
Malam telah tiba, lantunan merdu christina Perry memenuhi area kolam renang. rupanya panitia mengubah rencanan yang tadinya makan malam akan dilaksanakan di taman dengan api unggun, dipindahkan ke area kolam renang atas permintaan pihak resorts
mereka telah menyewa hampir seluruh kamar hingga dua hari, maka pihak hotel memberikan izin untuk membuat acara di area publik resort ini, lagipula tidak ada pengunjung lain yang akan merasa keberatan.
Kolam renang seketika disulap menjadi kolam lilin. dibagian atas mengantung lampion berwarna warni membentang sepanjanh area kolam renang, menambah kesan mewah. Dengan bantuan seluruh pelayan hotel, ahirnya gala dinner istimewa siap dalam waktu satu jam.
Bintang bertaburan diatas sana berkelip memberikan harapan. Kehangatan diantara mereka mengakahkan dinginnya udara malam ini.
"Ayah ayah!!!" Kata Lisa girang, sambil menarik narik baju Yudha yang sedang mengambilkan nasi untuk lisa.
"Mau lauk apa nak?" tanya Yudha sedikit berjongkok.
"Bukan lauk Yah, Oom es krim, ada oom es krim."
"Oom es krim?" tanya Yudha bingung.
"Iya ayah, dari tadi siang lisa mau bilang itu. om Surya yang ngajarin Lisa bikin es krim. Itu dia datang ke sini yah." kata Lisa sambil menunjuk tangannya ke arah Surya, diikuti kepala yudha yang menoleh ke arah tangan anaknya.
Yudha telah kembali berdiri saat Surya tiba dihadapannya. Sama seperti saat pertama bertemu di rumah bang tigor, Surya melebarkan senyumnya. Begitupun Yudha terpaksa membalasnya saat berada di depan Lisa.
"Pak Yudha selamat malam, dan halo Lisa pintar." sapa Surya langsung kepada Lisa
"Hay om, ternyata oom temannya ayah dan ibu ya."
Kata lisa sambil melambaikan tangnnya.
"Betul anak pintar." jawab Yudha.
"Berarti ayah sudah bilang ke om Surya kalau Lili dan Lisa ingin belajar buat es krim lagi?" tembak Lisa pada ayahnya, teringat akan janji Yudha waktu itu."
"Belum nak, Ayah belum sampaikan," jawab Yudha jujur.
"Baiklah, kapanpun mereka siap dan diizinkan oleh ayah ibunya hubungi saja saya pak." Surya langsung menjelaskan, tidak ingin memberikan prasangka apapun. Malam ini ia hanya ingin menikmati kebersamaan dengan teman temannya.
"Silahkan lanjutkan pak Yudha, saya mau ambil sate dulu," pamit Surya. "Dada anak pintar."
***
Di meja makan, Lili dan Siska lebih dulu menikmati makannya saat yang lainnya bergabung dengn membawa piring masing masing.
"Ibu tadi Lisa ngobrol sama oom es krim? kata Lisa setelah duduk di dekat ibunya.
"Om Surya." Tambah Yudha santai. Sementara penghuni meja lainnya saling menatap tanpa berkata.
__ADS_1
"oh iya om Surya, makasih ayah." Lanjut Lisa tak memperdulikan ekspresi orang dewasa disekelilingnya. "Om Surya bolehin buat belajar es krim di restorannya." Kata Lisa sambil meninmati makanan dipiringnya.
"uhuk uhuk." Indah tersedak, kaget dengan kedekatan Surya dan Lisa.
"Tante indah kenapa?" tanya Lisa yang sudah dekan dengan Indah. "Tante mau ikut bikin es krim juga? baik lho Om Surya. Om surya juga ointar bisa langsung tahu nama Lisa." Lisa menatap Indah yang telah menghabiskan segelas air putih.
Mendengar kalimat terahir Lisa, Siska dan Yudha saling menatap, kemudian Yudha mengeleng pelan, seolah meminta istrinya untuk tidak terlalu memikirkannya.
Sementara Dimas melihat ke arah Lisa. seorah menemukan jawaban dari pertanyaannya waktu itu, tentang dari mana Surya tahu nama keponkannya, berarti memang Surya sudah mengawasi keluarga kakaknya. Terlebih cerita soal kedekatan Surya dengan teman Yudha yaitu Bang Tigor.
"Habisin makanannu, Dingin nanti itu makanan mu Dim." kata Ali menghentikan analisa Dimas.
"Iya Lisa juga habisin makanannya ya." kata Siska mencoba mengalihkan pikiran anaknya, agar tidak membuat orang lain panik. "Enak satenya nak?"
"Enak bu, ibu mau?"
"emmm.... nanti ibu ambil sendiri."
"Okay "
Dan waktu sendirilah yang telah membuka tabirnya. Satu persatu pertanyaan terjawab. Namun apakah tenang yang akan didapat, atau justru kekhawatirn lain yang perlahan membunuh kedamaian dalam diri.
Malam semakin larut, acara belum juga usai. lagu lagu bernada tenang mengiringi acara makan malam. Dari kejauhan Surya mencari dimana keberadaan teman temannya. Ya, mereka adalah Ali, Dimas, indah dan juga Siska.
"Boleh gabung?" tanya Surya saat yang lain asik bermain tebak lagu. sementara anak anak yang sudah selesai makan mulai terlihat mengantuk.
"Duduk samping om Dimas aja om Surya" kata Lisa kembali bersemanggat.
