
Siska membuka matanya pelan. Seharian kemarin ia hanya mampu berbaring di tempat tidur. tidak mengurusi dan mempikirkan apapun, karena sedikit saja kepalanya bergerak rasa sakitnya langsung menjalar. Untuk makanpun harus diantar adik iparnya, itupun terpaksa sebelum meminum obat.
Dua malam berlalu, Yudha merawatnya dengan sabar. Membalurkan minyak pada tubuh Siska dan memberi pijatan ringan untuk meredakan pegal yang selalu menyertai Migren pada diri Siska.
Semalam saat hendak tidur, Jika sakit kepala siska mereka Yudha mengajak Siska untuk ikut seta makan siang bersama bang tigor dan jangkung. ya Yudha belum memberitahukan jika Jangkung adalah Surya.
Dan pagi ini, saat siska membuka mata, sakit kepalanya sudah mereda. Bahkan tidak terasa lagi. Berarti sebentar lagi Siska akan buang angin. Itulah yang pertama terjadi pada badan Siska saat migrennya hilang.
Siska mulai merasakan pergerakan angin di dalamnya. Dari seluruh tubuh dan mengendap diperut. Kemudian berjalan ke bagian bawah perut. Kini siska memiringkan tubuhnya
Siska mentap wajah Yudha yang masih terpejam. Walaupun Yudha sudah sering mendengar suara saat Siska buang angin. Tetap saja ada rasa malu yang Siska rasakan. Dan jika Yudha masih tertidur adalah kabar baik baginya untuk mengeluarkan angin di tubuhnya.
"DUUUTTTT.....!" Siska menutup wajah dengan kedua tangannya, saat suara itu terdengar begitu keras. Mukanya memerah malu jika Yudha mendengarnya.
Siska mengintip dari selah selah jarinya. memastikan Yudha masih terpejam. memang Yudha masih memejamkan matanya, Namun bibirnya mengembangkan senyum. menandakan bahwa dia mendengar saat Siska buang angin.
Kemudian Yudha membuka matanya, dan meihat Siska yang masih menutupi wajahnya. Melihat tingkah lucu istrinya Yudha justru tertawa mengoda.
"Jangan ketawa dong, malu tahu." kata Siska yang masih menutu matanya.
"Mana wajah malunya, coba lihat." goda Yudha sambil memegang hakus tangan Siska dan menjauhkannya dari wajah ayu itu.
"Cantik." Kata Yudha yang membuat wajah Siska semakin memerah.
"Jadi kamu uda bangun dari tadi." tanya siska setelh berhasil mengendalikan emosinya.
Yudha mengangguk, sambil membelai halus wajah istrinya. yang selalu menarik perhatiannya. "Pas kamu gusar jadi bolak balikin tubuh mu, aku kira kenapa kenapa. eeee palah tembakan yang keluar."
"Ishhh..., Siska berusaha menutupi wajahnya lagi. Namun tangan yudha menghalangi.
"Gak usah ditutup mukanya." kata yudha terus memandangi Siska. Dalam hati ia bersyukur istrinya sudah kembali sehat. "Uda mendingan sekarang?" Yudha memastikan istrinya benar benar sehat.
Siska nyengir kemudian mengangguk. Yudha kembali tersenyum.
"Berarti siang ini jadi ya sayang, makan siang sama bang tigor?" Tanya siska ingat akan oesan suaminya semalam.
__ADS_1
"Iya," kata Yudha santai.
"Paginya aku ke salon dulu ya, sama istrinya Dimas." izin Siska, yang membuat Yudha memberi tatapan tajam.
"Biar semua orang tahu kalau istri Yudha ini bahagia, cantik dan pandai merawat diri." kata Siska sebelum dilarang oleh suaminya. Dan ahirnya Yudhapun mengangguk.
"Satu lagi..." kata siska manja
"Apa???" tanya Yudha curiga. "Baju kamu masih banyak di lemari, gak usah beli baju lagi." cegah Yudha mengira Siska akan meminta dibelikan baju. Yang sebenarnya tanpa izinpun yudha telah memberi akses untuk siska memenuhi semua kebutuhannya.
"Bukan itu...."
"Jadi???"
"Aku mau kentut lagi."
"Coba saja kalau bisa." katanya sambil tertawa. kemudian mengelitiki tubuh istrinya. Hingga Siska mengeluarkan seluruh angin di tubuhnya.
