Ru-meet

Ru-meet
Suasana baru


__ADS_3

"Teh aku sudah landing."


"Syukurlah, teteh pas di pintu keluar."


"Ok teh, aku ambil bagasi dulu ya."


"Sok, santai we atuh."


Indah berjalan dengan mendorong teoli, menuju tempat pengambilan bagasi. Alam semesta benar benar memihaknya kali ini. Segala urusan terkait pemindahan kerjanya berjalan dengan cepat. Kurang dari dua minggu dirinya sudah mendapatkan surat tugas penempatan.


Kehidupan baru di kota baru segera ia jalani. Terlihat Indah begitu bersemanggat. Terlebih saat ini ada Siska yang tak segan membantunya.


Tidak memunggu lama, Indah telah memindahkan koper terahirnya keatas troli. Lalu bersiap keluar pintu bandara.


"Indah!" Teriak Siska sambil melmbaikan tangan. Indahpun segera menghampiri pemilik suara itu. setelah berpelukan dan bertukar kabar keduanya berjalan menuju tempat parkir.


"Teh, Indah lapar." keluh Indah sesaat setelah mobil Siska keluar dari bandara.


Hari ini Yudha terpaksa mengizinkan Siska pergi sendirian menjemput Indah, karena dirinya harus rapat bersama Ambung Wangi sebelum pencairan dana.


"Kita makan di tempat Surya ya." kata Siska santai


"Ha gimana?" Indah sedikit kaget mwndengar nama Surya yang pertama di sebut oleh Siska.


"Mas Yudha masik meeting di tempat Surya, kita makan di kantinnya sambil nunggu mereka selesai."


"Ohhhh..., okok." Kata Indah lega.


Sebenarnya Indah bisa saja memesan taxi dari bandara. Namun Siska yang merasa tidak tega membiarkan Indah sendirian. Lagipula untuk sementara waktu, Indah akan tinggal di rumah Siska. Paling tidak sampai Indah menemukan tempat lain yang nyamam untuknya.


Merekapun melanjutkan perjalanan ke kantor Ambung Wangi. Sepanjang jalan keduanya terus saja berbincang. Dua sahabat yang sudah seperti saudara ini merasa saling melengkapi.


Siska melajukan mobilnya dengan santai. Membuat keduanya merasa nyaman menikmati waktu bersama. Indah dan Siska keduanya memang sangat dekat, dulu ataupun sekarang. Inilah kali pertama bagi mereka dapat menghabiskan waktu berdua lagi, setelah Siska menghilang beberapa tahun belakangan.


Indah sudah menganggap Siska seperti kakak kandungnya begitupun Siska memperlakukan Indah layaknya adik perempuannya. Keduanya terpaut usia tiga tahun. Perbedaan usia yang pas untuk kakak adik sungguhan.


Indah remaja adalah sosok yang menarik, bukan hanya lawan jenis tapi juga sesama perempuan. Walaupun keturunan Indonesia asli, wajahnya begitu unik, matanya sipit dengan alis tebal, pipi tirus dengan tulang yang jelas. Berkulit putih dengan rambut lurus yang selalu dipotong sebahu dengan poni lurus menutupi jidatnya.


Walau indah berhasil menjadi salah satu siswa di sekolah paling faforit di bandung, jarang sekali dirinya memamerkan kecerdasannya. Indah cenderung menjadi sosok yang memiliki pemikiran sederhana, riang dan tidak begitu memikirkan prestasi akademis. Tapi jangan sepele, Sosok Indah sangan disegani di sekolah karena prestasinya.


Selain itu Indah juga ahli basket, dan menjadi tim inti di sekolah. Wajahnya hilir mudik mewarnai setiap turnamen antar sekolah. Tak heran banyak orang yang mengenalnya.


Soal kesian, Indah mendapatkannya dari sang ibu, dimana Ibunya adalah bintang daerah pada masanya. Indah merasa dekat dengan ibunya saat dirinya memainkan peran diatas pangung. Itulah yang mendorong Indah bergabung pada kelompok teater, agar bisa mengenang sang ibu yang sudah lama kembali kepada sang pencipta.


Bertemu dengan Siska yang memiliki sikap dewasa membuat Indah memiliki sosok seorang kakak sekaligus dapat merasakan kasih sayang seorang ibu. Walau harus melewati masa perkenalan yang cukup panjang, namun pada ahirnya mereka bisa saling dekat satu sama lain.


Indah lebih dulu masuk ke kelompok teater. Dalam hal ini dia lebih senior daripada Siska. Namun Siska yang masuk belakangan justru banyak mengambil peran Indah di saat awal ia bergabung. Menurut anggota yang lain, keduanya memiliki banyak lesamaan dalam ide dan penyampaian cerita. Hingga merekapun memilih untuk saling melengkapi dan bekerja sama.


Saking asiknya bercengkrama, tak terasa merekapun telah sampai di pintu masuk Ambung Wangi. Segera Siska meminta izin kepada security untuk menuju tempat parkir.


"Selamat siang, ada keperluan apa ibu?" Sapa seorang security yang telah berada di dekat mobil siska.


"Saya mau bertemu dengan pak Sudi Surya Atmaja," Jawab Siska pada security yang berbeda dengan yang ia temui saat mengantar Yudha tadi pagi.

__ADS_1


"Apakah sudah ada janji?"


"Sudah pak."


"Boleh tinggalkan kartu identitasnya buk?"


"Ini pak." Siska memberikan kartu identitasya pada security tersebut. Kemudian kembali mengarahkan mobilnya ke tempat parkir.


***


"Enak banget ini teh." kata Indah setelah suapan terahirnya. "Teteh beneran gak mau coba?" lanjutnya.


