Ru-meet

Ru-meet
Liburan Keluarga


__ADS_3

Siska dan Yudha sudah bangun sejak tadi. Setelah membersihkan diri dan merapikan kamar keduanya berniat akan ke kamar Lisa dan Lili untuk membangunkan mereka. Seperti Yang mereka lakukan seriap pagi.


Siska mengetuk pintu kemudian membukanya perlahan. Mengetuk pintu adalah caranya mengajarkan kepada anaknya untuk menghormati Dan menghargai orang lain. Dengan begitu secara otomatis diri kit juga akan dihormati dan dihargai.


Dari balik pintu terlihat keduanya telah membuka mata, namun engan meninggalkan tempat tidur.


"Sudah siap untuk jalan jalan?"


"Sudah ayah." keduanya kompak, seraya bangun Dari tempat tidur. Tanpa menunggu lama, keduanya berebut kekamar mandi. Seketika susana menjadi sangat ribut. Hingga ahirnya merekapun mandi bersama.


Dimas membuka pintu kamarnya, terlihat masih mengunakan kaos yang sama.


"Uda bangun dim? kebisingan ya?"


"Ah, enga lah. biasa juga bangun jam segini. Aku mau jalan jalan kesungai."


"Boleh dim, nanti Aku antar sama anak anak."


"Siap mas, Aku bangunin Didi dulu ya."


"Aku panasin mobil kalau gitu."


"Eh Aku Gak usah ikut ya." Kata siska. "kesungai buat jalan jalan pagi aja kan?"


"Iya mbak sebenarnya aku sendiri juga gak papa,"


"Tenang saja, aku antar, mbakmu biar siap siap dirumah." Kembali lagi Yudha membagi tugas.


"Oh, oklah, istriku juga gak ikut katanya. jadi bisa bantuin mbak Siska."


Setelah sepakat, Yudha segera kehalaman untuk memanaskan mobil. Setelah memastikan Yudha telah berada Di luar. Dimas mendekat ke kakaknya.


"Soal Surya." lirih Dimas, tak ingin siapapun mendengarnya. "Kata teman teman teater memang dia menetap di Jogja, sudah enam bulanan katanya. kerja di AW (menyebutkan singkatan dari Ambung Wangi)."

__ADS_1


"oh." Siska sebenarnya tidak membutuhkan informasi tersebut, kalaupun Surya berada di kota yang sama dengan Siska. Baginya cerita dengan Surya hanyalah masa lalu. Terlebih saat ini dia telah menentukan pilihannya menjadi istri Yudha.


"Aku akan menemuinya."


"Untuk apa."


"Kemarin dibilangnya Aku yang kasih tahu informasi anak anak kakak ke Surya Kan? Aku mau tanya yang sebenarnya ke dia."


"Memang masih perlu? Gak usah deh. Nanti palah jadi ribut." Siska keberatan dengan rencana Dimas. Baginya semakin banyak berhubungan dengan Surya justru akan memicu sesuatu yang sebenarnya saat ini aman aman saja.


"Gak, Aku paham cara komunikasi sama Surya. percaya sama aku." keduanya adalah orang yang sang dulunya sangat dekat. Bahkan sudah seperti kakak adik.


Siska mengangguk pelan. Walaupun sebenarnya masih ada keraguan dihatinya. Ia mencoba untuk percaya pada adiknya.


***


Yudha mengajak anak anak dan adik iparnya ketepian sungai yang masih menjadi bagian aliran sungai opak. Sungai yang mengambarkan geliat kehidupan masyarakat Jogja. Banyak yang mengantungkan kehidupan ekonomi pada sungai dengan panjang enam puluh lima kilometer Yang bermuara di samudra hindia.


Susana benar benar alami, dimana debit air saat itu tidak terlalu tinggi. Sehingga anak anak bisa bermain air hingga ketengah sungan yang jernih dan banyak bebatuan. Yudha mengingatkan anak anaknya untuk berhati hati.


"Aku selalu berharap bisa sedekat ini dengamu Dimas." ucap Yudha penuh syukur.


"Sudahlah Mas, Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Kita tutup semua Lukanya." Dimas tak mau terlalu terbawa susana. Dirinya tidak mau mengingat perlakuan kasarnya kepada Yudha dulu. "yang terpenting sekarang Mas sudah membuktikan untuk membahagiakan Siska dan anak anaknya."