***
Siska dan Nita benar benar memanjakan diri mereka. Mulai wajah, kuku, rambut, dan pijatan seluruh tubuh. Bagi Siska, mangajak nita merasakan salon langanannya ini adalah sebagai ucapan terimakasihnya pada Nita yang telah dua hari menjaga anak anaknya. Selain itu juga untuk mengembalikan kesegaran tubuh Siska.
Mereka adalah pelangan pertama play ground hari ini. Bahkan hingga menjelang makan siang tidak ada orang lain yang datang. serasa menyewa satu playground.
Melihat kesempatan ini. Lisa, Lili dan juga Didi tak menyianyiakannya. bereka berlarian kesana kemari mencoba semua permainan yang ada. Mulqi dari taman pasir, kolam mandi bola, labirin, dqn permainan lainnya. Yudha dan Dimas mengawasinya dari kejauhan.
Menjelang jam dua belas. Siska dan Nita telah selesai mempercantik dirinya. Dan bersiap menjemput anak dan suaminya.
Setelah membungkus pesanan ayam goreng tepung. Merekapun pulang kerumah. Setibanya dirumah Dimas dan Nita menemani anak anak makan siang. Sedangkan Yudha dan Siska bersiap untuk pertemuan makan siangnya.
***
Kini Yudha tengah memarkir mobilnya didepan sebuah rumah makan bernuansa jawa lengkap dengan hiasan kereta kuda di dalamnya. Musik gamelan sengaja dioutar untuk menambah kesan jawa.
sesaat setelah Yudha mematikan mesin mobil. Terlihat oleh Siska, Bang Tigor melintas di samping mobil mereka, bersama seseorng yang sangat ia kenal. Sudi Surya Atmaja. Inikah yang dinamakan kebetulan kedua???
__ADS_1
Siska mematung, kemudian menatap Yudha. Yudha yang sedari tadi fokus melihat spion tidak memperhatikan yang melintas di samping mobil mereka.
"Sayang itu bang tigor kan?" kata siska sambil menunjuk kearah bang tigor yang kini membelakanginya.
"Iya, sudah sampai rumapanya Bang Tigor dan si Jangkung." Kata yudha. " Ayo kita turun." Ajak yudha kemudian.
"Tunggu." cegah Siska. Memegang tangan suaminya.
"Tenangah, aku sudah tahu semuanya."
"Maksudnya?" siska menata wajah Yudha tidak mengerti.
"Jangkung adalah Surya, iya kan?" kata yudha sembari tersenyum damai.
"Iya."
"Awalnya aku tidak tahu, sampai ahirnya bang Tigor memberitahuku kemarin."
"Kamu gak papa kalau kita ketemu?" kata siska khawatir. Tapi Yudha justru tersenyum santai.
"Sebenarnya Surya tidak tahu jika aku sudah mengetahui dirinya adalah Surya. Kata bang tigor surya menghubunginya untuk meminta bantuan...." Yudha menjelaskan apa yang seperti Bang Tigor sampaikan kepadanya. Tidak lebih tidak kurang.
"Berati ada niat tidak baik dari Surya dengan bantuan ini? Kenapa tidak dibatalkan saja? kita cari perusahaan lain." kata siska mengutarakan kesimpulannya setelah mendengarkan cerita Yudha.
"Tenanglah, yang menandatangani kontrak bukan dia, tapi kepala direksi langsung. Dia hanya sebagai pelaksana." Yudha mencoba menenangkan istrinya. tentu dalam benaknya dia juga khawatir namun dirinya telah menyiapkan semuanya untuk menghadapi resiko apapun yang akan terjadi.
"Jadi sekarang kita anggap saja, Dia hanya ingin berkenalan dengan mu kembali sayang. aku akan tetap pura pura tidak tahu sampai dia mengakuinya sendiri nanti." kata yudha sambil memegang tangan istrihya penuh harap.
"Kamu sudah memikirkan resikonya?" tanya Siska tidak ingin suaminya gegabah. Yudha mengangguk menyakinkan.
"Aku akan baik baik saja selama kita bersama sayang." kata yudha kemudian mencium tangan siska.
"Kita akan selalu bersama." kata siska.
"Sekarang bantu suamimu ini untuk memancing kejujuran dari dia." Pinta yudha sebelum keduanya turun.
__ADS_1