
"Tadi aku ngobrol sama ariyani." Kata Siska kepada Yudha. Keduanya kini berada di balkon kamar mereka.
Yudha yang dari tadi terus menghisap rokok, segera menghentikan kegiatannya. "Ariyani?" tanyanya heran.
"Iya, cinta pertama kamu." Kata Siska tenang.
"Tunggu," kata Yudha serius. "Bagaimana bisa kamu bertemu dia?" Lanjutnya penasaran.
"Mana handphone kamu?"
"Masih di cash." kata Yudha "Ada hubungannya dengan Handphone aku?"
"Iya," Siska mengangguk. "Aku rasa sejak kemarin dia yang meneleponmu."
"Baiklah, tunggu sebentar akan aku ambil handphone ku." Segera Yudha mematikan puntung rokoknya, kemudian dia bergegas mengambil handphonenya.
Tanpa memikirkan apapun Yudha segera kembali ke balkon kemudian menyerahkan handphonenya kepada Siska.
Siska masih pada posisinya semula. Tak mengubah sedikitpun arah duduknya. Siska cukup tenang sedari tadi. Walau hatinya bergemuruh tak menentu. Keinginan untuk menyampaikan tentang ariyani kepada Yudha ia pendam sampai kedua anak mereka tertidur.
Yudha kembali, dan duduk di samping Siska. Tangnnya mengenggam Handphone yang belum ia hidupkan sejak pulang tadi. "Aku hidupkan dulu ya." katanya sambil menekan tombol power.
Saat handphonenya telah menyala. Ia segera menunjukkan layarnya kepada Siska. Lalu memeriksa bersama sama di bagian telepon dan WhatsApp. Saat itu juga muncul sebuah pesan dari nomor yang sama seperti yang menelepon tadi sore.
"Halo Yudha, aku ariyani, tolong hubungi aku, ada yang ingin aku sampaikan." tulisan dalam pesan WhatsApp itu, yang kemudian dibacakan oleh Siska.
Pasangan suami istri itu saling memandang. Keduanya ragu dengan respon yang ingin mereka utarakan.
Hingga satu panggilan dari nomor yang sama masuk ke handphone tersebut.
"Dia telepon," kata Siska yang lebih dulu menyadari panggilan tersebut. "Angkatlah," perintahnya kemudian.
Bukannya menyegerakan perintah sang istri, Yudha justru meletakkan teleponnya di atas meja. Membiarkan handphone nya tetap bergetar.
"Kenapa?"
"Aku gak mau mengingat yang sudah berlalu." Kata Yudha kemudian mengambil nafas panjang. Tangnnya berusaha mengapai tangan Siska yang kini menghadap ke arahnya.
Handphone masih terus bergetar, mungkin sudah panggilan ke lima. Sementara Siska dan yudha saling mengenggam. Menguatkan satu sama lain.
Sebenarnya Situasi seperti ini bukan hal yang sulit bagi keduanya. Sudah banyak rintangan yang mereka lewati, dan mereka mampu mengatasinya. Begitupun untuk masalah ini, mereka harus bisa melewatinya.
Bagaimanapun juga Yudha tidak bisa menganggap ini biasa biasa saja. Hatinya bergetar saat mendengar Siska menyebut ariyani sebagai cinta pertamanya. Sejujurnya Yudha telah membuang perasaan itu jauh jauh. Namun yang ia khawatirkan adalan anggapan Siska tentang Ariyani.
Sementara Siska dalam benaknya terus bertanya, tentang bagaimana peerempuan itu mendapatkan nomor suaminya. Dalam hal ini, Siska yakin bukan Yudha yang memberikannya. Terlepas dari itu semua, Siska juga penasaran dengan maksud perempuan itu, hal apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan?
__ADS_1
"Teleponnya masih berdering, angkatlah, pasti ada hal penting yang ingin dia sampaikan."
"Tidak, tidak ada yang lebih penting selain kamu, anak anak dan kita." kata Yudha yakin.
"Yudha..." Siska merendahkan nada suaranya. "Aku rasa kamu benar, tidak ada yang lebih penting dari kita. aku setuju." kata Siska mutlak. "Dan aku yakin apapun yang akan Ariyani sampaikan tidak akan mengubah apapun." Kini yang ada dalam benak Siska hanya rasa penasaran, apa sebenarnya yang ingin ariyani sampaikan hingga terus menghubungi suaminya beberapa hari ini.
"Aku ragu," kata Yudha tanpa menyelesaikan maksudnya.
"Tentang?"
"Niatnya." kata Yudha sambil menatap dalam wajah istrinya.
Sebelum ini, Ariyani pernah menghubunginya. Belasan tahun yang lalu, tepatnya sebulan setelah kelahiran Naya, anak pertama pada pernikahan sebelumnya.
Sore itu, disebuah ruangan berwarna biru lengkap dengan ornamen anak anak disetiap sudutnya. Berdiri seorang laki laki muda yang belum melepas pakaian kerjanya, yang tak lain adalah Yudha.
Seorang bayi perempuan sedang tertidur pulas di ranjangnya. Yudha memandanginya penuh kasih. Senyumnya melebar, tak ada sedikitpun lelah terpancar di wajahnya.
