Ru-meet

Ru-meet
Mengungkap Kebenaran


__ADS_3

Yudha sudah sejak pagi meninggalkan rumah. Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, setelah tiga hari berlibur. Liburan yang menyenangkan walaupun ditutup dengan migren yang diderita Siska.


Maka hari ini, Yudha meminta Siska untuk tetap beristirahat di rumah. Bersama anak anaknya yang masih libur sekolah. Juga ditemani Dimas dan keluarganya. Untunglah ada mereka, hingga Yudha tenang dalam menyelesaikan pekerjaannya.


Terlebih dulu Yudha singah ke toko. Memeriksa keadaan toko sepeninggalannya. Seperti biasa, Tono dan Yati sibuk melayani pembeli bersama karyawan lainnya. Yudha menyapa sekenanya. kemudian berlalu menuju lantai dua.


Begitu tiba di ruangannya, Yudha memeriksa smartphonenya. Banyak pesan masuk, pesan dari Tigor yang dibuka pertama, kebetulqn saja pesan itu berada paling atas.


"Ada yang harus aku katakan padamu." tulis bang tigor dalam pesannya. Begitu penting sepertinya. selain pesan tadi, Tigor juga menghubungi yudha sejak kemarin. namun Yudha tidak menghiraukannya lantaran memberikan perhatiannya untuk merawat Siska.


Tanpa menunggu lama, Yudha langsung menelepon Tigor.


"Kemana saja kau Yud." suara bang tigor dari seberang telepon. "Aku ke toko tapi kau tak ada, aku ke rumah, tapi tumahmu kosong."


"Maaf siska sakit sedari kemarin." kata yudha kemudian menjelaskan kegiatannya menemani keluarga adik ipar untuk liburan.


"Aku kira kau menghilang lagi."


"Tidak bang, ada apa bang mencari saya?"


"Sekarang kau dimana?"


"Ditoko."


"Aku ketempatmu sekarang."


Tanpa menunggu jawaban Yudha. Tigor telah menutup panggilan itu, dan bergegas menuju toko.


***


"Silahkan diminum bang"


"Nanti saja, ada yang lebih penting yang ingin aku katakan. Tapi sebelumnya aku tanya dulu." Tigor menghentikan kalimatnya menatap dalam diri Yudha.


"Kenapa bang?"


Tigor menarik nafas panjang, "Aku dengar kau sudah tanda tangan kontrak dengan Ambung Wangi."

__ADS_1


"Maafkan aku bang, harusnya aku langsung memberi tahu abang waktu itu." Yudha merasa tidak enak, karena diawal dia menjanjikan keterlibatan Tigor, terutama sebagai pemasok telur.


"Abang tetap akan menjadi pemasok telur bebek bang."


"Tak penting soal keterlibatanku." Yudha heran terhadap tanggapan Tigor ini. ia mengira tigor akan marah karena mengira tidak jadi dilibatkan dalam proyek ini. Namun sepertinya ada hal lain yang membuatnya seharian kemarin mencarinya.


"Jadi kau sudah tahu nama Jangkung sebenarnya?"


"Oh iya bang, semua orang di kantor itu memanggilnya Pak Sudi."


"Begitu rupanya?" Kata tigor begitu lemas. Rupanya Surya dipanggil dengan nama depannya saat berada di kantor. Hatinya kini bimbang haruskan dia mengatakan yang sebenarnya informasi yang disimpannya selama ini, jika Jangkung adalah Surya, orang yang menurut Yudha adalah ancaman.


"Hari ini akan ada pencairan dana pertama. Abang ikut ke kantor Jangkung setelah ini ya." Ajak Yudha bersemanggat.


Tigor tidak memberikan tanggapan. Sejenak susana menjadi hening. Ada dorongan keras dalam hatinya untuk segera memberitahukan kebenaran itu. Baginya Surya telah melanggar kesepakatan dengannya, untuk selalu berkoordinasi terkait langkah langkah yang akan diambilnya berkaitan dengan Yudha dan Siska. Selain itu dirinya juga menyesal karena menyetujui membantu Surya.


"Jika aku mengatakn ini, kau janji akan tetap tenang ya." Dengan mengambil segala konsekwensi yang akan terjadi, Tigor memulai niatnya untuk memberi tahu soal Surya.


Sementara Yudha menganggap yang akan bang tigor katakan adalah soal telur. Dirinya sedikit tegang, jangan sampai masalah datang diawal setelah penandatanganan kontrak. Mungkinkah ini terkait ketersediaan telur bebek?


Yudha mengangguk pelan. "Iya bang, katakanlah. kita cari solusinya bersama."