"Enga ah. Teteh masih kenyang." jawab Siska sambil meneguk es teh dihadapannya. "Yang penting teteh minum, haus dari tadi."


"Suami teteh masih lama meetingnya?" tanya Indah kemudian.


"Teteh WA dari tadi belum ada balesan. masih lama mungking."


"Sip lahhhh...., Indah bisa nambah seporsi lagi kalau gitu." Katanya girang. "Mas tambah seporsi ya,"


Menu makanan di kantin ini memang terkenal enak, ditambah porsinya yang pas sehingga tidak membuat orang bosan. Ada menu khusus yang berbeda setiap harinya, dan hari ini adalah soto medan.


Tidak menunggu lama, penjaga kantin datang dengan sebuah nampan berisikan seporsi soto lengkap dengan jeruk nipis di sampingnya. "Silahkan mbak." katanya ramah.


"Terimakasih mas." Kata Indah, kemudian langsung meramu kecap dan sambal kedalamnya.


Siska hanya memperhatikan tingkah adiknya itu. "Enak banget ya?" tanyanya heran.


"Abah apa kabar?" tanya Siska.


"Baik, bonsainya uda makin banyak, sampai sampai mau mengusur kamarku." jawab Indah menghentikan suapannya. "Nanyain teteh terus pas aku dirumah kemarin. Kangen sama anak pertama katanya." terang Indah bersemanggat. Disusul suara tawa keduanya.


"Iya uda lama gak ngobrol sama abah."


"Jangankan sama abah, sama aku aja uda lama teh. Banget!"


"Iya iya, tapi sekarang kan teteh ada terus do samping kamu."


"Asik! Jangan ngilanh ngilang lagi ya teh." Kata Indah serius. "Hilang separuh nyawaku waktu teteh ngilang kemarin."


"Iya, eh telepon abah dong."


"Nih." kata Indah sembari mengulurkan smartphonenya. Mempersilahkan Siska mengunakan untuk menelepon Abah.


"060709." Siska mengeja digit angka yang dulu digunakan Indah sebagai PIN handphonenya.


"Iya masih sama." Indah membenarkan.


"Wilujeng injing abah." Sapa Siska sesaat setelah teleponnya tersambung.


"Wilujeng injing neng gelis." Terdengar suara abah yang sangat khas.


"Apa kabar abah?"

__ADS_1


"Sae neng sae, eneng sekeluarga bagaimana?"


"Baik bah, Kangen neng sama abah."


"Kalau kangen maj dihampiri atuh, jangan cuma ditelepon."


"haha iya abah, nanti pasti datang, pas nikahannya neng Indah." Kata Siska memberi penekanan di ahir kalimat.


"Ah ulah diomong itu mah, budaknya juga belum jelas. Masak datang kerumah berdua ditanya palah jawabnya a i u. te jelas." Gerutu abah.


Mendengar jawaban ayahnya, Indah segera membela diri. "Ulah gitu atuh Abah, abah juga anaknya pulang bukannya ditanyain kabar atau apa, ini malah langsung ditodong kapan kawin kapan kawin. itu kan perlu persiapan."


"Udah abah siapin semuanya."


Kini giliran Siska yang mendengarkan ayah dan anak itu saling bertukar kata.


"Yang mau ngomong teteh bukan Indah," kata indah pada ahirnya, kemudian memberikan kembali smartphonenya pada Siska. Memang jika Ayah dan anak tersebut sudah beradu pendapat tidak ada yang bisa menengahinya.


"Itu teteh, si eneng kalau abahnya lagi ngomong, gak didengerin." adu abah pada Siska.


"Nanti teteh nasehatin si eneng ya bah." Siska mencoba menenangkan. "Kemarin Siska bawain telur asin, ngampe te di abah?" Siska mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Nyampe teh, enak sekali itu, kalau kata abah mah raos pisan. Pinter teteh bikinnya."


"Syukurlah,"


"Mau lagi sebenernya tapi jauh."


"Buka disitu we atuh abah." potong Indah.


"Kalau eneng mau mah ayo atuh, balik ke sini, abah bikinkan. Eneng yang kembangin." Jawab abah serius.


"Eneng belajar dulu sama teteh di jogja." Jawab Indah sambil lalu.


"Janji ya neng," Sambut abah semakin serius. "Dengerin itu teh, teteh saksinya,"


"Iya abah." Siska kembali menenangkan.


Dari kejauhan tampak Yudha dan Surya berjalan beringan menuju tempat Indah duduk. Indah yang mengetahui kedatangan mereka langsungelambaikan tangan.


"Abah tebak siapa yang datang?" tanya Indah kepada abah yang masih asik menngobrol dengan Siska.


Siskapun membalikkan badannya untuk melihat siapa yanh datang. Sesuai tebakannya Yudha sudah berada dibelakangnya, kemudian bersiap duduk di sampingnya.


"Si eneng teriak teriak, memang siapa teh?" tanya abah dari seberang.


"Suami teteh bah, sama Surya." Kata Siska sambil mengarahkan layar smartphone kepada Yudha. "Sayang, abahnya Indah."


"Halo abah. salam kenal saya Yudha suaminya Siska." sapa Yudha ramah.


"Iya iya, salam kenal." terlihat abah tersenyum lebar kepada Yudha. "Ganteng ya teh tapi tua." perkataan abah yang membuat semua tertawa.


Pembicaraan mereka berlanjut hingga menjelang siang. Keakraban diantara mereka jelas tergambar begitupun Yudha yangeruoakan orang baru, namun sudah bisa akrab dengan yang lain. Kedatangan Indah memberikan suasana baru bagi mereka.

__ADS_1


__ADS_2