bisa dia lakukan sekarang? jika ini sebuah perlombaan, maka dewan juri sudah menentukan Yudha adalah pemenangnya.
Namun sisi hatinya yang lain, masih menyangsikan ketulusan Yudha terhada Siska, entahlah apa alasan dan dari sisi mana itu akan terlihat nantinya. Atau ini hanya kekhawatirannya yang tanpa alasan.
Dan yang sekarang terjadi adalah, Tuhan mempertemukan kembali dirinya dengan Siska. tentu dia tidak akan mengambil keputusan yang keliru untuk kesekian kalinya. Melindungi siska, itulah yang bisa ia lakukan sekarang sebagai teman dan partner kerja.
"Tentu, Saya akan bekerja dengan baik sesuai tugas saya." Kata Surya kemudian.
"Baguslah, begitupun dengan kami, akan bekerja provesinal sesuai kontrak."
Yudha telah mematikan rokoknya, bersiap untuk kembali ke ruangan. Tanpa berpamitan diapun meninggalkan Surya
__ADS_1