"Kau harus tahu, jika Jangkung adalah Surya. orang yang kau bilang padaku adalah ancaman." Ahirnya Tigor mengatakannya.


Yudha menatap Tigor tak percaya. Tapi tidak mungkin orang yang sangat dia percayai membohonginya, jika iya untuk apa. Mungkinkah dia salah mendengar selama di kantor Ambung Wangi lalu.


"Sudi Surya Atmaja. nama lengkapnya." Imbuh Tigor. "Enam bulan lalu dia membuntutiki, meminta bantuanku untuk membantu kau dan siska dlam usaha telur...." Tigor mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Surya.


Jajaran direksi Ambung Wangi, melihat peluang yang sangat besar dari usaha Telur Asin Yudha. dimana dalam satu tahun telah berkembang pesat, viral dan banyak pelanggan. Maka dalam rapat, mereka menentukan bekerja sama dengan usaha telur asin Yudha, dan menugaskan CEO baru mereka untuk mengurusnya.


Mendapat tugas tersebut, Surya yang memang ingin masuk ke kehidupn Siska memanfaatkan dengan baik. Memanipulasi dengan mengatakan ingin membantu Siska, ya itulah yang ia katakan pada Tigor saat memminta dihubungkan kepada siska.


"Jujur Yudha, tak ada niat sedikitpun membohongi mu. itu semua aku lakukan karena aku oercaya Surya akan membantu kalian."


Yudha tidak memberi tangapan, mencoba menyakinkan diri, dan mengingat peristiwa tentang surya selama ini. Bayangan Surya saat mendatangi toko dan membawa bunga aster, cerita siska tentang pertemuan tidak sengaja dengan surya, dan kontrak yang dipercepat.


Pada saat ini seseorang yang bisa membantunya adalah kevin. Yudha harus memastikan sendiri jika surya yang menjadi rekan bisnisnya saat ini sama dengan Surya yang selama ini ia anggap adalah ancaman.

__ADS_1


Yudha meraih smartphonenya kemudian menelepon Kevin, dan langsung mendapat jawaban.


"Kirim gambarnya sekarang juga."


"Siap pak, ada hal lain yang harus bapak ketahui."


"Aku sudah tahu, kirimkan gambarnya sekarang."


"Iya pak, berhati hatilah." Pesan kevin sebelum Yudha menutup teleponnya.


beberapa detik kemudian, Yudha telah menerima file dari kevin yang berisi potongan vidio dengan wajah Surya. Dengan wajah tetap tenang Yudha membuka file tersebut.


Yudha menyingungkan ujung bibirnya. Mendapati jika mereka adalah orang yang sama. Jika dilihat dari vidio, ini memang pertemuan yang tidak disengaja. Namun kenapa Surya mengenakan topi sesaat sebelum dan sesudah bertemu Siska. apakah dia sebenarnya merencanakan? apakah Bang Tigor mengethuinya?


"Vidio ini, apa ini rencana kalian?" Kata yudha, meminta kepastian.


Tigor menerima smartphone Yudha, dan melihat vidio pertemuan Surya dan Siska.


"Bukan, awalnya memang aku akan membantunya, namun ditengah jalan dia bergerak sendiri. Termasuk saat dia ke tokomu membawa aster, dan kontrak yang dipercepat."


"Hahahaha...." Tiba tiba Yudha tertawa penuh arti. Melihat tawa Yudha, bang Tigor kembali meminta maaf.


"Aku justru berterimakasih padamu bang." lagi lagi kata kata Yudha mengagetkan bang Tigor.


"Kau tidak marah padaku Yud?"


"Untuk apa aku marah bang, aku berterimakasih telah mengatakan ini kepadaku lebih dulu." Yudha memandang wajah teman yang seperti kakak banginya.


"Terlebih kontrak sudah berjalan, dan yang terpenting yang menanda tangani kontrak adalah kepala direksi langsung, bukan Surya. Dan jika dia mau bertemu Akan aku bantu, tapi kalau niatnya merebutnya dariku, itu tidak akan pernah terjadi." terucap sumpah dari mulutnya. "Cinta kita abadi sehidup semati."


Mendengar tegad Yudha, Tigor menjadi lega karena tidak akan kehilangan kawan baik sepertinya setelah tigor mengungkap kebenaran. Namun ada kekalutan juga tentang apa yang akan dilakukan Yudha terkait kat katanya untuk membantu Surya bertemu dengan Siska.


"Tapi bersediakah abang membantuku?"


"Tentu, apa yang bisa ku bantu? jawab tigor mantab.


"Setelah Siska sehat, aku akan mengajaknya makan siang bersama, aku minta tolong abang pergi bersama Surya."

__ADS_1


"Ko atur saja waktunya. aku siap."


***


__ADS_2