Ru-meet

Ru-meet
Perjuangan Panjang


__ADS_3

Seperti kesepakatan antara Ambung awangi dan Telur Asin Yudha. Tepat jam sebelas Yudha bersama timnya telah berada di ruang pertemuan perusahaan kelas wahid tersebut. Bersiap untuk menjelaskan rencna pengembangan proyek.


Kali ini Yudha bertugas mempresentsikan rancangan awal yang telah dibuat Siska. Walaupun rancangan awal, namun dalam presentasinya berhasil mengundang decak kagum dari partner bisnisnya. Ditambah kecakapan Yudha dalam mempresentasikannya.


Usai resentasi merek mendiskusikan beberapa hal kecil terkait strategi raksasa dan telur emas yang ada di bahan paparan. Pihak Ambung Wangi memberi apresiasi terhadap keunikan ide dan proses pelaksanannya.


"Kami senang bekerja sama dengan orang cerdas seperi anda." Kata kepala direksi.


"Terimakasih pak atas pujiannya. Namun perlu saya beritahukan jika konsem ini disusun langsung oleh istri saya, saya mengantikannya mempresentasikan karena dia terserang migren sejak kemarin."


"Oh, iya ibu Siska. kami telah banyak mendengar dari Pak Sudi." Mendengar ucapan kepala direksi, Surya yang dikenal sebagai Pak Sudi diperusahaan ini menjadi salah tingkah. Kemudian menatap Yudha untuk memastikan tidak ada kecurigaan.


"Saja merasa beruntung, dapat mendampingi perempuan yang kehebatannya telah didengar semua orang." kata Yudha tenang, sehingga tidak membuat khawatir Surya yang terus memperhatikannya.


Acara berikutnya penuh dengan basa basi dan pujian. Termasuk membahas sakit yang diderita Siska. Tentu beberapa yang lain simpati dan menyarankan untuk pergi ke dokter terbaik di kota ini.


Hingga ahirnya waktu makan siang tiba, Surya menutup rapat tersebut. Kemudian secara bergantian satu persatu peserta rapat meninggalkan ruangan. Surya menemani Yudha bersama timnya menuruni liv hingga ke lobby.


Setibanya di lobby, Surya tampak memberikan sesuatu kepada Yudha.


"Pakailah ini untuk memijat ibu Siska. Minyak ini ampuh menghilangkan migren."


Yudha tersenyum, dan mengambil pemberian Surya. "Terimakasih atas perhtianya pak."


"Kalau tidak resmi panggil nama saja, sudi atau jangkung, agar lebih akrab."


"Baik baik kalau begitu, mas jangkung."


"Jangan pakai mas."

__ADS_1


"Saya lebih nyaman menambahkan mas didepannya."


Ternyata Surya memberikan botol minyak yang dikenal sebagai minyak cina. Minyak yang selalu dipakai Siska saat masuk angin maupun migren. Sebenarnya yudha telah memijat Siska semalam dengan minyak yang selalu dibawa siska. Satu satunya minyak yang tidak menimbulkan alergi ada kulit siska.


Melihat botol itu, Yudha teringat untuk mengundang Surya makan siang bersama Bang Tigor. Maka Yudha yang telah beranjak menuju ointu lobby menghentikan langkah dan membalikan badan.


"Besok siang kita makan siang bersama ya mas jangkung."


"Besok siang?"


"Iya, aku akan mengajak Siska dan Bang Tigor. Bagaimana kalau mas jangkung yang menghubungi bang tigor.?"


Surya terdiam sejenak, bertemu dengan Siska adalah keinginannya, ahirnya saat yang ia nantikan tiba setelah perjuangan panjangnya. namun menghubungi Tigor yang jelas jelas marah marah keluar dari kantor ini saat bertemu kemarin, tidak mungkin ia lakukan. mencari alasan untuk menolak menghubungi Tigor. namun alasan apa yang harus diberikan.


"Ayolah, sudah lama tidak bertemu Bang tigor kita, lagipula bang tigor akan membantuku menyediakan pasokan telur bebek."


Dengan senyum penuh arti Yudha keluar dari pintu lobby. Mobilnya yang kini dikemudikan Tono telah menunggunya. Yudha terus saja tersenyum. Kini dirinyalah yang akan mengendalikan permainan.