Seperti hari hari sebelumnya, Yudha pulang tepat waktu untuk menjaga Naya. Sejak kelahiran Naya, maka Yudha berjanji akan bersikap baik dan menjadi ayah yang bertangung jawab.
Namun hari ini, agaknya ia kurang beruntung. Naya sudah tertidur saat ia tiba di rumah, jika tidak maka Yudha akan mengajaknya bermain sebelum ahirnya menidurkannya. Maka sore ini, Yudha harus iklas menerima jika dirinya hanya bisa memandangi wajah naya yang tersenyum dalam tidurnya.
Menjelang gelap, Raya yang adalah istri peramanya masuk ke kamar. Bergantian dengan Yudha untuk menjaga Naya, setelah ia membersihkan diri. Biasanya Dia akan mengendong Naya sesuai pesan orang tuanya.
Tak ingin membangunkan Naya yang begitu nyenyak, Yudha segera menerima handphonenya yang kembali berdering.
"Sudah sudah angkat diluar sana!" Ketus Raya.
"I i iya, aku segera kembali." tutup Yudha kemudian meninggalkan ruangan.
Itulah pertama kalinya Ariyani datang kembali ke kehidupan Yudha. Yudha yang tidak tahu nomor itu, menjawab telepon dan menyadari jika itu adalah Ariyani.
Saat itu Yudha menjadi bimbang, tak dipungkiri harinya sangat senang, menyadari jika cinta pertamanya telah kembali. Namun di sisi lain, dirinya sudah berjanji untuk menjadi ayah yang baik untuk Naya.
Maka pada kesempatan itu juga, Yudha menyampaikan dengan tegas keadaannya saat ini, dan membuat Ariyani tersadar jika Yudha sudah mengahiri semua cerita dengnnya. Ariyani yang saat itu masih menyimpan rasa pada Yudha menjadi sakit hati.
"Aku tidak rela kau melupakan aku begitu saja, yakinlah kehidupanmu tidak akan bahagia, aku akan datang lagi dan mendapatkanmu untuk selamanya." Sumpah Ariyani belasan tahun yang lalu.
"Kenapa kamu sayang?" Kata kata Siska menyadarkan Yudha dari lamunannya.
"Apakah itu niat ariyani menghubungiku lagi?" Kata Yudha dalam hati dengan pandangn kosong. "Dulu ataupun sekarang, niatku tidak akan goyah, ceritaku dengannya sudah berahir." lanjutnya.
"Yudha!" kata Siska meninggikana nada suaranya.
"Maafkan aku sayang." Kata Yudha setelah sadar.
__ADS_1
"Teleponnya masih berdering, Kamu yakin tidak mau jawab?"
"Baiklah akan aku angkat," katanya tanpa melepaskan dengaman tangnnya. "Tapi kamu tetap disini ya, temani aku." pintanya kemudian menngambil smart phone nya, sesaat setelah Siska mengangukan kepalanya.
"Halo." kata Yudha tegas.
"Hay Yudha, ahirnya kamu angkat juga." suara dari seberang yang terdengar jelas berkat load speaker. "Apa kabar Yud?" lanjutnya begitu manis.
"Baik, ada perlu apa meneleponku?" Kata Yudha menghindari basa basi.
"Aku ada di Jogja, bisa kita bertemu?"
"Untuk apa?"
"Ada banyak hal yang harus aku sampaikan."
"Aku sibuk ahir ahir ini, nanti aku kabari jika ada waktu." tolak Yudha.
"Tolonglah." kata Ariyani memaksa Yudha.
"Aku tidak janji, nanti aku kabari jika ada waktu. Selamat malam." kata Yudha kemudian mengahiri telepon tersebut.
Siska yang dari tadi mendengarkan pembicaraan suaminya dengan Ariyani semakin penasaran. terlebih dia mengatakan jika dirinya ada do Jogja, kota yang sama dengan kota yang ia tinggali saat ini. "Ah banyak sekali kebetulan." kata Siska dalam hati.
"Sudah kan, aku sudah menuruti permintaanmu, dan tidak ada yang penting menurutku." kata Yudha sesaat setelah meletakkan kembali teleponnya di atas meja pembatas antara dirinya dan siska.
"Sayang," Siska engan mengahiri pembicaraan. Ia harus menemukan jawaban dari rasa penasarannya. "Dari mana dia tahu kita tonggal do Jogja?" Kini ia berfikir keras, jelas terlihat dari caranya melipat tangan. "dan kenapa bisa kebetulan dia berada dikota ini sekarang." Kata Siska dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Tidak usah kamu pikirkan sayang."
"Aku penasaran. Aku pernah melakukan hal yang sama dengannya, mencarimu."
"Apa aku harus mencari tahu untuk rasa penasaranmu?"
"Iya."
"Baiklah besok akan aku suruh kevin mencari tahu."
"Haruskah melibatkannya?"
"Jika memang kamu sangat penasaran maka aku akan menurutimu, tapi aku tidak mau jika aku ataupun kamu berurusan langsung dengannya." terang Yudha tegas. "Dan kamu juga harus berjanji, apapun jawaban dari rasa penasaranmu tidak akan memgubah apapun tentang kita saat ini." lanjutnya
Siska mengambil nafas panjang. "Janji." katanya sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Aku benar benar sayang kamu. Selamanya" sambut Yudha sembari melingkarkan kelingkingnya pada kelingking Siska.
__ADS_1