"Semua itu aku lakukan karena aku benar benar mencintainya." kata Yudha sungguh sungguh.


"Iya mas, Aku percaya sampai saat ini. Dan teruslah membahagiakan mereka."


"Aku tidak Akan membiarkan mereka terluka lagi, juga tidak akan kubiarkan jika ada yang merebutnya dariku." kata Yudha, Saat itu pula terlintas nama Surya.


Matahari sudah mulai meninggi. Walaupun dipenuhi pepohonan tapi panasnya sudah terasa. mereka memutuskan untuk segera kembali kerumah.


Seperti biasa, anak anak merengek untuk menambah waktu permain. Namun begitu kedua bapak bapak itu tak kalah akal untuk membujuk mereka segera pulang.

__ADS_1


Cukup dengan mengingatkan rencana piknik mereka siang ini. Ketiganya langsung meninggalkan sungai dan berlarian mendekati orang tua mereka.


***


Siang ini Yudha mengajak menikmati gudek paling enak dikota ini. Karena menunggu anak anak bersiap, mereka tiba diwarung sudah lewat jam makan siang. namun begitu suasana Masih rame. pelayan sibuk mengantarkan makanan Dan membersihkan meja.


Untunglah masih tersedia meja kosong untuk mereka. seorang pelayan menghampiri lalu menyodorkan buku menu. setelah membolak bakikan halaman buku, merekapun menyebutkan pesanan satu persatu. dengan lunch pelayan langsung mencatatnya. kemudian mengantarkan catatan ke bagian dapur.


Sembari menunggu makanan datang. mereka asik bercanda. Muncul keinginan Dimas untuk mengabadikan moment ini. Dimas yang sudah menyiapkan kamera segera meminta pada istrinya Yang duduk disamping Kiri. namun ternyata keduanya lupa tidak membawa kamera turun dari mobil. Maka Dimas segera mengambil ya Di Mobil.


***


Ditempat parkir ditepi jalan. Surya telah mengambil kameranya yang diletakkan Di kursi baris kedua. Saat dirinya Akan bersiap kembali seseorang memangilnya.


Dilihatnya seorang lakinlaki bertumbuh tinggi besar mengenakan setelah berwarna biru Dan kacamata hitam. memandangi Dan melempar senyum kepadanya. melihat Dimas yang hanya diam Dan tidak bergerak Dari tempatnya berdiri, maka lelaki ITU menghampirinya.


"Sudah melupakan abangmu ini rupanya." sindir lelaki itu seraya merentangkan tangannya.


"Bang Surya?" Dimas berkata penuh keraguan. Bisa bisanya serba kebetulan seperti ini.


"Ahirnya ingat juga." keduanya berpelukan. "sedang apa sendirian disini.?" Tanya Surya kemudian setelah melepas pelukannya.


"Mau makan siang bang, Sama istri Dan anakku, Sama mbak Siska juga."


"Menetap Di sini juga rupanya? wah bisa sering bertemu lagi Kita." kata Surya akrab.


"Enga bang, Kami hanya liburan." jelas Dimas. "Abang sendiri habis makan?" Dimas mencoba menebak Dari arah kemunculan Surya.


"iya tadi sambil ketemu teman." Surya sedikit kaget dengan pertanyaan Dimas. "Kalau begitu Kita harus reunian nih. teman teman teater juga banyak Yang berlibur Di jogja." Surya sengaja mengundang teman temannya untuk datang ke Jogja, namun kiita belum tahu apa maksud sebenarnya.


"Boleh bang. kabar kabar Aja nanti ya." Dimas merasa mendapatkan kesempatan untuk mengintrogasi Surya terkait pengakuannya kepada Siska tempohari. Dimas sengaja tidak menanyakanya sekarang, menunggu waktu Yang tepat, Dan lagi pula tidak elok menanyakanya Di tengah jalan seperti ini.


"Ingin sekali Aku bertemu siska, sudah lama tidak berbincang dengannya. Tapi nanti saja Aku temui Saat reuni."

__ADS_1


"Kalau begitu Ayo Kita masuk sekarang." Dimas ingin melihat respon Surya.


"Tidak enak menganggu kebersamaan kalian. lagipula Ada pekerjaan Yang menungguku. kalau begitu Aku pamit ya. sampai ketemu Di reuni.


__ADS_2