***


Di sebuah rumah makan, dengan dinding kaca dan ornamen modern. Restoran baru yang sedang digandrungi anak muda. Sedari tadi tak henti hentinya orang keluar masuk. Pelayan tampak sibuk melayani para pembeli yang terkadang menyusahkan.


Surya baru saja turun dari mobilnya. Hendak memasuki pintu rumah makan tersebut. Tampak olehnya anak anak muda yang sedang berfoto pada photo booth bernuansa robot yang disediakan oleh rumah makan. Sejenak menjadi histeris melihat Surya berlalu dan melemparkan senyum. Senyum yang menawan hati yang melihatnya.


"Meja atas nama Surya." katanya pada pelayan di resepsionis. Kemudian mengantarkannya pada meja yang telah dipesan.


Dimeja itu telah menunggu seorang laki laki berkulit coklat bersih dengan mengenakan kaos hitam dan celana jins. Tak lupa sepatu kets layaknya anak muda. Dia adalah dimas, yang telah menunggunya sejak setengah jam yang lalu.


"Terimakasih mbak, saya pesan nanti ya" kata Surya pada pelayan. dan pelayanpun pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Kurang lama qbang datangnya." Sindir Dimas pasa Surya.


Surya tertawa karena bingung mau menjawab apa. Kini dia duduk bersebrangan dengan Dimas.


"Sendirian aja Dim? kata kamu liburan sama keluarga."


"Iya, mbak siska sakit dari kemarin jadi istriku bantu jaga anak anak." terang Dimas. Surya yang sudah mengetahui lebih dulu keasan Siska tidak terlihat kaget.


"Kadang aku merasa sedih mendengar kabar Siska, dia sakit tapi suaminya tidak membantu menjaga anak anaknya. Ini palah istrimu yang dimintai tolong." Kata Surya, yang justru memancing Dimas untuk menjelek jelekkan suami Siska.


"rrrhhhhmmm," Dimas berdehem, kaget karena Surya justru mengomentari tentang Yudha.


"Sebenarnya kehidupan mbak Siska sekarang, sangat bahagia. Suaminya sudah berubah dan benar benar membahagiakannya. Mbak siska mulai sakit saat kami di prambanan, sejak itu Suaminya terus menjaganya, menunggui tidur di kursi, juga memijat mbak siska tadi malam. karena tidak ada tukang urut yang bisa datang." Dimas membela Yudha. dan membuat Surya sedikit iri. "Siang ini suaminya harus bekerja karena sudah tiga hari libur mengantar kami liburan."


"Sudah lama kita tidak bertemu, aku kira suaminya masih sama seperti yang kamu ceritkan tempo hari Dim." Ahirnya surya membela diri.


"Orangnya masih sama, sifatnya saja yang lebih baik." jelas Dimas, membuat Surya tiba tiba tersedak.


Melihat Surya tersedak. Dimas reflek memanggil pelayan untuk mengambilkan air mineral. dan dengan sigap pelayan mengantarkan pesanannya.


"Syukurlah kalau pernikahan mereka bahagia." Kata Surya setelah minum untuk mengatasi sedakan di tengorongannya. Walauoun dalam hati ia terus berkata lain.


"Aku bersyukur bang, Mbak siska mendapatkan kehidupan bahagianya. Perjuangan panjang mereka berdua sangat berat, hingga ahirnya mereka benar benar berjodoh."


"Baiklah mari kita pesan makan, sebelum melnjutkan pembicaraan tentang reuni." Surya menghentikan cerita Dimas yang semakin membuatnya kecewa. Seharusnya dia dulu memberikan perhatian kepada Siska. namun penyesalah selalu datang di ahir.


Setelah mendengar cerita Dimas, haruskan ia merebut Siska dari Yudha. Apakah Siska masih menyimpan rasa padanya dan mau menerimanya saat dini, Bisakah dirinya memberikan kebahagiaan ada Siska tanpa memilikinya secara utuh? Tapi yang paling penting adalah apakah Yudha telah benar benar berubah?


Untuk sementara Surya akan memikirkan rencana untuk bisa dekat dengan Siska, walau tidak memilikinya. Namun paling tidak dirinya akan berada disisi Siska, saat Siska membutuhkannya. Walaupun ini adalah perjuangan panjang dan penuh pengorbanan. Demi menebus kesalahannya pada Siska akan ia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2