Tentu saja yang lain sedikit keberatan dengan jawaban Lisa. Mereka merasa banyak hal berubah dalam sosok pribadi Surya. Sehingga akan lebih baik jika mereka tidak bersingungan.
"em, Siska dan Mas Yudha ada yang mau aku bicarakan." kata Surya kemudian. sejenak Siska dan Yudha bertukar pandang.
"Aku juga harus ikut apapun yang ingin dibicarakan." Kata Dimas tegas.
"Kami juga." kata Ali dan indah bersamaan.
"Jangan sekarang, anak anak harus istirahat." Tolak Siska.
"Baiklah, tapi aku mohon segera, ada yang harus aku luruskan." Pinta Surya.
"Kalau begitu biar anak anak sama aku mbak, biar kalian bisa ngobrol." Saran Nita.
Siska melempar pandangan kepada suami dan teman temannya. "Baiklah." katanya setelah semua mengangguk.
__ADS_1
Nita mengajak anak anak kekamar untuk beristirahat. Dengan sedikit iming iming bermain game merekapun menurut untuk ikut bersama Nita.
***
Merekapun berpindah kekamar Ali, ruangan yang paling netral, serta untuk mendapatkan privasi. Siska dan Indah duduk di sova kamar itu. sementara yang laki laki menyeret kursi dimeja makan, mengitari sova.
"Baiklah, pertama tama aku ingin meminta maaf pada kalian semua,"
"TENTANG?" Tanya mereka bersamaan. membuat Surya kaget
"Aku merasa sendirian di reuni ini," Nada suara Surya melemah. "Padahal aku rancang semua ini agar aku bisa bersama sama dengan kalian lagi. Jadi tolong maafkan aku apapun kesalahanku. aku ingin bersama lagi dengan kalian." lanjutnya tulus.
Tidak ada satupun yang memberi respon. masing masing mengamati apakah Surya ingin merencanakan sesuatu yang lain? atau memang benar ia menyesal?
"Pertama kesalahan Bang Surya adalah mengatakan jika aku memberitahu abang tentang anak anak mbak Siska, kemudian tidak jujur tentang kedekatan Bang Surya dengan Mas Yudha, dan justru mengunakan nama samaran agar mbk Siska tidak menyadari."
"Iya Dim, aku lakukan itu karena aku belum percaya kepada Yudha, selama empat tahun aku mencari keberadaan Siska yang tiba tiba menghilang. Kamu pun tidak mau memberitahu Dim, sampai ahirnya aku menyewa orang untuk membantuku mencari informasi tentang Siska."
Kali ini sepertinya Surya mengatakan yang sebenarnya. orang lain di meja itu hanya bisa menatap serius tanpa memberikan komentar.
"Maaf mas Yudha, sebenarnya aku ingin menikahi Siska waktu aku mendapatkan informasi Siska pindah ke Jogja. Aku meminta pada perusahaan untuk dipindahkan ke Jogja. Namun informan tidak memberitahuku jika Siska telah menikah sehari sebelum keindahannya."
Surya yang semula tenang, kini sedikit bergetar. mengakui setiap hal yang ia lakukan. Kini teman temannya telah mendapatkan kembali kejujuran dan keberanian Surya dengan mengatakan semuanya dengan gamblang.
"Aku sangat kecewa, apalagi mengetahui jika suaminya adalah Mas Yudha. Orang yang selama ini menyakiti siska. Maka aku menyusun strategi untuk membalas rasa sakit hatiku. menawan kalian dengan kontrak kerja, agar aku bisa mengatur kalian berdua."
"Astaga Kang Surya Kang Surya, eling Sur eling." kata Ali sambil mengusap wajahnya tak percaya temannya akan melakukan semua itu.
"Apa yang terjadi saat ini adalah kehendak yang maha kuasa. Niat baik akan mendatangkan kemujuran, sedangkan niat buruk membawa kita kepada kehancuran." tambah Ali, menasehati temannya yang sedang membutuhkan penguatan.
"Iya li, Aku khilaf waktu itu. Seiring berjalannya waktu, aku melihat ketulusan pada diri Mas Yudha, dan Siskapun benar benar bahagia," surya kembali mencurahkan isi hatinya. "Ditambah kata kata Mas Yudha tadi sore, yang semakin menyadarkanku jika aku salah."
"Sudi Surya Atmaja alias Jangkung," Yudha mulai berbicara dengan nada berat. "Aku berterimakasih kamu sudah mengakui semuanya, Aku juga tahu jika kita sama sama ingin membuat orang yang kita sayangi bahagia, tapi dengan takaran dan porsi yang berbeda." kata Yudha menatap dalam diri surya.
"Aku adalah orang yang pernah bersikat tidak baik pada Siska, tapi seperti yang telah kita ketahui, saat ini Siska dan aku sudah menikah, dan sejak pernikahan itu aku berjanji untuk menjaga dan membuatnya bahagia. dan kini aku ucapkan lagi janjiku untuk menjaga dan membahagiakan Siska dan anak anak kami." Kata yudha penuh keyakinan.
"Aku meminta izin pada kalian semua, sebagai sahabat Siska untuk merestui kami dan memegang janjiku." Yudha mengatakan dengan sepenuh hati.
"Siska, sekarang bagaimana dengan kamu, apa pendapatmu?"
Siska memejamkan matanya, lama. Mengingat setiap kejadian dalam hidupnya. Indah yang duduk disamping Siska. Mulai meraih tangannya dan mengengam erat agar siska bisa lebih kuat.
.....
__ADS_1